Tampilkan postingan dengan label Clara Ng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Clara Ng. Tampilkan semua postingan

Review Pohon Harapan (Bagai Bumi Berhenti Berputar)

Selasa, 01 Mei 2012




Pohon Harapan (Bagai Bumi Berhenti Berputar)

by Clara Ng, eMTe (Illustrator)

Apakah arti mati itu? Mengapa kakak tidak dapat berjalan? Mengapa Mama berpisah dengan Papa? Mengapa adik harus dirawat di rumah sakit? Kenapa aku harus pindah rumah ke tempat yang asing?

Anak-anak tidak lepas dari emosi negatif, seperti duka, shock, sedih, dan malu. Peristiwa yang menguras emosi bisa saja terjadi di dalam keluarga mana pun. Kanak-kanak menghadapi perubahan emosi ini; merasa takut, cemas, bingung, dan sendirian. Sebagai orangtua kita tak boleh mengabaikan, menganggap peristiwa yang sangat emosional ini sebagai hal yang harus ditutupi, tak perlu diungkapkan atau dibesar-besarkan. Orangtua wajib memberikan tempat sandaran dan dukungan bagi mereka.

Buku ini membantu kanak-kanak memahami perasaan mereka; membantu mengingatkan bahwa mereka tidak sendirian. Buku ini juga menolong kanak-kanak berempati kepada kanak-kanak lain yang kebetulan sedang mengalami peristiwa yang menyedihkan di keluarganya.

Mari baca dan satukan hati bersama si kecil


Gramedia Pustaka Utama 2008

Echa: Hiks, kisah yg menyentuh hati. Bagaimana seorang kakak menyemangati adiknya yg terkena leukemia. Terenyuh saat kakak mengucapkan "kepala adik skrg memang beda, tapi hati adik tetap sama" Yang penting adalah yang ada di dalam hati kan?. Buku ini merupakan salah satu dr seri "Bagai Bumi Berhenti Berputar" seri anak yg membantu anak2 memahami perasaan mereka, mengajarkan berempati & mengingatkan mrk tdk sendirian.

Review Gerhana Kembar

Senin, 02 Januari 2012

Gerhana Kembar

by Clara Ng

Gramedia Pustaka Utama 2007

Saya: Kelihatan terlalu dipaksakan, menurutku...tp dia cukup berani mengangkat tema Lezbian turunan. Sayangnya, Clara seperti cemas akan penerimaan masyarakat Indonesia dan mengungsikan tokoh Lez ke luar negri. Cukup menggambarkan seperti apa "otak" n "penerimaan" juga "penyaringan" org2 Indonesia sampai dimana.

Sondang: I got this book as a birthday present, that'w why this book ended up in my bookshelf and as much as I want to exchange it, I couldn't for the ethics of gift :D
I don't like this book, absolutely not because I'm a homofobia :D

it's just.... again, I found the character way too shallow.hei hei, I know there's a love in first sight, chemistry, thunder in first sight, things like that.... but knowing people in two months, (either hetero relationship or homo one) and already the phisycal stuff come so suddenly -tahun 60 pula-, it just kind of tearing all the emotional description.As I finished this book, I couldn't see and understand the chemistry between Selina dan Fola, it certainly not something emotional, it's only as shallow as phisycal... Sorry to say about that.

And that's made the story is even boring.
I mean, except the idea is ok since it's not so common (and I know many people are trying to read about this kind of idea these days), the writing is so-so. The characters are shallow, and the conflict are apa ya...nanggung gituh :D Drama tapi nggak gereget, and I couldn't fing any sentence to quote :( (since it's my favourite part in after reading a book)By the way, bahasanya kok resmi sekali.I found too much EYD made this kinda boring too (oke, maybe because I just re-read Testpack again -the onoly Ninit book I read- hehe.)

Fhia: Setelah menolak naskah novel "hari-hari lines" yang tentunya berhubungan dengan dunia lesbian, ternyata naskah usang yang dia temukan dalam lemari Oma-nya bercerita tentang karya non fiksi tulisan Oma-nya sendiri, dan apa yang dilakukan Oma-nya yang sekarang terbaring lunglai di rumah sakit benar-benar membuat hatinya berdegup kencang.

Nenek Lendy seorang lesbian. Henrietta Selina yang sudah menetap di Paris sukses dibujuk oleh Lendy untuk mau datang ke jakarta menemui Oma-nya. Untuk mengembalikan cinta terlarang Oma-nya. Cinta itu abadi, meski tlah 40 tahun lebih mereka berpisah. Eliza mama Lendy yang bekerja sama dengan Lendy, telah mengungkap apa yang selama ini menjadi rahasia Oma Diana.

Sungguh novel Clara NG, penulis favoritku selalu menggugah keinginanku untuk terus dan terus membacanya sampai habis tanpa harus menunggu waktu 2 atau 3 hari. Merelakan menunda waktu tidur, merelakan suami berasa Bete dianggurin, heueheueheu *maaf ya pa*

Annisa: Depresif. Karena selalu ada orang yang selfless dan mengutamakan kebahagiaan orang lain daripada dirinya sendiri. Karakter seperti tak tergali dengan dalam. Cinta yang ada di panggung utama terasa tidak natural dan rada dipaksakan, bahkan sedikit terkesan physical. Dan para tokoh seperti lalu-lalang di latar yang tak terlalu jelas. Jakarta zaman dulu tidak evident. Tidak seperti tulisan Clara Ng yang sebelum2nya, ini sedikit melempem, padahal topiknya menggiurkan.

Namun bolehlah untuk percobaan kali pertama seorang penulis yang menurut kata pengantarnya "tidak tahu apa-apa" tentang topik ini. Tema keluarga berdenyut kencang sepanjang buku. Mungkin memang itu yang ingin disampaikan Ng. Sepertinya penelitiannya lumayan banyak untuk karyanya yang ini.

Tapi saya tetap merindukan Ng seperti dalam Indiana Chronicles. Mungkin akan saya baca lain kali.BTW nama Selina mengingatkan gue pada Selina Dawes di Affinity-nya Sarah Waters.

Nella: Dapet kado ini dari temen. Thanks for her. Buku yang nyeritain ttg dunia lesbi ini emang dikemas ga seberat punya herlinatiens yg sarat kata2 puitis. Di novel ini, gaya penceritaan clara ng lebih ringan
Mungkin karena berawal dari cerita bersambung di koran makanya banyak yang bilang kalo alur nya terlalu lambat.

Lily: Alurnya rumit tapi menarik. Sometimes you will mixed-up - mana yg narasi, mana yang kisah utama. Salut dengan kerajinan Clara meramu bab demi bab tanpa kesrimpet :-)
Romannya indah sekali, meskipun ini ga biasa. Tapi justru ga bikin alergi, berhubung ini tentang kaum minoritas dalam 'sistem nilai kita'.

Susan: Clara is superb! this book really makes me shiver, she takes unique angle to tell this story, she's a good story teller. I'm almost finish and definitely will crave for more of her books.

Nuraini: nyesel juga ngambil buku ini setelah tahu temanya tentang dunia lesbian...tadinya tertarik karena kaver dan sinopsis belakang... anyhow, saya berjanji suatu saat kelak akan menamatkannya.

Rini: Saya tidak akan komentar mengenai tema lesbiannya.

Satu hal, pertemuan Lendy dengan Sari yang penulis lesbian sepertinya tidak akan kehilangan makna jika di-cut dari cerita keseluruhan. Kemudian pernyataan Lendy dan teman-teman editor bahwa karya pertama seorang penulis pasti merupakan pengalaman pribadinya sangat pedas dan menampar. Pengorekan naskah lama yang mengungkap masa lalu keluarga, mengingatkan saya pada The Ghost Writer. Kaver novel ini cantik sekali, tapi selebihnya saya tidak mendapat apa-apa dalam arti sesuatu yang baru sebagai jejak pengalaman membaca.

Review Dimsum Terakhir



Dimsum Terakhir

by Clara Ng

Empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus-menerus berdetik.

Siska Yuanita, Indah Pratidina, Rosi Liliani, dan Novera Kresnawati terpaksa harus pulang untuk mendampingi ayah yang diprediksi tidak punya harapan hidup lagi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa kesempatan berkumpul kembali ternyata mengubah segalanya. Pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan bermunculan, termasuk ketakutan, kecemasan, dan keangkuhan mengakui bahwa kehidupan dan kematian hanyalah sekadar garis tipis.

Dimsum Terakhir adalah drama penuh harum memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh novelis bestseller Indonesia, Clara Ng. Kisah ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang (selalu) ada di setiap hati kita semua.

Gramedia Pustaka Utama 2006

Saya: Gw merasa Clara menulis sesuatu yg remeh temeh tapi tidak berhasil membuatnya ngejreng! Saking biasax, gw ampe lupa seperti apa cerita detiilnya. Apa coz gw dah tua n pikun?

Femmy: Aku mungkin ngga terlalu banyak berkomentar tentang ceritanya sendiri. Secara singkat, menurutku penokohan keempat saudari kembar ini bagus, plot ceritanya menarik, penceritaannya juga lancar. Pokoknya aku menikmati membaca novel ini.

Komentarku yang lain berkaitan dengan aspek noncerita. Pertama, aku jadi geli sendiri dalam hati membaca nama-nama tokohnya, soalnya semuanya diambil dari personil Gramedia, terutama redaksi, hihihi... Karena hal ini, aku jadi merasa agak akrab dengan tokoh-tokohnya.

Kedua, bagi saya, aneh bahwa si anak pertama (Siska ya?) merasa sebagai kakak dan bertanggung jawab atas adik-adiknya, seperti yang digambarkan saat dia berada di samping tempat tidur ayahnya dan berbicara kepada ayahnya. Aneh, soalnya, saya dan kembaran saya tak pernah merasa ada yang lebih tua dan bertanggung jawab di antara kami. Kami merasa setara, tak ada kakak atau adik. Tapi, nggak tahu juga ya, anak kembar lain seperti apa. Barangkali ada juga yang hubungannya seperti kakak-adik pada umumnya.

Ketiga, aku mengenali lagu Mandarin yang dikutip, soalnya sobatku sering menyanyikannya kalau kami berkaraoke bersama. Akhirnya aku bernyanyi-nyanyi sendiri saat membaca novel ini :-p

Andri: Di antara buku-buku karya Clara Ng, yg terbaik menurut gw adalah DT ini. Berkisah tentang kehidupan 4 anak kembar, cewek, yang kemudian masing-masing telah dewasa, kemudian waktu mempertemukan mereka kembali untuk satu urusan.

Kelebihan lain -ini yg gw catat-, ada hal-hal yang kontroversi tapi berhasil diangkat oleh Clara secara natural. Membuat kita bertanya-tanya pada diri sendiri... apakah kita akan menerima, atau tidak. Tidak ada unsur menggurui, karena memang sesungguhnya hidup adalah pilihan.

Isyu lesbian, aborsi, sex pra nikah, bunuh diri... semua mengalir secara alami.Recommended.

Rahel: Ternyata Indonesia yang katanya demokrasi, sampe sekarang masih aja ada yang namanya perbedaan ras. Ras emang masalah yang sensitif banget dimana pun itu. Tapi, emang sih sekarang masalah itu dah lebih baik. Di buku ini, kita bisa belajar sedikit tentang budaya Tiong Hoa yang cukup rumit dan kadang ga masuk akal bahkan terkesan konyol. Buku ini punya bahasa yang enak untuk dibaca. Puitis tapi ga susah. Dimsum Terakhir cukup gamblang nyeritain kehidupan anak muda jaman sekarang yang lebih terbuka sama yang namanya sex bebas, one night stand, dan transgender. Tapi juga ada nilai-nilai yang bisa diambil khususnya tentang keluarga.

Unai: Dimsum adalah istilah dari bahasa Kanton dan artinya adalah "makanan kecil". Biasanya dimsum dimakan sebagai sarapan dan dihidangkan dalam keranjang /besek bulat yang terbuat dari bambu yang disusun secara bertingkat-tingkat. Isinya sendiri beragam, biasanya terdiri atas daging ayam, ceker, bakpao, siomay, sayuran, dll yang kesemuanya dimasak dengan cara dikukus.

Ide cerita dalam novel ini mungkin sederhana dan tak istimewa, namun Clara Ng membuat tema yang biasa menjadi menarik untuk disimak. Karakter masing-masing tokoh dikupas dengan jelas, berkumpulnya empat karakter yang masing-masing memiliki kehidupan yang berbeda, menyimpan rahasia yang berbeda dan memiliki ego yang tinggi membuat konflik-konflik antara keempat saudara kembar ini tersaji dengan menarik. Mau tak mau mereka harus mengorbankan kepentingan dan egonya agar bisa bersama-sama menemani dan merawat ayah mereka. Uniknya konflik-konflik yang terjadi selama mereka bersatu kembali tak membuat mereka terpecah, lambat laun masing-masing membuka diri dan kembali mendekatkan diri mereka satu sama lain menjadi satu keluarga yang utuh sesuai dengan tradisi Tionghoa yang memegang teguh keutuhan keluarga.

Irena: Cerita soal etnis Tionghoa di Indonesia. Saya sangat memahami karakter2 yang digambarkan dengan sempurna oleh Clara Ng. Mungkin karena saya juga adalah keturunan Tionghoa yang hidup di Indonesia juga.

Hilda: Empat wanita. Empat kehidupan yang berbeda. Dan empat rahasia gelap. Siska Yuanita, yang memandang hidup dengan sinis dan serba praktis. Terobsesi pada kebebasan. Sakit hatinya karena dikhianti tunangannya membuatnya tak percaya cinta. Apalagi pernikahan!

Indah Pratidina, yang serius dalam segalanya. Jiwanya yang pemimpi dan optimis membuatnya percaya dan mengharapkan pada banyak hal yang hampir mustahil. Dan pribadinya itulah yang sekarang menjerumuskannya ke dalam masalah.

Rosi Liliani, sang pemilik nama feminin tapi dengan pribadi berbeda 180 derajat. Sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah serius membuat semua orang cemburu dan kagum padanya. Tapi benarkah, bahwa orang yang selalu ceria memang tak punya beban?

Novera Kresnawati, si anak manis yang cenderung pemalu dan lemah lembut. Biasa tak mencolok dan menjauhi konflik, Novera tiba-tiba mengkhianati keluarga dan agamanya dengan memilih Katolik. Karena ia memerlukan ketenangan. Dan agama membuatnya percaya pada pengharapan.

Mereka berempat adalah kembar. Yang menjalani kehidupan yang berbeda-beda. Di Jakarta, Hongkong, Puncak, dan Yogyakarta. Tapi mereka dipaksa berkumpul kembali untuk mendampingi sang ayah, Nung, yang diprediksi hanya memiliki sisa hidup. Tapi mereka tak menyangka, bahwa reuni keluarga itu akan menyingkap semua rahasia. Yang selama bertahun-tahun, telah mereka sembunyikan rapat-rapat. Ketika rahasia-rahasia itu tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, keempat wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka. Dan membuktikan, bahwa keluarga sejati akan menerimamu apa adanya.

Wah, seandainya buku ini terbit lebih dulu sebelum saya menentukan corpus skripsi, saya bakal pilih buku ini. Empat perempuan dengan karakter dan konflik yang berbeda-beda dalam satu buku, bisa banget dijabarkan dalam skripsi saya. Jadinya, kan, saya nggak perlu membaca 3 buku (Seri Indiana Chronicles) sebelumnya berulang-ulang, cukup 1. Kekekeee... Empat saudara kembar dengan karakter nggak sama, bahkan keempatnya saling bertolak belakang. Mereka memiliki masalah dan rahasia dalam hidup masing-masing, yang tadinya tidak ingin dibagi satu sama lain. Gara-gara ayah mereka yang sedang kritis, keempatnya kembali berkumpul dan saling menguatkan. Akhirnya, keempat saudara itu menemukan solusi dan jalan keluarnya dengan bersama-sama. Perasaan yang tadinya jauh kembali dekat. Nice to read!