KEKASIH saya ternyata punya empat buku AYU UTAMI. Ada LAJANG PARASIT, dan Trilogi SAMAN.
Rasanya senang sekali, melanjutkan baca BILANGAN FU, tanpa jeda sedikitpun setelah LARUNG.
Maka kini saya persembahkan Preview BILANGAN FU.
saya: pengakuan kepercayaan
belum manusiawi...agama2 besar seakan lebih unggul n benar jika melihat aliran
kepercayaan yg akarnya menjelma negri ini.
Amang Suramang: Pada salah satu peluncuran
buku di Jakarta, sastrawan Hudan Hidayat pernah berujar demikian: "Ayu
Utami adalah penulis yang istimewa. Bahkan mendengar namanya saja, orang sudah
langsung mempunyai imaji tentang apa yang ditulisnya." Terhadap ujaran
demikian, aku mengamininya. Tokh, bukankah itu juga yang teman-teman rasakan?
Bahwa mendengar nama Ayu, kita berharap (yap, sekali lagi kita berharap)
menemukan sosok sastra baru yang kita idam-idamkan.
Aku amini itu karena ada getar magis yang membuat aku
bolak-balik kembali lagi kepada karya Ayu Utami. Mengapa harus membaca lagi
karya Ayu Utami, terutama setelah rasa kecewa atas novel Saman dan Larung yang
ditulis 7-8 tahun lalu? Rupanya karena aku memendam harapan, harapan yang sama
menggelembungnya waktu aku membaca pertama kali bibit novel Saman dalam
tulisannya di sebuah disket berjudul "Laila Tak Mampir ke New York"
yang beredar liar di Bandung. Getar magis ini kurasakan mungkin kurang lebih
sama seperti Sandi Yuda (tokoh di novel Bilangan Fu ini) dengan Sebul
(bunyi huuuuuuuu yang dihasilkan oleh batuan karang yang ditiup angin). Itulah
getar magis yang membuatku akhirnya membaca Bilangan Fu, mengintiminya seperti
kekasih, pergi kesana kemari bagai pacar dan begitu usai ada rasa debar seperti
tak ingin berpisah.
Pertama-tama, jangan kecele dengan judul novel ini yang
seperti tidak menawarkan apa-apa, sampulnya yang paduan antara simbol
"mata setan" dan bulu merak, sajian sinopsis pendek di belakangnya
yang menjanjikan adanya kisah cinta romantis, atau review-review yang sering
over promise, atau ajakan-ajakan untuk mengingat kembali karya-karya Ayu Utami
lampau yang vulgar. Karena Bilangan
Fu pantas dibaca tanpa didahului oleh
imaji-imaji dan harapan akan novel ini. Bacalah seperti Anda belum pernah kenal
Ayu Utami dan tak tahu bagaimana reputasi karya-karya sebelumnya.
Kedua, Bilangan
Fu bercerita mengenai "petualangan
fantastis" Parang Jati yang diceritakan dari point of view
Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang sedang membuka jalur pemanjatan di
Sewugunung, yang pemikirannya serba moderen. Petualangan fantastis di sini
mohon dibaca bukan semata kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan
pemikiran/rohaniah Parang Jati. Fantastis kisah hidup Parang Jati yang lahirnya
seperti cerita Ciung Wanara/Musa, besar hendak dikorbankan seperti
Iskak/Ismail, mendakwah seperti Isa dan kadang-kadang Siddharta. Parang Jati
bukan hanya sekedar pemanjat berbakat karena jari tangan dan kakinya ada 12. Ia
juga bukan hanya sekedar mahasiswa biasa yang sedang melakukan penelitian
arkeogeologi karena ia juga anggota sirkus orang-orang aneh Saduki Klan
pimpinan Suhubudi ayah angkatnya. Pergolakan pemikiran Parang Jati (begitu pula
Yuda) amatlah fantastis karena ia adalah antitesis dari orang-orang muda yang
nyaris tidak pernah mempersoalkan/mengkritisi modernisme, monoteisme keagamaan,
dan militerisme. Keduanya secara aktif berdialog untuk menemukan rumusan kritik
yang tajam atas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin morat-marit
dininabobokkan oleh tayangan kuntilanak di televisi, digerus alamnya oleh
ketamakan kapitalisme, dan lain-lainnya.
Parang Jati adalah Yuda adalah Ayu Utami sendiri. Ia
menjeritkan (bahkan cenderung mendakwah seperti laiknya nabi) lewat Parang Jati
(sesekali lewat Yuda) tentang perlunya kembali masyarakat Indonesia menghormati
alam, menjaganya, kalau perlu mengkeramatkan dalam sebuah laku kritik yang
disebutnya sebagai Neo-Kejawan (dari Kejawaan Baru... bukan dari kata Kejawen).
Sebuah jeritan yang berujung pada konflik antara mereka yang status-quo pada
situasi yang tak mau berubah seperti Pontiman Sutalip, Kupukupu, dan kelompok
Farisi. Lalu diakhiri dengan kematiannya dan diteruskannya pemikiran itu oleh
Yuda, mungkin juga nantinya Marja, yang sejak hari pertama sudah menjadi bagian
dari mereka yang percaya pada keimanan yang ditawarkan Parang Jati: keimanan
yang melakukan kritik pada modernisme yang dinilai mencederai alam, monoteisme
yang sejak lahirnya tidak menyukai adanya perbedaan dan ikut mensponsori
lahirnya kekerasan, dan militerisme yang menghambat demokrasi (postmodern).
Itulah kisah Bilangan Fu.
Terhadap novel yang berjumlah halaman 536 ini, pada
mulanya aku muak. Terutama karena Ayu seperti sedang asyik bermain kosa kata,
yang membuatku berpikir untuk merekomendasikan "bacalah buku ini disertai
Kamus Besar Bahasa Indonesia!". Sampai-sampai aku ingin teriak dalam
bahasa Latin: Veritatis simplex
oratio est -- "Bahasa kebenaran itu
sederhana." Jadi sampaikanlah dengan cara yang demikian. Lalu juga aku
tergoda untuk melakukan gosip, terutama mengenai mengapa Erik Prasetya yang
menjadi ayah bagi novel ini. Trus aku menggerutu karena aku benci angka-angka
yang ditawarkan dalam bentuk rumus.
Rasa takut bahwa novel ini akan mengecewakan menghantuiku
selama hampir setengah perjalanan membaca buku ini, hingga sampailah aku pada
bagian "Ratu Kidul dan Pandangan Keagamaan". Di bagian ini dan
bagian-bagian berikutnya, kisah jadi lebih menarik karena dibenturkan antara
apa yang diyakini oleh masyarakat dengan apa yang diyakini oleh agama. Rupanya
inilah saripati Bilangan Fu sebagai novel yang mendalami seputar spiritualisme (Jawa).
Menghadirkannya kembali ke hadapan kita, untuk kita telaah kembali, dan
barangkali membangkitkannya dari kubur.
Sedikit tergelitik untuk bertanya kepada Ayu mengapa
koridor spiritualisme seolah-olah selalu berada di luar agama. Bukankah ada
sufisme dalam Islam, ada katolikisme dalam Katolik, tapi aku diam saja. Begitu
juga melihat hadirnya teknik kolase (menyisipkan kliping-kliping berita ke
dalam inti cerita) yang sama seperti yang digunakan Budi Darma dalam Olenka. Atau
cerita koleksi kelingking putus si Fulan yang sepadan dengan salah satu cerpen
Seno Gumira Ajidarma. Aku masih juga diam melihat salah cetak/kekurangtelitian
editor dengan membiarkan salah tulis outdor (seharusnya outdoor), dejavu (seharusnya déjÃ
vu), dan Siung Wanara (bukankah seharusnya
Ciung Wanara) dan sumber cerita Ciung Wanara mana yang dipakai Ayu Utami karena
versinya berbeda dengan yang beredar di masyarakat Sunda.
Kudiamkan semua karena aku terpukau oleh kemampuan olah
cerita Ayu yang pandai meramu antara naratif, artikel, jurnal dan monolog para
tokoh-tokohnya. Serta pastinya karena tanpa riset yang memadai, pastilah sulit
menulis tentang geologi, legenda rakyat, kitab suci, dan cerita wayang. Belum
lagi gambarnya. ** Horee!! ada sastrawan yang bisa nggambar! ** Semuanya itu
nilai plus yang seolah menutupi beberapa gelitikan tanyaku sebelumnya.
Jadi, harus kuakui bahwa dalam menulis Bilangan Fu, Ayu
Utami berhasil. Nah, selamat menempuh agama baru!
Maulida Raviola: Yang diperlukan untuk
membaca karya Ayu Utami, selalu, adalah keterbukaan pikiran. Terlebih lagi
dengan Bilangan Fu. Namun kritik-kritik Mbak Ayu terhadap Modernisme (atau
modernitas), Monoteisme, dan Militerisme--sebagai 'dalang' keserakahan dan
superioritas manusia modern terhadap sesama manusia dan lingkungan--sepenuhnya
amat thought-provoking.
Dikemas dengan gaya bahasa yang lebih padat dan filosofis
dibanding Saman dan Larung, juga dengan banyak analogi dari lakon-lakon
pewayangan dan Babad Tanah Jawi, Bilangan Fu menawarkan juga kajian ulang (dan
terutama sudut pandang baru) terhadap apa yang selama ini dianggap takhayul.
Ketidakpercayaan terhadap takhayul ternyata tak lebih dari superioritas seorang
modernis-fasis.
Tidak ada suatu hal pun yang dapat dilihat secara hitam
ataupun putih. Saya rasa, lewat Bilangan Fu, Mbak Ayu sukses menawarkan
spiritualisme-kritis sebagai cara pandang terbaik bagi seorang postmodern.
Bagaimana kita mampu membedakan kritis dengan anti. Bukan menolak kebenaran, melainkan menunda kebenaran.
Panggullah kebenaran, sebab kebenaran yang jatuh ke tanah hanya akan mewujud
kekuasaan.
Inspiratif dan informatif. Saya selalu tidak sabar untuk
membaca--dan membaca ulang--setiap tulisan Ayu Utami.
Randu: buku bilangan fu punya saya ditulisi nomor 6
oleh sang pengarang (artinya buku gratisan keenam...hehehe). dan saya baru
membacanya 6 hari setelah peluncurannya. dan menyelesaikannya 60 jam kemudian
(hampir 6 hari).
dalam buku ini ayu menggunakan analogi-analogi keagamaan
yang sudah diakrabi oleh kebanyakan orang. tapi melalui simbol-simbol yang
familiar itu, ayu menampar pembacanya: hayo, kamu pasti belum tahu yang ini!
bahwa suatu peristiwa bukanlah semata kebetulan. bahwa pandangan kita akan
nasib, ternyata dipermainkan oleh maksud-maksud politis orang-orang yang di
atas sana (sedihnya, itu bukan tuhan). bahwa kita telah jauh dari alam, dan
terbutakan dari daya magisnya. bahwa kita terlalu normal, sehingga kita
membenci keanehan dan melupakan bahwa kita pun tak kalah aneh dari kodok
bertanduk tiga.
bilangan fu mengobrak-abrik kepala, mencabik akal sehat,
lalu menjahitkan lagi dengan kesimpulan-kesimpulan tak terbantahkan. dan
lucunya, itu bukan kesimpulan ayu, tapi kesimpulan kita. demikianlah semesta
bekerja. tak terhingga.
Julaybib: Saya membeli buku ini karena saya suka gaya
menulis dan bercerita Ayu Utami, dan terus terang saya tidak kecewa sudah
membeli buku ini. Ceritanya lumayan menarik, gaya berceritanya enak diikuti,
dan ada pesan moral yang disampaikan. Cuma saya banyak tidak setuju dengan
pesan neo spiritualisme yang diusung di buku ini.
Di sini Ayu mengajak kita melakukan laku kritik, yang
intinya agar mentolerir dan menerima norma-norma di sekitar kita sebagai
kebenaran yang tertunda. Tapi di lain sisi nampak juga penolakan yang terlalu
kuat terhadap 3 M, yaitu modernisme, militerisme dan monotheisme. Bukankah ini
namanya plin plan? 3 M itu menurut saya juga punya kebenaran tersendiri, dalam
konteks yang tepat.
Yang paling fatal menurut saya adalah anggapan bahwa
monotheisme tidak memiliki ruang untuk toleransi terhadap nilai-nilai yang
lain. Ini jelas keliru. Sudah ada begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa
dari sejak didirikannya, pengikut monotheisme menunjukkan sikap toleran
terhadap yang lain, sedang pengikut polytheisme dan atheisme juga tidak kebal
terhadap fanatisme dan radikalisme (lihat saja militansi pengikut Hindu di
India). Musuh yang sebenarnya ya fanatisme dan radikalisme itu. Dengan menembak
musuh yang salah kita malah bisa celaka semua.
Penolakan terhadap modernisme dan penerimaan terhadap
takhayul serta adat juga dalam konteks tertentu bisa berakibat fatal. Tahayul
dan tradisi menurut saya timbul karena orang dianggap tidak akan bisa diberi
penerangan secara logis (karena kita malas atau menganggap mereka bodoh),
sehingga perlu diciptakan mitos-mitos yang harus diikuti dan dijaga oleh
kekuatan supranatural (yang tidak bisa diraba oleh manusia). Misalnya,
anak-anak akan diculik makhluk halus kalau keluar setelah maghrib (karena sulit
menerangkan ke anak-anak kalau malam itu gelap, banyak ular, kalau ilang juga
susah nyarinya). Masalahnya, hanya perlu satu orang yang selamat dari culikan makhluk
halus saat keluar malam untuk meruntuhkan mitos ini. Begitu yang lain ikut
mencoba dan tidak terjadi apa-apa, runtuhlah keangkeran mitos ini dan kita
harus menciptakan mitos baru agar mereka mau tetap di rumah.
Kenapa tidak dari awal diterangkan yang sebenarnya saja?
Dengan begitu kan kita jadi punya generasi muda yang lebih rasional. Jangan
membabat hutan karena hutan menjaga tanah dari erosi, mempengaruhi iklim dan
suplai air, dll, daripada menyuruh orang bikin sesajen dan membuat ritual yang aneh-aneh
sekedar biar orang gak membabat hutan semaunya? Apa ini karena jauh di dasar
lubuk hati beliau tertanam kepercayaan bahwa cara berpikir manusia pedesaan itu
selamanya begitu dan tidak akan mempan diisi dengan fakta-fakta ilmiah yang
rasional? Bukankah itu namanya diskriminasi dan stereotyping?
Wikupedia: Setelah vakum agak lama dalam menulis novel,
ayu utami hadir lagi dengan membawa sebuah kisah berjudul bilangan fu. Novel
ini berkisah dengan latar Watugunung dan kegiatan panjat tebing, yang bagi saya
sudah merupakan nilai yang unik. Namun teryata itu semua belumlah apa. Kisah
dan konfilk di dalamnya lebih menggetarkan lagi.
Bercerita tentang 4 tokoh utama, Yuda, Jati, Kupukupu,
serta Marja. Tentang pertemanan dan persahabatan dalam cinta yang bening antara
yuda, Marja dan Jati, serta konflik panjang mengenai perbedaan pendapat
menganai spiritualisme (agama) antara Parang Jati dan Kupukupu. Dan ternyata
itu pun belum cukup untuk merangkum kisah dalam novel ini.
Dalam perjalanan kisahnya Yuda dan Jati bertemu dengan
berbagai konflik khas bangsa Indonesia, iri dengki serta kedangkalan pemahaman
akan banyak hal, terutama mengenai spiritualisme. Pertentangan yang rumit
antara agama bumi dan agama langit dibentangkan dalam jalinan bahasa yang tidak
biasa. Di lengkapi juga dengan semacam data yang difiksikan mengenai
kliping-kliping koran mengenai berbagai kejadian yang mendukung alur cerita,
dan bila pembaca jeli ternyata berbagai kliping koran dan berita didalamnya
pernah mampir dalam hidup kita. Dan terlebih lagi, mengenai sebuah bilangan,
yang diberi nama Bilangan Fu.
Membaca Bilangan Fu seperti membaca sebuah masa lalu
kelam, masa lalu masyarakat Indonesia, yang gamang akan banyak hal, yang
prematur dalam memahami banyak hal. Isme yang ingin di perlihatkan Ayu memang
berulang-ulang hadir di pikiran saya dalam beberapa waktu ini, mengenai
pendapatnya tentang kebenaran yang tidak melulu harus langsung diungkapkan,
namun harus dipanggul terlebih dahulu, juga mengenai sikap lalu kritik yang
begitu bijaksana, serta tentu , mengenai spiritualisme kritis itu sendiri.
Bangsa kita dibangun oleh kebudayaan yang panjang,
kebudayaan yang tidak bisa diberantas atas nama apapun, dalam konteks itulah
sebaiknya kita membaca Bilangan Fu dan memaknainya secara bijaksana.
Nanto Sriyanto: Semalem dapat 2-3 bab. Entah
karena pernah mendengar cerita dari beberapa teman yang sudah baca, kok
langsung bisa nebak kemana maunya Ayu Utami dengan tiga babak besarnya dan
karakter yang dibangun dalam tiap tokohnya. Modernitas vs taruhan. Modernitas
adalah kuasa akal yang menihilkan dan menistakan kebetulan dan klenik, namun si
tokoh dengan bangganya menunjukan sebaliknya...
Itu ke-sotoy-an sementara saya. Sejauh ini kalimatnya
membuat saya bisa cepat membacanya. Suka kalimatnya. Kertasnya. Tak lupa
coklat-nya. Ceritanya? Kita lihat dulu sejauh mana dia berantitesa terhadap
narasi mainstream.
*update 26082008*
Dialog antara Yuda dan Jati menarik. Dialog dua kutub
pemikiran yang menarik. Sejauh sumber pengetahuan tradisional bisa menjadi
sumber dari pengetahuan modern, itu pendapat Jati yang meng-kick Yuda.
*070109*
Mau coba nerusin. Abis males aja melihat tradisionalitas
sama modernitas dibenturkan dengan terlalu oversimplified :D Itu asumsi saya
yah! *kejebak asumsi seh...!*