Tampilkan postingan dengan label Penlis-penulis Fiksi Dewasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penlis-penulis Fiksi Dewasa. Tampilkan semua postingan

Review Novel Lusia Lusia

Kamis, 06 Oktober 2011

LUSIA LUSIA

by Adriana Trigiani

Sesudah Perang Dunia II, banyak gadis berbakat di New York mengejar kesempatan untuk meraih ambisi. Lucia Sartori, si cantik dari Greenwich Village, adalah salah satunya. Didukung keluarga dan kekasih yang mencintainya, ia bekerja untuk perancang busana di depstor terkenal di Fifth Avenue.

Namun hidup Lucia terguncang ketika ia bertemu John Talbot, pengusaha tampan yang menjanjikan kehidupan mewah di kalangan uptown, seperti yang hanya ia baca di kolom-kolom sosialita. Terbelah antara cintanya pada keluarga dan impian pribadinya, Lucia terlibat dalam skandal yang mengungkap banyak rahasia, membahayakan kariernya, dan mengancam nama baik keluarga Sartori.

Gramedia 2007

Saya: (page 174 of 336)

I'm on page 174 of 336 of Lucia, Lucia: Lucia semakin dekat dengan John Talbot, bahkan keluarganyapun menyambut hangat lelaki itu...Lucia merasakan kasmaran padanya...

Nataly: I Love all the story wraped nicely by the story of someone that at first barely noticed except as an old lady who's always dress nice and wearing long jacket everywhere she go.
Lucia is the only daughter in an Italian/American family in the 1950s. She's an accomplished seamstress and works in a famous department store in New York City. She also happens to be engaged to her childhood sweeheart and is stunned to learn that her family expects her to quit her job and stay home to help her future mother-in-law and prepare to have children. Remember - this is the 1950s. Lucia calls off her engagement and begins to lead the most interesting life in the world of fashion. She wants to be a carrier woman in the 1950's. she wants woman to be equall to have a job like a man. The author drew strong characters and I particularly love reading about Lucia's friendships and relationships with her family. Good read! I really enjoyed!

Cathy: Lucia is the only daughter in an Italian/American family in the 1950s. She's an accomplished seamstress and works in a famous department store in New York City. She also happens to be engaged to her childhood sweeheart and is stunned to learn that her family expects her to quit her job and stay home to help her future mother-in-law and prepare to have children. Remember - this is the 1950s. Lucia calls off her engagement and begins to lead the most interesting life in the world of fashion. The author drew strong characters and I particularly enjoyed reading about Lucia's friendships and relationships with her family. Good read!

Preview Novel Para Priyayi

Rabu, 28 September 2011

Buku ini saya baca ketika tiba di Ujung Pandang. Kebanyakan orang masih menyebutnya Ujung Pandang, sebelum berganti menjadi Makassar. Saya mendapatkan buku Para Priyayi ini secara tidak sengaja di sebuah perpustakaan yang tidak terurus lagi. Sarang laba-laba menutup sampulnya yang tua, berbau seperti kertas tua dari masa lalu. Tapi mungkin di situlah magis dari buku ini.
**Setelah menemukan dia, saya tidak bisa tidur sebelum membacanya. Bahkan saya menjadi agak jauh dari orang sekitar karena asyik dalam duni SAYA dalam buku Para Priyayi ini**


Para Priyayi
Novel ini bercerita tentang Soedarsono seorang anak dari keluarga buruh tani yang oleh orang tua dan sanak saudaranya diharapkan dapat menjadi “sang pemula” untuk membangun dinasti keluarga priyayi kecil. Berkat dorongan Asisten Wedana Ndoro Seten ia bisa sekolah dan kemudian menjadi guru desa.

Dari sinilah ia memasuki dunia elite birokrasi sebagai priyayi pangreh praja. Ketiga anaknya melawati zaman Belanda dan zaman Jepang tumbuh sebagai guru opsir peta dan istri asisten wedana. Cita-cita keluarganya berhasil. Benarkah? Lalu apakah sesungguhnya “
priyayi” itu? Status kelas? Pandangan dunia kelas menengah elite birokrasi? Sekadar gaya hidup? Atau kesemuanya?

Saya: saya membaca novel ini ketika berada di Makassar... begitu unik, nyaris membingunkan karena semua tokoh menyebut dirinya "aku atau saya"
Edy Murbyanto: Menurutku buku ini merupakan masterpiece-nya Umar Kayam. Bertutur dan menyingkap tentang budaya priyayi yang sebagian merupakan hal yang samar dan salah dipahami oleh orang banyak, seperti budaya judi maupun pandangan tentang feodalisme yang ternyata tidak selamanya bernuansa negatif. Kepakaran Umar Kayam sebagai budayawan, sangat berperan dalam menyingkap budaya yang samar-samar itu.Beliau juga mampu mengantar kita untuk menyelami suasana kota kecil dan daerah periferi yang masih ndeso.. Tiada bosan ku membaca buku ini walau sudah kutamatkan berulangkali.
Tyas: saya suka sekali setting yang dibangun umar kayam dalam buku ini. membaca buku ini seperti sedang menonton film, semua bisa terbangun di dalam khayalan kita.
Pedro: Buku ini sangatlah mengagumkan...Kehidupan yang penuh dengan cerita dan lika-likunya itu di kupas habis oleh Umar Kayam. Priyayi yang kumengerti dalam novel ini adalah merupakan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan terdidik dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan disekolahan. karakter-karakter dalam novel ini mempunyai kepribadian mereka masing-masing. Dan yang paling mengagumkan adalah Sastrodarsono dan Lantip. Mereka berdua memperlihatkan daya tarik tersendiri dalam novel ini. Mereka mempunyai backgroud yang sama yaitu dari seorang petani menjadi priyayi. Dan mereka mempunyai harapan yang sama, tentang keluarga, masyarakat dan negara.
Upik Noviyanti: Kalau anda ingin belajar tentang jawa, buku yang patut anda baca salah satunya adalah para priyayinya umar kayam. dari buku ini kita bisa belajar tentang bagaimana sikap dan tindak tanduk orang jawa khususnya priyayi dan non priyayi membaca buku ini akan kita temui salah satu tokohny yang berusaha untuk menjadi seorang priyayi. dari sini pula kita bisa baca ternyata tidak semua orang yang berasal dari kasta priyayi memiliki sifat layaknnya seorang priyayi. kemudian dalam pikiran saya muncul pertanyaan seberapa pentingkah menjadi priyayi?? anda punya jawabannya....
Harun Harahap: Apakah arti dari sebuah kata “Priyayi”?
Dalam kebudayaan Jawa, istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. (Wikipedia)

Arti dari priyayi di atas sangat berlainan dengan arti priyayi dalam novel Para Priyayi ini. Priyayi di buku ini tak mestilah keturunan dari keluarga kerajaan. Seorang Priyayi bisa jadi berasal dari kaum petani, seorang rakyat biasa yang biasa disebut kaum Abangan. Begitu pula tokoh priayi dalam movel ini, Sastrodarsono yang anak dari seorang buruh tani.

Dengan usaha yang kuat dan dorongan dari dirinya sendiri, pihak keluarga dan orang yang mempercayainya, Soedarsono( nama kecil Sastrodarsono) bisa menapaki jenjang kepriyayiannya dengan menjadi seorang guru. Dari sanalah dimulai sejarah kepriyayian dalam keluarganya.

Novel ini sangat menarik untuk dibaca karena diceritakan dai sudut pandang semua tokoh. Baik dari Sastrodarsono,istrinya, anak-anaknya, menantu-menantunya bahkan cucu-cucunya. Yang setiap tokoh memiliki permasalahan yang cukup pelik dan berbeda-beda. Namun, dengan ikatan kekeluargaan yang kuat dan saling membantu antara anggota keluarga, semua permasalahan tersebut dapat diselesaikan dengan baik.

Yang paling menarik dari semua tokoh dalam novel ini adalah Lantip. Seorang anak jadah dari keponakan Sastrodarsono yang hilang raib entah kemana. Lantip diceritakan dengan dasar didikan seorang ibu miskin yang begitu tabah dalam menjalani kerasnya kehidupan bisa masuk ke dalam keluarga Sastrodarsono. Lantip begitu bijaksana dan rendah hati. Siap menolong keluarga angkatnya yang telah memberikan kesempatan dirinya untuk maju. Seorang yang tak lupa kacang pada kulitnya dan menerapkan ilmu padi. Masih adakah seorang Lantip di dunia saat ini?

Kembali dengan makna dari kata “Priyayi”. Priyayi dalam novel ini digambarkan bahwa semangatnya adalah kerukunan, persaudaraan dan kerakyatan. Yang disebut priyayi bukanlah orang-orang yang menghisap darah wong cilik. Melainkan Priyayi adalah orang-orang yang mengabdi pada wong cilik yang tanpa pamrih.
Kamis, 15 September 2011

KEKASIH saya ternyata punya empat buku AYU UTAMI. Ada LAJANG PARASIT, dan Trilogi SAMAN. Rasanya senang sekali, melanjutkan baca BILANGAN FU, tanpa jeda sedikitpun setelah LARUNG.
Maka kini saya persembahkan Preview BILANGAN FU.




saya: pengakuan kepercayaan belum manusiawi...agama2 besar seakan lebih unggul n benar jika melihat aliran kepercayaan yg akarnya menjelma negri ini.

Amang Suramang: Pada salah satu peluncuran buku di Jakarta, sastrawan Hudan Hidayat pernah berujar demikian: "Ayu Utami adalah penulis yang istimewa. Bahkan mendengar namanya saja, orang sudah langsung mempunyai imaji tentang apa yang ditulisnya." Terhadap ujaran demikian, aku mengamininya. Tokh, bukankah itu juga yang teman-teman rasakan? Bahwa mendengar nama Ayu, kita berharap (yap, sekali lagi kita berharap) menemukan sosok sastra baru yang kita idam-idamkan.

Aku amini itu karena ada getar magis yang membuat aku bolak-balik kembali lagi kepada karya Ayu Utami. Mengapa harus membaca lagi karya Ayu Utami, terutama setelah rasa kecewa atas novel Saman dan Larung yang ditulis 7-8 tahun lalu? Rupanya karena aku memendam harapan, harapan yang sama menggelembungnya waktu aku membaca pertama kali bibit novel Saman dalam tulisannya di sebuah disket berjudul "Laila Tak Mampir ke New York" yang beredar liar di Bandung. Getar magis ini kurasakan mungkin kurang lebih sama seperti Sandi Yuda (tokoh di novel Bilangan Fu ini) dengan Sebul (bunyi huuuuuuuu yang dihasilkan oleh batuan karang yang ditiup angin). Itulah getar magis yang membuatku akhirnya membaca Bilangan Fu, mengintiminya seperti kekasih, pergi kesana kemari bagai pacar dan begitu usai ada rasa debar seperti tak ingin berpisah.

Pertama-tama, jangan kecele dengan judul novel ini yang seperti tidak menawarkan apa-apa, sampulnya yang paduan antara simbol "mata setan" dan bulu merak, sajian sinopsis pendek di belakangnya yang menjanjikan adanya kisah cinta romantis, atau review-review yang sering over promise, atau ajakan-ajakan untuk mengingat kembali karya-karya Ayu Utami lampau yang vulgar. Karena Bilangan Fu pantas dibaca tanpa didahului oleh imaji-imaji dan harapan akan novel ini. Bacalah seperti Anda belum pernah kenal Ayu Utami dan tak tahu bagaimana reputasi karya-karya sebelumnya.

Kedua, Bilangan Fu bercerita mengenai "petualangan fantastis" Parang Jati yang diceritakan dari point of view Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang sedang membuka jalur pemanjatan di Sewugunung, yang pemikirannya serba moderen. Petualangan fantastis di sini mohon dibaca bukan semata kegiatan fisik, tetapi juga kegiatan pemikiran/rohaniah Parang Jati. Fantastis kisah hidup Parang Jati yang lahirnya seperti cerita Ciung Wanara/Musa, besar hendak dikorbankan seperti Iskak/Ismail, mendakwah seperti Isa dan kadang-kadang Siddharta. Parang Jati bukan hanya sekedar pemanjat berbakat karena jari tangan dan kakinya ada 12. Ia juga bukan hanya sekedar mahasiswa biasa yang sedang melakukan penelitian arkeogeologi karena ia juga anggota sirkus orang-orang aneh Saduki Klan pimpinan Suhubudi ayah angkatnya. Pergolakan pemikiran Parang Jati (begitu pula Yuda) amatlah fantastis karena ia adalah antitesis dari orang-orang muda yang nyaris tidak pernah mempersoalkan/mengkritisi modernisme, monoteisme keagamaan, dan militerisme. Keduanya secara aktif berdialog untuk menemukan rumusan kritik yang tajam atas kehidupan masyarakat Indonesia yang semakin morat-marit dininabobokkan oleh tayangan kuntilanak di televisi, digerus alamnya oleh ketamakan kapitalisme, dan lain-lainnya.

Parang Jati adalah Yuda adalah Ayu Utami sendiri. Ia menjeritkan (bahkan cenderung mendakwah seperti laiknya nabi) lewat Parang Jati (sesekali lewat Yuda) tentang perlunya kembali masyarakat Indonesia menghormati alam, menjaganya, kalau perlu mengkeramatkan dalam sebuah laku kritik yang disebutnya sebagai Neo-Kejawan (dari Kejawaan Baru... bukan dari kata Kejawen). Sebuah jeritan yang berujung pada konflik antara mereka yang status-quo pada situasi yang tak mau berubah seperti Pontiman Sutalip, Kupukupu, dan kelompok Farisi. Lalu diakhiri dengan kematiannya dan diteruskannya pemikiran itu oleh Yuda, mungkin juga nantinya Marja, yang sejak hari pertama sudah menjadi bagian dari mereka yang percaya pada keimanan yang ditawarkan Parang Jati: keimanan yang melakukan kritik pada modernisme yang dinilai mencederai alam, monoteisme yang sejak lahirnya tidak menyukai adanya perbedaan dan ikut mensponsori lahirnya kekerasan, dan militerisme yang menghambat demokrasi (postmodern). Itulah kisah Bilangan Fu.

Terhadap novel yang berjumlah halaman 536 ini, pada mulanya aku muak. Terutama karena Ayu seperti sedang asyik bermain kosa kata, yang membuatku berpikir untuk merekomendasikan "bacalah buku ini disertai Kamus Besar Bahasa Indonesia!". Sampai-sampai aku ingin teriak dalam bahasa Latin: Veritatis simplex oratio est -- "Bahasa kebenaran itu sederhana." Jadi sampaikanlah dengan cara yang demikian. Lalu juga aku tergoda untuk melakukan gosip, terutama mengenai mengapa Erik Prasetya yang menjadi ayah bagi novel ini. Trus aku menggerutu karena aku benci angka-angka yang ditawarkan dalam bentuk rumus.

Rasa takut bahwa novel ini akan mengecewakan menghantuiku selama hampir setengah perjalanan membaca buku ini, hingga sampailah aku pada bagian "Ratu Kidul dan Pandangan Keagamaan". Di bagian ini dan bagian-bagian berikutnya, kisah jadi lebih menarik karena dibenturkan antara apa yang diyakini oleh masyarakat dengan apa yang diyakini oleh agama. Rupanya inilah saripati Bilangan Fu sebagai novel yang mendalami seputar spiritualisme (Jawa). Menghadirkannya kembali ke hadapan kita, untuk kita telaah kembali, dan barangkali membangkitkannya dari kubur.

Sedikit tergelitik untuk bertanya kepada Ayu mengapa koridor spiritualisme seolah-olah selalu berada di luar agama. Bukankah ada sufisme dalam Islam, ada katolikisme dalam Katolik, tapi aku diam saja. Begitu juga melihat hadirnya teknik kolase (menyisipkan kliping-kliping berita ke dalam inti cerita) yang sama seperti yang digunakan Budi Darma dalam Olenka. Atau cerita koleksi kelingking putus si Fulan yang sepadan dengan salah satu cerpen Seno Gumira Ajidarma. Aku masih juga diam melihat salah cetak/kekurangtelitian editor dengan membiarkan salah tulis outdor (seharusnya outdoor), dejavu (seharusnya déjà vu), dan Siung Wanara (bukankah seharusnya Ciung Wanara) dan sumber cerita Ciung Wanara mana yang dipakai Ayu Utami karena versinya berbeda dengan yang beredar di masyarakat Sunda.

Kudiamkan semua karena aku terpukau oleh kemampuan olah cerita Ayu yang pandai meramu antara naratif, artikel, jurnal dan monolog para tokoh-tokohnya. Serta pastinya karena tanpa riset yang memadai, pastilah sulit menulis tentang geologi, legenda rakyat, kitab suci, dan cerita wayang. Belum lagi gambarnya. ** Horee!! ada sastrawan yang bisa nggambar! ** Semuanya itu nilai plus yang seolah menutupi beberapa gelitikan tanyaku sebelumnya.

Jadi, harus kuakui bahwa dalam menulis Bilangan Fu, Ayu Utami berhasil. Nah, selamat menempuh agama baru!
Maulida Raviola: Yang diperlukan untuk membaca karya Ayu Utami, selalu, adalah keterbukaan pikiran. Terlebih lagi dengan Bilangan Fu. Namun kritik-kritik Mbak Ayu terhadap Modernisme (atau modernitas), Monoteisme, dan Militerisme--sebagai 'dalang' keserakahan dan superioritas manusia modern terhadap sesama manusia dan lingkungan--sepenuhnya amat thought-provoking.

Dikemas dengan gaya bahasa yang lebih padat dan filosofis dibanding Saman dan Larung, juga dengan banyak analogi dari lakon-lakon pewayangan dan Babad Tanah Jawi, Bilangan Fu menawarkan juga kajian ulang (dan terutama sudut pandang baru) terhadap apa yang selama ini dianggap takhayul. Ketidakpercayaan terhadap takhayul ternyata tak lebih dari superioritas seorang modernis-fasis.

Tidak ada suatu hal pun yang dapat dilihat secara hitam ataupun putih. Saya rasa, lewat Bilangan Fu, Mbak Ayu sukses menawarkan spiritualisme-kritis sebagai cara pandang terbaik bagi seorang postmodern. Bagaimana kita mampu membedakan kritis dengan anti. Bukan menolak kebenaran, melainkan menunda kebenaran. Panggullah kebenaran, sebab kebenaran yang jatuh ke tanah hanya akan mewujud kekuasaan.

Inspiratif dan informatif. Saya selalu tidak sabar untuk membaca--dan membaca ulang--setiap tulisan Ayu Utami.

Randu: buku bilangan fu punya saya ditulisi nomor 6 oleh sang pengarang (artinya buku gratisan keenam...hehehe). dan saya baru membacanya 6 hari setelah peluncurannya. dan menyelesaikannya 60 jam kemudian (hampir 6 hari).

dalam buku ini ayu menggunakan analogi-analogi keagamaan yang sudah diakrabi oleh kebanyakan orang. tapi melalui simbol-simbol yang familiar itu, ayu menampar pembacanya: hayo, kamu pasti belum tahu yang ini! bahwa suatu peristiwa bukanlah semata kebetulan. bahwa pandangan kita akan nasib, ternyata dipermainkan oleh maksud-maksud politis orang-orang yang di atas sana (sedihnya, itu bukan tuhan). bahwa kita telah jauh dari alam, dan terbutakan dari daya magisnya. bahwa kita terlalu normal, sehingga kita membenci keanehan dan melupakan bahwa kita pun tak kalah aneh dari kodok bertanduk tiga.

bilangan fu mengobrak-abrik kepala, mencabik akal sehat, lalu menjahitkan lagi dengan kesimpulan-kesimpulan tak terbantahkan. dan lucunya, itu bukan kesimpulan ayu, tapi kesimpulan kita. demikianlah semesta bekerja. tak terhingga.

Julaybib: Saya membeli buku ini karena saya suka gaya menulis dan bercerita Ayu Utami, dan terus terang saya tidak kecewa sudah membeli buku ini. Ceritanya lumayan menarik, gaya berceritanya enak diikuti, dan ada pesan moral yang disampaikan. Cuma saya banyak tidak setuju dengan pesan neo spiritualisme yang diusung di buku ini.

Di sini Ayu mengajak kita melakukan laku kritik, yang intinya agar mentolerir dan menerima norma-norma di sekitar kita sebagai kebenaran yang tertunda. Tapi di lain sisi nampak juga penolakan yang terlalu kuat terhadap 3 M, yaitu modernisme, militerisme dan monotheisme. Bukankah ini namanya plin plan? 3 M itu menurut saya juga punya kebenaran tersendiri, dalam konteks yang tepat.

Yang paling fatal menurut saya adalah anggapan bahwa monotheisme tidak memiliki ruang untuk toleransi terhadap nilai-nilai yang lain. Ini jelas keliru. Sudah ada begitu banyak contoh yang menunjukkan bahwa dari sejak didirikannya, pengikut monotheisme menunjukkan sikap toleran terhadap yang lain, sedang pengikut polytheisme dan atheisme juga tidak kebal terhadap fanatisme dan radikalisme (lihat saja militansi pengikut Hindu di India). Musuh yang sebenarnya ya fanatisme dan radikalisme itu. Dengan menembak musuh yang salah kita malah bisa celaka semua.

Penolakan terhadap modernisme dan penerimaan terhadap takhayul serta adat juga dalam konteks tertentu bisa berakibat fatal. Tahayul dan tradisi menurut saya timbul karena orang dianggap tidak akan bisa diberi penerangan secara logis (karena kita malas atau menganggap mereka bodoh), sehingga perlu diciptakan mitos-mitos yang harus diikuti dan dijaga oleh kekuatan supranatural (yang tidak bisa diraba oleh manusia). Misalnya, anak-anak akan diculik makhluk halus kalau keluar setelah maghrib (karena sulit menerangkan ke anak-anak kalau malam itu gelap, banyak ular, kalau ilang juga susah nyarinya). Masalahnya, hanya perlu satu orang yang selamat dari culikan makhluk halus saat keluar malam untuk meruntuhkan mitos ini. Begitu yang lain ikut mencoba dan tidak terjadi apa-apa, runtuhlah keangkeran mitos ini dan kita harus menciptakan mitos baru agar mereka mau tetap di rumah.

Kenapa tidak dari awal diterangkan yang sebenarnya saja? Dengan begitu kan kita jadi punya generasi muda yang lebih rasional. Jangan membabat hutan karena hutan menjaga tanah dari erosi, mempengaruhi iklim dan suplai air, dll, daripada menyuruh orang bikin sesajen dan membuat ritual yang aneh-aneh sekedar biar orang gak membabat hutan semaunya? Apa ini karena jauh di dasar lubuk hati beliau tertanam kepercayaan bahwa cara berpikir manusia pedesaan itu selamanya begitu dan tidak akan mempan diisi dengan fakta-fakta ilmiah yang rasional? Bukankah itu namanya diskriminasi dan stereotyping?

Wikupedia: Setelah vakum agak lama dalam menulis novel, ayu utami hadir lagi dengan membawa sebuah kisah berjudul bilangan fu. Novel ini berkisah dengan latar Watugunung dan kegiatan panjat tebing, yang bagi saya sudah merupakan nilai yang unik. Namun teryata itu semua belumlah apa. Kisah dan konfilk di dalamnya lebih menggetarkan lagi.

Bercerita tentang 4 tokoh utama, Yuda, Jati, Kupukupu, serta Marja. Tentang pertemanan dan persahabatan dalam cinta yang bening antara yuda, Marja dan Jati, serta konflik panjang mengenai perbedaan pendapat menganai spiritualisme (agama) antara Parang Jati dan Kupukupu. Dan ternyata itu pun belum cukup untuk merangkum kisah dalam novel ini.

Dalam perjalanan kisahnya Yuda dan Jati bertemu dengan berbagai konflik khas bangsa Indonesia, iri dengki serta kedangkalan pemahaman akan banyak hal, terutama mengenai spiritualisme. Pertentangan yang rumit antara agama bumi dan agama langit dibentangkan dalam jalinan bahasa yang tidak biasa. Di lengkapi juga dengan semacam data yang difiksikan mengenai kliping-kliping koran mengenai berbagai kejadian yang mendukung alur cerita, dan bila pembaca jeli ternyata berbagai kliping koran dan berita didalamnya pernah mampir dalam hidup kita. Dan terlebih lagi, mengenai sebuah bilangan, yang diberi nama Bilangan Fu.

Membaca Bilangan Fu seperti membaca sebuah masa lalu kelam, masa lalu masyarakat Indonesia, yang gamang akan banyak hal, yang prematur dalam memahami banyak hal. Isme yang ingin di perlihatkan Ayu memang berulang-ulang hadir di pikiran saya dalam beberapa waktu ini, mengenai pendapatnya tentang kebenaran yang tidak melulu harus langsung diungkapkan, namun harus dipanggul terlebih dahulu, juga mengenai sikap lalu kritik yang begitu bijaksana, serta tentu , mengenai spiritualisme kritis itu sendiri.

Bangsa kita dibangun oleh kebudayaan yang panjang, kebudayaan yang tidak bisa diberantas atas nama apapun, dalam konteks itulah sebaiknya kita membaca Bilangan Fu dan memaknainya secara bijaksana.

Nanto Sriyanto: Semalem dapat 2-3 bab. Entah karena pernah mendengar cerita dari beberapa teman yang sudah baca, kok langsung bisa nebak kemana maunya Ayu Utami dengan tiga babak besarnya dan karakter yang dibangun dalam tiap tokohnya. Modernitas vs taruhan. Modernitas adalah kuasa akal yang menihilkan dan menistakan kebetulan dan klenik, namun si tokoh dengan bangganya menunjukan sebaliknya...

Itu ke-sotoy-an sementara saya. Sejauh ini kalimatnya membuat saya bisa cepat membacanya. Suka kalimatnya. Kertasnya. Tak lupa coklat-nya. Ceritanya? Kita lihat dulu sejauh mana dia berantitesa terhadap narasi mainstream.

*update 26082008*
Dialog antara Yuda dan Jati menarik. Dialog dua kutub pemikiran yang menarik. Sejauh sumber pengetahuan tradisional bisa menjadi sumber dari pengetahuan modern, itu pendapat Jati yang meng-kick Yuda.

*070109*
Mau coba nerusin. Abis males aja melihat tradisionalitas sama modernitas dibenturkan dengan terlalu oversimplified :D Itu asumsi saya yah! *kejebak asumsi seh...!*

Preview Novel Larung

Minggu, 28 Agustus 2011

LARUNG adalah sebuah novel yang tampak tidak menarik bagi mata saya. Siapa pun yang menyukai warna-warna cerah pasti tidak akan melirik novel dengan sampul warna gelap itu, bahkan, semacam ada distorsi huruf-huruf cetak pada sampulnya. Tapi bagi siapa yang pernah membaca novel SAMAN, pastilah dia akan tahu bahwa LARUNG adalah novel kedua dari TRILOGI SAMAN. Berterima kasih pada KEKASIH saya yang membelinya—tapi tidak menyentuhnya secara berkala, seperti saya, mungkin dia tidak gila novel seperti saya—dan menunjukkan pada saya. Saya membacanya dengan menggebu dan tahu bahwa makin hari saya makin menyukai gaya tulisan dan genre yang diangkat AYU UTAMI. Saya sangat menyukai AYU hingga saya berharap menjadi adiknya. HAHAHAHAHAHAHAH........... kecintaan pada sesuatu kadang membuat kita takabur


Larung

by

Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tali telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para prajurit dengan pinggul mereka agar percaya pada komunisme, bukan pada segala tuhan. Sembari bernyanyi genjer-genjer. Tetapi aku tahu ibumu dan istri Nyoman Pintar kerap berada di bangsal dan mengajari sesama istri tentara membikin ketupat dan janur dari daun nyiur. Mereka semua pendatang. Dan daun genjer hanyalah sayuran yang membuat tinjamu lengket panjang.

Larung adalah kelanjutan Saman (KPG, 1998), novel karya Ayu Utami.

Saya: baru saja menyelesaikan Larung. Fiksi yang bisa dikata semi-fiksi sebab mengisahkan kejadian politik dan sosial di Indonesia dengan lugas dan membuka pengetahuan kita bahwa pernah terjadi kejatahan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim Orde Baru...(membaca bersama kekasihku Desni)

I'm on page 168 of 259 of Larung: Saman telah dua tahun tinggal di New York, dan merasa betah, sebab seperti kebanyakan aktivis kemanusiaan, negeri asing lebih memelihara mereka daripada negeri sendiri//Yasmin datang dan mereka berselingkuh.

Pera: this book tells about 4 woman in friendship.Gunawan Muhammad call this book as sastra lendir, because the author use women sex point of view expressively. eventhough, in my opinion, her world style is far away from lust.
I like how Ayu utami describe a kind of flower as vagina. in it's era, this book is so brave. esspecialy because the author is an eastern-woman and tell about woman with so bitchy in sex.

Weni: Halaman 152 (Shakuntala bercerita ttg percakapannya dg Laila):


"Aku bikinkan kamu susu. Dengan kopi atau coklat?"
Kamu tertawa. "Kenapa kamu selalu memaksa orang minum susu?"
"Karena perempuan akan kehilangan massa tulang setelah ia menopause."
Kamu nyengir. "Masih 20 tahun lagi."
"Masih 20 tahun waktumu untuk menabung tulang."

Dan waktu itu lebih pendek jika kita tak punya lelaki sebagai sumber feromon yang bisa senantiasa kita endus. Sebab hirupan atas keringat lelaki merutinkan haid kita dan memperpanjang usia subur. Tapi aku tidak mengatakannya. Sebab minum susu lebih realistis ketimbang mendapatkan lelaki. Kita bisa membeli susu.


*Googling, mencari feromon*

Feromon adalah zat kimia yang berasal dari kelenjar endokrin dan digunakan oleh makhluk hidup untuk mengenali sesama jenis, individu lain, kelompok, dan untuk membantu proses reproduksi. Feromon, berasal dari bahasa Yunani ‘phero’ yang artinya ‘pembawa’ dan ‘mone’ ‘sensasi’.

Katanya feromon adalah senyawa pembangkit cinta.

Hmmm... jadi kewajiban minum susu bisa diganti dengan mengendus suami eh sumber feromon hahaha.

Mina: Lanjutan dari Saman, katanya sih. Tentang Saman, Laila, Sihar, Cok, Yasmin, dan Shakuntala, plus Larung. Aku tidak begitu ingat ceritanya, ya, hehehe... Kurang menohok dibanding Saman.

Dunianyawira Setiawan: setelah membaca 2 bukunya ayu utami, saman dan larung...hmm..menurutku memang ayu punya gaya bahasa yang khas
saman dan larung sama2 khas dan menarik tapi saya bisa lebih menikmati larung daripada saman mungkin karena waktu membaca saman masih dalam proses penyesuaian tapi kalo mambaca larung tanpa saman jg rasanya pasti kurang mantap...

banyak saya liat,pembaca yang menilai cara ayu membahasakan seks sebagai nilai minus dalam buku2nya padahal menurutku justru itu kekuatan ayu dimana ia tidak pernah memandang seks sebagai sesuatu yang tabu atau tidak etis, coba saja baca lagi bukunya aku kira kita bisa melihat estetika dan filosofi seks disini.. hal tabu itu hanya karena kita dari kecil sudah didoktrin untuk berpikir seperti itu

dan jangan salah,kehebatan buku ini bukan pada caranya memcampurkan seks, mistis dan drama kehidupan tapi bagi saya justru ayu bisa sangat luas mencapai pelajaran spirituil kehidupan dalam bahasa yang lugas dan tegas...

kesimpulannya : termasuk buku yang layak disantap mata kepala dan mata hati kita masing masing....

Azzahro Wijaya: Membaca halaman-halaman pada larung di awal sebenarnya membuat saya agak bergidik ngeri dan jijik. Jika teringat bagaimana neneknya si Larung digambarkan disini, saya jadi agak ga napsu makan.. hehe..
Saya juga teringat bagaimana Ayu Utami menggambarkan betapa mengerikannya proses pembuatan telur asin. Saya rasa ada satu kemiripan antara Saman dan Larung, yaitu mereka merasakan hal yang berbau mistis dalam hidup mereka. Saman pada ibunya, dan Larung pada neneknya.

Larung dan Saman sama-sama bercerita tentang masa orba (yang tidak begitu saya mengerti, karena waktu zaman orba saya masih kecil dan tidak mau berusaha mengerti apa yang sebenarnya terjadi.), bercerita tentang kisah cinta (terlarang), kisah mistis, hal-hal yang dianggap tabu (dikupas dengan tajam setajam silet?) Ah, pokoknya Saman dan larung seru sekali. Tapi sayang sekali endingnya tragis dan menggantung. Saya ingin tahu nasib laila dan Yasmin.

Ana “a Kecil: urgh... agak ga ngerti sih

saya pribadi membagi novel ini menjadi 3 bagian.

bagian pertama bercerita tentang Adnjani, nenk Larung yang sepertinya mempunyai kesaktian dalam tubuhnya. Ia begitu tua renta tetapi hidup hingga Larung merasa harus membunuhnya.

bagian kedua bercerita tentang rumitnya percintaan 5 orang wanita: Yasmin, Cok, Laila, Shakuntala (dan siapa lagi? lupa)yang melulu berkisar soal sex.

dan bagian ketiga yang menceritakan aktivis yang lari dari rumitnya keadaan politik Indonesia pada masa PKI.

ah.. saya ga ngerti relasi antar ketiga bagian ini.

Sally Siawidjaja: Akhirnya selesai juga baca buku ini. Phewww...

Sebagai pemula dalam bacaan sastra, baca buku ini seperti makan sushi pake wasabi yang banyak. Pedes banget. Mungkin ada orang yang suka tapi gue pribadi ga suka sama sekali.

Yang gue ga suka:
1. Cara penulisannya yang terlalu berlebihan, seperti tentang tai, daki, bau-bau an pokoknya jorok deh, jadi mual.. Kalau ttg alat kelamin dan sex masih bisa gue terima, walau menurut gue kadang berlebihan.

2. Semua karakter di buku ini kok melankolis yah.. yang gue suka cuma si Cok yang bitchy. Karakter Larung juga ga jelas deh kenapa die jadi misterius. Die itu sebenarnya psikopat yah?

3. Gue ga ngerti maksud dan tujuan buku ini, apa mau cerita ttg pemerintahan Suharto yang sadis? atau ttg unsur sex yang masih tabu di Indonesia? atau tentang mistik2? Ada laila, yasmin yang bicarain tentang sex dan selingkuhan, ada saman dan larung yang backgroundnya mistik, dan ada Saman, yasmin dan larung yang aktivis. Pusing deh gue.

Yang lumayan dari buku ini cuma ending nya yang ga ketebak.
Tapi kalau udah baca Saman sih emang kudu baca Larung. Walau Saman mirip dengan Larung, tapi gue jauh lebih suka Saman daripada Larung.

Walau gue ga suka sama Larung tapi gue ga kapok sih baca bukunya Ayu Utami