Tampilkan postingan dengan label Lentera Dipantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lentera Dipantara. Tampilkan semua postingan

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Rabu, 04 Januari 2012

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

by Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku tentang kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer hingga Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.

Lentera Dipantara 2006

Ipung: "Dan ternyata Daendels tidak seluruhnya membangun jalan raya pos itu. Dia hanya mengeraskan dan melebarkannya."

Irwan: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak di antara bangsa-bangsa lain” (Pramoedya Ananta Toer).

Kata itu adalah pembuka saat awal buku Pram yang satu ini. Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels merupakan jalan yang membentang sepanjang 1.000 kliometer dari Anyer sampai Panarukan. Jalan itu dibangun atau lebih tepatnya dilebarkan di bawah perintah Maarschalk en Gouverner Generaal, Mr. Herman Willem Deandels. Yang selesai pada tahun 1809. Lewat buku ini Pram menyeritakan sisi kejam dari pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan air mata dari penduduk republik ini.

Deandels ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda taun 1808. Dia mendarat di Anyer pada 5 Januari 1808. Untuk jamannya , “membangun” jalan Raya sepanjang itu dalam setahun saja (1808) sungguh prestasi besar, karena itu juga namanya mendunia. Deandels merupakan sosok yang kontroversial. Ia di gambarkan sebagai soerang yang berhati baja sekaligus berkepala angin, tak punya kekuatan untuk menghadapi, baik atau buruk, benar atau salah, dan langsung mengancam dengan bentakan akan menembak mati lawan berargumentasi. Penulis Belanda “Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” sendiri menyatakan, Deandels seorang despot yang kejam tidak taktis, dan tak ada bakat diplomat, karenanya tidak cocok bergaul dengan raja-raja pribumi.

Daendels hanya memerintahkan untuk melebarkan jalan menjadi 7 meter. Semua batu peninggian dan pengerasan, rakyat kecil dan para petani yang harus setor serta tanpa imbalan. Atau dengan imbalan, hanya saja orang-orang atasan tertentu yang menerimanya. Bukan rahasia lagi, jaman kompeni adalah jaman maraknya korupsi. Walaupun jaman orde lama, baru maupun reformasi masih dilestarikan korupsi sebagai warisan bangsa.

Ada tindakan Deandels yang menjadi sejarah –semua tindakanya sepertinya adalah sejarah – yaitu ketika dalam perjalanan inspeksi pembangunan Jalan Raya Pos ia mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Usahakan ketika aku datang lagi kesini telah di bangun sebuah kota). Lalu ia menusukan tongkat ke tanah. Tempat menusukan tongkat itulah yang kemudian menjadi titik nol kilometer kota Bandung.
Kebengisan Deandels dalam memerintah karena dia adalah satu-satunya dari 71 Gubernur Jendral yang diterjunkan langsung dari Belanda. Gubernur Jendral biasanya diangkat diantara orang Belanda yang ada di Hindia Belanda. Disamping memenimbulkan kebencian pada rakyat Indonesia, tingkah Deandels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis napoleon –raja Belanda, adik dari Napoleon Bonaparte yang waktu itu menduduki Belanda.
Sehingga pada 1811 ia di panggil pulang dan diganti J.W. Jenssens. Berakhirlah karirnya sebagi gubernur jendral Hindia Belanda.

Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels atau kerap dikenal dengan nama jalan Anyer-Panarukan. Sesuai dengan namanya awal dari pembangunan jalan ini mulai dari Anyer. Anyer merupakan tempat pertama kali Deandels menginjakan kaki di bumi Jawa. Tetapi Anyer yang didarati Deandels bukan Anyer yang sekarang. Pantai dan beberapa desanya telah habis disapu oleh letusan gunung Krakatau tahun 1883.

Setelah itu jalan Raya Pos bergerak 19 kilometer ke arah barat yaitu kota Cilegon, kemudian menyusuri kota Banten, selanjutnya membelok ke selatan menuju Serang. Di kota Serang ini pengarang Belanda Multatuli mendapat inspirasi untuk memebuat karyanya yaitu Max Havelaar, yang memberikan kesaksian betapa rakyat teraniaya oleh penjajah Belanda.
Kemudian di teruskan melalui kota Tanggerang dan dua puluh kilo meter menuju tanah betawi –Batavia. Di Batavia juga di ceritakan betapa terkejutnya Inggris bahwa rakyat hanya menikmati seperempat belas dari hasil pekerjaan mereka. Tiga belas perempatbelas adalah untuk membiayai tata susun feodal pribumi sendiri, kekuasaan kolonial dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Lantas bagaimana petani Jawa bisa bertahan, orang Inggris menJawab sendiri : “Karena Kesuburan Tanahnya.”

Beranjak dari Batavia lanjut menuju kota Depok melintasi Lenteng Agung dan Pondok Cina. Dari namanya daerah ini merupakan tempat kediaman etnis Tionghoa. Di masa VOC, dari surat wasiat tanggal 13 maret 1714 tanah di berikan kepada budak belian yang beragama Kristen dan keturunanya. Salah satu syaratnya dalah bahwa oarng Tionghoa tidak boleh tinggal disitu. Namun sekarang Depok menjadi kota Universitas. Saya termasuk “warga” didalamnya, walaupun menurut saya Depok masih banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Karena mahasiswa di kota Depok banyak juga yang beretnis Tionghoa dan dengan Indeks Prestasi (IP) yang luar biasa –cumlaude— atau sering di sebut IP “dewa”. Pribumi mau tak mau harus mengakui dan banyak belajar dari ketekunan etnis tersebut.

Kemudian dilanjutkan menuju Buitenzorg –Bogor—, tejemahan dalam bahasa Prancis, Sans Souchi, yang berarti tanpa beban pikiran, santai saja. Meninggalkan Bogor menuju Priangan si Jelita. Priangan atau Parahyangan tempat para hyang (=leluhur atau dewa) bersemayam. Kemudian menjurus ke tenggara sampai ke Ciawi di kaki gunung Pangrango. Hanya menuruni beberapa kilometer menuruni lereng gunung Gede dan sampailah di Cianjur,Cimahi, Bandung Parijs Van Java ibu kota Priangan, kemudian menuju kota tahu, Sumedang, dan dilanjutkan ke kota Karang Sembung.

Dari Karang Sembung jalan Raya Pos menuju kota pelabuhan Cirebon. Kemudian secara berturut-turut melintasi kota Losari, Brebes, dan Tegal. Konon orang Tionghoa sudah bermukim di kota Tegal sejak sebelum abad 10. Bisa dipercaya karena Posisi Tegal sebagai gudang beras, dan sampai bangkrutnya VOC menjadi Hindia Belanda.
Enam puluh kilometer ke timur menuju kota Pekalongan kemudian menuju kota Batang, Weleri, Kendal, dan selanjutnya menuju kota Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Meninggalkan Semarang, sekitar dua puluh delapan kilometer sedikit serong ke timur laut menuju kota Demak –kota yang tekenal dengan mesjid Agung Demak. Jalan Raya Pos kemudian menyusuri kota Kudus yang merupakan mata rantai dari penyebaran agama Islam yang juga merupakan industri rokok kretek.

Dari Kudus kemudian menuju kota Pati yang didalam wilayah kabupaten juga terdapat makam yang melambangkan kekacauan berabad dalam alam pikiran. Makam di Tlogowungu itu dianggap bukan saja keramat juga sebagai makam Pandu Dewanta, tokoh pertama Pandawa Lima dari sastra Hindu Mahabaratha. Selanjutnya menuju kota Juwana dan kota perbatasan Jawa Tengan dan Jawa Timur yaitu Rembang.

Memasuki provinsi Jawa Timur masuk ke kota Tuban, kemudian masuk ke kota Gresik. Di sini juga cukup banyak peninggalan lama seperti jangkar tua bermata 4 dengan panjang 3,5 meter. Dan tentu saja makam-makam lama seperti makam Maulana Malik Ibrahim yang dianggap sebagi wali pertama semasa tahap pertama penyebaran Islam di Jawa. Kemudian jalan Raya Pos menuju ke kota Surabaya. Di kota ini Pram untuk pertama kali melihat dan mengenal kata “tawuran”.
Berlanjut beberapa kilometer saja ke selatan sampailah ke kota Wonokromo dan delapan belas kilometer kemudian sampai ke kota Sidoarjo. Selajutnya sepuluh kilometer kemudian sampai ke pusat lumpur di kota Porong. Kemudian jalan Raya Pos melintasi kota Bangil, lanjut kota asal Inul Daratista –Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan dua puluh kilometer menyusur pantai timur laut sampailah ke terminal jalan Raya Pos yaitu Panarukan, yang semasa VOC juga merupakan benteng kompeni sebagai terjemahan keadaan siap perang.

Diakhir bukunya Pram mengatakan “saya tidak pernah berjalan di atas bumu Panarukan….”Jejeran kota-kota dari Anyer sampai Panarukan merupakan sebuah jejeran yang sungguh sangat membosankan jika hanya di tilik dari sejarah dan khas kota tersebut. Namun, Pram bisa menyiasati agar sejarah yang membosankan dan penuh kejumudan menjadi mengasikan dan terkadang membuat tertawa. Karena di buku ini penulis melibatkan diri baik dalam pengalaman maupun dalam argumentasi.

Misalnya ketika masuk ke penjelasan kota Cirebon Pram menceritakn sebuah kenangan yang menurutnya tidak akan mungkin terulang kembali. Di pertengahan 1946, pangkat Pram sudah melompat menjadi letnan dua. Singkat cerita Pram dari Cirebon ingin ke Tegal menuju tempat kopral yang katanya punya saudari perempuan. Celakanya mereka tak menemukan rumah kopral tersebut. Ajaib..!! Dan alangkah kagetnya Pram ketika selesai makan di sebuah hotel besar uang di sakunya lenyap. Kaburlah mereka berdua pada pukul 3 pagi. Karena masih jaman revolusi, suasana malam sangat sepi, namun kemudian mereka sampai ke tempat yang bernama Laskar Rakyat. Tanpa curiga piket setempat menerima mereka, malah menyuguhkan singkong rebus. Pengalaman uniknya sebagai berikut.

“Belum lagi membaringkan badan perutku melintir. Piket menunjukan dimana kamar kecil. Tempat itu gelap tak tembus pandang. Kaki menggeRayangi tahta kakus. Begitu mendapat ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh berbunyi minor. Membersihkan diripun tangan menggeRayangi sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam itu jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masyaallah, ternyata yang kuberaki bukan tahta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam priuk rendah yang masih ada singkong rebus. Celaka, ini bisa jadi tuduhan aku sebagai agen provokator, dan tembak-menembak bisa terjadi dan merembet jadi tembak menembak antara tentara lawan laskar. Kopralku kutarik dari tikar pendopo markas. Sekali lagi kami melarikan diri.” (hal. 79)

Masih banyak lagi pengalaman Pram yang di masukan dalam buku ini. Terdapat pula argumentasi yang menusuk tentang pembuatan jalan 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa. Menurut Inggris korban dari pembuatan jalan tersebut mencapai 12.000 orang. Yang juga merupakan kuburan terpanjang dalam arti sebenarnya maupun kiasan sebagai bangsa yang besar, luas, kaya, tetapi selalu kalah dalam segala hal.

Siwulani: Bahwa negara kita bisa maju dengan cara yang amat memprihatinkan. Belanda menjajah sekaligus membangun negara kita. Buku ini mengandung nilai historis sekaligus geografis.

Edy: Buku ini kayak buku sejarah tetang kota-kota yang dilalui jalan Daendels. Buku ini relatif ringan dibaca dengan alur cerita sederhana meski ditulis dengan bahasa yang bernas ala Pram. Yang menarik adalah untuk nulis buku ini, kemampuan Pram untuk melakukan studi literatur kayaknya sangat dituntut. Menurutku buku ini tidak terlalu istimewa dibanding karya2 Pram seperti Tetralogi Pulau Buru, Perburuan dll.

Astrid: Membaca buku ini menyadarkan saya betapa minimnya pengetahuan saya tentang pulau Jawa , pulau yang harusnya menjadi pulau yang paling saya cintai , tapi apa buktinya ? Ternyata banyak hal yang masih baru yang saya serap dari buku ini.

Menelusuri Jalan Raya Pos dengan membahas satu persatu kota yang dilewatinya tak menjadi membosankan , seperti yang selayaknya dirasakan kalau kita membacanya dari buku teks sejarah di sekolah.

Windy: i've just finished to read this book. it was about the history behind the reconstruction and the making of long road crossing from Anyer to Panarukan, prior Indonesia independence. the writer also add the historical value for each city and town where this road spread over. it more like the notes from his trip, although he never went to the last city where this road ended. he also told a lot about the crime of colonizer. Governor Hermann William Daendels was the implementer of this project. his superior Louis Napoleon - young brother of Napoleon Bonaparte- give a command the compressed the budget. i dont know maybe that is the reason why he implemented rodi or romusha on the worker. rodi or romusha is another face of slavery, this worker was force to work with not sufficient rest and food without get paid. the number of victim is growing larger and larger, the rebellion from local community keep growing. but all the rebels face was VOC, one of biggest commercial organization in europe -could be in the world- at that time. the bamboo was never win against the bayonet. the interesting points was when the writer told us about his unforgettable experience. and about his story when he was being captured and incarcerated. or when the government try to stop him.

this writer has been defeated by Indonesia Government but it was never erode his nationalism. people as smart as the writer, who has high intelegence would understand and know that this land - Indonesia- has been so kind to us. it is the certain number of people who fight for their own interest who lead indonesia in to the demolition. at the end as indonesian people we should be proud of our nation, the land where the hero and the victim of romusha' blood spilled on. if not us ... then who else ...if not Indonesian itself ... then who else ??

Review Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer




Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

by Pramoedya Ananta Toer

Indonesian comfort women during the Japanese occupation, 1942-1945.

Wirangggeni: berisi tentang kekejaman belanda terhadap para gadis Indonesia yang dijadikan budak.

Herru: Baca dan kalian semua akan dibuat untuk mengerti sejauh apa kepahitan, kesakitan, kesedihan, keputusasaan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang disebabkan oleh JEPANG.


Ryan: Catatan Pram yang masih tersisa dari pembakaran buku2 beliau pada masa orde baru. PRDCM, banyak mengungkap data historis tentang pelecehan seksual ribuan perawan jawa pada masa penjajahan Jepang.

Mahe: Lagi...cerita ttg orang-orang yg terlupakan atau bahkan mungkin sengaja dilupakan, jugun ianfu. Kali ini biang keroknya Jepang! Human trafficking! Saat ini masih terjadi...menyedihkan. Pelakunya saudara kita sendiri, menjual anak perempuan sendiri. Menjual anak didiknya sendiri...

Iva: sejarah yang bagus untuk tidak dilupakan begitu saja..
gak bisa membayangkan gimana rasanya jadi gadis2 itu yang dijanjikan sekolah ke tokyo tp ternyata untuk dijadikan pelacur.. setelah Jepang pergi pun hidup mereka harus menanggung malu dan terperosok menjalani kehidupan pribumi jauh di pedalaman...

Azia: gw ga sanggup ngebayangin...gadis2 yang dikirim oleh Jepang untuk belajar agar lebih berpendidikan setelah kemerdekaan Indonesia....masih sangat muda...14thn-20thn...ternyata untuk memenuhi kebutuhan seks tentara Jepang...merekalah jugun ianfu korban-korban tersebut selain cantik2 juga berasal dari keluarga yang cukup berada. anak lurah.anak kades.

sedih banget bacanya...selain karena perlakuan kejam tentara Jepang. setelah Indonesia merdeka, mereka ditelantarkan dan tidak dipulangkan ke indonesia..ada yang di thailand...ada yang di Singapura...mereka pun enggan pulang, karena malu dengan keluarga mereka...sampai saat ini perjuangan mereka masih menuntut pemerintah Jepang atas tindakan tentaranya di perang dunia 2 masih terdengar dari Indonesia, Korea selatan..

Sally: Saya membaca buku ini sekitar bulan April, tahun 2006. Ini adalah non-fiksi pertama Pram yang saya baca. Riset yang sangat baik dari seorang cendikia seperti Pram.
Baru-baru ini saya membacanya lagi. Saya sangat suka bab terakhir dalam buku ini. Bab tersebut berjudul Menjejak Ibu Mulyati Dari Klaten. Dalam kondisi pembuangannya di Pulau Buru, Pram bersama kawan-kawannya mencari jejak seorang wanita Jawa yang menjadi korban "penipuan" tentara Jepang. Mereka yang menjadi korban adalah gadis-gadis pribumi berparas cantik yang terlahir dari keluarga pengreh praja/priyayi. Tentara-tentara Jepang tersebut menjanjikan pendidikan yang lebih baik di Tokyo pada gadis-gadis ini. Namun, seperti yang kita ketahui sekarang, mereka akhirnya menjadi jugun ianfu (gadis penghibur).

Salah satu daya tarik dalam bab ini adalah perjalanan seorang kawan Pram bernama Sarony dalam pencariannya menemui seorang wanita Klaten bernama Mulyati. Ia harus melewati bukit-bukit terjal, menemui suku-suku terdalam dan hidup seperti mereka. Semua itu dilakukannya hanya untuk menemui Ibu Mulyati seorang. Selain itu, gambaran Sarony tentang pulau yang dijadikan tempat pembuangan tawanan politik ini sungguh mengasyikan untuk dibaca.

"Beberapa batang pohon di tebing itu sebagian akarnya berada di permukaan tanah. Akar-akar itu berkaitan satu dengan yang lain, saling melilit, saling mempertahankan, seperti ular besar berkelahi di tepi jurang. Masing-masing berusaha menang dengan ekor tetap berpengangan mencegah jatuh ke dasar jurang.

Dedaunan dan dahan pohon meneduhi jalanan yang kami lalui. Sebagian condong ke atas air. Jutaan serangga merayap naik-turun pada batang lapuk, bekerja membangun istana baru. Sebuah mahligai yang telah mereka tinggalkan tergantung sunyi pada dahan, sebesar guci." (hal. 111)

Pada paragraf tertentu saya menjadi sedikit emosional karena pendeskripsiannya yang sangat baik dan romantis, ini salah satunya:

"Jalan setapak memasuki hutan gempol itu sedikit berair. Anggrek bulan dengan bunga birunya yang sedang mekar menggelantung dibuai angin pagi. Juga jenis anggrek bulan lain dan anggrek merpati ramai bergelantungan pada pohon gempol. Malah serumpun anggrek harimau tenang-tenang mendekam di ketinggian cabang. Bunganya yang kuning berbelang coklat serasa hendak meloncat untuk menerkam. Sayang sekali keindahan alam itu masih belum dapat dinikmati orang buangan ini. Juga tidak oleh penghuni kampung-kampung di gunung. Mereka baru bisa bicara tentang lapar." (hal. 112)

Buku ini semacam surat yang ditulis Pram kepada para perawan remaja masa depan (sekarang?) bahwa dahulu pernah ada sebuah tragedi yang memilukan, mengguncangkan, menakutkan, dan menyuramkan.

Hendra : buku ini mengisahkan penelusuran akan wanita buangan di pulau Buru. Wanita-wanita buangan itu ialah wanita-wanita yang pada tahun 1943-1944 diiming-imingi oleh pemerintahan balatentara Jepang untuk belajar ke Tokyo dan Singapore, dengan tujuan kelak ketika kembali dari menuntut ilmu, dapat berguna bagi nusa dan bangsa Indonesia yang kelak merdeka. Namun ternyata janji itu dusta, mereka, yang masih sangat belia, hanya dijadikan budak nafsu para tentara Jepang.

Buku ini, didasari atas investigasi dari para pelaku langsung maupun tidak langsung, memberi beberapa kesimpulan atas latar belakang peristiwa kemanusiaan tersebut.

Review Midah Si Manis Bergigi Emas



Midah Simanis Bergigi Emas

by Pramoedya Ananta Toer

Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beguna. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan "si manis bergigi emas" dalam kelompok pengamen keliling dari stu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga…

Lentera Dipantara 1960

Inme: salah satu karya pram yg gw uska,,tpi sayang akhirnya ga gantung bgt,, gantung n gak bkin pnasaran (nah lho?)

Azia: ah Midah mengapa akhirnya mengalah dengan keadaan. Kamu mampu membentengi dirimu dari orang-orang yang berusaha mendekatimu tapi justru menyerah kepada kekasihmu. Kekasih yang pengecut seperti itu tidak pantas mendampingimu. dan akhirnya yang menanggung malu dan derita kamu sendiri..

Cici: Buku ini bercerita tentang perjuangan hidup perempuan yang menurut gue punya banyak pilihan yang lebih baik, tapi dengan segala gengsi (makan tuh gengsi...) dia menolaknya. Gue harap, jaman sekarang dengan begitu banyaknya pilihan untuk hidup, perempuan di Jakarta khususnya bisa lebih smart daripada Midah-midah lainnya.

Seni: Midah yang lari dari keluarga karena tak lagi mendapat perhatian paripurna dari kedua orangtuanya. Ia yang jatuh cinta pada musik, terdampar pada kelompok pengamen jalanan yang menyanyi dari keramaian ke keramaian lainnya. Bertekad menghidupi diri sekuat hati, sampai akhirnya ia tak kuasa bertahan dan menyerah dengan caranya.


Fahmi: kisah sedih seorang gadis bernama midah yang meninggalkan rumahnya dan kedua orang tuanya.mencoba merantau ke ibukota, jakarta.jatuh cinta kpd musik dan bergabung dgn kelompok pengamen jalanan hingga endingnya kalah secara moral... jakarta oh jakarta... hard city life!

Mustika: this woman refused to be defeated by the sorrows of life. even though she finally failed (morally), at least she had tried to cross it.

Anna: Sebenarnya sedang menghindari cerita2 bernada sedih begini, tapi ya nggak nista amat sih ceritanya.
Sabar sekali si Midah.. kalau saya pasti sudah tidak mampu..

Imas : Buku ke sekian karya Pram yang akhirnya kubaca,tepat 2 tahun setelah di beli...hmmm.

Buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1954 dan bersetting pada tahun 50-an. Diceritakan dengan sederhana, namun isinya sendiri tidak sederhana. Terbayang, pada masa itu, seorang perempuan muda anak seorang saudagar yang relijius, lari dari suaminya dan mengandung anak yang lahir bukan karena cinta. Midah, harus berjuang menghidupi dirinya dan bakal anaknya dengan modal suara dan lagu-lagu haram yang dilarang diputar di rumahnya.

Midah anak haji Abdul, pada akhirnya memang kalah (secara moral)dalam pertarungan hidup itu. Sejarah Midah si manis bergigi emas telah lenyap sebagai wanita.

Ibad: Midah wanita yang tanggung, berani untuk menentang adat kebiasaan yang tak seharusnya dilakukan. ini buku pertama karya Pram yang saya baca.Walaupun Pram penulis sastra namun tulisan mudah untuk dipahami. Apalagi jalan ceritanya buat saya penasaran dan banyak kejutan2 dari setiap ceritanya yang saya tidak sangka2. Karena buku ini lah akhirnya saya jatuh cinta dengan tulisan Pram.

Review Sekali Peristiwa di Banten Selatan



Sekali Peristiwa di Banten Selatan

by Pramoedya Ananta Toer

Novel ini merupakan hasil reportase singkat Pramoedya di wilayah Banten selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan.

Lentera Dipantara 2006

Harun: Buku yang mengajarkan kita untuk bergotong royong. Dengan gotong royong, pekerjaan yang kita lakukan jadi lebih ringan dan lebih cepat mendapatkan hasilnya. Bukunya ringan sekali, tidak perlu nonton film dulu apalagi nonton teater Broadway nun jauh di sana.


*masih terbawa review sebelah*

Bitra: Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis sebagai sebuah naskah drama. Setiap adegan dalam novel ini terasa seperti melihat sebuah pentas teatrikal. Pram menulis buku ini dengan bahasa yang sederhana. Kemungkinan besar karena Pram ingin pesan dari drama ini bisa lebih diterima oleh rakyat kecil kebanyakan. Meskipun alur ceritanya menarik, tapi bagi saya novel ini terlalu sederhana. Pesan "bila ingin mencapai kesejahteraan bersama kita harus bergotong royong" disampaikan terlalu langsung. Ya, sekali lagi, terlalu sederhana.

Sally: Pram menjadikan Banten sebagai representasi perbudakan di Indonesia di masa Belanda.

Fitri: “Reportase” singkat Pramoedya di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.

Ernest: A light read of a surprisingly average story with a cynical, almost typical happy ending. The plot is idiotproof, it doesn't feed me much of satisfying noetic literary nourishment. However the story is very much genuinely Indonesian, and probably a perfect case study for anybody who wants to learn more about Indonesian culture.

Fahmi: AWESOME!!!...putih tak selamanya putih dan hitam tak selamanya hitam.kesalahan adalah proses dalam hidup untuk menjadi...novel ini bercerita mengenai pemberontakan DI/TII diwilayah banten selatan.yang mana rakyatnya dibikin kerdil oleh pemberontakan tersebut...seperti soekarno bilang CONFLICT it not come from religion or else..but it comes from many of desire!!!...

Ancilla: Hal yang paling utama dalam buku ini adalah gotong royong yang tentunya terkait dengan kekeluargaan. Sangat ditekankan bahwa dengan aspek kerjasama yang walaupun sudah lama ada, namun tetap aplikatif untuk masa apa pun juga, termasuk saat ini. Gotong royong tidak hanya berisikan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan suatu tugas, namun juga aspek musyawarah-mufakat, toleransi dan kesediaan untuk "meletakan" ego masing-masing untuk kepentingan masyarakat banyak.

Topik bahwa pimpinan bukan berarti tidak boleh menerima pendapat dari bawahan. Bahwa pendapat dari bawahan, yang seringkali dianggap lebih bodoh dan segala hal minor lainnya, tidak berarti omong kosong.Walaupun, ada kalanya pimpinan-pimpinan memang tidak memungkinkan untuk duduk bersama para bawahan, Presiden misalnya. Akan tetapi, aspek mendengarkan ini sebenarnya dapat dilakukan dengan banyak cara. Sebagai individu pada umumnya dan pimpinan khususnya, seharusnya memang memiliki berbagai sumber.Selain itu, ada aspek keadilan. Juragan Musa yang ternyata "maling" dan pengkhianat tetap harus menerima ganjarannya, akan tetapi sang istri yang memang tidak tahu menahu, tidak diasingkan. Sang Nyonya tetap dilindungi dan didengar pendapatnya. Keadilan ini juga terkait dengan aspek memaafkan. Berbagai tindakan Juragan Musa yang keterlaluan kepada masyarakat kecil termasuk Ranta, sangat mungkin untuk diadili secara sepihak terutama ketika Ranta menjadi Lurah. Sangat mungkin untuk terjadinya pembalasan dendam. Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Juragan Musa tetap diadili berdasarkan hukum yang berlaku.

Lantas, aspek peranan perempuan dalam masyarakat. Pendapat perempuan seringkali dianggap tidak ada. Bahkan ada suatu anggapan bahwa perempuan tidak boleh lebih pintar daripada laki-laki, terutama di jaman tokoh-tokoh dalam buku ini. Padahal perempuan secara kodrat lebih memiliki empati terhadap kelangsungan kehidupan generasi selanjutnya. Memang, hanya boleh ada satu nakhoda dalam suatu kapal. Tapi tidak berarti peranan tukang dayung dapat diabaikan. Semuanya merupakan sinergi yang berkesinambungan.

Preview Midah Si Manis Bergigi Emas

Kamis, 29 September 2011

 

Midah Si Manis Bergigi Emas

Midah, pada awalnya berasal dari keluarga terpandang dan beguna. Karena ketidakadilan dalam rumah, ia memilih kabur dan terhempas di tengah jalanan Jakarta tahun 50-an yang ganas. Ia tampil sebagai orang yang tak mudah menyerah dengan nasib hidup, walaupun ia hanya seorang penyanyi dengan panggilan "si manis bergigi emas" dalam kelompok pengamen keliling dari satu resto ke resto, bahkan dari pintu ke pintu rumah warga…

Saya: Mengerikan sekali membayangkan tahun 50-an di Jakarta. Saya jadi ngeri membayangkan perempuan-perempuan yang merantau ke Jakarta pada tahun-tahun itu.

Raka Nouvel: Khas Pramoedya Ananta Toer!!

Novel tentang sosial ini sangat dekat dengan kehidupan nyata kita. Bagaimana seorang yang alim namun ternyata kealimannya diliputi oleh kesombongan dan keserakahan mengakibatkan anaknya yang cantik dan manis memberontak pada kehidupan keluarganya.

Tidak tanggung-tanggung Midah langsung terjun di dunia jalanan, menjajakan suara emasnya demi rupiah tak seberapa. Namun dijalanan Midah belajar banyak. Belajar tentang kekuatan, tentang keadilan, tentang kebohongan, tentang cinta dan tentang tanggung jawab.

Kehidupan yang pilu yang dihadapi Midah membuatku tak pelak merasa tergores pula. Bagaimana tidak, saat naluri kepedulian kita tersentil saat itulah kita menyadari bahwa kaki kita telah menapaki kesombongan tiada surut. Menapaki keangkuhan dunia yang semrawut.

Mau sampai kapan?

Dan sebagai orang tua kita pasti tersindir bahwa perhatian yang berlebihan, kesenjangan cinta dan kasih sayang, menimbulkan banyak dampak pada buah hati kita tercinta.

Jangan sampai terlambat! Baca dan pelajari makna dari buku ini.

Mungkin sebagian orang tak biasa dengan kemasan yang dibawa Pramoedya, namun pelajaran yang dikandungnya bisa diambil oleh siapa saja. ya siapa saja yang berniat berubah ke arah kehidupan yang lebih baik.

Dan kehidupan yang lebih baik bukanlah kehidupan yang penuh gelimang harta dan pujian...tapi kehidupan yang memiliki arti tidak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi keluarga, anak cucu dan lingkungan sekitar.

Irwan Sukma: Cetakan 1, Juli 2003
Cetakan 5, Februari 2010

Jakarta : Lentera Dipantara, 2003

134 hlm. ; 13 X 20 cm


Di rak buku saya ada 2 karya Pram yang belum saya baca yaitu “
Panggil Aku Kartini Saja” dan “Midah, Simanis Bergigi Emas”. Awalnya saya ingin menyelesaikan “Panggil Aku Kartini Saja” terlebih dahulu, yang rencananya akan saya selesaikan sebelum Hari Karitni 21 April. Dengan niat saat hari Kartini reviewnya sudah selsai. Namun apa daya, kesibukan saya yang tidak jelas membuat “Panggil Aku Kartini Saja” tertunda. Apalagi buku itu cukup tebal dan “berat". Maka saya memutuskan untuk menylesaikan “Midah Simanis Bergigi Emas” terlebih dahulu. Buku ini cukup tipis dan “ringan”.

Novel ini ditulis Pram pada warsa 50-an dengan seting tempat di Jakarta. Nama tokoh utama dalam novel ini bernama Midah. Hanya Midah. Kulitnya kuning wajahnya agak bulat. Kalau tersenyum, ih manisnya. Cantik parasnya, lentik suaranya dan kuat hatinya.


Midah dilahirkan dari keluarga yang taat beragama. Haji Abdul nama bapaknya. Fanatik terhadap musik yang berbau Arab. Umi Kalsum yang menjadi penyanyi favoritnya. Haji Abdul termasuk orang sukses. Ah, hidup ini alangkah manis kalau cita demi cita terampas di tangan kiri dan kebesaran demi kebesaran dikuasai di tangan kanan.


Hingga Midah berumur Sembilan tahun, keluarga Haji Abdul belum mendapatkan anggota keluarga baru. Mulai saat itu kebimbangan merayap dalam hatinya, bahakan sekali Haji Abdul pernah berkata , “
Biarlah semua aku korbankan, asalkan mendapat anak lagi—terutama lelaki.”
Dia merasa menyesal telah megatakan itu, dia merasa tidak bersyukur sepenuh hati kepada apa yang telah Tuhan berikan. Beberapa malam dia tidak bisa tidur. Untuk mencegah kemungkinan murka Tuhan, ia terus menerus berzikir.


Pada suatu hari istrinya datang padanya dan berbisik, “Tuhan telah mengabulkan permintaanmu. Aku mengandung. Akhirnya anak kedua lahir dan belum setahun kemudia Haji Abdul mendapat anak kembal laki-laki. Setahun kemudian ia memperoleh anak perempuan. Terus menerus.


Midah merasa sudah mulai tidak dimanjakan. Sudah tak dapat lagi perhatian seperti dulu. Dia mulai mencari indah dan nikmat itu diluar rumah. Hingga akhirya ia jatuh cinta pada musik kroncong. Musik kroncong yang menurut bapaknya adalah suatu yang haram. Karena melihat Midah menyanyi mengiringi lagu kroncong ditamparlah Midah oleh bapaknya. Dihancurkanlah piringan hitam Midah yang berisi lagu kroncong.


Midah dikawinkan oleh seorang yang kaya kenalan bapaknya. Orang tersebut bernama Haji Tarbus dari Cibatok—seorang yang berperawakan gagah, tegap, berkumis lebat, dan bermata tajam. Haji Tarbus bukanlah bujang dan muda. Bininya telah tersebar di seluruh Cibatok. Ini di ketahuinya setelah mengandung tiga bulan.


Midah akhirnya minggat dari rumah suaminya. Tetapi tidak pulang kerumah melaikan kerumah bekas babunya yang bernama Riah.Tak berapa lama Midah tinggal di tempat Riah. Midah kemudian pamit dengan kondosi mengandung. Midah lebih memilih hidup di jalan, dia terkenang dengan rombongan kroncong. Kini tarikan untuk memasuki kehidupan tanpa kesulitan itu makin terasa. Kehidupan yang hanya mengabdi kepada kenikmatan, kegiranganm dan keriahan tingkah keroncong.


Sebagai pengamen kronocong, memang begitu di hinakan. Sedangkan mereka tidaklah mengemis. Mereka membagi keriangan kepada pendengar dan minta perhatian dari pendengar dengan sedikit penghargaan.


Midah kemudian bergabung dengan rombongan kroncong yang di temuinya di wilayah Senen. Ketika rombongan kroncong itu menanyakan nama dari Midah, dia tidak menjawab. Karena wajah Midah yang cantik dan manis. Maka mereka sepakat memanggil Midah dengan sebutan Simanis.

Ketika masuk rombongan untuk menyaingi vokalis yang sudah ada yaitu Nini. , Midah mengganti sepasang taringnya dengan emas. Sebelumnya Nini juga bergigi emas.


Dalam rombongan kehamilan Midah semakin membesar, ini membuat Midah tidak mampu mengikuti rombongan. Ini merupakan suatu hamabatan. Apalagi ketika Midah melahirkan, semua tampak tidak sepakat dengan kehadiran bayi tersebut. Ketika malam mereka merasa terganggu. Ketua rombongan juga tidak mampu berbuat banyak, dia memutuskan agar Midah keluar dari rombongan. Sebenarnya itu tidak akan terjadi jika Midah mau menerima lamaran ketua rombongan. Tapi Midah selalu menolak.


Midah melanjutkan hidupnya dengan bernyanyi sendiri di kawasan Jatinegara. Ketika itu dia bertemu dengan polisi lalu lintas bernama Ahmad. Ahmad berjanji akan melatih Midah bernyanyi dan membaca not balok. Karena Ahmad adalah seorang seniman juga.


Kehidupan yang keras dan kejam selama itu ia hadapi dengan keberanian. Kini masanya datang bagi Midah untuk jatuh cinta. Dia tertarik dengan sikap Ahmad yang lurus dan tingkahnya yang bebas.

Hampir tiap hari Ahmad mengajarkannya bernyanyi. Cinta yang terpendam dalam dadanya memperlunak kekerasan kehidupanya selama itu. Kehidupan Midah selama di jalanan memang beradab. Midah berujar, “
walau aku hidup di jalan, aku bukan orang jalanan..”
Namun sikap Ahmad berubah, dia ingin menodai cinta Midah. Dia ingin menikmati tubuh Midah, akhirnya mereka larut dan “
tenggelam” dalam cinta. Beberapa jam kemudian anak Midah (Rodjali) yang masih bayi menangis. Ketiga-tiganyapun terbangun. Mulai pula berangan nafsu Ahmad mengamuk di dalam dada. Dan mulai lagi kedua orang itu jatuh tenggelam. Tangisan Rodjali diartikan oleh Midah yaitu menyaksikan bagaimana untuk pertama kali kerena cinta ibunya dinodai. Dan yang menodainya adalah engkau (Ahmad). Sejak saat itu Ahmad bukan hanya melatihnya bernyanyi, tetapi juga bertindak sebagi tamu yang terus-terusan menagih.

Haji Abdul dan istrinya merasa menyesal telah menelatarkan anaknya. Apalagi ketika mendengar Midah sebagi penyanyi kroncong di jalanan dan sekarang di radio. Mereka ingin bertemu dengan Midah dan cucunya—Rodjali. Akhirnya ibu Midah berhasil medapatkan rumah tempat dimana Midah tinggal. Namun yang hanya bisa ditemui hanya Rodjali. Sedangkan Midah masih bernyanyi di tempat pernikahan. Ibu Midah pun membawa cucunya pulang kerumah.


Suatu ketika Midah mengandung. Buah cinta terlarang antara dia dengan Ahmad. Namun Ahmad tidak mau bertanggung jawab. Akhirnya Midah diusir dari tempat kediaman Ahmad oleh orang tua Ahmad. Midah semikin kalut, dia memutuskan untuk kembali kerumah orangtunya. Pikirannya timbul tenggelam dalam bayang-bayang Djali, Haji Tarbus, Ahmad dan dirinya sendiri. Dan seketika tergantikan oleh pengetian yang disukainya dan dibencinya yaitu : cinta, dendam, ketakutan, kekhawatiran.


Kadungan dari hasil buah cinta Ahmad semakin membesar, dan Midah merasa bahwa tidak sepatutnya dia merusak nama baik orangtuanya sendiri. Akhirnya Midah minggat untuk kedua kalinya. Ketika Haji Abdul tidak dirumah yang ada hanya ibunya. Midah pergi dalam keadaan mengandung dan membawa Rodjali anaknya. Sekuat tenaga ibunya mencegah, namun Midah tetap bertahan pada pendirianya untuk meninggalkan keluarganya. Akhirnya ibunya mengizinkan dengan catatan bahwa Rodjali tetap tinggal. Midahpun sepakat, ”
hanya doa ibu aku harapkan. Hanya restu bapak aku inginkan.”
Setelah beberapa bulan Midah—Simanis Bergigi Emas—tak pernah terdengar diradio. Kini nama Midah mulai bergelombang dari penjuru ke penjuru. Midah dalam sepotong hidupnya telah bertemu banyak lelaki. Kesusilaan dan ketertiban peradaban antara baik dan buruk yang di bawa dari rumahnya, kini tidak membangkitkan pikiran lagi padanya.

Kepopuleran namanya berkuda dengan kepopuleran dalam pergaulan dengan lelaki.


Dalam akhir novel Pram menulis,

Sejarah Midah—simanis bergigi emas—mulailah dari sini sebagai penyanyi.

Sejarah Midah—simanis bergigi emas—telah lenyap, sebagai seorang wanita.


Novel ini cukup ringan namun sarat akan nilai moral dan kemanusiaan. Dimana terdapat juga cerita tentang kebusukan moralis yang miskin dengan sikap humanis.

Bacaan yang ringan dengan khas gaya penulisan Pram yang tidak terlepas dari peristiwa sejarah.

Hidup memang keras…!!!!

Windy Hapsari: salah satu buku Pramoedya yang 'ringan'. menceritakan jalan kehidupan gadis cantik baik yang manis maupun getir.
seperti contoh kejadian yang selalu didongengkan eyangti menjelang saya tidur bahwa secantik cantiknya wanita kalau tidak bisa menjaga diri sendiri pada akhirnya akan menanggung malu dan aib karena ulah lelaki yang tidak bertanggung jawab.
paling tidak menurut saya Midah tidak terlalu egois dengan menyerahkan Rodjali kepada ibunya, berani merubah nasibnya dengan meninggalkan suaminya, dan masih punya malu dengan tidak mau menambah aib ibunya dengan anak tanpa bapak yang dikandungnya.

Pipitta: Pram menulis novel ringan ini sekitar tahun 50-an. Yang gw beli ini terbitan Lentera Dipantara, seharga 28.600 rups. Desain covernya lumayan menarik. Ada bagian yang mengilap segala. Tebal buku kurang lebih 132 halaman. Sangat tipis kalau dibandingkan dengan Arok Dedes.

Cerita dalam buku ini berpusat pada kisah hidup "Midah". Di usia 10 tahun sejak tak lagi menjadi kesayangan ayahnya setelah adiknya lahir satu demi satu, Midah menghabiskan waktu dengan membuntuti pengamen keroncong karena terpesona pada musik tersebut. Haji Abdul, ayahnya, hanya mengijinkan musik Umi Kalsum di rumahnya. Begitu tahu Midah membeli piringan hitam keroncong, ia marah besar dan memukul anaknya. Tak lama kemudian ia memutuskan menikahkan Midah dengan seorang haji pemilik berhektar sawah dan puluhan kerbau.

Saat Midah hamil tiga bulan, ia kabur dari rumah suaminya, mengetahui bukan hanya dia saja istri sang haji. Tak berani pulang ke rumah, ia menumpang ke rumah bekas pembantu keluarganya. Untuk menyambung hidup, Midah kemudian memutuskan bergabung dengan kelompok pengamen keroncong keliling. Karena Midah pandai menyanyi, ia dijadikan penyanyi utama kelompok pengamen tersebut walau dimusuhi anggota perempuan lain yang iri padanya.

Hidup sebagai anggota pengamen keliling sangat berat bagi Midah. Sehabis mengamen, mereka menyewa satu kamar untuk tidur beramai-ramai. Midah bahkan terpaksa menyaksikan yang lain bersetubuh, dan kalau tidak mengaku sedang hamil sudah pasti ia pun akan ditiduri. Untunglah ketua kelompok pengamen bersedia melindunginya. Midah diharuskan tidur disampingnya agar tidak diganggu yang lain. Namun, ketika akhirnya Midah berkali-kali menolak tawaran kawin dengan si ketua, ia kehilangan perlindungan. Puncaknya saat anak Midah lahir, ia tak lagi diterima dalam kelompok pengamen keroncong tersebut.

Suatu hari Midah ditolong seorang polisi bernama Ahmad, yang menyewakan sebuah kamar sederhana untuk Midah dan anaknya. Pada awalnya hubungan mereka berjalan baik dan saling menghormati. Midah menyukai Ahmad walau tahu tak mungkin menikah dengannya. Status dan pekerjaannya akan dianggap tak pantas bagi keluarga besar Ahmad. Namun pada suatu malam Ahmad 'menagih' balasan atas kebaikannya. Midah tak pernah kuasa menolak, hingga akhirnya ia hamil. Saat Midah memberi tahu Ahmad, ia menyangkal kemungkinan janin itu adalah anaknya sendiri, karena hal seperti itu akan sangat mencoreng reputasi sosialnya. Ahmad memutuskan tak akan menemui Midah lagi.

Mengetahui nasib Midah, ayahnya menutup diri dari dunia luar, sedangkan ibunya merawat cucu pertamanya agar punya kehidupan yang lebih baik. Tak mau orang tuanya menanggung aib gara-gara dirinya, Midah pergi dari rumah orang tuanya, dan menjalankan dan menghidupi dirinya dengan menyanyi keroncong.

PS: review copy-paste dari http://pipitta.multiply.com/reviews/item..

Fitri D: Pram, lewat novel ringan ini, memperlihatkan ketegangan antara jiwa seorang humanis dan moralis. Di satu sisi Pram ingin menegaskan kekuatan seorang perempuan berjiwa dan berpribadi kuat melawan ganasnya kehidupan. Seorang perempuan yang tidak mudah ditaklukan oleh apa pun. Tapi di sisi lain ingin memperlihatakan kebusukan kaum moralis lewat tokoh Hadji Trebus, juga Hadji Abdul yang hanya rajin zikir tapi miskin citarasa kemanusiaan. Dan juga serakah