Review The Lone Samurai

Minggu, 11 Maret 2012





The Lone Samurai: Kehidupan Miyamoto Musashi

by William Scott Wilson

The Lone Samurai adalah biografi monumental Miyamoto Musashi, tokoh Jepang legendaris yang termasyhur di seluruh dunia sebagai master pedang, pencari kesempurnaan spiritual, dan penulis Kitab Lima Lingkaran. Gambaran memukau seorang pemberani bertekad baja muncul di halaman-halaman buku ini. Dengan pengamatan yang penuh bela rasa namun kritis, William Scott Wilson menyelami alam pikiran Musashi ketika sang samurai radikal bergulat dengan gagasan-gagasan filosofis dan spiritual yang tetap relevan sampai sekarang. The Lone Samurai bukan sekadar gambaran hidup sebuah periode menakjubkan dalam era feodal Jepang. Buku ini merupakan kisah pencarian satu orang akan jalan yang benar dalam hidup, dan ganjaran yang akhirnya ia peroleh.

Gramedia Pustaka Utama 2006

Chris: The book the Lone Samurai is about the life of Miyamoto Musashi. The author William Scott Wilson wrote this because he wanted to get a better understanding of the man behind the legend. Which in my opinion the author gives get information of Musashi’s that most do not know.

Musashi is a legend in Japanese history because he is considered the greatest samurai of his time period from about the late sixteenth century to the early seventeenth century. Unlike most samurai of legend Mushashi is a “ronin,” or a masterless samurai. How you became a ronin was your clan was either destroyed by a rival, while you survived, or you were banished from the clan because of disrespect, or because of crimes. Ronin tend to be trouble makers for other samurai clans due to their tendencies to duel great samurai. This is done so that they may be noticed, and possibly assimilated into a clan as an instructor. However didn’t seem to be interested in joining a single clan, although he did favor some clans when going to war.

Musashi was unlike most samurai in the period. Most samurai wore very flashy or nice formal garment with clean hair and skin showing their dominance through wealth. Musashi was described as unkempt, and tended to take baths when he felt like it, and yet he always won. More importantly than his looks; it was his mind set that set him apart from other samurai. Durring many of his duels he would show up late, but not five or ten minutes late; he would show up two to four hour late. Why did he do this? He did this to mess with his opponent’s mind which would lead him to victory. Another thing he would do was use an weapon that was on hand, and in some cases he would use a wooden sword against his opponents.

During his many duels; he never truly lost to any opponent no matter how skilled the opponent he used a mixture of strategy and wit to fight his foes. By doing this he became a legend among Japanese history. If you wish to learn more of the man behind the legend read the Lone Samurai, and you will see the life of Musashi unfold; from his first duel to his last duel; to the writing of his famous book “the book of five rings,” as well as the battles he went through. You will know the life of the arguably greatest warrior of all time.

Halfino: Jadi, ternyata ada dua Musashi: yang historis dan yang fiksi. Musashi fiksi yang banyak dikenal adalah versi Eiji Yoshikawa, yang membangun kembali figur Musashi dengan pemahaman akan aneka latar kehidupan dan filosofi jawara pedang ini, sekaligus mengaitkannya dengan nilai-nilai budaya Jepang. Luar biasa.

Dalam buku ini juga ditampilkan beberapa lukisan tinta dan kaligrafi Musashi yang sangat impresif, juga patung kayu ukirannya. Ini makin menegaskan filosofi Musashi: jalan pedang adalah jalan kehidupan.

Mariana: A very interesting character, a skilled, undefeated warrior and a gifted artist at the same time. The book takes you to a different time - 17th century Japan - and follows the life of Miyamoto Musashi from the time he left home until his death. The author also talks about Musashi's book - "The Book of Five Rings".

Josh: The lone Samurai is based on the life of Miyamoto Musashi. It is a pieced together of scrolls and written accounts of his life as a swordsman, artist, zen master, budist priest, and hermit. Great book! I plan on passing it off to a few friends to read and recommend it for everyone.

Grayson: This is the biography of Miamoto Musashi; the greatest Samurai that ever lived. He was an artist, warrior, and poet. Even if this is not in your related interests, everyone will be astonished by the life this man lead.

Reuben: If you like Japanese history, philosophy in action, and reading a true life story of a legend, then this is a good book. This man was amazing and whose impact is still felt today in Japan and the modern world.

Rahmat: Musashi is one of the great martial artist, philosopher, performed-artist, painter etc. His Zen's influences on his arts is amazing and very meaningful for application in life. Nice book for collections.

Ray: Miyamoto Mushashi, Japanese kensai (sword-saint), definitely one of the greatest swordsmen of all time. During his first 30 or so years, he fought in over 60 duels, loosing none. He also took part in 4 major battles. In his later years he took up painting, sculpting, even writing (his classic The Book Of Five Rings is still in wide use today). He eventually died in his 60s of old age.

But perhaps the most impressive fact is that he did this all as a masterless, wandering swordsman (shugyosha). In medieval Japan, with it's rigid social structure, Musashi managed to live his entire life as a free man, occasionally accepting guest status under a lord but nothing more.

The author (who is the one responsible for translating Hagakure into English) not only tells the tale of Miyamoto Musashi, but takes time to tell the other side when there are alternate accounts of the same event. He also goes into great detail on the artists and monks that Musashi met during his lifetime, and speculates on meetings that probably happened but were not documented.

As an added bonus, the book also includes an extensive chapter on dramatic work about the life of Musashi, not just films but Kabuki theater and the like.

Cahyo: Salah satu biografi terakhir yg gue baca - dan akan sangat gue sarankan; the Lone Samurai - Miyamoto Musashi, karya Wilson. Bahasanya sgt bagus (terjemahannya jg), strukturnya menarik, ulasannya detil, tp nggak kehilangan kejelasan nya maupun juga tdk terjebak mjd bertele2. Buku tsb juga tidak terjebak ke salah satu sisi; tdk memuji2, tetapi juga tidak mencaci-maki. Akan sgt disarankan bila elo terlebih dahulu sudah baca novel nya Eiji Yoshikawa yg segede bantal itu (tapi udah gue baca ulang 20x, hanya dalam waktu 3 tahun, hehe.. My most fave book ever; pertama baca dlm bentuk serial di majalah Hai th 80-an.. Bener nggak sih?).

Tak dapat disangkal betapa besar nya pengaruh Miyamoto Musashi dlm membentuk jiwa bangsa Jepang modern spt saat ini, dan bahkan pengaruhnya pun juga terasa di dunia Barat. Musashi lah, tokoh sejarah satu2nya di seluruh dunia yg seolah tak pernah habis diceritakan dan diceritakan ulang; tentunya semua dg versi masing2 dan mnrt kepentingan sendiri2. Tak jarang masing2 cerita tsb bertabrakan dg seru nya, atau bahkan menggambarkan Musashi scr ngawur - baik dari segi sifat, penggambaran suatu kejadian, maupun lokasi & waktu kejadian. Tetapi dari kesemua versi tsb, tiba2 Yoshikawa Eiji menyodok dg novel Musashi, yg pertama kali diterbikan sbg cerita serial pada sebuah surat kabar Jepang terkemuka.

Semangat Musashi digambarkan dg baik saat nama nya dipilih sbg nama salah satu dari 2 (dua) kapal tempur (battleship) terbesar di Jepang, dan bahkan terbesar di dunia, yg dibangun & diluncurkan menjelang berakhirnya Perang Pasifik. Nama kapal lain nya adalah 'Yamato', yg merp nama kuno Jepang (mungkin spt nama 'Nusantara' utk menunjuk Indonesia). Dari situ dapat terlihat cerminan semangat, harapan, dan pertaruhan bangsa Jepang menjelang saat2 yg sangat menentukan tsb.

FYI, saking menariknya novel tsb, sebagian besar dari kita secara tidak sadar lantas menerima nya sbg suatu kebenaran; sbg sosok Musashi yg sebenarnya! Hal tsb dapat dimengerti karena adanya kebutuhan mendasar kita yg scr psikologis merindukan sosok yg spt kita. Sosok pejuang sejati pencari kebenaran; yg tdk dapat diikat dg kenikmatan, kemewahan, dan kepalsuan duniawi. Sosok yg tegar, jujur, independen, dan gaung nya yg sayup terasa romantis.

Sosok yg karena kemampuannya bersosialisasi dan berdiplomasi dapat berada di mana2, tetapi sekaligus juga tidak berada di mana2. Sosok yg dapat bergaul & diterima oleh semua kalangan; di zaman yg masih mengandalkan pada perbedaan kelas.

Utk pertanyaan, "...Apa sebagus buku musashinya eiji yoshikawa?..". Jawabannya; keduanya JELAS tidak bisa diperbandingkan. Karena hukum dasar perbandingan adalah harus "apple-to-apple"; alias hrs membandingkan hal yg sama persis. Sementara buku Wilson merp BIOGRAFI sedangkan buku Yoshikawa Eiji jelas2 merp NOVEL, walaupun berlandaskan sejarah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bila kita tela'ah lebih mendalam, akan segera terlihat bhw banyak kasus, atau bahkan sosok, di dalam novel tsb yg ternyata FIKTIF; guna lebih 'menghidupkan' jalan cerita.

Akan tetapi, nah ini dia yg menarik; Yoshikawa Eiji menciptakan tokoh2 fiktif tsb dg pertimbangan teliti, dengan cara membuat personifikasi atas unsur2 dasar dlm kehidupan manusia, maupun berdasarkan prinsip2 Jalan Pedang Musashi. Hal ini dimaksudkan guna mengisi 'bolong-bolong' yg terdapat pada diri Musashi sbg catatan sejarah. Contoh gamblang dapat segera terlihat; Matahachi (karib Musashi) merp perwakilan sifat malas & gampang menyerah, ibu Matahachi merp perwakilan sifat dengki, iri hati, dan kebencian yg membabi-buta, Oetsu merp perwakilan cinta kasih, kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan.. dsb.

Kesemua hal tsb, yg digambarkan scr implisit di dlm novel Yoshikawa Eiji, sebaliknya disebutkan secara sangat eksplisit dalam biografi Wilson, yg didukung dg penelitian sangat intensif dg menggunakan berbagai sumber otentik ttg diri Sang Maestro. Dengan pengamatan yg penuh perhatian tapi tetap kritis, Wilson mencoba menelaah pikiran Musashi sbg seorang samura legendaris dg berbagai ide filosofis dan spiritual, yg masih sgt relevan hingga hari ini, sbgmn relevan pada zaman nya dahulu. Musashi menemukan kedamaian dan kebahagiaan sprititual dalam upaya pencarian cara utk menyempurnakan Jalan Pedang yg dipilihnya, dan akhirnya menyadari bahwa apapun Jalan yg kita pilij utk kita tempuh, pastilah akan menuju pada kesempurnaan.

The Lone Samurai bukan hanya sekedar cerita ttg zaman feodalisme Jepang; biografi tsb jg menceritakan ttg kisah seorang manusia dlm perjalanannya utk mencari jawaban, kesempurnaan, dan 'Jalan' itu sendiri..

Fakta lain yg diungkapkan dlm biografi tsb adalah bhw Musashi tdk pernah mandi selama hidup nya, kecuali hanya membasuhkan handuk dingin ke sekujur tubuh & wajahnya. Dengan demikian, salah satu adegan yg terjadi dalam novel Musashi, di mana beliau masuk & bertahan di bawah curahan ber-ton2 arus deras air terjun (setelah seorang diri membantai puluhan samurai Klan Yoshioka yg terkenal), sedangkan Oetsu terpuruk di tepian karena cinta, tampaknya tidak pernah terjadi --> pdhl ini salah satu adegan terkuat & paling emosional dlm novel yg sangat gue sukai itu..sayang sekali..hiks..:p

Ada bbrp fakta menarik lainnya dlm biografi tsb; terutama yg paling menarik adalah kehidupan Sang Maestro stlh 'duel Pulau Ganryu' melawan Sasaki Kojiro. Duel itu sendiri merp duel satu lawan satu yg paling terkenal dlm kehidupan Musashi, yg lantas merubah jalan hidup nya, dan kelak akan sangat mempengaruhi sejarah bangsa Jepang selama bbrp ratus tahun berikutnya.

Kemudian fakta2 menarik lain ttg kehidupan 'keluarga' Musashi (beliau mengangkat bbrp murid mjd anak nya; salah satu nya, Miyamoto Iori), ttg kebebasannya dan keluasan pergaulannya (termasuk dg kalangan bangsawan & penyair/seniman terkemuka saat itu), dan ttg betapa sbnr nya Musashi juga terkenal dlm banyak bidang lain di luar perkelahian dg pedang - yaitu sbg pemahat, pelukis, seniman minum teh, seniman kaligrafi, pelempar pisau ulung, arsitek pertamanan, ahli strategi, ahli tata kota (planologi), dsb.

Btw, dari buku itu, gue tertarik utk eksplorasi lbh jauh dg cara beli buku sampingannya - yg saling melengkapi & banyak sekali disebut2 dalam pembahasan buku biografi tsb (kmrn, beli di amazon jg);

The Unfettered Mind - Takuan Soho
(pendeta Zen pengembara yg mjd guru spiritual nya Musashi, dan pencipta 'Acar Takuan' yg hingga skrg msh mjd makanan pendamping wajib di Jepang). Buku tsb disebut2 sbg saling melengkapi dg The Books of Five Rings. Dan tentunya..

The Books of Five Rings - Miyamoto Musashi
kitab ke-3 & terakhir karya Musashi, yg diselesaikan hanya bbrp saat sblm beliau wafat. Berisi konsep Jalan Pedang yg diyakini & diamalkannya, strategi tempur, dan pedoman2 lain. Sejak terbit hingga skrg luas dibaca di barat & seantero dunia sbg Buku Strategi Manajemen yg mumpuni; bersaing dg Kitab Perang Sun Tzu. Hanya saja perlu diingat, bhw kitab Musashi yg fenomenal tsb tnyt tidak berisi ttg metode2 "How To", tetapi utama nya berisikan konsep2 pengendalian diri yg adiluhung, di mana keahlian kita telah berkembang sedemikian rupa hingga telah mjd bagian dari diri kita & kesadaran kita sendiri, yang bersatu mjd 'kehampaan'. Atau disebut juga 'Konsep Bergeming' (terjemahan Gramedia dlm 'the Lone Samurai' yg mnrt gue agak kurang pas) - bergerak tapi tidak bergerak, berpikir tapi tidak berpikir. Singkatnya (penafsiran pribadi gue) mungkin dapat disebut sbg 'Just Do It', jangan kebanyakan pikir2 nanti gimana.

Hints: mungkinkan pengarang buku laris "Blink" terpengaruh oleh konsep Musashi tsb? Setahu gue, the Unfettered Mind blm diterjemahkan (adakah rekan yg tahu barangkali ada penerbit yg merencanakan penerjemahan buku tsb?). Sedangkan the Books of Five Rings pernah gue beli terjemahannya 3 th lalu (Kitab Lima Cincin) di toko buku Newsstand, Pasar Festival, Kuningan. Sayangnya, buku tsb skrg sulit dicari; mungkin karena diedarkan oleh penerbit kecil dg modal kecil pula (3,000 exp only?). Sayangnya lagi, buku tsb terlihat jelas HANYA merp ringkasan kasar dari pikiran2 Musashi, dan ternyata merp terjemahan dari Thomas Clearly, dan bukannya Wilson. Kelebihannya, buku tsb juga memuat buku "Sejarah Keluarga" karangan Yagyu Munenori. Kitab tsb sendiri merp pusaka keluarga Daimyo besar & terkenal Klan Munenori; yg merp pendekar pedang dg gaya pedang tersendiri. Selain berisikan metode pedang, kitab tsb juga berisikan berbagai hal lain yg tak kalah menariknya.

Lebih jauh, sbnrnya sih, Clearly juga merp seorang penerjemah karya2 Jepang (dan Timur) yg cukup terkenal. Tapi spt nya cara penulisan (dan pemahaman) Wilson jauh lbh menarik; just a though. Faktanya; Wilson merp penerjemah edisi bhs Inggris novel-nya Yoshikawa Eiji.

FYI, adapun the Books of Five Rings diterbitkan dlm bhs Inggris baik oleh Clearly maupun Wilson. Tetapi pilihan gue tentu tetap pada Wilson (karena alasan2 di atas). Dan walaupun gue udah punya edisi Clearly versi bahasa Indonesia yg ringkas itu, kmrn gue tetap beli edisi Wilson versi bhs Inggris. Mudah2an akan jauh lebih berguna..:p