Review My Salwa My Palestine

Selasa, 20 Maret 2012





My Salwa My Palestine

by Ibrahim Fawal

Ibrahim Fawal menuturkan kisah memilukan terusirnya sebuah bangsa dari tanah air yang telah ribuan tahun mereka diami. Fawal seakan-akan melantunkan nyanyian duka puluhan ribu penduduk Palestina yang dibantai, diperkosa, kehilangan rumah dan keluarga, bahkan kehilangan pandangan hidup karena situasi politik yang nyatanya masih berlangsung hingga saat ini. Bersamaan dengan itu, pecahlah kedamaian antar-umat Kristen, Islam, dan Yahudi, yang sebelumnya hidup rukun beratus-ratus tahun di Palestina. Dendam dan amarah pun tumbuh.

Kisah dalam novel ini tambah menarik karena diwarnai lika-liku cinta antara Yousif Safi, sang tokoh utama, dan Salwa, seorang gadis cantik di kotanya. Bukan sekadar kisah romantisme sebagai pemanis atau bumbu belaka. Bukan pula kisah cinta remaja yang penuh kecengengan. Yousif bahkan menempatkan Salwa dan Palestina pada tataran yang sama. Cintanya terhadap Palestina sama besarnya dengan cintanya terhadap Salwa. Bahkan ada benang merah yang menghubungkan bahwa perjalanan cintanya terhadap Palestina memiliki alur yang mirip dengan kisah cintanya terhadap Salwa.

Inilah kisah seorang anak manusia yang terjebak dalam situasi yang menguji kesetiaannya pada Tuhan, tanah air, dan kemanusiaan. Akankah ia mengkhianati semua yang dicintainya itu? Ataukah ia akan menyerah pada dendam dan amarah yang membutakan hati?

Mizan Pustaka 2008

Rahmadiyanti: Tak ada tragedi paling memilukan selain terusir dari negeri sendiri. Ketika sekelompok entitas (dengan bantuan sekian bangsa) mengakuinya atas dasar kitab suci yang kemurniannya pun entah.

Tahun 1947 bagi Yousif Safi, pemuda Palestina berusia 17 tahun adalah tahun menjelang kelulusan SMA. Tahun 1947 adalah tahun saat mandat Inggris atas Palestina berakhir. Seperti pemuda-pemuda lain, selulus SMA Yousif ingin kuliah dan mengejar impian sebagai pengacara, serta menikahi gadis pujaannya, Salwa.

Yousif anak satu-satunya dari Jamil Safi, seorang dokter terkenal di kota Ardallah yang bercita-cita membangun rumah sakit. Keluarga Yousif penganut Nasrani yang taat. Yousif bersahabata dengan Amin, seorang Muslim, dan Isaac, yang keturunan Yahudi. Suatu hari tiga sahabat tersebut memergoki sekelompok wisatawan yang datang ke Ardallah dengan gerak-gerik mencurigakan. Mereka curiga. Dan kecurigaan mereka terbukti, ternyata para turis itu adalah kaum Zionis yang sedang mengamati daerah Ardallah.

Pada tanggal 29 November 1947, DK PBB mengeluarkan Resolusi DK PBB No.181 (II) yang membagi Palestina menjadi tiga bagian. Hal ini mendapat protes keras dari penduduk, termasuk penduduk Ardallah. Petaka pun datang pada 14 Mei 1948 saat kaum Zionis memproklamirkan berdirinya negara Israel. Puluhan ribu rakyat Palestina terusir dari kampungnya. Tentara Zionis juga menyerang dan membumihanguskan kota-kota.

Serangan akhirnya tiba ke Ardallah. Ayah Yousif tewas dalam sebuah usaha mempertahankan kota. Sementara sebelumnya, Isaac, sahabat Yousif juga tewas karena dipaksa menjadi Zionis dan menyerang Ardallah. Kisah cinta Yousif pun bagai gelegak perang, karena Salwa dijodohkan orangtuanya oleh Adel Farhat. Yousif dan keluarganya, serta semua penduduk Ardallah harus terusir, setelah sebelumnya mengalami kekejaman dari tentara Zionis. Rumah-rumah mereka dibom. Bahkan Hiyam, istri sepupu Yousif diperkosa di hadapan suami dan keluarganya. Mereka harus menjalani perjalanan panjang menuju Yordania dalam kondisi mengenaskan. Banyak yang tewas di tengah perjalanan, termasuk ayah Salwa.

Membaca novel ini, jujur, rasanya menggelegak. Ibrahim Fawal, sang penulis, menuturkan dengan detil. Tak heran, sebab ia merasakan sendiri hal tersebut. Terusir dari rumahnya, desa tempatnya lahir, dan tercabut dari negeri bernama Palestina.

Fawal dengan elegan menyandingkan kisah cinta Yousif-Salwa dengan perjuangan Yousif dan bangsanya mempertahankan negeri. Tak usah khawatir bahwa novel ini hanya kisah cinta semata yang berbalut peristiwa sejarah. Kisah cinta dalam novel ini cukup proporsional, tak berlebihan.

Saya kurang merasa "include" dengan novel ini di bab-bab awal. Rasanya kok setting seperti bukan di Palestine. Tapi setelah itu saya menikmati, mengalir, tak ingin jeda. Ada emosi kesedihan, marah, geram di sana.

Palestina memang lara tak berujung (hingga batu bicara kelak...). Setiap orang bisa bicara perdamaian, tapi perdamaian adalah anak kandung keadilan. Perdamaian hakiki akan tegak, mana kala keadilan pun ditegakkan. Dan keadilan adalah saat orang-orang Palestina memperoleh kembali tanah milik mereka yang dirampas Israel, saat Zionis Israel membebaskan ribuan--bahkan puluhan ribu tawanan Palestina, saat Masjidil Aqsha dibebaskan dari tangan kotor Zionis...

Novel ini mendapat penghargaan PEN-Oakland Award. Sang penulis sendiri, Ibrahim Fawal lahir di Ramallah, Palestina, dan pindah ke Amerika Serikat untuk melanjutkan studi di UCLA. Fawal pernah bekerja sama dengan David Lean dalam film Lawrence of Arabia.

Endah: Juli 1948 Musim panas di Palestina. Matahari terasa lebih terik, memanggang ribuan kepala manusia yang berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka di Ardallah menuju Jericho, kota kecil di perbatasan Palestina dan Jordania. Ardallah adalah sebuah kota yang terletak 45 kilometer di barat laut Jerusalem dan 23 kilometer sebelah timur Jaffa. Ardallah merupakan salah satu kota tujuan wisata di Palestina. Setiap musim panas, populasi penduduknya meningkat seratus persen oleh kedatangan para turis dari berbagai penjuru dunia. Penduduknya hidup rukun dan damai dalam kemajemukan agama: Islam, Kristen, dan Yahudi.

Namun, itu dahulu, setahun yang lalu sebelum kaum Zionis Yahudi masuk secara paksa dan mengusir pergi warga Palestina dari tanah air mereka sendiri.

Bermula pada tanggal 29 November 1947, ketika dunia kehilangan akal sehatnya dan menyebabkan timbulnya bencana berkepanjangan bagi negeri Palestina. Hari itu, para pemimpin dunia bersama-sama melakukan 'bunuh diri' massal lantaran menyetujui bersama-sama resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai pembagian Palestina. Kota suci Jerusalem dan sekitarnya menjadi wilayah dan hak internasional, dan Inggris harus mengakhiri kekuasaannya pada bulan Agustus.

Resolusi tersebut didukung tak kurang oleh tiga puluh tiga negara, tiga belas menolak, dan sepuluh abstain. Sudah pasti Amerika Serikat berdiri paling depan di antara para negara pendukung. Dengan kekuasaannya, negeri yang saat itu dipimpin oleh Presiden Truman, memaksa para sekutunya dengan cara mengancam untuk ikut memberi dukungan. Bahkan negara sebesar Prancis pun tunduk pada ancaman tersebut : tak akan mendapat bantuan luar negeri lagi jika tak mendukung rencana pembagian Palestina itu.

Dan itulah awal musibah sepanjang masa bagi warga Palestina. Rakyat yang telah mendiami tanah tersebut secara turun-temurun selama berabad-abad lampau harus menyingkir, terusir dari bumi kelahiran mereka oleh pendatang baru: kaum Yahudi Zionis.

Zionisme ialah sebuah gerakan kaum Yahudi yang hendak mendirikan kembali negara Israel. Istilah ini mula-mula dipakai oleh Nathan Birnbaum alias Matthias Acher (1864-1937), seorang budayawan Yahudi. Kata "zion' sendiri bermakna "bukit". Bagi kaum Yahudi, Zion adalah nama sebuah bukit di Jerusalem. Sejarahnya, pasca direbutnya kota itu dari orang Jebus oleh Israel di bawah kepemimpinan Raja Daud, dibangunlah sebuah istana di atas bukit tersebut. Selanjutnya, Bukit Zion menjadi tempat ibadat sekaligus pemerintahan Yahudi. Bagi orang Israel, Zion berarti tanah air mereka pada masa Palestina kuno.

Kongres Zionisme yang pertama diadakan pada 1897. Sejak itu, Zionisme mulai turut bermain di gelanggang politik. Berkat upaya para pemimpinnya, pada 1917 berhasil membujuk Inggris untuk menandatangani Deklarasi Balfour yang menjanjikan suatu negara berkebangsaan yang berdaulat kepada orang-orang Yahudi itu. Tanah yang dijanjikan itu, sesuai keputusan Kongres Zionisme 1905, adalah Palestina dan sekitarnya.

Tiga puluh tahun kemudian (1948), terwujudlah impian orang-orang Yahudi tersebut untuk memiliki tanah air sendiri, meskipun dengan cara yang sangat terkutuk: membantai jutaan orang Palestina.

Kurang lebih demikianlah sekelumit sejarah Palestina yang tertuang dalam novel On The Hills of God ini. Entah demi pertimbangan bisnis (pasar), judul tersebut diubah menjadi My Salwa My Palestine berikut judul kecilnya (ditulis dengan huruf berukuran kecil sehingga nyaris tak terperhatikan ): Di Atas Bukit Tuhan. Judul yang sudah cukup panjang itu masih dirasa belum cukup, sehingga perlu ditambah dengan sebaris kalimat "keterangan" : Kisah Tentang Kesetiaan Pada Tuhan, Tanah Air, Dan Kemanusiaan.

Sejatinya, My Salwa My Palestine ini adalah sebuah fiksi sejarah. Riwayat pendudukan Israel di Palestina membingkai keseluruhan kisah dalam buku ini. Melalui tokoh Yousif Safi, pemuda berusia 18 tahun, Ibrahim Fawal memberi semacam kesaksian getir tentang perang Palestina yang tak kunjung usai hingga hari ini. Perang yang tak seimbang antara Palestina (didukung oleh Mesir, Jordania, Irak, Siria, dan Lebanon) di satu pihak berhadap-hadapan dengan Israel (dibantu Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya) di pihak lain. Perang yang sempat membuat rakyat Palestina, selaku pihak paling menderita, meragukan keberadaan Tuhan.

"Tuhan, kalau Engkau membiarkan anak-Mu sendiri dipaku dan dilukai, kalau Engkau membiarkan ia mati di kayu salib seperti seorang penjahat, tentu Engkau akan membiarkan rumah-rumah kami terbakar. Kalau begitulah cara-Mu memperlakukan anak-Mu sendiri, lalu kepada siapa lagi orang Palestina memohon perlindungan? Engkau memperlakukan kami seakan-akan kami bukan anak-anak-Mu, seakan-akan Engkau tidak mencintai kami. Engkau memperlakukan kami tidak lebih baik dibanding raja-raja dan presiden kami memperlakukan kami…." (hlm56)

Palestina yang damai dalam sekejap telah berubah menjadi ladang pembantaian. Tercatat di antaranya pembantaian paling mengerikan di Deir Yasin yang terkenal itu. Nyaris tak ada yang selamat dalam aksi biadab tersebut. Para tentara Zionis itu bukan saja menembaki kaum prianya, tetapi juga memerkosa para wanita dan membunuh anak-anak. Menyusul kemudian, setelah Inggris hengkang pada Mei 1948, desa-desa yang lain menjadi sasaran serbuan. Termasuk Ardallah, kota kecil tempat Yousif dan kekasihnya, Salwa, tinggal.

Perihal percintaan Yousif dan Salwa bukanlah merupakan kisah utama. Hanya sepercik drama kecil pelengkap cerita sesungguhnya yang jauh lebih besar : drama (tragedi) kemanusiaan yang dipungut dari medan perang paling brutal dalam sejarah.

Membaca sejarah yang dituturkan lewat sebuah karya fiksi tentu jauh lebih menyenangkan ketimbang mengetahuinya melalui buku-buku sejarah yang "garing" dan menjemukan itu. Jika semua sejarah bangsa-bangsa di dunia ini bisa disampaikan semenarik novel-novel fiksi, alangkah asyiknya. Pelajaran sejarah di sekolah-sekolah pasti tidak akan ditinggal tidur oleh para siswa.

On The Hills of God adalah novel perdana Ibrahim Fawal, pengajar film dan sastra di Birmingham-Southern College dan University of Alabama. Ia pernah menjadi asisten sutradara dalam film klasik terkenal Lawrence of Arabia. Novel sulungnya ini meraih PEN-Oakland Award untuk kategori Excellent in Literature. Sebagai seorang kelahiran Ramallah, Palestina, sangat dapat dimaklumi jika Fawal banyak menampilkan sisi emosional dalam kisahnya ini. Bagian-bagian memilukan disajikan secara gamblang sehingga berhasil menyentuh rasa kemanusiaan kita. Saya pribadi dibuat termangu-mangu oleh fakta-fakta yang dibentangkannya. "Benarkah sedemikian kelam kenyataannya?" gumam saya dalam hati. Tetapi saya harus percaya, hampir tak ada kisah indah tentang perang. Di manapun. Kapan pun. Perang senantiasa hanya mendatangkan kesengsaraan dan penderitaan. Seperti yang kerap kita saksikan.

Namun, hal paling mengherankan adalah mengapa orang-orang Yahudi yang pernah mengecap pahitnya sejarah menjadi 'orang buruan' itu kini tega berbalik menjadi bangsa yang memburu-buru bangsa lain? Andai pun itu sebuah tindakan 'balas dendam', mengapa harus kepada orang-orang (Arab di) Palestina?

Achi: mm... menurutku ni buku lumayan bagus, meskipun di tengah2 cerita aku sembet boring banget bacanya.. tapi mungkin jadi bagus banget bagi orang2 yang suka ma sejarah dan politik..
untold story about palestine.. bagaimna para pejuang palestine mempertahankan negaranya agar tidak direbut oleh zionis yang ingin mendirikan negara yahudi dengan nama yang sekarang kita kenal, yaitu israel.

peperangan itu di dasari oleh inggris yan gberjanji kepada zionis, bahwa setelah kependudukan mereka habis, yahudi akan diberikan sebagian tanah palestin agar dapat mendirikan negaranya sendiri. sehingga akhirnya antara umat muslim, kristen dan yahudi yang tadinya rukun dan damai, akhirnya jadi terpecah belah...

ufff.... bikin trenyuh de ceritanya.. baca aja deh lanjutannya tar kalo aku ceritain rinci ga seru dooong..

Huda: This is a shocking book, it just shockes you, that's what it does. It's also one of the few books that made me shed actual tears! I never really knew how Israel was created, now I do! It's a great novel, but it's also haunting, it made me toss in bed and I couldn't sleep because of it!