Bedah [Sederhana] Buku Pengakuan Eks Parasit Lajang Karya Ayu Utami #1

Kamis, 14 Februari 2013





Bedah [Sederhana] Buku
Pengakuan Eks Parasit Lajang
Karya Ayu Utami
I

Tujuh tahun yang lalu, sewaktu saya tanpa sengaja mengambil sebuah buku dari rak perpustakaan Wisma Ordo Religius CICM, di Jalan Gotong Royong, Jakarta Timur, saya tidak pernah menyangka akan membaca lagi karya Ayu Utami [setelah itu saya harus menunggu dua tahun untuk bertemu secara tidak sengaja dengan Saman milik Antonius Padua Djuwa dan Dee Berliana] yang kemudian saya putuskan untuk mengoleksi buku-bukunya [kecuali Soegija] dengan alasan yang saya sendiri tidak mengerti: banyak gambar di dalamnya.
Bersama Dee Berliana [saya akan menyingkat namanya menjadi DB], sayang pun mulai memantau pergerakan buku-buku Ayu Utami [yang kebetulan di tahun 2012 meluncurkan Cerita Cinta Enrico, yang merupakan bagian dari Trilogi otobiografi sang penulis sendiri] baik di twitter maupun di toko buku. Karena menyukai cara bertutur Ayu Utami dalam Cerita Cinta Enrico, saya pun menunggu dengan tak sabar kapan buku ketiganya akan diluncurkan, dan dipajang di rak toko buku. Saya bertanya pada Ayu Utami lewat twitter [inilah perbedaan penulis ini dan penulis lainnya] dan ia dengan senang hati menjawab saya.
            “8 Februari akan tiba di toko buku.”
            “Terima kasih atas infornya, Mbak @BilanganFu”   
Kesibukan membaca The Host karya Stephenie Meyer, Cerita Di Balik Noda karya Fira Basuki dan Bliss karya Kathryn Littlewood [lihat betapa perempuan sangat produktif dan merupakan penyumbang terbesar dunia sastra modern; apakah tanpa sadar saya membeli buku yang ditulis seorang perempuan?] membuat saya melupakan penantian hadirnya buku terakhir Trilogi otobiografi seksualitas dan spiritualitas pertama di Indonesia ini. Hari itu saya berangkat pagi-pagi sekali ke Jakarta, tanggal 10 Februari 2013, Imlek, sebab salah satu Oma saya seorang Tionghoa. Mendung. Saya diantar paman dan bibi saya yang baik hati sampai ke Stasiun Kereta Tebet. Semuanya normal. Tidak ada yang berbeda bagi saya di Imlek kali ini, selain bahwa saya tidak bisa berbicara bahasa Mandarin meskipun belajar dari bertumpuk-tumpuk kamus pintar [apakah saya bodoh?].
            “Saya sedang di Botani Square. Di Gramed,” begitu bunyi pesang singkat yang masuk ke ponsel Nokia tua saya [tidak ada kamera, tidak ada radio, bahkan hanya punya tiga game yaitu: Catur, Sodoku dan Ular.
            “Sudah lama di situ?”
            “Baru sampe. Tadi makan dulu.”
            Entah kenapa saya berharap DB tidak makan di restoran berlabel asing. Mungkin saya sedang kesal karena kereta penuh, dan dua pemuda di depan saya ini terus mengoceh seperti berlatih akting. Kereta sering tersendat, berhenti sebelum sampai ke stasiun [tanggung banget] dan diluar hujan pula. Bogor pasti lebih besar tiga kali lipat dari Universitas Indonesia atau Depok Lama. Barangkali saya sedang kesal karena di hari Minggu masih harus bekerja dua jam lagi setelah tiba di Bogor nanti, sementara itu, orang-orang sepertinya asyik membicarakan rencana jalan-jalan mereka, memacetkan dan mengotori Bogor [seperti syair lagu yang sering dinyanyikan pengamen di angkot Bogor akhir-akhir ini, tentang segala sesuatu yang khas Bogor namun sekarang menghilang entah kemana].
            “Masih mau lama?” Sebab saya sangat ingin melihat-lihat buku bersama DB. Kebersamaan melihat-lihat buku baru di toko buku adalah kegiatan paling romantik bagi saya, hanya bisa dikalahkan oleh momen dimana saya memegang payung ketika kami menunggu angkot di pinggir jalan, hujan sedang turun.
            Tapi DB tidak menjawab dengan relevan. “Ada tiga cover baru Agatha. Dia memang mengoleksi novel-novel Agatha Christie dengan cover baru yang terkesan kontemporer [abstrak] itu.
            “Wah, bagus.”
            “Tahu nggak? Pengakuan Eks Parasit Lajang sudah ada. Saya beli buat kamu.”
            Apakah ada yang lebih romantis dari pada dua orang berlaianan kelamin yang saling memberi dan menerima buku yang mereka tahu pasangan mereka sukai? Saya menjadi lebih sabar di dalam kereta meski lengan telah pegal bergelantungan mirip paha sapi di pasar daging. Sampai Stasiun Bogor, hujan gerimis, beruntung. Tapi manusianya minta ampun. Koridor 1, 2, 3, dan 4 ditutupi manusia, dari bayi sampai jompo. Menariknya, tidak banyak Tionghoa di antara mereka. Nah, siapa yang hari raya, siapa yang liburan? tanya saya dalam hati. Tapi tahukah kamu bahwa inilah salah satu bentuk toleransi beragama di negeri ini yang sangat saya banggakan? Merangsek pelan-pelan, akhirnya sampai juga di pintu keluar. Menyerahkan karcis lalu berjalan dengan gegas menuju tempat angkot 03 ngetem. Pagar-pagar itu bagai penjara. Saya naik ke sebuah angkot 03 yang masih kosong dan tak berapa lama, bangkunya segera penuh. Bogor gerimis, ramai sekali jalanan, tapi tidak macet parah. Inilah yang membuat saya menyukai kota kecil ini. Sempur padat merayap. Saya harus kejar jadwal. Beruntung si supir orang Padang ini memotong lewat perempatan Taman Kencana, melintasi resto-resto berkelas di belakang Hotel Pangrango [nomor berapa?]. Padat merayap di Jl. Padjajaran dari PTC sampai lampu merah [ini bisa disebut macet? Lampunya sedang merah.] Selepas itu lancer, hingga saya stop di Giant Padjajaran, minta diantarkan ojek ke Padjajaran Regency. Saya turun, langsung membayar Rp. 8.000 dan mengelos pergi karena sudah telat dari janji kerja sebelumnya.
            “Bang!”
            Tukang ojek itu memanggil sambil tertawa.
            “Kurang ini, Bang!”
            Ha? Saya nyaris membuka mulut lebar-lebar. Dua tahun saya pakai ojek bolak-balik dengan rute yang sama, bayar Rp. 6.000 saja tukang ojek sudah berterima kasih berulang-ulang [sebab harusnya Rp. 5.000 saja] kok kali ini dia merasa kurang? “Saya biasa bayar begitu, Bang.”
            “Harusnya sepuluh ribu, Bang.”
            “Ah, saya sering dari kompleks sini ke Giant bayarnya enam ribu, bahkan.”
            “Tapi ojek Giant lain, Bang?”
            Ha? Apa bedanya ojek yang di sini dan yang di depan Giant? Rutenya sama. Tapi saya karena tidak mau berlama-lama, mengeluarkan Rp. 10.000 lalu menyodorkan kepada tukang ojek yang nyengir itu. Saya ambil Rp. 8.000 lalu bergegas pergi tanpa tersenyum padanya. Dia memutar setir dan cabut, mungkin sambil tertawa girang karena berhasil membohongi saya. Tidak akan pernah saya pakai jasa ojek di depan Giant itu lagi, kata saya dalam hati, tidak akan lagi. Bagaimana bisa orang hidup dari jasa tapi menipu pengguna jasa secara terang-terangan? Kasihan sekali tukang ojek itu.
           
II

            Enam kurang sepuluh menit saya keluar dari kompleks Padjajaran Regency. Saya pakai ojek di pangkalan langganan saya [di sini saya kasih Rp. 7.000 tukang ojek-nya bersyukur setengah mati] dan meminta berhenti jauh dari pangkalan ojek depan Giant. Saya tidak ingin melihat wajah tukang ojek penipu tadi. Saya menyeberang ke Giant, melewati Gramedia dan meluncur terus ke swalayan ADA. Kekasih saya sudah menunggu di sana, sedang melihat-lihat pinsil yang lucu-lucu di lantai dua. 
            “Makan dimana?”
            “Pakuan,” jawab saya riang.
            Lima belas menit perjalanan dengan angkot. Kami tiba di Pakuan, masuk ke rumah makan langganan kami. Pemilik rumah makan itu, lelaki Padang tambun, sedang menonton Barcelona versus Getaffe. Kedudukan 1:0. Ah, saya penggemar Madrid. Tapi saya menonton juga sambil makan. Saat jedah istirahat setengah main, DB mengeluarkan bungkusan dari tasnya.
            “Ini.”
            Dikeluarkannya satu persatu buku. Dan Cermin Pun Reta, Pembunuhan Atas Roger Ackroyd  dan Kubur Berkubar karya Agatha. Yang paling akhir dikeluarkannya Pengakuan Eks Parasit Lajang. Saya menatapnya, pura-pura tidak kegirangan, makan sambil melirik ke layar televisi, mendengar komentator bicara sok tahu [memang tugas mereka untuk menjadi sok tahu ya?].
            “Tumben Imlek hujannya nggak gede.”
            Saya tidak terlalu mengerti soal femomena ini. “Gitu ya?”
            “Kan tahun naga air?”
            “Biar dia semburkan api saja,” ujar saya berusaha melucu.
       Kami berpisah di pintu masing-masing. DB pasti langsung tidur. Saya akan mandi, menyetrika pakaian lalu membaca The Host atau Bliss. Tapi kira-kira pukul satu subuh saya tak tahun untuk tidak membuka bungkus plastik Pengakuan Eks Parasit Lajang. Harganya Rp. 60.000 kata DB tadi. Lebih mahal dari buku sebelumnya tapi tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan buku-buku terjemahan [salah satu cara mencintai produk dalam negeri kan?] dari Amerika atau Eropa.

III

         Saya senang menghubungkan Ayu Utama dengan sesuatu yang esoterik sejak saya membaca Saman dan banyak buku karyanya lainnya. Yang paling menggugah saya adalah Manjali dan Cakrabirawa kemudian dilanjutkan dengan Lalita. Ada kesan Ayu Utami menarik lingkaran esoteriknya lebih besar, keluar, menjangkau ke Eropa. Terbukti bahwa cover Manjali dan Cakrabirawa memiliki sebuah gambar semacam piramida yang belum selesai [Masonic?] yang kelihatannya juga mirip piramida-piramida yang terdapat di Amerika, bukannya di Mesir. Jadi ketika saya melihat harganya Rp. 60.000, otomatis saya langsung terhubung dengan konsep Mason, betapa pentingnya angka 6 itu. 600, 60, 6=666. Tapi ini hanya spekulasi, seseorang bisa menulis sesuatu diluar kesadarannya akan konsep sebuab angka dan inisial. Atu apakah Ayu Utami sama halnya Dan Brown, yang “suka” pada konsep-konsep esoterik Masonik? Siapa yang tahu? Dan ini tentu tidak salah, bukan berhala dan sesat. Ini hanya konsep untuk membangun dunia yang lebih baik, terlepas dari konspirasi yang beredar di luar sana.
         Saya sering mengkeramatkan buku karya Ayu Utami sejak saya membaca Saman pada tahun 2007. Dan itu berlaku pula pada Pengakuan Eks Parasit Lajang. Jadi saya tidak terburu-buru membuka-buka lebarnya tapi melihat-lihat covernya dulu. Cover yang menarik dengan bingkai putih yang belum pernah tampil pada cover buku Ayu sebelumnya. Gambar pada cover depan langsung mengingatkan saya pada tampilan ikon Maria di Guadalupe [orang Katolik pasti langsung engeh]. Namun bagi saya agak menyeramkan karena wajah Ayu tidak diwarnai secara jelas seperti dalam foto-foto. Lalu semacam magma/lava yang membingkai tubuh Ayu tanpa lengan dan kaki. Pita bertulisan yang menutupi payudara dan areal di bawah perutnya sangat artistik dan menggelitik, namun juga mengingatkan saya akan karya seni jadul yang menggunakan tali berpita ini [sekarang jarang sekali digunakan, dianggap sudah kuno, seperti halnya teknik mencuci foto yang dikatakan Lalita]. 
      “Saya teringat pita yang dicengkeram Burung Garuda, bertuliskan Bhineka Tunggal Ika. Juga pita bertulisan pada lambing sekolah Horgwarts”
         Kekasih saya hanya tersenyum.
        Ada tujuh bintang di sekeliling Ayu. Jika dibandingkan ikon  Maria di Guadalupe, telah banyak variasi untuk ikon ini, namun jumlah bintangnya jauh lebih banyak [ada yang 50 buah] dan kaki Maria seperti menginjak bulan sabit atau sebuah tatakan yang kelihatan seperti tanduk banteng, yang dipikul oleh seorang malaikat kecil [cupid?].


        Kemudian sebagian besar cover depan didominasi oleh warna suram yang menurut saya seperti pola-pola ukiran bunga tak beraturan pada sebuah dinding batu. Mengingatkan saya akan kisah Lalita mengenai pahatan pada tingkatan Borobudur. Cover belakangnya sendiri tidak mengejutkan karena di beberapa buku lainnya pun Ayu memasang fotonya dengan pose [sensual, menurut DB] demikian.
            “Buku ini hebat!”
      Belum membaca saja saya sudah bilang begitu. Bukan karena saya terlalu menyanjung Ayu, tapi karena saya menganggap semua buku yang menyeratakan pembatas buku adalah buku hebat. Kenapa? Alasannya sederhana: penulisnya sangat memperhatikan pembacanya dan kelangsungan buku itu sendiri. Tanpa pembatas buku, orang akan melipat halaman dan membuat buku itu berpeluang sobek. Dan Ayu menyertakan pembatas buku di semua buku karyanya. [Saya lupa, apakah Bilangan Fu dan Lajang Parasit punya pembatas buku].
            “Wah, benar-benar menarik!”
            “Apanya yang menarik?”
            “Dimana pembatas buku itu bisa ditemukan.”
            “Maksudnya?”
            “Buka sendiri.”
           Pada halaman 87 dengan judul bab: Dosa Asal. Apakah Ayu hendak menggiring pembacanya dari konsep Dosa Asal ini? Semuanya berasalah dari Dosa Asal? Tuhan menciptakan manusia [majemuk, laki dan perempuan, sesuai gambaran Tuhan] lalu menempatkan mereka di taman yang di Eden [bukan taman bernama Eden] tapi ular, binatang yang paling cerdik dari antara semua binatang [apakah ular ini adalah penis laki-laki?] menggoda salah satu manusia, Hawa/Eva/Perempuan dan ia memberikan buah itu [kuldi/apel/apel emas/buah dada?] kepada manusia yang lain, Adam/Lelaki dan terbukalah mata mereka, menjadi berpengetahuan seperti Tuhan tapi mereka menjadi malu karena mereka telanjang dan bersembunyi. Ketika Tuhan mengunjungi kebun itu, manusia-manusia itu bersembunyi dan Tuhan tahu mereka telah melanggar peraturan. Mereka pun diusir keluar dari taman itu, Tuhan menempatkan sepasang kerub [malaikat bersayap/manusia dengan pedang api/semburan gunung berapi/sepasang naga?] untuk menutup jalan masuk menuju taman di Eden. Manusia dibuang ke tanah tandus dan mereka harus mengusahakan kehidupan sendiri, bekerja, membuat rumah, dan menghasilkan keturunan.
          “Pelanggaran Adam dan Hawa itulah yang kemudian dikonsepkan menjadi Dosa Asal, dosa yang melekat kepada semua keturunan manusia [dikhususkan kepada orang Yahudi dan Kristen?].”
            “Tidak bisa hilang?”
            “Bisa hilang dengan Pembaptisan versi Yesus?”
            “Dan perbuatan baik?”
            “Ya.”
            Selain itu, pemikiran yang kemudian berkembang adalah Dosa Asal itu bukan semata-mata pelanggaran aturan di taman di Eden, kepalabatunya sepasang manusia itu, atau memakan buah dari pohon pengetahuan, tapi lebih khusus menyangkut ketelanjangan sepasang manusia itu dan apa yang kemudian diakibatkan oleh pengetahuan itu: hubungan seks [seks bebas?]. Karena buku ini tentang seksualitas dan spiritualitas, bisa jadi Ayu ingin memberikan cara pandang yang agak berbeda dengan cara pandang umum tentang Dosa Asal dan hubungan seks [seks sebelum/di luar pernikahan resmi secara agama].

                                           IV          

            “Mari kita mulai dari satu halaman ke halaman lain.”
            Lembar ketiga, Ayu menulis begini [seperti semua bukunya, ia menulis untuk seseorang atau lebih, sebuah dedikasi?]: Untuk Ibuku yang membuatku percaya ada cintakasih. Saya bertanya-tanya seperti apa ibu Ayu? Dari kalimat Ayu di atas, saya menyimpulkan sedikit bahwa ibunya adalah wanita yang menerima Ayu apa adanya, tidak menolak Ayu, meskipun Ayu telah melakukan banyak yang yang salah. Bukankah seorang ibu selalu begitu? Pada lembar keempat, Ayu menyertakan juga sebuah keterangan singkat: Untuk Santo Agustinus yang pertama kali, 1600 tahun silam, menulis Pengakuan. Kenapa Ayu menulis ini? Saya adalah “penyuka” konsep Mason dan langsung tergerak melihat angka 1600 yang saya jadikan 600, angka yang mirip harga buku ini kan? 600, 60, 6=666 [ini hanya angka yang ditulis di Kitab Wahyu dan tidak menunjuk pada apapun selain yang dimaksud oleh penulis Kitab Wahyu sendiri, jadi tidak ada hubungannya dengan angka setan, iblis, Lucifer atau apapun].
            Saya mengenal Ayu Utama, namun nama baptisnya adalah Agustina, Santa Agustina. Menarik sekali bahwa Pengakuan Eks Parasit Lajang ini bisa dikatakan Pengakuan seorang Agustinus versi perempuan yaitu Agustina “Ayu Utami”. Sekarang semuanya jadi mudah dimengerti jika dihubung-hubungkan, bukan? Saya saja sampai terkejut dan girang bukan main, seakan saya baru saja memecahkan salah satu kode/symbol yang diberikan Dan Brown dalam salah satu bukunya tentang Robert Langdon.
            “Keren juga kalau Ayu melakukan hal yang sama.”
            “Betul juga, pembaca bisa memecahkan symbol, bukan hanya mencari jawaban dari google atau Wikipedia.”
            “Berarti Ayu sangat interaktif dengan pembacanya, sama seperti Brown.”
            “Boleh dikatakan demikian.”
            Lembar kelima berisi Daftar Isi dengan pola yang masih sama seperti beberapa buku Ayu terakhir: tiga subjudul. Menarik juga bahwa dua buku terbitan KPG dari penulis lain [Bre/Gitanyali] juga memiliki pola daftar isi yang sama. Sehingga sewaktu membeli buku Gitanyali [Blues Merbabu dan 65] saya langsung berpikir Bre plagiat gayanya Ayu.
            “Hahahaha…”
            Lembar keenam, dimulailah halaman satu, dengan Prolog.