Review Dalil Pembunuhan Massal

Minggu, 11 Maret 2012




Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto

by John Roosa, Hersri Setiawan (Translator)

Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra 2008

Bangsamanusia: Suatu ketika Ariel Heryanto pernah menandaskan, bahwa hanya di Indonesia, tempat dimana komunisme tak pernah mati. Bukan tanpa musabab ia menuturkan hal demikian. Berbeda dari eksistensinya di banyak negara, komunisme di Indonesia menjadi momok yang tak pernah berhenti diujarkan, malah dilembagakan dalam aturan perundang-undangan. Hingga sekarang pun, menyebut kata itu, masih menyiratkan makna tertentu. Sesuatu yang dengan segenap kekuatan harus dihancurkan, mesti dibasmi, layak dibumihanguskan, lebih dahsyat ketimbang terorisme juga diskursus tentang aliran sesat.

Komunisme telah menampak sebagai sepenggal cerita yang menakutkan. Menyebutnya di Indonesia dapat dipandang sebagai upaya untuk mengembalikan kekuatan itu lagi. Kekuatan yang pernah amat takzim dilafalkan oleh rakyat setengah juta di era 60-an. Setelah anasir komunisme terlembagakan dalam rupanya sebagai partai politik, kemampuannya untuk menarik massa bagai permen manis yang didekati semut. Berduyun-duyun rakyat mendekati komunisme sebagai parade bernegara. Bukan negara bila tak melafalkan komunisme, bukan abdi pemerintahan yang taat bila tak mengetahui Marx juga Lenin, bukan intelektual yang benar bila tak menandaskan revolusi.

Namun, di Era Soeharto dapat dikatakan amat sedikit yang berani menuturkan komunisme sebagai kata biasa. Setelah tragedi yang menimpa salah satu partai politik besar di tahun 1965, tidak hanya Partai Komunis Indonesia (PKI) yang terkena imbas dari pelarangan dan penghancuran total, tetapi segenap konsep yang dapat bertalian dengan yang digunakan oleh partai, juga menjadi terlarang. Mengajarkan komunisme akan dituduh anggota PKI, dan terlihat menyebut tokoh-tokoh komunis akan di cap sebagai antek-antek PKI.

Rezim Soeharto menjadi gerbang penjaga yang menginginkan komunisme tidak lagi tampak di permukaan selamanya. Setiap dari elit mereka bertugas untuk menjaga agar konsep ini tidak hadir di masyarakat. Setiap orang yang menyebut konsep ini, terdengar mengujarkannya di khalayak ramai, terlebih sebagai pendukung, akan bersiap berhadapan dengan penjaga negara. Setidaknya 40 tahun komunisme menjadi kata yang diam dan jarang terdengar.

Amat sedikit literatur yang dilekati sebagai karya-karya kaum komunis yang beredar di tengah-tengah publik. Das Capital karya Marx yang berjilid-jilid itu baru terbit di kisaran tahun 2004. Karya-karya Tan Malaka, baru terbit sekitar tahun 1990-an, itu pun dengan sensor besar-besaran dimana-mana. Bahkan, tokoh sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer, hanya sedikit karyanya yang dapat dinikmati pada masa Soeharto berkuasa. Komunis dilarang tidak saja dalam perbuatan, tetapi dalam bayang gelap ia juga masih dicari dan coba dibumihanguskan.

Demi menjaga agar komunisme benar-benar tidak lagi terdengar, lembaga negara menerbitkan segenap aturan yang meregulasi tentang hukum yang dikenakan bagi mereka yang menyebarkan, menggunakan atau mengajarkan gagasan Marxisme atau Leninisme yang bertitik tolak pada komunisme. Semua model urusan keseharian juga tidak lepas dari dampak penjagaan seperti ini. Urusan-urusan dengan pihak berwajib senantiasa melampirkan tulisan besar-besar, tidak pernah terlibat sebagai anggota PKI dan konsep-konsepnya.

Bertahun-tahun bentuk penjagaan seperti itu dilakukan, bahkan ketika Partai Komunis Indonesia (PKI) tidak lagi punya bentuk dan telah nyata dibubarkan, segala model buku yang bersangkut-paut dengannya dibakar habis, dan ratusan pengikutnya telah dibunuh dan sedikit lainnya dibungkam di dalam penjara tanpa persidangan. Setelah semua itu dilakukan, negara masih diliputi ketakutan berlebihan. Para penjaga yang kini tak lagi tahu-menahu soal, masih setia melakoni aktifitas ronda tentang bahaya komunisme. Dimana-mana masih dijumpai pintu-pintu sensor yang besar terhadap komunisme, bahkan masih terlihat pendongkelan terhadap orang-orang yang dianggap memiliki aroma komunis.

Maka, Ariel Heryanto benar saat menuturkan bahwa di negara ini komunisme memang tak pernah mati. Setiap saat tindakan waspada terhadap bahaya komunisme digalakkan dari segala arah. Semua orang seperti amat takzim mengira komunisme sebagai raksasa bermata satu mirip Dajjal yang siap merenggut negara dan membawanya pada kebinasaan. Bahkan, ketika Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengusulkan pencabutan Tab MPR yang mengatur tentang PKI dan bahaya laten komunis, dengan gegap-gempita gugatan datang dari segala penjuru. Tidak hanya kalangan agamawan yang memasang badan siap menggagalkan keinginan Gusdur, tetapi politisi, militer, serta masyarakat biasa seperti melihat Gus Dur tengah menginginkan mencabut patok tali anjing galak yang siap menerkam. Pertanyaannya, memang seberbahaya itukah komunisme?

Di tengah larangan terhadap ajaran-ajaran yang berbau Marxisme, Komunisme, Leninisme, Sosialisme, PKInisme, tersirat bayangan tentang PKI sebagai salah satu partai terbesar di Indonesia di tahun 1960. Tidak saja kesuksesan yang pernah diraih partai ini dalam pentas politik, tetapi harapan dan cita-cita kebangsaannya yang menginginkan semangat nasionalisme, kemandirian bangsa, dan kedaulatan serta kemerdekaan yang semakin besar bagi segenap kaum buruh (petani, nelayan), borjuis imut-imut (intelektual, mahasiswa), borjuis lokal (pedagang, tuan tanah), dan borjuis nasional (politisi, militer, negarawan) yang menanamkan rasa kebencian yang sama terhadap penumpukan modal dan monopoli, masih dipandang wajar untuk tetap ditumbuhkan sebagai spirit kebangsaan.

Ketika larangan pada PKI masih begitu terasa, jadi amat tak relevan rasanya mengira masih ada celah yang dapat dibuat untuk menggagalkan pandangan-pandangan yang beraroma Marxisme juga Leninisme. Komunisme telah menjadi pandangan yang mengalami modifikasi sedemikian rupa di dalam sejarah, dan telah merengsek masuk ke dalam segala sendi dunia kekinian. Larangan apapun tak lagi mempan untuk mematok pasak besi larangan komunisme. Justru, patok-patok itu hanya jadi sekedar penghalang untuk melihat hal-hal baik yang dapat dipelajari dari konsep tentang komunisme yang sudah usang itu.

Andai pengikut setia komunisme dan PKI masih bertahan hingga hari ini, menggunakan corak yang pernah berkembang di tahun 1940-1960-an itu hanya jadi bahan tertawaan belaka. Dunia berubah seiring berpendarnya bumi, dan gagasan-gagasan baru yang lebih mutakhir bermunculan dari ragam gagasan tokoh dunia. Menjebak diri dengan ketakutan pada hantu-hantu dari masa lalu, tak ubahnya bagai manusia zaman metropolis yang masih takut dengan genderuwo atau setan Sumiati. Relevankah ketakutan itu? Masih zamankah model ketakutan seperti itu?

Ronny: Baru beberapa halaman sudah kesengsem, krn penerjemahan dan editingnya yang apik. Kata yang sudah baca edisi aslinya, memang bukan main buku ini.

WARNING!
Kawan2, Kejaksaan Agung yg sudah gemuk busuk kena duit Artalyta dan duit2 lainnya itu rupanya memang sudah tidak bisa berpikir lagi memakai nalar dengan rencananya untuk melarang dan menarik peredaran buku ini. Galang penolakan di
http://www.goodreads.com/topic/show_grou...

Arifa: Buku yang sip banget tentang G/30/S tahun 1965 lalu bagi mereka yang ingin mempelajarinya dari sudut pandang objektif. Ditulis dengan analisis yang tidak main-main dan penceritaan yang renyah, membuat pembaca seolah-olah berhadapan dengan novel detektif saja.

Buku sejarah memang tidak asing dengan komentar-komentar penulisnya tentang tokoh-tokoh dan peristiwa dalam sejarah. Dan komentar-komentar Roosa lumayan mengocok perut: sarkastis sekaligus lucu, mengeritik tajam dan juga jujur. Buku yang patut diacungi jempol tentang sebuah episode merah dan abu-abu di Indonesia.

Ben: “Pretext for Mass Murder” is an impressive overview of the complicated events behind the 1965-1966 coup in which pro-U.S. General Suharto seized power and began a three decade reign of terror. Roosa worked with a group of Indonesian scholars on interviews and other historical research which produced core material for this book. Though in the end Roosa concludes that a few members of the Indonesian communist party (PKI), by launching an ill-conceived anti-military action, did provide the provocation which rightist military forces and the U.S. had been waiting for in 1965, the foolhardy actions of those individual PKI members do not in any way absolve Suharto and his western backers for what consequently happened (an epic campaign of bloodletting which eviscerated the PKI and killed up to a million Indonesians).

choice quotes: p.178 “In the months before October, the United States and the army wanted an incident like the movement to occur[…] Eisenhower and the Dulles brothers – Allen at the head of the CIA and John Foster at the head of the State Department – viewed all nationalist Third World leaders who wished to remain neutral in the cold war as Communist stooges. In full confidence of their right to handpick the leaders of foreign countries, Eisenhower and the Dulleses repeatedly used CIA covert operations to overthrow such leaders: Mossadegh in Iran in 1953, Arbenz in Guatemala in 1954, and Souvanna Phouma in Laos in 1960. The Dulles brothers viewed Sukarno as yet another irritating character who needed to be removed from the world stage.”

p.182 “The consistent U.S. strategy from 1959 to 1965 was to help the army officers prepare themselves for a violent attack upon the PKI.”

Dyah: saya baca terjemahannya terbitan hasta mitra. ini buku bagus. bagaimana sebuah peristiwa bisa dihilangkan jejaknya bahkan dibuatkan rekaman jejak baru dalam ingatan seluruh anak bangsa. sungguh sial yang tertipu oleh 'rekaman buatan' itu. setidaknya baca buku ini, teman, akan ada sedikit yang terkuak. cuma sedikit sayangnya! kudengar isu launchingnya ada pencekalan. hihi. kayaknya lg musim cekal dan sobek. wufh!

Haripin: OK, apa yang membuat buku Roosa sangat menarik dalam pandangan saya adalah penemuan bukti-bukti baru tentang berbagai hal menyangkut Gerakan 30 September (G-30-S) dan sekalian analisis mengenainya, rekonstruksi alternatif atas kejadian G-30-S ala Roosa, serta kearifan yang dikandung oleh buku itu.

“Dalih Pembunuhan Massal”, berbeda dengan buku-buku dengan tema sejenis, tidak serta-merta mengarahkan jari telunjuk kepada pihak-pihak tertentu sebagai dalang G-30-S. Entah itu PKI, Suharto dan komplotan Angkatan Darat-nya, Soekarno, maupun CIA. Roosa agaknya memulai riset untuk bukunya ini dengan pikiran naif dan rasa penasaran yang membuncah. Emm, sebenarnya Roosa (memang) tidak senaif itu dan naskahnya pun tidak sedingin layaknya naskah penelitian yang berjuang sekuat tenaga untuk menjunjung tinggi value free, namun Roosa sedikitnya sengaja –buah dari sikap hati-hatinya- untuk mencermati dan mencerna berbagai bukti baru guna mengkaji apa yang sebenarnya terjadi dalam G-30-S. Oleh karena itu, meski Roosa tampak memiliki tendensi untuk membela PKI –sebagai wacana tandingan terhadap propaganda Orde Baru, Roosa tetap memperlakukan aktor-aktor lain dengan fair dan berimbang. Hal inilah, menurut saya, salah satu keunggulan buku ini.

Selain perlakukan Roosa terhadap bukti, saya pikir kesimpulan buku ini pun cemerlang dan menunjukkan kapabilitas Roosa sebagai sejarawan mumpuni. Roosa tidak menganalisis pelaku/aktor G30S dengan “sekali pukul dan ketahuan, setelah itu selesai.”

“Kelemahan penyelidikan-penyelidikan tentang G-30-S terdahulu terletak pada titik tolak mereka: dugaan bahwa pasti ada dalang di balik gerakan itu. Menurut hemat saya tidak ada ‘otak’ yang utama, apakah ia berupa tokoh, ataukah suatu gugus rapat orang-orang yang terorganisasi mengikuti pembagian kerja serta hierarki kewenangan yang jelas. G-30-S menjadi bersifat misterius justru karena tidak adanya pusat pengambilan keputusan yang tunggal.” (Hal. 293)

Maksudnya, Roosa mendasarkan analisisnya terhadap sejauh mana para aktor itu berkontribusi terhadap G-30-S, di dalamnya juga termasuk pembatasan mengenai hal-hal apa saja yang sebenarnya tidak termasuk kontribusi para aktor tertentu dalam peristiwa G-30-S. Hal inilah yang membuat saya sangat menyukai buku ini. Roosa secara terang-terangan menolak propaganda Angkatan Darat bahwa PKI merupakan aktor utama G-30-S. Roosa menulis bahwa bukti-bukti baru, yaitu dokumen Supardjo, uraian tanggung jawab Sudisman, dan wawancara dengan mantan petinggi PKI bernama samaran “Hasan,” justru tidak menunjukkan demikian. Unsur PKI yang terlibat dalam G-30-S hanya terbatas kepada D.N. Aidit, Syam (Kamaruzaman), dan Biro Khusus. Ketiganya tidak bisa langsung dijadikan sebagai representasi kehendak PKI untuk turut serta dalam G-30-S. Fakta ini sangat memengaruhi kesimpulan Roosa untuk menyatakan bahwa pemberangusan terhadap PKI pada masa pasca-G-30-S yang dilakukan oleh Angkatan Darat, sebagai hasil dari kesimpulan prematur dan propaganda bahwa PKI adalah dalang utama, itu tidak dapat dibenarkan dari sudut pandang manapun. Dengan kata lain, Angkatan Darat –dalam ungkapan yang sangat halus- telah bertindak tidak proporsional terhadap PKI: pembunuhan beratus ribu –angka pasti belum diketahui- petani, buruh, guru, dan aktivis PKI tentu sangat tidak sepadan dengan kematian tujuh perwira tinggi Angkatan Darat, terlebih lagi apabila dibandingkan dengan hasrat busuk Suharto dan Angkatan Darat untuk berkuasa.

Pada tataran yang lain, Roosa menunjukkan hal yang lebih menarik, yakni kelihaian dan kecerdikan Suharto beserta eksponen Angkatan Darat-nya yang berafiliasi dengan CIA, dalam memanfaatkan G-30-S. Menurut Roosa, Angkatan Darat memang tengah menantikan suatu peristiwa bombastis berkaitan dengan upaya pendongkelan Presiden Sukarno, maupun peristiwa berskala cukup besar lainnya yang memiliki intensi untuk merebut kekuasaan negara. Tujuan mereka, tentu saja, untuk menghancurkan PKI sebagai musuh politik Angkatan Darat dan menjatuhkan Sukarno karena dinilai terlalu dekat dengan PKI sehingga mengancam Angkatan Darat serta kepentingan Amerika Serikat. Angkatan Darat memiliki harapan besar bahwa sekali peristiwa semacam itu terjadi, PKI-lah yang akan didiskreditkan. Bahkan, berdasarkan bukti data-data CIA yang telah dideklasifikasikan, Roosa menulis bahwa Angkatan Darat sengaja menghembuskan isu dan berbagai upaya lain guna memancing PKI melakukan semacam upaya pendongkelan kekuasaan negara. Salah satu manifestasi strategi busuk Angkatan Darat ini adalah isu Dewan Jenderal akan melakukan kudeta. Angkatan Darat menginginkan PKI, khususnya pada tingkat Politbiro dan Komite Sentral, untuk berpikir bahwa apabila Dewan Jenderal berhasil melakukan kudeta maka PKI akan dihancurkan. Unfortunately, Aidit, Syam, dan Biro Khusus termakan perangkap Angkatan Darat ini. Dalam ungkapan Roosa, Aidit, Syam dan Biro Khusus, serta para perwira pro-PKI ini memilih, “rencana mendahului,” kudeta rancangan Dewan Jenderal tersebut. Hal ini pada akhirnya berujung kepada kegagalan G-30-S dan pemenuhan dalih yang dibutuhkan oleh Angkatan Darat untuk menggasak PKI.

Di samping kelebihan dan keunggulan buku Roosa yang telah dijelaskan di atas, “Dalih Pembunuhan Massal” pun tentu memiliki kekurangan. Menurut saya, sedikitnya ada satu kekurangan dan satu saran yang dapat dialamatkan kepada buku tersebut. Untuk kelemahan, saya berpikir Roosa terlalu mengecilkan arti pembunuhan terhadap para perwira Angkatan Darat. Memang meski PRRI/Permesta dan peristiwa-peristiwa lain memiliki intensitas dan skala ancaman yang lebih besar, peristiwa pembunuhan ini agaknya harus dilihat lebih bijaksana. Bagaimanapun, pembunuhan ini tentu turut mendorong semangat para perwira Angkatan Darat dalam spektruk politik Kanan untuk benar-benar mengganyang eksponen G-30-S. Andaikata G-30-S tidak gegabah dengan membunuh para jenderal dan bertindak sesuai dengan rencana semula, yakni menghadapkan “Dewan Jenderal” ke Presiden Sukarno, Suharto dan Angkatan Darat tentu tidak memiliki dalih yang terlalu besar untuk benar-benar menghancurkan G-30-S, sekaligus dengan PKI yang dituduh sebagai dalang utama. Apabila para jenderal itu tidak terbunuh, mungkin Presiden Sukarno akan memberikan restu kepada G-30-S dan memenuhi keinginan PKI tentang reorganisasi susunan kabinet. Dalam tahap ini, saya pikir keadaan terbunuh/tidak terbunuhnya para jenderal turut menentukan jalan cerita G-30-S.

Selanjutnya, tentang saran. Saya hanya ingin menambahkan bahwa alangkah bergunanya apabila Roosa memberikan deskripsi mengenai konstelasi menjelaskan konstelasi para perwira Angkatan Darat, juga Angkatan Laut, Udara, dan Kepolisian, yang memiliki simpati atau antipati terhadap Sukarno serta PKI. Hal ini, menurut saya, penting. Keterangan ini akan memberikan gambaran yang baik mengenai penelusuran siapa-siapa saja, baik individu maupun kelompok, yang bisa dijadikan narasumber baru untuk memberikan keterangan berharga mengenai G-30-S. Selain itu, juga berguna untuk mendapatkan sudut pandang baru mengenai keadaan Angkatan Darat pada masa itu, misalnya mengenai infiltrasi Biro Khusus terhadap Angkatan Darat, kerjasama para perwira tinggi yang bekerjasama dengan CIA, dll.

Dengan tuntasnya uraian kekurangan dan saran, maka sebaiknya tuntas pulalah tulisan refleksi ini. Semoga berguna bagi Anda, para sidang pembaca. Silakan tuliskan komentar dan kritik Anda tentang tulisan ini atau buku Roosa secara keseluruhan, kalau berkehendak. Sekali lagi, saya hanya minta maaf kepada mereka yang memang patut dimintakan maafnya.

Terima kasih banyak. Salam hangat,
mh.