Review A Thousand Splendid Suns

Selasa, 20 Maret 2012






A Thousand Splendid Suns

by Khaled Hosseini, Berliani M. Nugrahani (Translator)

Indonesian version of A Thousand Splendid Sun

Translator: Berliani M. Nugrahani

Penyunting: Andhy Romdani

Hati pria sangat berbeda dengan rahim ibu, Mariam. Rahim tak akan berdarah ataupun melar karena harus menampungmu.

"Hanya akulah yang kaumiliki di dunia ini, dan kalau aku mati, kau tak akan punya siapa-siapa lagi. Tak akan ada siapa pun yang peduli padamu. Karena kau tidak berarti!"

Kalimat itu sering kali diucapkan ibunya setiap kali Mariam bersikeras ingin berjumpa dengan Jalil, ayah yang tak pernah secara sah mengakuinya sebagai anak, Dan kenekatan Mariam harus dibayarnya dengan sangat mahal. Sepulang menemui Jalil secara diam-diam, Mariam menemukan ibunya tewas gantung diri.

Sontak kehidupan Mariam pun berubah. Sendiri kini dia menapaki hidup. Mengais-ngais cinta di tengah kepahitan sebagai anak haram. Pasrah akan pernikahan yang dipaksakan, menanggung perihnya luka yang disayatkan sang suami. Namun, dalam kehampaan dan pudarnya asa, seribu mentari surga muncul di hadapannya.

Qanita 2007

Iyut: dapet dari GRI Book Challenge :)
baru sampai di Jogja tgl 14 April 2011.. waktu untuk membaca tinggal 16 hari..512 halaman >,<
semangaaaat..

-----------------------------------------

Mendapat buku ini dari GRI Book Challenge membuatku dihadapkan pada 2 pilihan, menyelesaikan membaca dengan batas waktu akhir April dan membuat resensi, atau di-black list tidak boleh ikut GRI Book Challenge lagi untuk seterusnya. Paket buku tiba di Jogja tanggal 14 April, berarti hanya ada waktu sekitar 16 hari untuk membaca buku setebal 500an halaman ini. Bagiku yang akhir-akhir ini kesulitan mencari waktu untuk membaca, ini cukup menantang. So, kutetapkan target minimal membaca 35 halaman per hari. Tidak sulit ternyata, karena kisah yang ditulis Khaled Hosseini ini alur ceritanya mengalir, tidak membuatku bosan mengikuti runtutan kisah hidup tokoh utama buku ini, Mariam dan Laila, sejak kecil hingga dewasa. Kisah ini berlatar situasi Afghanistan saat negara itu dikuasai kaum komunis, dijajah Soviet, kemudian masa-masa di bawah kekuasaan Mujahidin dengan pertikaian antarfaksinya, hingga kemudian Taliban menguasai Afghanistan dan penerapan hukum berdasarkan Syariah-nya, ditutup dengan situasi Afghanistan tahun 2003, setahun setelah Taliban diusir dari kota-kota besar Afghanistan.

Bagian pertama buku ini diawali dengan kisah Mariam, tentang masa kecilnya di Herat sebagai anak haram Jalil, pengusaha kaya, yang memilih “membuang” Mariam dan ibunya Nana, menempatkan mereka di sebuah kolba di suatu tempat agak di luar kota, hingga kemudian hidup Mariam berubah drastis saat usianya menginjak 15 tahun, ketika ia menjadi piatu kemudian dijodohkan dengan Shareed yang jauh lebih tua darinya, dan harus pindah ke Kabul mengikuti suaminya. Manis pahit hidup Mariam sebagai istri diceritakan hingga tahun 1978, saat terjadi kudeta kekuasaan dan pihak komunis mulai berkuasa.

Kemudian kisah bergulir ke bagian kedua, kisah Laila kecil, pada tahun 1987 saat Afghanistan masih dijajah Soviet yang menduduki negara itu satu setengah tahun sejak kudeta 1978, hingga Laila remaja, di tahun 1992 saat kaum Mujahidin berhasil menguasai Afghanistan. Kisah hidup Laila bersama Babi (ayahnya) yang suka membaca dan selalu mengajari Laila berbagai hal, dan Mammy (ibunya) yang depresi karena kedua kakak lelaki Laila pergi berjihad melawan Soviet dan kemudian gugur. Kisah Laila bersama Tariq, sahabat lelakinya yang berkaki satu akibat terkena ranjau darat. Kisah Laila bersama Giti dan Hasina, sahabat-sahabat perempuannya.

Saat Laila berusia 14 tahun, perang saudara meletus di Afghanistan. Di sini kisahnya mulai menguras hati, ada kehilangan, ada kesedihan, ada perpisahan. Bagian kedua ditutup dengan serangan roket, yang meluluhlantakkan rumah Laila dan membawa kisah hidupnya terjalin dengan kisah Mariam pada bagian ketiga.

Membaca bagian ketiga buku ini berefek samping pegal hati (haha, di sini mungkin perlunya jamu pegal linu :D). Kisah Laila dan Mariam diceritakan secara bergantian. Bagian yang paling bikin capek, selain KDRT yang mereka alami, adalah masa-masa kekuasaan Taliban dengan hukum Syariahnya di tahun 1996. Membaca undang-undang yang ditetapkan Taliban membuatku hampir tidak bisa menahan diri untuk merobek-robek halaman tersebut saking gemasnya (lebay..hehe, sayang bukunya kalau dirobek). Terutama bagian peraturan untuk perempuan: tidak boleh keluar rumah tanpa ditemani muhrim laki-lakinya, tidak boleh menunjukkan wajah, tidak boleh berbicara kecuali diajak berbicara, tidak boleh tertawa di depan umum, anak perempuan tidak boleh bersekolah, perempuan tidak boleh bekerja. Hadeeeh..rasanya perempuan tidak dianggap manusia. Dan mungkin memang demikian, mengingat kata-kata ayah Laila sebelumnya (halaman 169): Perempuan tidak pernah dianggap di negeri ini, Laila, tapi sekarang, di bawah rezim komunis, perempuan mungkin lebih mendapatkan kemerdekaan dan berbagai macam hak lain yang tak pernah mereka dapatkan sebelumnya. .. Tentu saja, kemerdekaan perempuan juga menjadi salah satu alasan bagi orang-orang di luar sana untuk mengangkat senjata lantaran kebakaran jenggot.

Pada masa berkuasanya Taliban, fasilitas untuk perempuan semakin minim, rumah sakit khusus untuk perempuan tidak dilengkapi dengan baik, tidak ada air bersih, listrik, suplai peralatan dan obat-obatan terbatas. Membaca bagian operasi Caesar yang terpaksa dilakukan tanpa obat bius beneran membuat ingin meng-khitan para Taliban itu berkali-kali tanpa suntikan obat bius juga.

Bagian ketiga meski menyayat hati tapi juga paling seru menurutku. Klimaksnya ada di sini, karena setelah itu, bagian keempat terasa hanya sebagai tempelan untuk menutup kisah ini dengan manis.

Salah satu poin yang bisa kutarik dari buku ini adalah: jangan menyimpan amarah terlalu lama, karena pada akhirnya nanti kita juga yang akan menyesal, mengapa tidak memaafkan saat masih ada kesempatan untuk itu (teringat hubungan ayah anak yang penuh kepahitan, kekecewaan dan penyesalan antara Jalil dan Mariam).

Catatan terkait editan buku: tidak banyak typo kutemukan di buku ini, atau mungkin aku saja yang kurang memperhatikan karena terlalu asyik tersedot dalam ceritanya. Yang kudapati hanya 2 kesalahan saja. Yang pertama di halaman 146 paragaraf nomor 2 dari bawah, tertulis: “Biji-bijian, Sayang,” kata Hasina. “Kalian harus ingat. Kecuali , tentu saja”—sekarang dia menyeringai dan menyikut Mariam—, semestinya bukan Mariam, melainkan Laila karena di bagian ini kisah sudah beralih ke Laila, dan yang sedang diceritakan adalah percakapan Laila dengan dua temannya, Hasina dan Giti. Typo satu lagi aku lupa mencatat di halaman berapa letaknya :P
Yang sedikit mengganggu adalah banyaknya kata asing yang tidak disertai keterangan ataupun catatan kaki untuk menjelaskan artinya. Tidak sampai mengganggu kenyamanan membaca tapi kadang cukup membuat bertanya-tanya.

Yippppieeee.. reviewnya kelar, walau seadanya. Aneh rasanya membuat review karena di-wajib-kan, biasanya membuat review itu tergantung ‘panggilan’ bagiku, hihihi. Semoga tidak di-blacklist untuk ikutan GRI Book Challenge berikut berikut berikutnya :)

Otis: I'm not sure if I love Khaled's characters (see my review of The Kite Runner), but the man can tell a story. I think all Americans need to read this book, as it helps to understand and sympathize with what the people in Afghanistan have gone through. Particularly interesting as the book spans 30+ years and paints a very graphic picture of how Afghanistan changed in that time. From Russian communists to warlords to the Taliban to US Army, there have been no shortage of invaders and wars, and victims. Khaled leaves out little of the misery and death, but also focuses on how life invariably always finds a way.

So a little sad, but I liked it. I think the thing I liked most was that I've read so few books about that area of the world, and now I feel like I've gotten to know it, just a tiny bit.

LeAnn: I requested A Thousand Splendid Suns from my local library, and after waiting four months, I decided to request The Kite Runner since it was Hosseini's first book. I ended up getting both at the same time, but I listen to TKR in the car while commuting to my daughter's school,so I finished ATSS first. Perhaps that's the right order because several readers on GoodReads have worried that the second novel couldn't compare favorably to the first.

I liked Laila and Maryam's story a lot and I'm grateful for the opportunity to get to know Afghanistan's recent history through the eyes of a gifted storyteller. I have so much more compassion for the Afghan people now that I know in intimate detail what they have suffered. I notice news stories about Afghanistan more. Yesterday, I saw that the Afghan government released survival rates for children under 5, saying that now there is improved health care nearly 90,000 children have survived to their fifth birthdays. Under the Taliban, 85% of the population had no health care at all.

I thought his storytelling was exceptional. However, having two main characters made it a bit tricky. There can only be one climactic moment in a novel, and it felt like it came at the end of Maryam's last chapter. I stayed up late reading right up until that point in the story; it was like a thriller. But after the climax, I had to read several chapters and I found my interest waning.

Normally, I'm the first one to want a novel to offer hope at the end. I just debated this issue with friends. One friend complained that a novel she had read ended up too neat and happy after all the tragedy in the story. While I hadn't felt that way about the novel she mentioned, I almost feel that way about A Thousand Splendid Suns. That's why I rated it a 4. But I feel bad for doing it.

Hosseini is definitely someone to keep reading. His first novel is amazing (at least as far as I've gotten) and his second nearly so. We need more novelists like him.

Weni: Selesai juga akhirnya, meski dengan kecepatan membaca seperti kura2 (mengutip kalimat Syl) :D

Sepertinya saya paling setuju dengan komentar USA Today tentang buku ini: "perut serasa diaduk, emosi terkoyak".

Rasanya saya nggak akan mengulang membaca buku ini. Bukan karena kisahnya tidak menarik tapi karena ketika membaca buku ini ada beberapa halaman yang pengen saya robek saking sebalnya. Seolah dengan merobek saya bisa memberi pelajaran pada orang2 kejam itu hehe. Orang2 yang dengan semena2 menyakiti wanita, fisik dan jiwanya, hanya karena dia wanita. Orang2 yang merasa berhak memukuli wanita sampe berdarah2 hanya karena dianggap melawan, dianggap melanggar peraturan, dll.

Astaga, mereka pikir mereka itu lahir dari mana? pohon ? Mereka pikir siapa yang membesarkan mereka sampai punya tangan dan kaki yang kuat yang akhirnya mereka gunakan untuk memukuli dan menendang wanita ?

*Emosi*

Asma: It's been a while that i didnt read a novel. Since i write nonfiction more lately than fiction, i use most of my time reading by reading nonfiction books.

A Thousand Splendid Suns, a book that i was forced to read, because my reading book club (Klub Buku Anadia, Jakarta) had chosed this as one we would discuss in our first book discussion.

think i became slowly in reading, hehehe. It took few hours for me to complete this book. Early pages didnt really impress me. But when the writer makes the characters impression went upside down (who is the evil one? is it the father that her mother hates so much, or the mother who always take everything in negative way?), that was the first time i really think... damn it's a good book!:)

i love the setting. The characters. The fact that Khaled Hosseini really quoted parts of Al Qur'an with a style. In Indonesia we have writers who write islamic fiction (some mentioned i m one of this kind of writer:)) , and the problem especially to young writers, is when they put parts of Al Qur'an the writing became too verbal... and more like khutbah instead of a fiction. The message becomes too heavy for the readers.

But it doesnt happen that way with this book.
And i like the message from the author. Think i understand why the author dedicated this book to all afghanistan women, for the life they live.

Last but not least, i like the honesty that the author put in his writing. Personally i want to congrats the author... and look forward to reading his upcoming book.

thank you for writing such a moving story. thank you for sharing afghanistan with us.

(ps: my english is bad... i know! hehehe)

Hasanuddin: Setiap orang Afghan selalu menemukan cara untuk bertahan di tengah kematian, kehilangan dan duka yang tak terbayangkan. Bertahan untuk melanjutkan kehidupan. Dan Mariam pun melakukan hal itu.

Mariam tumbuh menjadi wanita yang tidak memiliki banyak tuntutan dalam kehidupan, tidak membebani orang lain dan tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya memiliki kesedihan dan kekecewaan. Impiannya telah lama hancur terinjak-injak. Dan itu semua ditampung oleh Mariam dan menanggungnya seolah peran yang harus dilakoni.

Keanggunannya ada bukan karena bawaan, namun terbentuk oleh tempaan tekanan yang selalu menderanya. Kehidupan keluarga yang indah hanya setetes untuk dinikmati. Selebihnya berada dalam bayang-bayang gelap supremasi Rasheed, suaminya.

Itulah kehidupan Mariam yang menyandang cap harami sepanjang hidupnya. Harami seorang wanita desa miskin, anak yang tak diinginkan. Seperti rumput liar. Kehidupannya nyaris tak pernah memberikan kebahagiaan dirinya.

Mariam juga menorehkan guratan yang dalam kepada Laila --istri muda Rsheed. Mariam telah menjadi teman dan kakak bagi Laila dan anak-anaknya. Mariam telah menjadi pelindung dari kebuasan Rasheed. Dan Mariam adalah ibu yang menentramkan setiap lembar nyawa yang berada dalam "genggaman" Rasheed.

Kebaikan Mariam seperti halnya puisi yang ditinggalkan oleh ayah Laila terhadap Kabul, "Siapa pun takkan bisa menghitung bulan-bulan yang berpendar di atas atapnya, Ataupun seribu mentari surga yang bersembunyi di balik dindingnya". Cinta dan pengorbanan Mariam... Sangat mengagumkan!!!

Dan entah apa yang besemayam dalam pola pikir Rasheed. Selalu menyanjung nang (kehormatan) dan namos (kebanggaan). Sementara di sisi lain dirinya lah yang menginjak-injak dengan kakinya sendiri. Dan baginya, pria adalah kebenaran mutlak. Layaknya jarum penunjuk kompas yang selalu mengarah utara dan selatan...

Novel ini memiliki setting waktu dan tempat yang hampir sama dengan The Kite Runner, Afghanistan. Sekali lagi Khaleed Hosseini berhasil mengaduk-aduk perasaan ku. Sisi personal dalam cerita fiksi ini begitu kuat dan menyentuh hati.

Lambatnya tempo penuturan pada novel ini, aku anggap refleksi dari lambatnya kehidupan Mariam dan Laila yang dihabiskan bersama Rasheed. Merayap pelan melewati hari ke hari. Menempuh hidup dalam bayang-bayang ancaman.