Review Anak Bajang Menggiring Angin

Jumat, 09 Maret 2012



Anak Bajang Menggiring Angin

by Sindhunata

"Terimalah perhiasanku ini, Nak," kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna! Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarna lah kini penderitaan itu menjadi raja.

Sejak penerbitannya yang pertama, buku Anak Bajang Menggiring Angin ini sangat disukai para pembaca. Oleh banyak pengamat sastra, buku ini dianggap sebagai kisah wayang yang bernilai sastra. Pengarang menimba ilham penulisan buku ini dari kisah Ramayana, yang hidup dalam masyarakat Jawa.

Karena gaya bahasa sastranya yang khas, karena imajinasi simboliknya yang kaya, dan karena penggalian makna-makna filosofis yang dalam, buku ini tak dapat dianggap sebagai sekadar salah satu versi dari kisah Ramayana, melainkan sebagai penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah kisah sastra. Buku ini menampilkan suatu kisah, yang mengandung sesuatu kemustahilan, sesuatu yang asing bagi pengalaman biasa, sesuatu impian kosong bila dipandang dari kenyataan harian manusia. Tapi kekuatan dari karya sastra ini justru terletak dalam menampilkan impian-impian itu menjadi suatu jalinan kisah insani, yang membuat impian-impian itu tampil sebagai cita-cita yang dirindukan manusia. Siapa dapat memastikan : apakah kenyataan itu sesungguhnya impian dan impian itu justru sesungguhnya kenyataan? Karya sastra ini memberi harga yang mahal dan nilai yang tinggi terhadap impian manusia.

Gramedia Pustaka Utama 1983

Gilang: Salah satu cerita kolosal tentang Rama dan Shinta yang dibalut dalam sebuah cerita pewayangan. Layak untuk dijadikan sebuah koleksi sepanjang masa yang pernah ditulis oleh penulis indonesia, meskipun terkadang kita sangat sulit untuk mendeskripsikan suasana dalam buku tersebut yang penuh dengan fantasi dalam duni perwayangan. Klo suka Wayang dan Ramayana, Hukumnya wajib memiliki buku ini

Nuning: Janganlah terheran-heran jika melihat bahasa sastra tingkat tinggi yang mampu meruwetkan pikiran Anda yang hendak membacanya. Hal itu dapat terlihat hanya dari sebuah judulnya saja.

Pembacanya juga harus mampu menginterpretasikan maksud-maksud kalimat dari Sindhunata, yang menceritakan kembali mengenai Ramayana dengan gaya bahasanya sendiri.

Tika: Saat 'mengawal' Ki Enthus Susmono di Surabaya, seorang kawan bertanya pada beliau, "Pak, buku pewayangan yang enak dibaca itu apa ya?". Singkat, padat, dan jelas, Ki Enthus menyebutkan buku ini: Anak Bajang Menggiring Angin.

Rasanya tidak salah kalau buku ini direkomendasikan oleh dalang sekaliber Ki Enthus. Tidak hanya gaya bahasanya yang apik dan mudah dimengerti, penambahan dan sedikit reduksi kisah pewayangan dilakukan dengan rapi. Efeknya ya jadi enak dibaca, nggak berbelit-belit karena cerita pewayangan yang sesungguhnya tidak sesimpel yang dituturkan Sindhunata.

Ilustrasi-ilustrasinya juga unik dan artistik, tidak asal tempel seperti buku-buku pada umumnya. Five-star deh pokoknya!

Anton: Ketika membeli buku ini, saya sama sekali tak melihat ulasan di sampul belakang. Jaminannya cuma satu, Sindhunata. Pemimpin Redaksi Majalah Basis ini penulis yang bernas. Saya juga pernah baca dua bukulnya yang lain, Tak Enteni Keplokmu dan Pasar. Maka, saya yakin buku Anak Bajang Menggiring Angin ini juga bagus.

Tapi, ternyata dugaan saya tidak sepenuhnya tepat. Buku yang sudah diterbitkan sepuluh kali sejak tahun 1983 ini tak sebagus yang saya kira. Saya juga kemudian baru sadar, cerita di buku ini berasal dari epik Ramayana. Kalau dalam bahasa anak muda sih ini cerita tetang zaman bahuela.

Cerita dalam buku setebal 467 halaman ini tentang kisah klasik Rama merebut istrinya, Dewi Sinta, yang diculik Rahwana. Ya, intinya seputar itulah. Rama bersama pasukan kera dipimpin Sugriwa dan Anoman kemudian menyerbu Alenhka di mana Rahwana berkuasa.

Tapi, kiasan dan metafora dalam buku ini tak melulu tentang cinta tapi juga ketamakan manusia, kemauan untuk berkorban, cinta kasih, godaan hidup, dan seterusnya. Banyaknya tema yang diceritakan dalam buku sami mawon dengan banyaknya tokoh dan alur dalam buku ini. Membingungkan.

Namun, hal yang justru tak saya suka adalah akhir cerita. Setelah akhirnya Rama bisa mengalahkan Rahwana, dia masih saja rag dan cemburu. Maka, dia pun memerintahkan agar Sita menguji kesuciannya dengan membakar diri. Atas nama kesetiaan, Sinta pun membakar diri.

Lalu, karena cemburu, Rama pun kehilangan istrinya. Ah, lelaki kalau cemburu memang suka buta mata. Cemburu memang melahirkan sendu. Saya benci itu.

Ayanapunya: Prabu Danareja, penguasa kerajaan Lokapala jatuh cinta pada Dewi Sukesi, putri Raja Sumali dari Alengka. Rasa cintanya yang begitu besar membuat Lokapala dirundung muram. Sayangnya untuk bisa mendapatkan Dewi Sukesi, Danareja harus bisa mengalahkan Arya Jambumangli, paman Dewi Sukesi. Berceritalah Prabu Danareja kepada Begawan Wisrawa, ayahnya. Rasa cinta yang begitu besar kepada putranya membuat Begawan Wisrawa menawarkan diri untuk turun tangan. Berangkatlah Begawan Wisrawa menuju Alengka, menemui Raja Sumali yang juga adalah sahabatnya, dan menyampaikan keinginannya melamar Dewi Sukesi untuk anaknya.

Namun meskipun keduanya bersahabat, Raja Sumali tetap tak bisa meluluskan permintaan Begawan Wisrawa. Hal ini disebabkan karena Dewi Sukesi hanya bersedia menyerahkan dirinya kepada orang yang bisa menguraikan makna Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepadanya. Demi kecintaannya kepada putranya, Begawan Wisrawa akhirnya menyetujui syarat tersebut. Sayangnya keduanya gagal dalam upaya menguraikan Sastra Jendra tersebut. Kegagalan yang akhirnya melahirkan sosok yang dikenal dengan nama Rahwana.

***

Retna Anjani, Guwarsa dan Guwarsi adalah putra-putri Resi Gotama. Ketika sedang bermain dengan burung dara, Retna Anjani mengeluarkan sebuah benda pusaka. Kedua kakaknya tanpa sengaja melihat benda pusaka tersebut dan menanyakannya kepada Retna Anjani. Takut rahasianya ketahuan, Retna Anjani berlari mendatangi ayahnya. Rupanya benda pusaka tersebut adalah cupu manik astagina, cupu milik leluhur para dewa. Mengetahui hal tersebut, Guwarsa dan Guwarsi pun mengingikan cupu tersebut. Resi Gotama pun bertanya dari mana Retna Anjani memperoleh benda tersebut. Dan setelah mengetahui kalau Retna Anjani memperoleh cupu tersebut dari ibunya, Resi Gotama pun menanyakan hal yang sama kepada istrinya tersebut. Sayangnya Dewi Windradi tidak bersedia memberi tahu dari mana ia memperoleh cupu manik astagina tersebut. Marah, Resi Gotama pun mengucapkan sumpah kepada Dewi Windradi yang membuatnya berubah menjadi batu, kemudian tugu batu jelmaan Dewi Windradi tersebut dilemparkannya ke Alengka. Belum cukup, dilemparkannya cupu manik astagina ke udara, yang kemudia menjadi Telaga Nirmala dan Telaga Sumala.

Singkat cerita, Guwarsa dan Guwarsi pergi mengejar cupu manik astagina, sementara Retna Anjani mengikuti mereka. Sesampai di Telaga Sumala, ketiganya berubah menjadi kera. Dalam rupa kera tersebut mereka bertiga diminta untuk bertapa. Guwarsa -yang berganti nama menjadi Subali- melakukan tapa ngalong, Guwarsi -yang juga berganti nama menjadi Sugriwa- melakukan tapa ngidang, sedang Retna Anjani melakukan tapa nyatuka. Dalam tapa nyatuka-nya inilah Retna Anjani akhirnya dianugerahi seorang anak berwujud kerap putih yang diberi nama Anoman.

***
Dasarata, raja Ayodya berburu ke hutan. Dalam perburuannya tersebut tanpa sengaja ia membunuh seorang lelaki yang menjadi tulang punggung kedua orang tuanya. Dengan penuh penyesalan, Dasarata membawa mayat anak lelaki tersebut ke hadapan orang tuanya. Namun rupanya penyesalan yang besar tak cukup untuk menebus kesalahan yang dilakukan Dasarata. Dalam kesedihannya, kedua orang tua tersebut akhirnya menyusul kematian putra satu-satunya. Sesaat sesudah menghilannya jasad tiga orang tersebut, terdengarlah suara dari langit yang menyebutkan bahwa Dasarata kelak akan dipisahkan dari putranya yang tercinta, bukan oleh pedang atau panah, melainkan karena seorang wanita.

Usai peristiwa tersebut Dasarata kembali ke Ayodya, memerintah negerinya dengan bijaksana. Sayangnya meski sudah bertahun-tahun memerintah, Dasarata belum juga dikaruniai seorang anak pun dari ketiga istrinya. Maka dilakukanlah pemujaan besar kepada Dewa. Pemujaan berhasil. Ketiga istri Dasarata, Dewi Sukasalya, Dewi Kekayi dan Dewi Sumitra secara bersamaan mengandung. Kelak dari ketiga istri Dasarata tersebut lahirlah Ramawijaya, Barata, dan si kembar Laksmana dan Satrugna.

***

Saya mengetahui kisah Ramayana ketika serial versi Indianya ditayangkan di salah satu televisi swasta belasan tahun lalu. Tak banyak yang saya ketahui tentang kisah Ramayana kala itu. Yang saya ketahui Ramayana bercerita tentang upaya Rama dalam membebaskan istrinya, Sinta dari cengkeraman Rahwana.

Pertama kali saya mengetahui buku ini adalah ketika membaca salah satu MEME milik Ardi, yang menyebutkan kalau buku ini adalah buku Indonesia terbaik yang pernah ia baca. Beberapa bulan kemudian, saya akhirnya menemukan buku ini di Gramedia. Namun karena keterbatasan dana membuat saya mengurungkan niat untuk membeli buku tersebut. Sampai akhirnya ketika sedang mengisi waktu menunggu pemutaran Harry Potter, saya menemukan buku ini dalam keadaan tak bersampul. Tanpa pikir panjang saya duduk di salah satu bangku yang disediakan di Gramedia dan mulai membaca.

Sejak halaman pertama saya disuguhi kalimat-kalimat dengan penuh perumpamaan yang ajaibnya membuat saya jatuh cinta. Halaman demi halaman berlalu tanpa saya sadari. Sampai pada bab ketika Rama menikahi Sinta, saya memutuskan berhenti dan mengembalikan buku ini ke raknya. Siapa sangka dua minggu kemudian saya kembali ke Gramedia untuk membeli buku ini.

Banyak filosofi menarik yang saya dapatkan selama membaca buku ini. Tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, juga tentang cinta. Misalnya ketika Rama memberi wejangan kepada Barata adiknya, yang dengan terpaksa menggantikan kedudukannya sebagai raja Ayodya selama Rama dalam pengasingan.

"Barata, apakah satu-satunya milik rakyat yang paling berharga dan bernilai, kalau bukan kebebasannya. Kalau mereka mengangkatmu menjadi raja, berarti mereka rela menyerahkan sebagian dari milik mereka satu-satunya itu. Janganlah kau sia-siakan pemberian rakyatmu itu, hargailah dan hormatilah. Dengan demikian tugasmu sebagai raja bukan pertama-tama untuk memerintah, melainkan untuk menyuburkan hidup mereka sebagai manusia, yakni manusia yang berkembang kebebasannya." (hal. 130)

Atau ketika Laksmana menasehati kakaknya yang sedang bersedih karena kehilangan Sinta.

"Kakakku, adakah kelopak bunga mekar kalau belum musimnya? Dan masakan mega mengisi angkasa kalau tiada maksudnya? Siapakah yang mempertemukan cinta lelaki dan perempuan kalau bukan perpisahan? Hidup ini beredar Kakakku, bagaikan angin Dewa Bayu. Dalam kehidupan yang berjalan inilah pertemuan dan perpisahan beradu." (hal. 172).

Sisi menarik lainnya, Rama, yang selalu saya anggap sebagai tokoh utama Ramayana digambarkan sebagai sosok yang penuh keraguan dan agak sedikit gegabah. Jika saja tak ada Laksmana di sampingnya, juga Anoman serta Wibisana, mungkin Rama takkan pernah berhasil dalam menjalankan tugasnya.


Lutfi: Kayaknya aku pernah baca buku ini waktu SD. Tapi waktu itu aku nggak terlalu tertarik.
Sindhunata menulis ulang Ramayana versi Jawa dengan gaya bahasa yang puitis. Tokoh2 di sini digambarkan seperti tokoh wayang jawa. Tidak ada orang yang benar-benar baik dan juga tidak ada orang yang benar-benar jahat. Rama yang jadi simbol kebaikan pun di sini digambarkan sebagai orang yang peragu.

Novel ini bagus, tapi waktu baca aku jadi inget sama film India. Kenapa? Terlalu banyak adegan banjir darah dan bunga-bunga bertebaran dari langit (India banget nggak sih?)

Ada banyak kata-kata petuah dalam novel ini yang engga menggurui. Inti dari novel ini adalah selama ada kejahatan pasti masih ada kebaikan. Kejahatan muncul akibat keserakahan seseorang untuk memiliki sesuatu. Salah satu kalimat yang aku suka:

“Cahaya itu adalah Sastra Jendra dalam hatimu sendiri. Maka, jangan camkan aku. Camkan hatimu sendiri. Tak ada manusia atau pribadi. Yang ada hanyalah manusia dan pribadi dalam hatimu. Kebijaksanaan manusia tersembunyi dalam hatimu sendiri seperti malam yang bersayapkan terang, seperti kehidupan bersayapkan kematian. Kebijaksanaan hati itulah Suksesi, yang seharusnya bicara dan kaupatuhi.”