Review Sejarah Kecil Indonesia

Minggu, 11 Maret 2012


Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia

by Rosihan Anwar

Kisah-kisah kecil yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia ternyata menarik juga untuk kita ketahui. Kisah-kisah kecil yang penuh dengan human interest tersebut terkadang lepas dari sejarah besar bangsa Indonesia, namun terkadang mempunyai kaitan erat dengan sejarah besar bangsa ini. Beberapa peristiwa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari kisah-kisah kecil tersebut.

Penerbit Buku Kompas 2004

Septmars: [Resensi ini merupakan tugas bahasa Indonesiaku] Rosihan Anwar merupakan jurnalis dan sejarawan amatir. Sebagai wartawan senior dan pencinta sejarah, dia ingin agar generasi muda tertarik untuk membaca sejarah. Dia juga ingin memberitahu kepada kita tentang kisah-kisah kecil yang menarik, terselip di antara lembaran-lembaran tebal sejarah. Peristiwa-peristiwa yang kadang terlupakan, tetapi erat kaitannya dengan sejarah besar negeri kita tercinta. Agar kisah-kisah ini tidak dilupakan, Rosihan Anwar menulisnya kembali dengan gaya jurnalisme-nya yang khas.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bab yang diberi nama menurut tempat kejadiannya; selanjutnya bab-bab ini dibagi menjadi beberapa sub-bab, yang masing-masing membahas topik-topik sejarah.

Pada bab pertama, kita diajak ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melihat cendana. Dalam bab ini, dijabarkan tentang proses lepasnya Timtim dari pangkuan ibu Pertiwi. Di sini juga ada penjelasan singkat tentang perbedaan kaum mestizo dan penduduk asli Timor. Bab kedua dan ketiga juga membahas separatisme, kali ini di Maluku dan Aceh. Bab keempat menceritakan tentang kudeta Nazi Jerman di pulau Nias. Masing-masing bab menceritakan kisah-kisah yang terlihat tidak penting, tetapi sebenarnya terkait dengan sejarah Indonesia.

Selain kisah-kisah di atas, ada juga cerita tentang wartawan Belanda yang bersembunyi selama 37 bulan dari Jepang. Kisah seorang ulama Banten yang menjadi sahabat Professor Snouck Hurgronje, dan ada juga kisah kecil tentang pertemuan antara Presiden Soekarno dan Menlu Belanda.

Buku ini ditulis dengan gaya lugas dan tajam seorang reporter. Penulisannya singkat, kelas, tidak bertele-tele dan mengikuti kaidah 5W + 1H layaknya penulisan berita. Karena topik dan cara penulisannya cenderung ringan, maka buku ini tidak terkesan berat dan cocok untuk dibaca generasi muda yang kurang suka dengan hal-hal rumit. Tetapi, ada banyak kesalahan tulisan yang luput dari koreksi editor. Dan juga, beberapa istilah-istilah Belanda yang tidak diterjemahkan mungkin membuat bingung pembaca awam.

Buku ini cocok untuk dibaca sejarawan-sejarawan pemula atau generasi muda yang tertarik kepada sejarah. Sebenarnya, kalau dipiki-pikir, semua orang dari semua kalangan bisa membacanya, asalakan mereka mempunyai kecintaan terhadap sejarah.

Regalia: Sejarah selalu menarik untuk diketahui apalagi dipelajari. Bung Karno bilang "Jas Merah" Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Banyak yang bisa di petik, di pelajari dari sejarah, sejarah pribadi, sejarah keluarga, sejarah masyarakat dan sejarah bangsa.

Membaca buku karangan sang wartawan senior Rosihan Anwar menjadi amat menarik, karena menceritakan sejarah dari sisi yang belum dikenal masyarakat banyak secara luas. Seperti judul buku ini "Sejarah Kecil" Hanya menceritakan penggalan-penggalan peristiwa dari berbagai daerah di Indonesia. Buku yang amat menarik terutama untuk pemerhati sejarah seperti saya

Andi: buku ini saya beli secara tidak sengaja ketika jalan2 di gramed. kayaknya judulnya menarik. setelah saya baca, ternyata sangat menarik!!!!
bagi yg belum baca, silakan dibaca ini buku.

Ari: Rosihan Anwar mampu bercerita melalui buku ini detail sejarah Indonesia . Dengan kata-kata yang bagus, dan tidak menjemukan.

Ame: Terlalu menarik, jadi disingkirkan dulu, takutnya ntar selesai baca semuanya, isi bab pertama malah kelupaan.

Bunga: Saya sampai googling dan wikiwalking, untuk tahu apa sih rumusan baku tentang "petite histoire". Dan tidak ketemu, belum. Di pengantar buku ini sih sudah dijelaskan, dan dengan pemahaman yang saya dapat, rasanya buku ini tidak cocok menyandang judul "petite histoire", karena semua sejarahnya tidak ada yang keciiil...

Pertama dibaca sebelum pergi ke Padang, pertengahan Januari lalu. Sampai hari ini, 13 Februari 2009, belum saya lanjut lagi. Terlebih karena saya tak tahu buku ini terselip di mana... :p

Indah: Lama banget kubiarkan nangkring di meja kerja, tapi ga selesai-selesai juga... akhirnya kubawa pulang lagi dan dibaca sampai selesai di kostan aja. Menambah pengetahuan buatku yang nggak begitu tahu sejarah aneksasi Timtim, adanya tentara Jerman di wilayah Indonesia, dll.

Fibi: Sebuah essai tentang sejarah Indonesia yang didasari oleh pengalaman seorang wartawan senior. Asyik bacanya, membuat kita mengetahui sejarah yang tidak tercatat dalam pelajaran sekolah