Review Nusantara: Sejarah Indonesia

Minggu, 11 Maret 2012


Nusantara: Sejarah Indonesia

by Bernard H.M. Vlekke, Samsudin Berlian (Translator)

Nusantara merupakan salah satu deskripsi sejarah Indonesia yang ditulis secara mendalam namun populer. Kendati buku ini terbit pertama pada 1943, banyak hal-hal yang disampaikan oleh Vlekke aktual sampai abad ke-21. Berbeda dengan buku sejarah selebihnya, Vlekke menampilkan proses sejarah Indonesia tanpa terlalu memusatkan proses pada perluasan kolonialisasi.

Dalam buku ini Vlekke misalnya memaparkan bahwa perang agama sangat langka di Jawa dan boleh jadi penyebabnya adalah sinkretisme terpelihara sejak zaman dulu. Ada kisah kegagalan Sultan Agung menyatukan Nusantara karena tak punya angkatan laut yang memadai. Kisah lain yang langka adalah perubahan tabiat orang Belanda yang rajin di tanahairnya (Homo batavus), namun jadi pemalas ketika tinggal di Batavia (Homo bataviensis).

Edisi Indonesia buku ini merupakan terjemahan edisi revisi 1963. Penulis menyajikan sejarah Nusantara secara populer. Oleh karena itu, buku ini seolah-olah berisi dongeng Indonesia pada masa silam. Pembaca muda Indonesia dapat dengan mudah memahami kisah yang ditampilkan dalam buku ini.

Kepustakaan Populer Gramedia 2008

Yusuf: buku ini cukup mengesankan, uraian sejarah indonesia disampaikan dengan baik dan mengalir, disamping itu membaca buku ini seakan sama mengingatkan saya pada novel Pramoedya yaitu Arus Balik, atau jangan-jangan Pram juga menggunakan buku ini sebagai salah satu referensinya ketika menulis salah satu novel masterpiece-nya tersebut??

Helvry: Buku ini benar-benar membuka wawasan tentang sejarah Indonesia pada masa lalu. Ada tiga bagian besar buku ini. Bagian pertama, pra kolonial. Bagian ini menceritkan tentang kerajaan-kerajaan yang berjaya pada abad 11 s.d. 15 seperti Majapahit, Sriwijaya, serta konflik-konflik yang terjadi antarkerajaan masa itu. Bagian kedua, pada masa kolonial. Saat bangsa Portugis mendarat pertama kali di Banten, Nusantara menjadi tersebar namanya di kalangan pedagang eropa. Sampai saatnya Cournelis de Houtman mendarat di Banten pada 1596, itulah awal mula Bangsa Belanda menjejakkan kolonialisme di Nusantara. Bagian ketiga, hanya diulas dalam dua bab, yaitu masa pra kemerdekaan. Pergerakan tokoh-tokoh pmeuda seperti Sukarno, Sutomo, Ki Hajar Dewantara, yang menentang penjajahan.

Buku yang bagus, walau masih ditemukan beberapa kesalahan pengetikan, namun tidak mengurangi minta untuk menyelesaikannya hingga halaman terakhir.

Gyanto: Karya Bernard H. M. Vlekke, Nusantara: Sejarah Indonesia menarik untuk dicermati. Ia menyuguhkan garis besar bagaimana evolusi dari yang awalnya ekspedisi kapal dagang pengusaha-pengusaha Belanda menjadi kekuatan imperialis yang sangat kuat di Asia Tenggara, yang dalam buku tersebut disebut sebagai Hindia-Timur. Niat berdagang ternyata tidak cukup untuk mengatasi persoalan persaingan dengan Bangsa-bangsa Eropa sendiri di wilayah baru, yang sebelumnya telah diduduki oleh Bangsa Portugis. Kemudian Bangsa Inggris datang. Ditambah, konflik-konflik kecil diantara raja-raja di jawa dan beberapa konflik antara pedagang Eropa dengan penduduk lokal. Persoalan pun menjadi kian rumit. Akhirnya, penggunaan kekuatan militer tak bisa dihindari. Inilah yang kemudian menciptakan perubahan struktur relasi, dari berdagang menjadi berperang kemudian memerintah.

Karya Vlekke memiliki beberapa keunggulan. Cara penyuguhannya yang ringan kemudian diikuti oleh ilustrasi-ilustrasi dan detail-detail yang kaya akan data menciptakan karya ini tidak bisa disebut karya sejarah biasa. Pada bagian pendahuluan dijelaskan garis besar kondisi geografis Nusantara, kemudian pada bab pertama hingga bab tiga menjelaskan garis besar sejarah Indonesia semasa kejayaan Kerajaan Hindu-Budha di Jawa dan Sumatera. Kemudian masuknya Islam dan bangsa Eropa awal, yaitu Portugis, dimulai pada Bab empat. Bab lima kemudian menyuguhkan kisah bagaimana pedagang dari negeri Rendah, Belanda, datang. Bab tersebut hingga bab penutup, yaitu bab enam belas, banyak menjelaskan bagaimana evolusi itu terjadi hingga meletusnya revolusi kemerdekaan yang diawali oleh persaingan antara ide-ide konservatif dan liberal di parlemen belanda sehingga mempengaruhi kebijakan-kebijakan politik dan pendidikan di negeri koloni Hindia Timur.

Kedua, Yang menarik selain alur dan gaya penulisannya. Buku ini juga memberikan data-data ‘tak terduga’ terkait kebijakan berbagai bidang. Dari sisi moneter, pertanahan, keagamaan, dan bahkan beberapa Introduksi tanaman yang bukan khas Indonesia yang sekarang ini telah banyak mengubah landskap Indonesia. Dalam bidang moneter, Vlekke menggambarkan bagaimana pemerintah Belanda pada saat periode kerajaan Mataram dan Banten kebingungan dengan beredarnya koin-koin cetakan lokal dari Madura, Cirebon serta koin-koin timbal dari Palembang dan Bali yang banyak beredar. Sehingga memaksa Belanda melakukan kebijakan moneter terpusat dengan menggunakan mata uang tunggal untuk transaksi. Yang pada akhirnya pemerintah Belanda memulai kebijakan inflasinya (Hal 248).

Atau tentang awal berdirinya Batavia, menurut Vlekke, yang dibangun oleh Jan Pieterszoon Coen merupakan strategi untuk memenangkan persaingan jalur perdagangan antar Asia dengan mengontrol laut Jawa. Walaupun harus mendapatkan perlawanan dari Mataram, Banten dan bahkan Inggris. Penggambaran kondisi Batavia awal sangat menarik. Digambarkan bahwa letaknya yang menghadap pantai membuat orang Belanda membangun benteng-benteng tertutup karena takut dengan angin laut yang ‘tidak sehat’.

Hal lain yang patut dicatat ialah tentang beberapa introduksi tanaman perkebunan yang sekarang membentuk sebagian landskap Indonesia. Hoby sebagian pejabat Belanda di Batavia terhadap pertanaman ternyata mengalihkan perhatian pemerintah Belanda terhadap hasil-hasil perkebunan dibandingkan dengan perdagangan rempah-rempah yang merupakan tanaman asli Indonesia. Sekitar tahun 1700-an sebagian holtikulturis Belanda mulai bereksperimen dengan tanaman-tanaman non-Indonesia di ladang-ladang sempit mereka di Batavia. Salah satunya ialah tanaman kopi yang dikembangkan oleh Van Hoorn. Walaupun pohon kopi Van Hoorn tidak bisa tumbuh subur di tanah Jawa, namun eksperimennya dilanjutkan oleh Zwaardecroon dan Chastelein dengan sangat berhasil. Namun hasil eksperimen saja tidak cukup. Adalah Witsen yang kemudian merealisasikan pembudidayaan tanaman kopi secara lebih luas, yaitu dengan membagikan bibit-bibit kopi di kalangan para kepala daerah di sekitar Batavia dan Cirebon (hal. 217).

Kemudian system kultur diperkenalkan oleh Van den Bosch, yaitu system pertanian yang dikontrol oleh pemerintah. Dampaknya ialah pengorganisasian lebih luas terhadap system pertanian di jawa, yang itu artinya pemaksaan besar-besaran penanaman tanaman-tanaman komoditas baik yang tanaman asli Indonesia maupun bukan asli Indonesia. Gula, kopi, nila, teh dan tembakau menjadi komoditas favorit. Untuk Teh, ia adalah barang dagangan yang sangat menguntungkan sejak akhir abad ke-17. Ia di-impor langung dari Cina. Adalah J. Jacobsen seorang ahli teh dari perusahaan dagang Belanda yang mengimpor benih teh dan pohon dari Cina kemudian mempelajari dan membudidayakannya di Pulau Jawa (hal 330).

Berbagai data disuguhkan oleh Vlekke, inilah yang membuat buku ini menarik. Sangat bisa dipahami mengapa Vlekke mampu menyajikan secara mendetail dan menyuguhkan analisa yang lebih kompleks dibanding analisa-analisa historis lain yang cenderung menyederhanakan. Pertama, karena si penulis ialah orang Belanda sendiri, kedua, berdasar pada keterangan di kata pengantar, ia adalah ahli dalam bidang hubungan internasional, dan ketiga datanya banyak diperoleh dari perpustakaan Harvard. Namun demikian, seperti karya historis lainnya, tak ada yang netral dalam usaha penjelasan historis. Posisinya yang cenderung memandang negatif kebijakan Inggris, terkhusus Raffles—-walaupun diimbangi dengan usaha penilaian yang ‘proposional’ dari kebijakan-kebijakan Raflles.

Buku ini patut dipakai sebagai atat pelacak sumber data yang bermanfaat bagi penelitian historis walaupun pembaca berhak memiliki penilaian sendiri terkait argument-argumen Vlekke tentang Indonesia sebelum revolusi kemerdekaan.

Andreas: Ternyata yang namanya Indonesia bersatu muncul bukan semata2 perjuangan politik orang2 Indonesia, tapi juga campur tangan orang Belanda. dan bahwa raja2 di Nusantara ini akhirnya memeluk Islam dengan alasan politis untuk memerangi Portugis agar jalur Malaka aman. Apa sebenarnya yang menyebabkan Orang2 Eropa yang tadinya berdagang itu memerangi Kerajaan2 Nusantara?

Fibi: Membaca buku ini, aku jadi berpikir sendiri, mengapa penulisan sejarah negeri sendiri jauh lebih enak dibaca daripada karya penulis dalam negeri?

Aroengbinang: Membaca buku ini sungguh menuntut kesabaran untuk bisa menerima kenyataan2 pahit masa lalu, hancurnya satu persatu kekuasaan lokal oleh kompeni, karena keserakahan dan kebiadaban kompeni dan junjungan2 mereka di blanda serta karena perseteruan diantara penguasa lokal sendiri dan kelemahan raja-rajanya, yang dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh kompeni untuk memperluas dan memperdalam cengkaram kekuasaannya.

Tidak kah sejarah berulang? Raja-raja dan penguasa lokal sekarang bertransformasi dalam bentuk bermacam-macam. Meski kompeni sudah lenyap, kompeni-kompeni lain dan kekuatan yang jauh lebih dahsyat terus bergentayangan menghisap tiada henti...

Henrikhus: Baru aja selesai baca buku ini. Sebagai buku sejarah cukup lumayan walau masih terlalu general dalam membahas detil2 yang terjadi. Walau begitu dari buku ini bisa saya simpulkan sebagai berikut bahwa:

1. Islam masuk ke Indonesia dengan damai dan bahwa peralihan agama yang terjadi mula karena para penguasa lokal beralih agama karena mencari persekutuan dengan Demak untuk menghadapi masuknya Portugis dll.

2. Bahwa yang mempersatukan Indonesia itu adalah kompeni, kita boleh aja tidak suka fakta ini tapi jelas tanpa kompeni tidak akan ada Indonesia yang ada hanya kerajaan2 kecil dan lokal yang bertarung satu sama lain.

3. Bahwa reaksi yang keras dari kaum kolonial konservatif terhadap kaum pergerakan mempercepat dan memperkuat dukungan masyarakat terhadap kaum pergerakan.