Review Novel OUT/Bebas

Selasa, 18 Oktober 2011


Bebas (Out)

by Natsuo Kirino, Lulu Wijaya (Translator)

Di daerah pinggiran Tokyo, empat wanita bekerja shift malam di pabrik makanan kotak. Beban hidup yang berat dan utang menumpuk membuat Yayoi, salah satu dari mereka, tak tahan lagi. dia membunuh suaminya yang penjudi dan suka main perempuan, kemudian meminta bantuan pada Masako, teman sekerjanya yang paling karib. Masako bersedia membantu, dan bersama wanita-wanita lainnya, mereka menyingkirkan mayat itu. Ketika bagian-bagian tubuh mayat ditemukan, polisi mulai melacak pembunuhnya. Tapi bukan hanya polisi yang mengejar mereka, melainkan juga musuh-musuh yang sangat berbahaya---seorang lintah darat yang berkaitan dengan yakuza dan mengetahui rahasia mereka, serta seorang pemilik kelab malam yang kejam, yang dituduh sebagai pembunuh oleh polisi. Akibatnya dia kehilangan segala harta miliknya, dan kini dia berniat membalas dendam.

Gramedia 2007

Saya: di awal kisah saja sudah penuh "kekerasan"...buku ini buku untuk perempuan pekerja

Dini: I once dreamed that my sister and I went to see my old university lecturer. He offered us to take two books from his collection, and I distinctly remember that one of the books I took was this novel. Could my subconscious be sending me a message to read it? I was only very mildly interested...

Well, after I finished the book I found that my subconscious turned out to be spot on. The book was scarily realistic, thrilling and terrifying, with plot twists that made me go "wtf? WTF?!" more than once. I like the way the author focuses on the thoughts of different characters in each chapter, giving us a deeper look on what motivates them. An awesome read. I guess the next time a book appears in my dream I should definitely take note!

Indah Juli: Alih Bahasa : Lulu Wijaya
Desain & Ilustrasi Sampul : Sarya Utama Jadi
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 576 halaman; 20 x 13,5 cm
April 2007

Novel pertama Natsuo Kirino yang pertama diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris ini, mengetengahkan empat orang wanita sebagai sentral cerita. Masako Katori, Kuniko Jonouchi, Yoshie Azuma dan Yayoi Yamamoto. Keempatnya bekerja paruh waktu shift malam di sebuah pabrik makanan kotakan di Jepang.

Ditempat kerja, mereka berempat terlihat sebagai teman dekat. Namun sesungguhnya, mereka tidak berteman. Bisa dikatakan hanya rasa solidaritas sesama perempuan ditempat kerja. Apalagi masing-masing mempunyai kehidupan pribadi, yang tidak ingin diusik satu sama lain.

Masako Katori, adalah perempuan yang selalu mempertimbangkan setiap tindakannya. Tegar dan kuat, sehingga kerap menjadi pelindung dan penolong bagi ketiga perempuan lainnya. Namun hubungan Masako dengan suami dan anaknya, kurang baik. Masako tidur terpisah dengan suaminya, yang sibuk membangun kepompong dirinya sendiri dan tak bisa ditembus Masako. Sementara putra mereka, Nobuki, berhenti berbicara setelah dikeluarkan dari sekolah karena tertangkap membawa tiket yang berhubungan dengan narkoba.

Yoshie, sering disapa Kapten, harus merawat ibu mertuanya yang sakit dan tidak bisa membantu dirinya sendiri. Ia memiliki dua orang anak perempuan yang pemberontak dan tidak mau mengerti dengan kesulitan keuangan ibunya, sehingga membuat Yoshie tergantung kepada Masako, untuk bantuan keuangan.

Kuniko Jonouchi, perempuan yang selalu menutupi usia sebenarnya dengan berdandan tebal dan menor. Gemar membeli barang-barang bermereka sehingga membuat dirinya terlibat hutang dengan lintah darat. Kuniko kurang menyukai Masako, yang menurutnya terlalu arogan.

Yayoi, berparas paling cantik diantara ketiga temannya. Suami Yayoi, Kenji, jatuh cinta kepada Anna, seorang hostess di rumah hiburan milik Mitsuyoshi Satake. Akibatnya, gaji yang seharusnya diserahkan Kenji kepada Yayoi, habis digunakan untuk menbooking Anna dan bermain judi. Tentu saja, hal itu membuat pertengkaran antara Kenji dan Yayoi. Dan puncak dari pertengkaran tersebut adalah terbunuhnya Kenji oleh Yayoi.

Terbunuhnya Kenji ini menyeret Masako, Yoshie dan Kuniko dalam persoalan baru. Dengan maksud menghilangkan mayat suami Yayoi, Masako dan Yoshie malah memotong-motong mayat Kenji hingga menjadi bagian kecil dan membuang potongan mayat itu ke beberapa tempat, agar polisi tidak bisa menemukan jejak mereka.

Polisi memang tidak bisa menemukan pelaku pembunuh dan pemotong mayat Kenji. Polisi malah menduga pelaku pembunuhan adalah Satake, yang dimasa mudanya pernah membunuh seorang wanita. Satake pun terpaksa mendekam dalam penjara atas perbuatan yang tak dilakukannya. Karena itulah, selepas dari menjalani hukuman ia melakukan aksi balas dendam terhadap Yayoi, yang diyakininya sebagai dalang pembunuhan suaminya sendiri, dengan dibantu Masako, Yoshie dan Kuniko.

Konflik dan tragedi, merupakan daya tarik kuat dari tema yang disajikan Natsuo Kirino ini. Persoalan yang terjadi pada Masako, Yoshie, Kuniko dan Yayoi, seperti mengurus keluarga, masalah finansial dan hubungan tak harmonis antara suami istri, merupakan persoalan umum yang terjadi pada banyak wanita.

Namun menjadi tak umum ketika Natsuo mengajak pembaca untuk menyelami kehidupan masing-masing tokoh, tanpa perlu mengasihini atau menyalahkan para tokoh, ketika mereka terpaksa menerima akibat dari perbuatannya. Untuk kategori novel misteri, novel ini mampu membuat penasaran pembacanya hingga ingin menuntaskan membaca sampai selesai, dalam waktu yang singkat.
Dari Gramedia.com, dituliskan : Natsuo Kirino lahir tahun 1951 dan tinggal di Jepang. Dia dengan cepat membangun reputasi di negaranya sebagai penulis kisah misteri dengan bakat yang langka, yang karya-karyanya berbeda dari genre kisah kriminal yang biasanya. Ini terbukti saat dia memenangkan tidak hanya penghargaan Grand Prix untuk Fiksi Kriminal di Jepang-untuk novel Out pada tahun 1998-tapi juga salah satu penghargaan sastra tertinggi di negeri itu. Out adalah novel pertama Natsuo Kirino yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Natsuo Kirino membuat gebrakan baru dalam dunia kesusastraan Jepang dengan Out, novel literary mystery-nya yang kini telah memenangkan beberapa penghargaan dan ditulis dengan realisme plot yang tajam dan penuh ketegangan.

Shannon: There's just something about Japan that produces the grittiest, darkest, scariest, most realistic horror, psychological thriller, and suspense. The seedy underbelly of Japanese society is perhaps so successfully portrayed because so little has been embellished. And with the dark, empty surburban streets, so much is possible, so much can go unnoticed. In Natsuo Kirino's wonderful crime novel, Out, a sharp social commentary on Japan's patriarchal society and the situation for women and foreigners is tangled up with loan sharks, gambling, the yakuza and murder.

Masako works in a bento (boxed-lunch) factory on the night shift with her workmates Yoshi, Kuniko and Yayoi. Together they make a team to get the best spots on the conveyor belt, and because they're housewives with responsibilities during the day, they're more or less each other's only friends. Each has problems: Masako and her husband barely interact anymore and her son hasn't spoken to her in a year; Yoshie is widowed and takes care of her daughter and her bed-ridden mother-in-law in a tiny house that's ready to be knocked down; Kuniko's husband has left her and taken all their money, and she's over her head in debt because she's constantly buying new clothes to impress people; and Yayoi's husband has spent all their savings on gambling and a beautiful Chinese hostess called Anna. Their lives are circumscribed and lonely, and there seems to be no way out for any of them.

Then one night Yayoi's husband Kenji comes home and in a fit of cold rage she strangles him. In desperation she calls cool, sharp Masako, who calmly handles the situation by enlisting Yoshi to help her cut up the body in her bathroom and then get rid of the bags of body parts in the rubbish collection sites around the area. Kuniko, always with an eye out for a way to make money, gets drawn into the mess as well - which turns out to be their downfall. Unreliable and delusional, Kuniko does a poor job of disposing of her bags and the body is soon discovered and identified.

Things seem to be working out though when the police arrest their main suspect, a casino owner and pimp with a scary past, Satake, who punched Kenji and threw him down the stairs after warning him to stay away from Anna, his number one girl. Satake, innocent of the murder, suspects Kenji's wife - and he isn't the only one who figures out what really happened. As things start to unravel, Masako becomes the focus, and the sense that someone is watching her, that a trap is tightening around her, threatens her calm composure and orderly existence.

This isn't a "whodunit" crime novel, nor a formulaic one. This is original literary crime that would not adapt well to any other setting but Japan - Tokyo in particular (where the novel is set). Having lived in the country for three years, I found myself living there again while reading this book: the descriptions, the characters, their reactions and motivations, it was all so very real, so believable. The weather for instance - hot and humid and wet in summer, the smell and the sweat, it all came back so clearly. The attitudes, too, and the urban landscape - rice fields in-between factories, run-down houses squished along allies, bicycles and umbrellas and the rubbish collection spots.

One of the wonderful things about this book is the way it is written. Despite one or two obvious metaphors, the prose has a tight, tense yet steady, patient rhythm, creating more suspense along the way by never hurrying. The chapters alternate in point-of-view narration between the main characters, with their personalities coming through strongly despite the fact that the tone doesn't change. I want to find an example, and really, I don't have to look far:

She could hear a horn tooting somewhere nearby, the sound tofu trucks use to advertise their wares, and, through the open windows around her, the sound of dishes rattling and televisions blaring. It was the hour when the women of the city bustled around their kitchens. Masako thought of her own neat, empty kitchen and her bathroom where the deed had been done. It occurred to her that lately she felt more at home in a dry, scoured bathroom than a busy, homey kitchen. (p.146)

He had been a model of self-control, had worked so hard to keep his dark side sealed away. But he knew that even a hint of what he'd done would terrify other people. Still, only he and the woman herself knew the truth about what had happened, and no one else could understand what he'd been up to. It had been Satake's misfortune to taste the forbidden fruit when he was twenty-six, and he'd been cut off from the normal world ever since. (p.179)

As far as the social commentary aspect goes, it's a biting, unglamorous look at Japanese society, and also a revealing study of the plight of the impoverished, exhausted women like Yoshi, the greedy, superficial consumers like Kuniko, the intelligent, hard-working but discriminated and underpaid "office girls" like Masako had been; and the victimised housewives like Yayoi. The lengths these women go to for some money, for escape, for freedom have devestating consequences for all of them.

The play between genders is also explored, or rather, held up for review - it may come across as old-hat, but don't forget this is Japan, which is still confined by many traditions that see women and foreigners subjugated and restricted to the role of second-class citizen. Despite the deeply flawed characters and the things they do, Masako emerges as a strong heroine, and even the male characters I felt some sympathy for. The blurb describes it as having a "pitch-black comedy of gender warfare", and that's definitely an intrinsic part of this novel. Sometimes, though, it was just too hard to find the irony amusing.

There's a lot more I could say about this book but really I just want to stress how much I loved it. I came across only one typo (an "is" instead of "it"), which is almost unheard of. And if you're put off by the Japanese names, here's a quick lesson: Japanese, when converted into Romaji (our alphabet), is very easy to pronounce. Each "letter" translates into five vowels, an "n" sound and consonant-vowel pairings. So "Masako" is pronounced "Ma-sa-ko". Easy. "Yayoi" is pronounced "Ya-yo-i" ("i" as in "easy", but a short sound). "Satake" is pronounced "Sa-ta-ke" ("ke" as in "kettle"). "Kazuo" is pronounce "Ka-zu-o" or "kaz-u-o". "Shinjuko" is pronounced "Shin-ju-ku". See: easy! There's a great rhythm to it, like those clapping games. Unless there's a double vowel, vowels and pairings are pronounced with short sounds, generally. There's no "r" or "v" in Japanese, so these letters are given an "l" and "b" pronounciation. "Tsu" is the most difficult sound for foreigners to make, and we don't have an equivalent.

While I'm at it, it may be helpful to get the money conversion: 1000 yen is roughly about $10, 10,000 yen is $100 and so on. Just imagine a decimile point, or remove a zero, something like that. So when Yayoi pays Yoshi and Kuniko 500,000 yen for their part in getting rid of her husband, that's about $5000, and when she talks about getting 50 million yen insurance money, she is getting about $500,000. (Hope my maths is holding up here!)

Review Novel The Amber Spyglass (part 1)

Minggu, 16 Oktober 2011


The Amber Spyglass (His Dark Materials #3)

by Philip Pullman

The Amber Spyglass brings the intrigue of The Golden Compass and The Subtle Knife to a heart-stopping end, marking the final volume of His Dark Materials as the most powerful of the trilogy.

Along with the return of
Lyra, Will, Mrs. Coulter, Lord Asriel, Dr. Mary Malone, and Iorek Byrnison the armored bear, come a host of new characters: the Mulefa, mysterious wheeled creatures with the power to see Dust; Gallivespian Lord Roke, a hand-high spymaster to Lord Asriel; and Metatron, a fierce and mighty angel. So, too, come startling revelations: the painful price Lyra must pay to walk through the land of the dead, the haunting power of Dr. Malone's amber spyglass, and the names of who will live--and who will die--for love. And all the while, war rages with the Kingdom of Heaven, a brutal battle that--in its shocking outcome--will uncover the secret of Dust. Philip Pullman deftly brings the cliff-hangers and mysteries of His Dark Materials to an earthshattering conclusion--and confirms his fantasy trilogy as an undoubted and enduring classic.

Saya: Akhirnya menyelesai buku ke-3 Golden Compas ini.

**Will dan Lyra terpisah untuk waktu yang tidak mereka ketahui lamanya. Tapi mereka harus melakukan itu agar mereka bisa membangun REPUBLIK SURGA di alam semesta mereka masing-masing. Keputusan yang sulit mengingat mereka baru mengenal cinta dan saling membutuhkan.

***Tapi mereka tahu, cinta dan kerinduan mereka bahkan dapat menyeberangi miliaran semesta di luar sana, untuk menemui seorang kekasih hati.

An: sewaktu kita masih hidup, mereka bilang jika kita meninggal, kita akan ke surga... itulah yang menyebabkan beberapa dari kita memberikan nyawa dan yang lain na menghabiskan bertahun-tahun berdoa sendirian, sementara seluruh suka cita kehidupan kita disia-siakan dan kita tidak pernah tau (hlm.382)

membaca buku terakhir dari trilogi his dark material ini seakan mengingatkan kita masih ada terang di balik na. penutup yang bagus. mengembalikan suatu kesadaran untuk bertanya bagi mereka yang sudah terlalu sibuk dengan rutinitas na di dunia ini. kembali lagi pertanyaan fundamental. siapa aku/ kalau aku ada di sunia ini, apakah aa kehidupan atau dunia lain di ntah mana?

seperti itulah. dari buku pertama kita dikenalkan pada satu dunia yang berasa dunia kita di masa lalu. ternyata salah besar. dunia imajinasi penulis ini menggambarkan dunia yang bertangkupan dengan dunia 'kita'. dunia kita yang lain ada di lapis yang lain dan dunia-dunia kita yang lain na lagi ntah ada di lapis yang mana. saat semua dunia itu digambarkan, maka akan ada pertanyaan tentang dunia tuhan yang di sini disebut sebagai otoritas. mengacu pada ripiu kisan lain, di sini rhe akan menyebut na sebagai 'an'

'an' yang diaku gereja sebagai suatu otoritas sang pencipta. namun dari orang yang penasaran bertanya-tanya, jika dia sang pencipta, mencipta segala na, lalu siapa yang menciptakan 'an'? apakah 'an' bisa muncul dari ketiadaan, 'an' muncul sendirian? seberapa kekuatan 'an' sampai gereja melindungi na dengan segala otoritas na. ini karena 'an' yang sangat kuat, atau justru 'an' yang lemah sehingga perlu dilindungi oleh doktrin gereja yang ga mau kalah dan disalahkan. harus.

ketidakpuasan terhadap gereja dan ajaran serta doktrin na, diiringi perkembangan ilmu fisika alam membuat arah pergerakan orientasi manusia dari 'an' menjadi otak, alam dan kepastian.

saat keheningan jiwa dan kemampuan roh digeser oleh olah pikir otak, maka debu-debu perlahan menghilang. lalu deamon.... apakah itu seperti aura yang berbeda untuk setiap orang, yang di sini menjelma menjadi hewan?

dan kehidupan setelah kematian, pintu lain yang terbuka ke suatu dunia, di mana hidup mulefa-mulefa. bagai analog kehidupan surga, dimana pendudukan na tidak berprasangka buruk. dan siap menampung siapa aja, yang berkunjung ke sana.

jadi... setelah kematian... siap-siaplah bertemu dengan mulefa. dan sampaikan sala untuk 'an' yang ntah ada di dunia bagian mana.

-47-

Dahlia: Tak bisa mnolak pesonanya...
D sini tuhan mulai angkat bicara...
Akh, Tuhan tak pernah bilang kalo dia pernah terlibat pertempuran antara malaikat, penyihir, manusia, daemon daaaaaan...Iorek Byrnison!!!
Hmmm...tuhan juga punya saingan...Lord Asriel
--------------------------------------------------------------

Selesaaaai...
Ya ampun, rasanya gak bisa terima ujungnya bgituh, tapi apa daya harus terima dengan iklas saja *jelas gondok bo!*
Paling suka pas pasangan aneh (emak ma bapak Lyra) akhirnya bisa mengorbankan apapun demi cinta ma sang anak! Wuiiiih...
*menghapus air mata haru*

Corie: If you haven’t read the ENTIRE three books, please don’t read any further. I wouldn’t want to spoil it for you because the ending is so endearing and…..lasting, that I would HATE to take it away from you.

I absolutely fell in love with Lyra. Didn’t you? She was the sister I wish I would have had growing up. She was myself as I played with all of my brothers in the mudfields, she was the daughter I’m sure every woman would yearn to have. In my opinion, Philip Pullman was brilliant in his creation of this little girl. Her flaws were her strength just as much as her strengths were her salvation. And when you take her inquisitive innocence and throw in Will’s brave maturity…..together, the two of them are almost too much to bear. I was heady with adoration for the two of them combined. I’m sure some would say they were too perfect together, too sappy, too trite. But my cynicism runs deep and my heart was still touched. Maybe it’s because I’m a girl or because my heart still remembers the depth of that first love. The absoluteness of it. My heart remembers “Going to China”, (haa haa) and it longs to visit again.

Will was the boy every girl wants to fall in love with. Loyal, strong, clever, honest, sweet and faithful. I hated him for agreeing to close every single window except one, but loved him for his dedication to do what’s “right”. I wanted to shake him and tell him that when he gets older he will realize that one more window wouldn’t have mattered – that what he was at Lyra’s side was worth one silly little window in the fabric of the worlds. But of course, he wouldn’t listen to me, because he is young and doesn’t know how rare True Love is. So I sighed (and cried) and watched them (felt them!) split forever. And I agonized over whether they would ever figure out how to Astral Project into eachother's lives. And if the one would wait for the other when they died, so that they could walk out the window they created hand in hand. I could literally picture them sitting there on that bench for an hour each year, aching for eachother once again. Sigh....

I liked how Mrs. Coulter was deep enough to be both intrinsically evil and love Lyra with a blindly, maternal love in the end. I liked how the Master at Jordon and John Faa were father figures in their own ways. I liked little Roger’s complete faith and how Iorek’s devotion was tempered with a knowledge that was higher than either of the children’s.

I did find Mary Malone unbearably boring and found myself wishing away any chapter having to deal with her and her mulefa. Get back to the real story of Lyra and Will! I could have done without her entire story line.

And of course there was Pantalaimon. How much do we all wish we had a dæmon that we could see, touch, talk to, rely on? How much fun would it be to have a morphing little partner in everything we do? Ahhh, was a fun concept to explore and probably the very secret to HDM’s success. Pullman’s descriptions of the different dæmon’s throughout each book were descriptive, imaginative and comical.

All in all, an excellent book. I wish I would have read it slower so that I could have enjoyed Lyra and Will's company a little longer.

Cerpen Selli

Jumat, 14 Oktober 2011

**Cerpen itu dibuat untuk keperluan Projects11days dari @nulisbuku.com. Pada hari #3 kemarin, saya telat, sehingga tidak mendapatkan e-mail balasan. Tapi hari ini saya tidak telat. Kalau tidak ada e-mail balasan berarti ada yang salah.

Judul: Salli

Nama: Antonini Ramon

Sejak kecil aku diajarkan berdoa sebelum tidur—itu aku lakukan setelah menggosok gigiku, berkumur, membasuh wajah dengan wewangian, mencucu kaki agar aku bersih, tidak cacingan—meski sekarang aku tinggal denganmu—seorang lelaki yang tak jelas apakah sudah melupakan mantan istrinya atau malah masih menyanjungnya.

Malam ini malam Jumat, aku tak ingin berdoa. Biarlah Tuhan marah padaku. Hanya sekali saja aku tidak mengucapkan syukur, bukankah banyak orang di luar sana, beribu-ribu malam tidak mengucapkan syukur?

Kalau ular yang menggoda Hawa itu benar-benar ada, biarlah malam ini dia menggodaku—perempuan 25 tahun, dengan fisik bak model, dengan karier mulai cemerlang di bidang perbankan. Jika di taman Eden ular itu menggoda Hawa dengan menyruhnya makan buah Kuldi, biarlah dia menggodaku menyalakan rokok mild-mu dan mengisi gelas persegi-mu dengan anggur-mu.

Di luar dingin, tapi aku selalu menyukai harum kamboja di dekat teras. Di luar tak ada bintang tapi aku selalu menyukai kegelapan, sebab padanya selalu ada ketenangan.

Kupaksakan menghabiskan sebatang mild-mu dan membawa gelas persegi-mu ke dalam. Pintu kukunci dan tirai kubuka sebab aku ingin duduk di depan komputer yang berdengung lembut dan menuli apa saja yang kupikirkan tentangmu.

L, itu huruf pertama yang kulihat pada papan tuts komputer. Di sebelahnya ada angka 3, jika angka itu disandingkan dengan angka 4, maka menjadi jumlah umurmu 34. Umur yang selalu kamu banggakan karena menurutmu kamu kelihatan perkasa, begitu jantan di umurmu yang sekarang. Apakah aku juga akan merasakan hal yang sama di umurku yang ke-34 meski aku seorang perempuan?

Dengkur lembutmu menerobos lewat celah bawah pintu jati. Kubuka MS Word dan kuketik sesuatu di halaman blank itu. Aku mulai dengan kalimat:

Aku sedih sebab kamu tak pandai berbohong.

***

Pernah aku menjadi wanita yang paling berbahagia ketika umurku menginjak angka 24. Telah setahun kita bersama, meski kita hanya menikah di Catatan Sipil. Pernah aku menjadi wanita yang paling berbahagia ketika kamu menarikku ke ranjang yang lembut. Kamu lepas semua pertahananku dan kamu mencintaiku seperti aku wanita paling sempurna di belahan bumi bagian timur ini.

“Kamu tidak mendengarkan ibumu,” aku bicara.

“Kamu tahu, apa yang kulakukan hari ini dan besok, semuanya karena aku ingin kamu di sini, tepat di sampingku, tidak kemana-mana. Tahukah kamu bahwa hanya namamu dalam benakku? Mendengung seperti lebah. Suaranya indah. Bunginya memabukkan.”

Lalu kamu peluk aku dan kamu cium aku pada mulutku yang harum. Rasanya tak ingin aku pergi dari sisimu. Akan kukirim surat sakit ke bank karena besok kamu cuti dan aku ingin bergelung di ketiakmu seharian.

***

Aku berhenti. Langit masih gelap tetapi lampu teras merambat ke dalam. Kutatap jemariku yang tergantung di depan tuts komputer. Kulihat akata terakhirku:

Igau.

Aku suka bergelung di ketiakmu. Aku suka merasakan wangi tubuhmu. Di saat kamu lelah setelah kita bercinta dengan begitu manis. Kamu terlelap dan lenganmu memelukku erat. Lalu kamu sebut nama itu:

Salli. Salli. Kemarilah. Aku sangat mencintaimu.

Lalu kamu eratkan pelukmu pada tubuhku. Seperti tak mau melepaskan pergi.

***

Salli.

Namaku Eva. Tapi kamu suka memanggilku Salli. Salli kemarilah. Aku sangat mencintaimu. Kamu peluk aku. Kamu tatap mataku dalam temaram lampu tidur. Jam di meja berkelip-kelip biru, menunjukkan pukul 23.11.

Salli.

Namaku Eva. Usiaku 25 tahun lebih 2 bulan. Karierku mulai cemerlang di bidang perbankan. Aku pindah 1 tahun yang lalu ke rumah yang kamu belikan untuk kita. Kita telah menjadi suami-istri sejak setahun yang lalu. Meski aku lebih merasa seperti kekasihmu.

Salli.

Namaku Eva. Gelas persegi-mu nyaris kosong. Kunyalakan sebatang mild-mu lagi. Rasanya ringan. Melayang. Kuhapus airmata yang mengalir pelan, sepelan perih hatiku, yang tak kamu rasakan. Karena kamu mengigau memanggil Salli. Salli. Meski namaku Eva. Apakah kamu mencintai wanita itu? Apakah kamu masih mencintainya?

***

Salli meneleponmu pagi ini, menyatakan bahwa anak kalian masuk Play Group hari ini dan kamu harus mengantarkannya sebab Salli sakit diare, dan mungkin guru Play Group ingin kamu mengisi beberapa formulir tetek-bengek dan mengenal orangtua dari anak kalian.

“Dia yang menghasut ibuku.” Kamu menjelaskan, ketika aku hanya diam, menyiapkan sarapanmu.

“Aku benci wanita itu. Hari ini dia pura-pura sakit. Aku tahu dia pura-pura. Dia pasti sibuk mengurusi butiknya dan lebih suka bergosip ria dengan kawan-kawannya itu.” Kamu menambahkan, meski aku tidak butuh penjelasan.

***

Jemariku sudah letih mengetik. Tapi aku ingin menambahkan beberapa baris kalimat penutup untuk menyempurnakan ketikanku ini.

Salli.

Pernahkah kamu katakan pada Salli, bahwa kamu mencintainya dan terpaksa harus tidur denganku?

Fine.