Bedah Novel I AM NUMBER FOUR

Kamis, 31 Maret 2011

1Saya sudah posting sinopsis novel fiksi fantasi, mungkin juga boleh disebut fiksi fantasi sains dan evolusi, berjudul: I AM NUMBER FOUR. Tapi itu hanya postingan berisi sinopsis yang saya kopi dari internet, saya merasa ada yang kurang. Memang saya selalu merasa kurang jika bukan saya yang menulis. Hahahaha. Maafkan saya!

Kemarin, tanggal 24 Maret 2011, saya merasa perlu untuk membedah sedikit mengenai novel tersebut. Di luar gerimis, tapi jika atap rumahmu bocor, pasti plafon rumahmu hancur juga. Sama seperti kamarku ini. Saya baru menelepon ke seorang tukang, teman kakek saya, untuk datang dan memperbaiki genting yang geser. Semoga besok cerah.

Biasanya iseng-iseng, jika tak ada kegiatan yang menantang saya dalam suatu hari, saya akan buka internet dan search gramedia.com. Muncul result. Saya klik sebuah dan masuk ke situs. Di situ saya melihat-lihat buku terbaru, fiksi dan non-fiksi, buku laris, dan tetek bengek lainnya. Saya suka melihat sampul buku, pengarangnya, dan berapa harganya. Saya tidak terlalu tertarik membaca sinopsisnya, sama seperti I AM NUMBER FOUR. Saya melihatnya sebagai novel terbaru, tapi tak tahu pasti apakah termasuk best-seller. Saya langsung tertarik pada sampul dan tentu saja karena novel ini sebuah fiksi fantasi. Saya selalu menyukai novel-novel fiksi fantasi. Sebut saja, di lemari kecil saya bertumpuk novel-novel seperti Harry Potter, The Alchemyst, dan Breaking Dawn. I AM NUMBER FOUR adalah novel fiksi fantasi penuh ketegangan keempat yang saya beli dengan uang hasil keringat saya sendiri. Kenyataan ini membuat saya semakin cinta pada apa yang namanya novel fiksi fantasi. Tak bisa dijabarkan lagi betapa obsesifnya saya pada kisah-kisah fantasi. Bahkan saking obsesifnya saya pada novel-novel fiksi fantasi, saya menyempatkan diri setiap hari, singgah di Toko Buku Gramedia, dimanapun saya sedang berada, sekadar menyentuh, mengelus, dan melihat lama-lama novel-novel fiksi fantasi seperti Serial Percey Jackson, Tetralogi Saga, atau Serial Stokehouse itu.

2Hari itu Senin, bayaran pertama les privat saya terima. Tak banyak, tapi cukup untuk membeli empat buku bagus, saya pikir. Saya juga lapar. Sebelum makan soto, saya seperti biasa, singgah di Toko Buku Gramedia. Dua security bertubuh tegap, berwajah menarik seperti Gerald Butler, berdiri di kedua sisi pintu masuk. Seorang tersenyum pada saya, saya balas dengan senyum terbaik saya. Di depan pintu, ada obral dan diskon buku. Saya melihat sebentar. Kebanyakan komik yang tidak membuat saya tertarik, dan teenlith yang tak pernah saya sentuh sekalipun. Harganya murah, dari Rp.5000,00 hingga Rp.25.000. Meski tak terlalu tertarik pada teenlith dan komik, saya merasa terharu, berterima kasih pada orang-orang dan penerbitan-penerbitan serta toko buku yang terlibat dalam proses hingga buku-buku tersebut berlabel DISKON.

Dalam hati saya berkata, “Dengan begitu, buku bukan hanya milik orang berduit saja. Thanks.” Lalu saya melangkah ke depan, belok kiri, masuk ke dalam keramaian rak-rak buku dan para pembaca yang berdiri dalam diam. Itulah enaknya masuk ke sebuah toko buku, tak banyak orang bicara dan saling toleran, sehingga kita dengan mudah menemukan apa yang kita cari dan bisa membaca secara gratis dengan cepat. Coba kita bandingkan ketika sedang naik angkot dan kebetulan segerombolan anak SMP atau SMA naik. Ah gila, ributnya bukan main. Meributkan hal-hal tak penting. Tapi sudahlah! Kesunyian dan tolerasi di toko buku tersebut membuat saya sering sekali dapat membaca tanpa membeli, hingga puluhan lembar. Biasanya satu jam saya melihat-lihat, kemudian pulang.

Di dekat konter kasir, sang kasir bertubuh ramping dengan senyum yang kaku namun kelihatan sabar meladeni pembeli dan orang yang menanyakan ini itu. Karena sering berkunjung, saya jadi tahu siapa-siapa saya pekerja di toko buku ini. Saya biasanya langsung menuju tumpukan buku di depan konter kasir. Di situ, telah disusun dengan rapi, novel-novel fiksi, yang sebagian fantasi dan sebagian berisi kisah percintaan, jelas terlihat dari sampulnya. Ada pengarang lelaki dan perempuan, namun yang paling banyak adalah pengarang perempuan. Entah kenapa, perempuan-perempuan ini seperti begitu bertalenta berimajinasi tentang cinta, sains, mite, horor, dan kisah-kisah yang membuat kita bertoleran pada apa yang namanya, “Dunia lain.” Dunia lain di sini bukan dunia setan dan jin seperti yang sering kita lihat di televisi atau film-film horor di bioskop Indonesia, tapi dunia lain ini merujuk pada apa yang kita sebut, “Vampir, Penyihir, Werewolf, Shapeshifter, Alien, dan bentuk kehidupan lainnya.” Tapi harus diingat, bentuk kehidupan lainnya itu, tidak merujuk pada dedemit, genderuwo, dan jenis-jenis makhluk halus Indonesia lainnya. Saya tidak suka kisah-kisah tentang makhluk-makhluk semacam itu.

“Kenapa?”

“Sama sekali tidak keren.”

3Agak unik sebab sebagian novel fiksi fantasi, yang nyaris semuanya karya penulis asing, ditempatkan pada dua buah meja, dan ditumpuk, bukannya disusun pada rak kaca atau kayu. Diskriminasi? Tentu tidak. Ini hanya karena kekurangan ruang. Harap maklum. Itulah okenya jika berada di sebuah toko buku, kita menjadi lebih toleran dan berpikiran positif. Keinginan besar saya untuk memiliki novel I AM NUMBER FOUR membuat saya tak melirik buku lainnya dan langsung menimang-nimang novel tebal itu menuju konter kasir. Wanita bertubuh langsing dengan senyum kaku itu menyapa dan mengecek. Dia memberitahukan harganya dan uang yang saya sodorkan ke meja kaca kemudian seorang lain membungkus dalam kantong plastik, distaples, dan saya menerima kembalian beserta buku dalam genggaman saya. Uang saya masukkan ke saku jins depan. Saya tak sabar kembali ke rumah dan membacanya. Waktu saya lewat di halaman parkir, ada tenda tempat berjualan kaset-kaset DVD, harganya Rp.5000,00/kaset. Tentu saja itu bajakan. Dan di antaranya saya melihat sebuah DVD bertuliskan: I AM NUMBER FOUR.

“Astaga!”

Tidak usah berlama-lama lagi, ingin saya bedah I AM NUMBER FOUR ini dengan singkat padat dan jelas.

4Sampul novel ini mengkilap, jika kena cahaya atau sinar, akan memantulkan cahaya atau setidaknya berkilap-kilap, nyaris menggambarkan apa yang akan pembaca temukan pada lembar-lembar di dalamnya: alam semesta mahaluas yang bercahaya, tanda pada kaki yang bercahaya dan terbakar, telapak tangan yang bisa mengeluarkan sinar benderang, dan menembakkan semacam tenaga listrik atau laser. Novel ini unik, sejak sampul depannya. Yang paling menonjol adalah sebuah tulisan pada stiker berbunyi:

BERHADIAH

NONTON BARENG

I AM NUMBER FOUR

Sampul. Bergambar atau berfoto seorang lelaki berambut cokelat atau pirang, mengenakan jaket bertudung. Style lelaki itu seperti kebanyakan anak muda Amerika. Dia mengenakan jins berwarna gelap, kaos hitam berkerah V, jaket dengan tudung, semuanya berwarna gelap. Lelaki itu nyata, dalam arti manusia yang hidup di dunia ini sebab tak ada orang bisa melukiskan sampul senyata itu. Jadi tentu, gambar sampul ini menceritakan siapakah si Nomor Empat itu. Pada sampul, bagian atas, bertuliskan:

NOW A MAJOR MOTION PICTURE

Di bagian tengah bertuliskan:

THREE ARE DEAD.

Kalimat di atas mengatakan bahwa, tiga orang telah mati. Menjadi jelas bahwa lelaki ini adalah orang keempat dan dia juga mungkin akan mati, entah tua atau sakit, tapi saya yakin karena dibunuh. Di bawah tulisan itu, tertera besar, judul novel ini:

I AM NUMBER FOUR

Berkilat-kilat. Kemudian di bagian bawah judul novel itu, tertera sebuah kalimat komentar dari seorang yang popular di dunia perfilman internasional. Begini komentarnya:

“No. 4 adalah pahlawan bagi generasi ini.”

_Michael Bay, sutradara Transformer.

Yang terakhir, pada ujung bawah, tertera siapa penulis novel ini:

Pittacus Lore

Dan sebuah keterangan kecil bahwa novel ini bukan novel satu-satunya yang menceritakan tentang kisah yang sama, namun ada novel lainnya. I AM NUMBER FOUR adalah novel pertama dari semacam dwilogi karya Pittacus Lore:

Buku Pertama Seri The Lorien Legacies

Untuk melengkapi kecemerlangan sampul novel ini, pada latarnya, tergambar sebuah semacam simbol mirip Ying dan Yang. Melingkar-lingkar. Terputus-putus. Bercahaya perak. Itu cahaya. Cahaya yang membiaskan bertik-bertik cahaya kecil di sekelilingnya.

Pittacus Lore, nama penulis itu. Nama yang aneh. “Nama yang unik.” Saya meralat. Sebab kebanyakan penulis fiksi fantasi berasal dari Amerika atau Eropa dan nama mereka lumayan familiar seperti J.K. Rowling, Stephenie Meyer. Tapi ini Pittacus. Nama yang mengingatkan saya pada nama-nama orang Romawi dan Yunani kuno. Nama-nama seperti Casius, Gaius, Marcus, atau Pegasus. Dan Lore, ini seperti nama belakang dari India atau Pakistan. Mungkin karena saya teringat kota Lahore.

“Ah, entahlah. Nama penulisnya menebarkan aroma magis.” Membangkitkan gairah saya membaca novel-novel fiksi fantasi. Tapi saya berpikir ini bukan nama samaran saja, seperti Douwes Dekker alias Multatuli atau seorang sutradara film bernama Nayato Fio Nuala alias Koya Pagayo, seorang Aceh, saudara sekampung halaman saya itu. Saya berpikir, jika Pittacus Lore adalah nama sebenarnya, maka penulis ini kiranya seorang berdarah India atau Pakistan yang tinggal di Eropa atau Amerika.

Tidak terlepas dari banyak hal di atas, saya melihat novel ini mempunyai sambungan, seperti kebanyakan kisah fiksi fantasi, sebab menurut pengalaman saya, kisah fiksi fantasi, tifak bisa dimampetkan dalam sebuah novel. Karena kisah fiksi fantasi haruslah panjang dan berisi sebuah pencarian atau pelarian, di sana letak jiwanya.

“Oh berarti ini serial semacam Percey Jackson atau Harry Potter.” Ada sebuah keyakinan yang tumbuh dalam diri saya bahwa novel serial atau yang lebih dari satu, cenderung mendapat sambutan bagus di kalangan pembaca novel, dan laris terjual, naik cetak ulang beberapa kali, dan mungkin bermuara pada pembuatan film layar lebarnya. Sebut saja Tetralogi Laskar Pelangi, serial Harry Potter, dan serial Percey Jackson. Namun novel bentuk ini juga tidak semuanya bermuara pada film layar lebar. Mungkin karena menjaga idealisme penulisnya atau memang penulis skenario dan sutradara tak mampu mengadaptasinya ke dalam gambar bergerak karena takut tidak memenuhi hasrat pembaca fanatiknya. Sebut saja Trilogi Saman, karya Ayu Utami, yang menjuarai sebuah sayembara, mendapat beberapa penghargaan dari luar negeri, dan naik cetak banyak kali sehingga menjadi buah bibir di kalangan penggiat sastra Indonesia dan dunia. Atau karya-karya Pramoedya Ananta Toer yang “memberikan sumbangan besar bagi susastra dan sejarah kemanusiaan di dunia.” Ketika membalik sampul belakangnya, menjadi jelas bahwa novel ini sedang dalam pembuatan film layar lebarnya. Sampulnya lebih mirip promosi dan sampul DVD lengkap dengan nama aktor dan aktris, sutradara, rumah produksi film dan lain sebagainya.

Satu kata yang bisa saya gumamkan, “Mengagumkan!”

**saya merasa tulisan kali ini lumayan panjang dan lebih variatif dalam gaya penulisan dari pada postingan sebelum-sebelum ini. Demikian pula saya merasa ada baiknya saya mencukupkan diri membedah hanya sampai di sini agar pembaca blog tidak merasa bosan dan lelah. Tapi jika Anda menyukai bedah saya atas novel I AM NUMBER FOUR, saya menjanjikan akan ada kejutan-kejutan dalam bedah sambungan di hari-hari ke depan. Ingatlah satu pesan ini: JANGAN BELI NOVEL BAJAKAN**