Air Dari Langit

Rabu, 02 November 2011

Dua hari lalu saya pulang dari tempat kerja—dua kali naik angkot. Pintu depan tidak terkunci—seperti biasa, jika istri saya sudah pulang kerja. Sudah saya kirim sms:

Sampe di rumah, aq pengen cuci sepatu, mandi, makan, trus pijitin kamu.”

Sebab dia mengeluh sakit pinggang. Setiap kali dia mengalami “datangbulan”, saya jadi begitu cemas dan ingin membuatnya “baik-baik saja dengan cara “membahagiakan” dia, melumuri perut dan pinggulnya dengan minyak kayu putih plus babyoil. Lalu saya sambil bercerita tentang buku-buku yang say abaca atau kami sambil menonton film-film bajakan yang saya beli pada seorang langganan.

Tapi hari ini tidak. Mood saya langsung buruk ketika saya menemukan bahwa meja setrika basah.

Kenapa bisa? Saya tinggalkan tadi dalam keadaan kering.”

Gak tahu.”

Pasti ada penyebabnya.”

Tapi tidak ada hujan.”

Kami bertengkar hebat. Saya tahu diri bahwa disulut sedikit saya langsung mengguling lengan kemeja. Berdebat tentang apa penyebab meja setrika basah tidak mendatangkan ketentraman. Semua hal indah yang sudah saya canangkan lewat sms terbengkelai. Padahal saya tadi sudah membeli 5 buah hadiah kecil, kejutan untuk dia.

Betapa mengerikan, hal kecil—meja setrika yang basah—bisa membuat rencana yang indah untuk “mengejutkan” dia, ternyata tidak berhasil, dan justru membuat kami bertengkar hebat. Saya bahkan dengan mudah mendorong wajahnya karena dia terus maju dan menantang saya.

Diam!

Saya—sebagaimana seorang lelaki pada umumnya—memiliki ego yang sangat besar. Saya hanya ingin dia diam, padahal dia istri yang saya cintai dan akan saya bahagiakan dengan 5 kado kejutan. Saya mau dia diam, menjawab saja pertanyaan saya dan tidak “mengompori”.

Kamu sudah melihat saya emosi. Saya suka rapih-rapih. Saya tidak mau ada yang tidak pada tempatnya. Kamu di rumah, sehingga saya bertanya. Apakah kamu tidak peka dengan sekitar? Masak kamu tidak tahu kalau benda itu basah?

Saya sudah tidak terkontrol dan dia menangis sebab saya pasti akan menghajarnya dengan apa saja, atau memecahkan barang-barang dengan apa saja—seperti yang lalu-lalu. Tapi kali ini saya bingung. Di saat saya dikuasai amarah, saya merasakan cinta padanya. Saya ada di antara dua kutub magnetic. Yang satu menyuruh saya marah dan mencari alasan meja setrika basah dan yang lainnya memaksa saya tertawa dan menganggap semuanya sudah berlalu. Sekarang peluk dia dan minta maaf, tunjukan kado itu dan lalui satu malam dengan tenang, begitu batin saya.

Lalu saya mencuci sepatu, mandi, dan mengajaknya makan. Saya buatkan Jas-jus untuknya. Saya kasihan dia sedang haid dan meneluh kesakitan—saya juga kesakitan karena cemas dan kasihan tapi tidak berdaya. Saya siapkan makanan dan kami berdoa, makan, lalu bercerita tentang meja setrika yang basah—tanpa emosi mencari pembenaran dan alasan.

Air dari langit,” begitu kata istri saya.

Kami tertawa. Saya hidupkan laptop, saya putar film Sniper Reloaded 4 dan kami membahas tentang seorang Sniper yang tidak berkedip sedikit pun ketika serangga berjalan di dekat matanya. Kami terkagum-kagum.

Kamu bisa seperti itu,” dia bertanya.

Tidak.”

Setelahnya kami mencuci tangan bersih-bersih. Saya menciumnya, memijit pinggulnya lalu tidur sambil memeluknya.

Saya takut kalau kamu marah,” bisiknya.

Saya juga.”

Tolong jangan ulangi lagi,” pintanya.

Kamu yang harus merendahkan aku, bukan memanas-manasi lagi.”

Dasar lelaki.”

Saya cium dia karena dia manja. Jika dia sedang tidak haid, saya tahu, pertengkaran kami hari ini akan berakhir dengan bercinta yang menggebu-gebu. Apakah bercinta adalah sebuah cara “minta maaf”?

-Sang Alkemis Fulcanelli-