Review The Grey Labyrinth

Sabtu, 11 Agustus 2012





The Grey Labyrinth (The Search for Merlin #2)

by Tyas Palar (Goodreads Author)

“Zaman ... kalian ... Penyihir Lama ... akan berakhir. Akan tiba ... waktu ... Para Penyihir Fana ... seperti kami…”

Sebuah ledakan besar yang misterius terjadi di Pennines, Inggris. Anak-anak berbakat alkemi menghilang dari Semenanjung Arab dan Asia Kecil. Gaspar Deuxcroix mengatakan ingin bertemu musuh bebuyutannya, Arderydd ab Don alias Edward Twickenham. Ivar Eidfjord, sahabat Edward, tak lagi bisa melihat Masa Depan.

Berbagai misteri baru yang saling berjalin menanti untuk diuraikan; semua berakar pada sebuah dendam yang bangkit setelah terkubur lama dan menuntut balas, meskipun akan menyeret seluruh dunia ke dalam Arah Sejarah yang baru.

Edward pun dihadapkan kepada pilihan berat: bersedia membantu Dewan Penyihir yang ia benci, atau membiarkan orang yang ia sayangi terancam bahaya.

Maaia: The best part of this book is the magnificent historical background that requires decent researches. If such historical romance can get avid readers, I believe historical fantasy should share the same virtue.

Other favourite parts from this series: strong characters. Since Tyas posted her interview with two of the main characters (Edward and Ivar), I personally embraced them as living characters. Maybe they are.

And oh I kind of have a crush with William Grey lol

Jalinan ceritanya masih seru. Konfliknya lebih jelas dibanding buku pertama, dan rasanya luar biasa senang dan bangga membaca karya penulis fantasi lokal sekeren ini.

Jelas Tyas melakukan riset sejarah dunia dengan tekun, jadi selain berfantasi aku juga belajar lebih dalam tentang sejarah abad pertengahan. Aku rasa Tyas semakin menemukan jalur yang pas untuk karya-karyanya, Historical Fantasy. Dan menurutku itu luar biasa.

Sebuah kebanggaan bisa membaca karya ini, dan bertemu kembali dengan Edward, Ivar dan William. Sayang sekali Ivar harus melepaskan rambut palsunya, sepertinya menjadi pengikut mode agak sulit bagi penyihir sepertinya hehe

*selesai dibaca di atas pesawat Medan-Jakarta dan sukses menarik perhatian orang gara-gara cekikikan melihat kelakuan Ivar*

Truly: “…Betapa beruntungnya kau tak mewarisi kemampuan melihat kilasan masa depan. Betapa beruntungnya kau tak perlu melihat segala peristiwa buruk yang yang masih berlangsung di dunia yang durjana ini. Betapa beruntungnya kau tak perlu tersiksa seperti aku….”

Akhirnya………!

Penantian panjang untuk sebuah buku. Butuh waktu 2 tahun untuk mendapatkan buku kedua dari beloved Tyas. Padahal gosip yang beredar menyebutkan kisah ini sudah diselesaikan jauh hari, tak lama sejak buku pertama beredar. Biarlah gosip berlalu bersama angin, yang penting buku ini sudah berada di tangan saya berkat toko buku favorit TM Bookstore.

lengkapnya di sini

http://trulyrudiono.blogspot.com/

Villam: lebih berupa potongan2 kejadian yang melibatkan terlalu banyak tokoh dalam rentang waktu antar peristiwa yang teramat panjang. tapi ini sungguh enak dibaca; kelebihan tyas. :-)