Review Jodoh Monica

Sabtu, 11 Agustus 2012



Jodoh Monica

by Alberthiene Endah

"Aku butuh jodoh. Aku tak mau jadi perawan tua... "

"Monic, kota besar tak pernah menertawakan wanita yang hidup melajang. Jakarta tak mengenal kata perawan tua!"

"Tapi ini masalah keinginan. Aku tak mau masih menikmati sarapan sendirian pada usia empat puluh..."

"Kariermu kan hebat!"

"Jodoh lebih penting..."

Pada usia 34 sekarang ini, Monica Susanti wanita karier sukses dari perusahaan periklanan, menyadari kekurangannya: sulit mendapat jodoh. Dia menyesali masa muda yang dia habiskan untuk ambisinya mengejar karier. Di saat depresi menanti jodoh datang, dia banyak mengalami peristiwa menggelikan, sekaligus berpotensi memberinya calon pasangan hidup! Apa yang dirasakannya ketika seorang pria flamboyan, sukses, dan keren seperti Mike tiba-tiba menyatakan cinta padanya?

Gramedia Pustaka Utama 2004

Yun: selama baca buku ini timbul satu pertanyaan...SEPENTING ITU KAH MENIKAH????

karena ngebet menikah..tokoh utama, monica menghalalkan segala cara...mulai dari salon,baju berlebel,dll...bhkn menurunkan 'harga diri"...ini menurut arya looo...cuma buat mengaet cow tipe mike yg ternyt beneran gak bgt...ato pun cow gay ky chiko...omggg....

dari awal sikap monica sok jaim bgt pdhal asli murahan..*mnrt q*...demi jodoh seorg creative director rela jd penerima tamu n tk boong...ampun deh..

oops..q lupa ada 1 kalimat Arya yg ngena bgt : mo' nika kek...mo' gak kek...yg penting hepi

Efendi: seperti lagu milik oppie, I'm single I'm happy, belajar untuk bisa menerima diri sendiri apapun keadaannya, event saat belum menemukan someone as a right man
santai aja, jika memang sudah waktunya untuk bertemu, pasti akan ketemu juga, jadi gak usah terlalau pusing dengan orang di sekitar yang selalu bertanya kapan menikah ketika usia sudah diambang 30

menikah adalah suatu keputusan besar, dimana hanya individu yang bersangkutan yang bisa memetuskan kapan dia siap dan kapan belum :)so gak perlu khawatir dengan semua itu, saat waktu itu tiba, kita pasti akan menyadari dengan sendirinya

Sally: Ini buku ke 2 Alberthiene Endah yang gue baca setelah buku cewek matre. Cara penceritaan dan bahasa yang dipakai masih sama, modern dan cerdas. Masih mengumbar satu aspek kehidupan jakarta yang sempurna. Cowok dan cewek pemeran utama keren-keren dan kaya-kaya.

Kalau di 'Cewek Matre', inti ceritanya jelas dan gue mendapatkan inspirasi dari tokoh utamanya, tapi kalau di 'Jodoh Monica', gue masih bingung sama inti cerita dan gue ga mendapatkan apa-apa dari tokohnya. Cuma seperti membaca novel percintaan biasa.

Sayang sekali... padahal gue suka dengan ide cerita tentang perawan tua dan masalah yang dihadapi sehari-hari. Gue juga suka bumbu-bumbu percintaan di buku ini. Tapi gue mengharapkan endingnya ada bantahan cerdas dari kaum perawan tua dengan memperkenalkan konsep kebahagiaan tanpa harus menikah dan mungkin happy ending dengan kekuatan Monica sendiri, bukan karena keberuntungan mendapatkan jodoh. Gue mengharapkan inspirasi dari keterbukaan pikiran wanita modern yang bisa bahagia bukan dengan jodoh atau kesuksesan di karir tapi karena kebahagiaan lainnya, misalnya dengan mengadopsi anak atau kepuasan atas hidup di segala kondisi.

Ada beberapa hal yang gue ga suka dengan karakter Monica yang angkuh dan munafik:

1. Gue ga suka cara Monica memperlakukan cowok teman kuliahnya yang mungkin jelek, tapi kenapa harus dihindari? Apakah berteman dengan cowok jelek itu memalukan? Tinggal bilang aja dia ga tertarik untuk jadi pacar. Seharusnya umur 34, telah membuat seseorang lebih dewasa untuk tidak cuma melihat penampilan fisik

2. Kenapa dia ga minta tolong sama temen-temennya untuk dikenalin sama pria-pria potensial? Semua orang juga bisa ngeliat Monica bukannya ga laku tapi karena dia terlalu sukses yang menakutkan pria. Makanya apa salahnya untuk terbuka dengan teman sendiri? Malu? kenapa mesti malu kalau untuk kebahagiaan jangka panjang.

Anyway, mungkin ini aspek karakter orang Jakarta yang bukan bagian dari pergaulan gue.

Pada dasarnya buku ini lumayan menghibur, cuma ga sebanding dengan 'Cewek Matre' yang bikin gue kagum. Buku ini hanya cukup 2 bintang.

Pertanyaannya: Memangnya hari gini di Jakarta masih ada perawan tua? TUA? pasti! PERAWAN? belum tentu!