Tampilkan postingan dengan label Penerbitan Bentang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penerbitan Bentang. Tampilkan semua postingan

Review Sang Pemimpi

Senin, 16 Januari 2012




Sang Pemimpi (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 2)

by Andrea Hirata

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan akan membuat Anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.

Tampak komikal pada awalnya, selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari, kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri.

“Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

Bentang Pustaka 2006

Saya: Saya membelinya setelah sekian lama orang membicarakannya, dengan heboh!Saya mendapatkan Sang Pemimpi dalam cover baru yang sungguh menarik hati, lukisan yang pasti mahal harganya.

Bukunya tipis, tidak setebal Laskar Pelangi...tapi kisahnya sungguh membawa saya kembali pada masa kecil di kampung dan mengingat kembali semua kebijaksanaan hidup dan kebaikan yang diberikan oleh orang tua dan sanak kerabat... sehebat apapun kota besar, mereka itulah yang membuatmu bertahan...
dua kali saya menangis membaca buku ini.

Ayie’em: SANG PEMIMPI is the second book of Laskar Pelangi tetralogy. This novel tells Ikal with his high school years since his little friend Arai and Jimbron. Arai is a distant brother Ikal is an orphan and is the last family member who is still alive and eventually became the foster brother Ikal. Jimbron is an orphan who was obsessed with horses and stutter when I'm enthusiastic about something or when nervous. All three were friends since childhood until they go to school in SMA Manggar, the first high school that stood on the eastern Belitong. Because far from home three of them that lived in a shack fish market. Attend school in the morning and work as porters fish at the port in the early morning. They have a very fierce headmaster named Mr. Mustar. Arai is a friend of Ikal who always invites her friends to do crazy things, including watching the hot movies in theaters, which eventually caught by Mr. Mustar who previously had fugitive Mr. Mustar. But Arai is also that invites them both to dare to dream. Includes dream to go to Sourbone France. Various efforts have been made Arai and Ikal to get a scholarship to Sourbone. And finally Ikal and Arai are going to study in Jakarta, which ultimately makes them both separately but can still meet in France. Independent living separately from their parents with the background economic conditions are very limited but has a big goal, a goal which, when viewed from the background of their lives, just a dream. Now that dream come true, only with a capital of dreams and the spirit of Arai and Ikal could reach his master's degree in French.
For those of you who already read the novel Laskar Pelangi, you can not miss novel on this one because this is a continuation of Laskar Pelangi novel. In this novel will tell how the struggle Ikal and Arai to go to France.

Mar: Judul : Sang Pemimpi

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang

Cetakan : Kesebelas, November 2007

Tebal : 288 halaman

Inspirasi untuk ‘Bermimpi’Menggugah semangat! Membaca novel kedua Andrea ini, ada semburat penyesalan tercetus dalam diriku ketika selesai membacanya. Penyesalan itu adalah mengapa aku baru membacanya diusiaku sekrang? Mengapa aku baru membacanya ketika aku sudah lulus kuliah bertahun-tahun lalu? Sedangkan setelah membaca buku ini semangatku ingin mewujudkan mimpi-mimpiku terasa sudah terlambat. Aku juga ingin mewujudkan mimpiku yang mustahil, tapi ternyata terwujud seperti apa yang dialami Ikal dan Arai dalam novel ini.

Bahasanya mengalir lentur, dilengkapi dengan gaya metafora yang indah berpadu dengan sains yang cerdas, buku ini sangat renyah untuk dinikmati. Membuatku tak putus membacanya hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Perjalanan kisah 3 sahabat (Ikal, Jimbron dan Arai) dari 11 orang laskar pelangi yang penuh warna. Ada kisah haru yang menggugah moral, ada juga kisah lucu ketiganya yang membuatku terkekeh sendiri saat membacanya.

Benang merah yang dapat ditarik dari novel ini adalah semangat baja tak kenal rintangan dari jiwa Ikal dan Arai, dan konsisten mewujudkan cita-citanya meskipun dirasa tak mungkin, dan yang kedua adalah persahabatan yang indah dan tulus, meskipun salah seorang dari mereka cacat mental seperti Jimbron.

Yang membuatku tak habis pikir adalah, novel yang memang nyata tentang perjalanan hidup penulisnya ini ditulis bukan oleh seorang penulis. Namun, bahasa yang tertuang di dalamnya melebihi dari kalimat sastra seorang penulis! Itulah mimpi! Jika mimpi itu diwujudkan maka memang sulit dpercaya. Karena itu, novel ini memang menginspirasiku untuk mewujudkan mimpiku. Terima kasih sang pemimpi

Faiz: Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatu sejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 5 dan 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan study ke Sarbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.

Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu bersama mereka. Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantan. Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.

Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai Tukang Sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka. Kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-thaun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.

Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Dan ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin membuka kabar tu bersama orang yang sanag dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal ketrima di Perguruan tinggi, Sarbone Pernacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Scha: I like this book very much, I can tell you why? Appear komikal in the beginning, righteously ordinary juvenile delinquency, but then without You realise, story and characters in this book by degrees gain control You. Since little photograph that helds captive that will jerk You on ground sense of humour but have philosophical effect that resonate. Since struggle mean lives in poverty that twists and heroic aspiration deep story two book main figures this: Arai and Ikal will lead You with kind of grace and that affinity You can see into thyself with heaving full expectancy, that You refuse all Your hopelessness and helplessness own.

There is one Arai's sentence citation to Ikal that really I remember. ”.. maybe afters ends our Senior High School will only pan tin or as coolie, but in here Kal, at this school, we will never precede our fate!”

This citation quite gigantic, can proportionate all lack, weakness, and doubt that naluriah's ala light upon son of man that evoke aspiration.

Really inspiratif especially for the rising generation circle, student and intermediate college student at cross ways reach expectation and future. With all its lack, Ikal and Arai can look after firmness and everlastingly prohibition gives up on his way. trip wends dreamed knowledge well at de's university Sorbonne's paris.

Story braid that built by ala immaculately by writers as sensed as puts to sleep to know Belitong's earth, malay child life island which misery meaning in life with working firmness and knits dream. Don't forget writers also give love condiment that adequately comforts and sometimes funny and bounded up by firmness aura in poor jimbron figure,plain, unique but a friend at court.

Sentral's figure in this story, the Ikal, presenting character that humanism, one that tries for survive and arouses in the middle down, one that studying of all something at its peripheral, and that don't loathing give clarification to its best friend. Severely there are many positive study that we can take from this book. If I am still get teens age and be at schooled stool, undoubtedly binds books it will give extra force that arouse potency most deep utilised reaches for fruitfulness

Excess of this book is can tell problem that actually complexes to become simpler but not remove primal element namely assesses that contained in it. Told by nicely utilize perspicuous language and not only tells of one angle but also of corner of other even sometimes at variance with angle one the. Square with for all age.

Are so difficult find lack of this book is good of story and also performance facet it. Most even more this book has a lot of recognized previous because previous draw namely Laskar Pelangi already universalizes. To me, this book is book in point if you source inspiration that will make you more price your life and other people.

Herly: Karya kedua Andrea Hirata dari Tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan masa-masa sma Ikal bersama Arai - saudara sepupu jauh Ikal. Perjuangan mereka dalam terus bertahan untuk tetap sekolah namun tetap disertai kenakalan-kenakalan masa remaja.

Disini Andrea Hirata bahwa kekuatan mimpi dapat menjadi suatu motivasi yang luar biasa di dalam kehidupan. Suatu hal yang kita pikir mustahil, yang hanya mungkin menjadi bintang di langit, tapi akhirnya bisa digenggam. Dengan kemauan dan tekad yang kuat serta usaha yang maksimal, Andrea membuat tak ada hal yang mustahil.

Mengutip kata Andrea, mozaik-mozaik kehidupan terpisah-pisah dan berserakan dimana-mana. Tinggal kita bagaimana mengumpulkan mozaik-mozaik itu menjadi sesuatu yang kita inginkan.

Desy: Hanya satu kata: GREAT! Hanya satu nama: Arai. :D
Well, ga cuma Arai, sebenernya. Ada Ikal n Jimbron juga. Dan tokoh-tokoh lain yang berperan banyak pada kehidupan mereka. Tapi buat gua, Arai-lah pusatnya. Sesuai dengan judul buku ini: Sang Pemimpi. Arai, sang pemimpi sejati. Arai, seniman kehidupan. Arai, yang memandang kehidupan demikian indahnya, ga peduli kesulitan sebesar apapun yang dihadapinya. Arai, yang berhati tulus dan berjiwa besar. Arai, yang selain pintar juga nakal, jahil dan kerap jadi biang kerok (kata Ikal), hehehe... Arai, Arai, Arai...

Buku ini bener-bener bisa menggugah semangat siapa pun yang membacanya. Sesuai dengan tagline di sampulnya, di bawah judul Sang Pemimpi: novel penggugah semangat. Tapi ga tau ya, kalo ada yang ga tergugah semangatnya setelah baca buku ini. Itu sih, urusan masing-masing :D.

Ketika akhirnya Arai dan Ikal berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Sorbonne, Perancis, gua nangis, dong :D. Betapa gitu ya, butuh perjuangan panjang (kerja keras banting tulang untuk bisa bayar sekolah, belajar giat, jauh dari orang tua) buat Arai dan Ikal (dan Jimbron juga) untuk bisa mengikuti pendidikan formal (yang seharusnya GRATIS, kata gua sih). Sementara gua, istilahnya mah udah tinggal sekolah aja, masih suka males-malesan. APA KATA DUNIA??? hehehe...

Setelah baca buku ini, gua pengen SEMUA anak Indonesia memiliki buku ini. Yah, setidaknya pernah baca lah. Dan mimpi gua, makin banyak anak-anak, remaja-remaja, manusia-manusia Indonesia yang semakin baik. Amiiin..

Review Edensor



Edensor (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 3)

by Andrea Hirata

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup

Bentang Pustaka 2007

Saya: saya membelinya setelah selesai membaca Sang Pemimpi, untuk koleksi pribadi kekasih saya yang orang sumatra itu...dia merasa ada hubungan kedaerahan antaranya dengan Andrea... saya membacanya tanpa henti, kecuali kantuk menyerang... buku ini seperti meyakinkan saya bahwa mimpi itu selalu bisa direalisasikan selama kita mau maju... tidak ada halangan yang bisa menghentikan terwujudnya impian kita kecuali kematian, bukan?

Vannya: Jarang menemukan suatu buku yang membuat saya ingin segera menyelesaikannya, buku ini termasuk kriteria yang jarang itu. Memang detil bukan "jualan utama" buku ini. Tapi penggambaran yg "memadai" disertai dengan alur yang cepat sangat sesuai dengan mood saya yang sedang jenuh dengan novel yang kadang2 terlalu mendramatisir sebuah petualangan. Yang jelas Andrea Hirata cerdas merangkai kata, banyak kalimat yang berima dan banyak metafora yang nyeleneh tapi "it's ok" dan kadang lucu. Saya paling suka ketika penulis mendeskripsikan teman2 kuliah Ikal dan Arai terutama deskripsi tentang The Pathetic Four, membuat saya terpingkal2... Saya memang rindu dengan tokoh yang tidak sempurna sehingga berasa lebih membumi,menggugah saya untuk dapat menertawakan diri sendiri... After all... Buku ini menghibur!

Sitty: Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.
-Arai-

Setangkup kalimat yang sarat makna ini, memulaikan semua cerita yang tertumpah dari torehan tinta indah Andrea Hirata. Buku Edensor, mungkin hanyalah secuil cerita pencapaian mimpi seorang anak Belitong yang tak terkotori rasa pesimistik. Di buku ini Andrea bertutur tentang perjalanannya bersama Arai, kerabat yang digambarkan sebagai seorang Partner in Crime. Sangat indah, di mana Andrea menggambarkan semua hikmah dalam kejadian di hidupnya. Ia bahkan menggambarkan seorang laki-laki dengan penyakit kelamin akut, sebagai pahlawan yang membawanya dalam penemuan secuil jati diri. Bagaimana ia dapat menghargai kehidupan lewat orang yang justru membenci kehidupan.

Tak hanya itu, Andrea juga menggambarkan perasaan dan cinta dengan unik di buku ini. Layaknya seorang laki-laki yang mencintai gadis secara rumit dan indah. Dan pertemuannya dengan kondisi di mana cinta hanya diumpamakan sebagai remote TV. Andrea Hirata adalah pemimpi sejati, dan buku ini berakhir di Edensor, mimpi paling tinggi yang meluncur dari bibir indah A ling, cinta pertamanya. Buku ini sangat layak baca, betapa mengagumkan di mana tulisan dan rangkaian kata-kata dapat menggambarkan mimpi-mimpi yang menjadi nyata. Andrea dan Arai berani bermimpi, dan Tuhan benar-benar memeluk mimpi itu.

Bagi mereka yang ingin belajar bermimpi, seperti saya. Buku ini bukan hanya cocok sebagai teman minum kopi, tapi sahabat dikala detik-detik waktu terkosongkan dari rutinitas.

Atau seperti saya, buku ini sudah menjadi bagian dari rutinitas

Nizam: Edensor, novel ketiga dari Andrea Hirata, penulis yang mencipta fenomena baru di Indonesia selepas Habiburahhman dengan Ayat-Ayat Cinta. Di dalam Edensor, di perincikan perjalanan dua manusia tegar-Ikal & Arai-ke wilayah yang penuh dengan pancasila ilmu tinggi, Sorbonne,Perancis. Dua insan ini bersatu dan membentuk gugusan baru setelah melalui tempoh perit mengejar mimpi seperti yang di tulis di dalam novel Sang Pemimpi.

Pengalaman Ikal dan Arai yang terpaksa berdepan dengan kejutan budaya dan pertembungan budaya yang pelbagai dalam satu matlamat yang sama. Perjalanan mereka di selangi dengan pelbagai sifat manusia yang kadang-kala aneh dan menakutkan dan kadangnya melucukan. Impian untuk menjejak bumi Afrika dan misi mencari A Ling terhampar dan kemas di pacukan mereka berdua walau akhirnya hanya tinggal Ikal keseorangan setelah Arai mengalami masalah kesihatan dan terpaksa kembali ke Belitong.

Novel tulisan Herriot pemberian A Ling yang di baca Ikal berulang kali dan menemukan beliau dengan daerah Edensor pada takat khayalan akhirnya di jelmakan secara nyata dan daerah yang penuh dengan keindahan itu benar-benar wujud

Irwan: Buku ini sedikit lebih "berdaging" dibandingkan Sang Pemimpi. Saya paham betul dengan semangat tetralogi ini yang ingin memberikan motivasi. Tapi ada detil2 yang kurang meyakinkan. Seperti kejadian harus terlunta-lunta di luar, suhu minus 15 derajat, hingga harus gunakan humus untuk bertahan hidup. Kalo ini kejadiannya di Norway mungkin aku percaya, karena minus 15 derajat sering terjadi di musim dingin. Tapi kalo di Belanda, rasa2nya agak berlebihan. Kalo memang terjadi begitu, di norway datang saja ke stasiun atau gas station, gak usah sampai dramatis begitu. Apa emang begitu ya di Belanda?

Trus mengenai karakter2 dalam kelasnya, tampak sekali stereotipnya. Mungkin sang penulis dalam hal ini atau penggambaran pengalaman luar negeri secara umum terjebak dalam sudut pandang "indonesia" yang diterapkan pada karakter2 asing yang dilihatnya. Ini memang tidak terhindarkan, tapi kalau diimbangi dengan detil2 yang personal dari karakter tersebut - detil yang tidak stereotipikal kebangsaan - mungkin karakternya jadi lebih utuh dan believable.

Ratna: Barangkali karena memang novel yg satu ini dimaksudkan sebagai mozaik, awalnya masing2 bab terasa lepas satu sama lain. Cerita-cerita lepas ini baru terasa utuh ketika sudah mendekati akhir.

Ada beberapa keanehan yang, kalau mau diteliti, bisa jadi mengganggu. Cerita tentang terpaksa semalaman di luar saat hujan salju di hari pertama mereka di Brugge misalnya. Memang kesalahan administrasi seperti itu bisa terjadi, memang benar kalau orang2 di sana jauh lebih individualistis. Tapi tetap saja.... masa sih ada Mr van der Wall yang sampai segitunya. Masa sih mereka ngga mampu menemukan jalan balik ke stasiun atau menemukan penginapan. Brugge itu sangat kecil, desa turis dan tempat tujuan wisata terkenal. Mungkin yg dipentingkan di sini memang momen kecerdasan Arai yg menggunakan humus utk menyelamatkan Ikal. Tapi mbok ya dipilih lokasi lain yg lebih terisolir gitu lho, biar lebih masuk akal.

Awalnya saya kira lokasi Brugge dipilih krn si pengarang akan mengeksplorasi suasananya (karena memang Brugge ini medieval village yg benar2 indah). Tapi ternyata tidak. Malah jadi aneh rasanya, kenapa mereka diberi akomodasi di Brugge yg jaraknya hampir 100 km dr Brussel, lokasi “supervisi” pertama mereka. Utk ukuran Eropa, jarak tempuh 1 jam lebih berkereta ini sangat jauh, padahal pasti ada banyak akomodasi lain yg bisa disewakan utk seminggu di sekitar atau di Brussel sendiri.

Beberapa lokasi lain yang disebutkan dalam novel ini juga kurang akurat. Tapi ya sudahlah. Mungkin memang sebaiknya novel ini dinikmati saja alurnya, tanpa harus terlalu memusingkan detil-detil. Karena terlepas dari segala keanehan tersebut, kisah pencarian dan petualangan Ikal ini asyik sekali untuk diikuti. Menarik sekali ide menjadi manusia patung serupa pasangan putri duyung tersebut. Dengan asesoris dan pose yg diceritakan, bisa dibayangkan mereka akan benar2 mencuri perhatian penonton.

Andrea Hirata rasanya kurang banyak mengeksplorasi suasana2 yg diceritakan di novel ini. Mungkin karena terlalu banyak tempat dan kesan yg ingin disebutkan. Misalnya, bagaimana pembaca bisa ikut membayangkan keunikan Ponte Vechio dan ikut merasakan kenapa si tokoh sangat ingin tampil di jembatan tersebut. Di sisi lain, yg diceritakan si pengarang memberikan nuansa yg berbeda. Bahkan seandainya tempat2 tsb sudah pernah dikunjungi, membaca kisah Ikal seperti memandang semuanya dg kaca mata yg berbeda, seperti mengalami petualangan yg baru dan segar.

Suka banget dengan ide mencari A Ling sampai jauh ke Afrika, suka dengan ide “berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, namun hasilnya nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri”. Suka dengan sindiran dan humor yg diselipkan di sana-sini. Suka dengan penutupnya yg manis, di mana Ikal tanpa sengaja menemukan Edensor, di tempat yg awalnya tidak bisa dia lihat keindahannya.

Karena, bagaimanapun juga, nikmat membaca novel ini, ya bintang 4 deh :)

Dita: Ternyata ekspetasi saya salah. Saya kira, ini hanya akan menjadi another 'Laskar Pelangi'. Tapi ternyata, Andrea Hirata mampu bertutur memikat melalui buku ini. Semangatnya meraih mimpi, dan latar belakang berbagai kebudayaan membuat kisahnya di Edensor menarik untuk diikuti. Saya suka.

Review Laskar Pelangi

Minggu, 04 Desember 2011

Laskar Pelangi (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 1)

by Andrea Hirata

Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu—bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya.

Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan

Bentang Pustaka 2008

Dini: Udah lama bgt baca buku ini. Dari tahun 2008. Bukunya bagus. Nonton kalo gasalah mah di Dvd bajakan deh. Hehe. Hal yg baru saya sadari sekarang adalah bahwa isi buku ini relate sekali dgn dunia nyata. Pertemanan, pengkhianatan,mimpi2,dan cinta.Pengalaman pribadi menunjukkan yang tadinya teman bisa lawan, yang tadinya memusuhi jadi teman. Mungkin beda latar belakang, tapi memang pendidikan itu kunci utama menembus dunia. Ayah saya sendiri menekankan akan pntingnya pendidikan sampai saya dilarang kerja dulu sebelum lulus.

Nia: Teringat pesan Tuk Bayan Tula kepada Mahar dan Flo...Kalau mau lulus ujian
Buka buku dan belajar....
Hahaha...lucu...bahkan dukun sakti saja berkata seperti itu... :-)

Hasanuddin: Sudah lama buku ini masuk daftar tunggu untuk dibaca, akhirnya kelar juga.... Banyak yang merekomendasikan membaca buku ini, tapi apa daya ada banyak buku lain yang lebih tertarik aku baca. Penilaian ku, cerita pribadi yang dientas menjadi novel mungkin sama halnya dengan N. H. Dini yang banyak mengupas kehidupan pribadinya dalam rentetan novelnya. Aku tidak paham mana batasan sastranya, apakah cerita pribadi bisa sebagai karya sastra. Namun sebagai penikmat bacaan, aku cukup terhibur dengan narasi yang dipaparkan oleh Andrea Hirata yang khas meliuk gaya melayu. Jika ada pertanyaan, mengapa anak kecil nun di pelosok sana memiliki kejeniusan. Aku menarik kesimpulan sendiri kalau diri kita terlebih anak-anak memiliki raw material yang perlu dipoles. Apakah polesan itu membuatnya semakin mengkilap atau merusak, tergantung dari induksi pengajaran. Dan inilah kesuksesan dari guru SD Muhamdiyah Belitong membuat metode pengajaran bercerita. Dengan bercerita daya imajinasi tentu saja imbasnya pada kreatifitas berpikir akan semakin terolah.

An: Akhir na selesai juga…. Stlh pergolakan panjang dan sering ditinggal. Bkn krn mbosankan tp sudut pandang yg diambil sangat, sangat, sangat tidak sesuai. Masa anak” umur segitu (SD) pny pketahuan seluas ‘n setinggi itu. Rhe langsung tpesona…. Bnrkah????? Benarkah anak” paling miskin d Belitong pny pngetahuan seluas itu??? Wah, klo gitu mrk g usah plu sekolah aja…..

Andrea hirata… mgkn dia mnulis sesuatu yg baru… tp sdkt yg kurang pas d sni adl dia memasukkan pikiran dia saat ini k dlm tokoh” yg dia buat yg dlm hal ini adl anak” SD. Jg tkesan…. Pandai sekali meraka!!!!!

Membosankan!!!

Penjelasan yg diberikan terlalu detail shg g mberi ruang pribadi bagi pembaca untuk berimajinasi. Membaca banget dech jadi na, bukan menikmati bacaan.

Capek.

Nb : dr tulisan d laskar pelangi tampak klo pujian bwt andrea yg mrp penulis baru tp mampu menggebrak bkn sesuatu yg luar biasa cz mmg sdh lama dia bcita” jd penulis. Pasti na laskar pelangi dah melalui ptimbangan n pmikiran lama sblm dkeluarkan k publik.

Indri: Waktu selesai membaca buku ini, saya menyesal.
Menyesal karena baru sekarang membacanya, dan terpengaruh oleh review di Kompas tentang teknik penulisannya yang banyak pencampuran waktu dulu dan sekarang, tentang isi yang tak seperti biografi, namun bercampur fiksi.
Dan banyak sekali orang yang membacanya, jadi saya agak kurang tertarik.

Tapi sesudah membaca bab pertamanya, aku langsung jatuh hati pada gaya yang mirip dengan Totto Chan.. Kesederhanaan cerita yang dibungkus dengan ilmu pengetahuan alam yang luar biasa. Seperti membaca sains sejarah novel. Membuatku tdk ingin berhenti untuk tahu petualangan selanjutnya.
Sensasi seperti cerita Astrid Lindgren di masa kecilku, mengingatkan masa kecilku ketika aku tergila2 pada matematika dan IPA. Semoga buku ini direferensikan sebagai karya sastra yang wajib dibaca di sekolah, seperti halnya karya Marah Rusli dulu..

Della: awesome...keren abis n i think ne buku kudunya diwajibkan oleh para guru tuk membacanya buat anak2 SD biar mrk sadar the values of life n education..but tetep ne buku bnr2 entertain' bgt tp sarat ma lessons

Ari: Narasinya agak aneh, tapi aku suka kok.
Aku habiskan baca buku ini dalam semalam...

Weni: Sudah lama orang heboh membicarakan Laskar Pelangi, saya belum tergerak untuk membacanya. Kata orang ceritanya bagus, lucu, sedih, beberapa orang bahkan menangis ketika membacanya. Saya belum juga tergerak. Lama2 penasaran juga hehe. Akhirnya saya beli dan saya baca. Meskipun kalimat2 yang dipilih rasanya terlalu canggih diliat dari sudut pandang anak2, tapi saya suka buku ini :)

Laskar Pelangi membuat saya tertawa dan bersedih. Tertawa ketika mereka diminta menyanyi di depan kelas dan mereka selalu menyanyi lagu yang itu2 saja, tertawa ketika membaca cita2 mereka: "Adapun Trapani yang baik dan tampan ingin menjadi guru. Ketika kami tanyakan kepada Harun apa cita-citanya, ia menjawab kalau besar nanti ia ingin menjadi Trapani", dan masih banyak lagi. Lalu saya bersedih ketika ayah Lintang meninggal sehingga Lintang, si jenius yang bercita-cita jadi matematikawan, tidak bisa bersekolah lagi. Dan saya berlinang air mata ketika mendapati Lintang menjadi supir :(

"Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang."
"Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan"

Yosi: Fantastic! Inspiring! Motivating! Entertaining!
What else can I say? So far this is the best Indonesian book I ever read. Bahasanya mudah dicerna dan kocak tapi tetap berkesan cerdas. Banyak hal yang bisa diserap dari kisahnya. Mendeskripsikan sisi fun di balik kegetiran hidup. Membuat saya termotivasi untuk selalu bermimpi dan berusaha.