Tampilkan postingan dengan label Pramoedya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pramoedya. Tampilkan semua postingan

Review Arus Balik

Jumat, 09 Maret 2012



Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16

by Pramoedya Ananta Toer

Semasa jayanya Majapahit, Nusantara merupskan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke 'Atas Angin' di utara. Tapi zaman berubah...

Arus berbalik -- bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara... Perpecahan dan kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya.

Wiranggaleng -- pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonis dalam epos kepahlawanan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuasaan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya -- walau hanya secauk pasir sekalipun -- untuk membendung arus utara.
Masih dapatkah arus balik membalik lagi?

Karya Pramoedya Ananta Toer Sebuah epos besar dari seorang penulis besar

Hasta Mitra 1995


Gianti: gue baca buku ini wkt menjelang UAS SMA, trus ceritanya mlm menjelang UAS Sejarah, gue mls bgt bljr krn ga tahan pgn ngelanjutin baca buku ini.. Akhirnya gue tinggalin belajar n baca buku ini aja.. and guess what happened..
besoknya, di ujian Sejarah gue muncul pertanyaan esai ttg kerajaan Demak, dan gue jwb persis seperti apa yg gue baca di novel Arus Balik mlmnya!!

kalo gue ga baca ni novel gue ga akan bs jwb tu, soalnya gue sm skali ga baca buku pljrn bag kerajaan Demak..

Prie: Kabarnya ini salah satu karya mas Pram yg awalnya cuma dikonsep di otak, tanpa ditulis, karena saat itu mas Pram sedang dipenjara dan tidak diperbolehkan menulis. Setelah keluar dari penjara baru dituliskan. Kebenaran cerita ini, ga jelas...

Ceritanya tentang pergeseran perdagangan yg tadinya nusantara sebagai tempat paling ramai perdagangan lautnya, bergeser ke arah eropa sejak kedatangan bangsa eropa. Penggalian sejarahnya betul-betul memikat, sehingga kepahlawanan Adipati Unus betul-betul tergambarkan kehebatannya.

Satu yg muncul setelah baca buku ini, "Indonesia ini bangsa yg besar...."

Nini: Satu buku Pram yang saya cari-cari dan akhirnya ketemu. Seperti biasa, detil, runtut, memikat. Rasanya, salah satu yang terbaik dari Pram selain Tetralogi Buru. Arus Balik mengisahkan Nusantara pasca Majapahit, saat di mana kolonialisme (Portugis/Peranggi) mulai masuk, begitu pula Islam (juga Kristen). Tentang peradaban baru, tentang arus yang berbalik. Seperti de javu, seperti kini kita menghadapi teknologi dan hal-hal yang baru. Ada gagap dan canggung di situ.

Arus Balik. Tentang kejayaan yang pernah singgah. Saudara saya berpesan, boleh baca buku ini, tapi jangan larut pada romantisme masa lalu. Buku ini buku yang getir. Tampaknya saya memang harus mengamini pesan saudara saya itu.
Rangga: if there are any books that deserve to be called as "magnum opus", this might be one of them.

Arus Balik pictures the transition of Nusantara from hindu-budha age to Islamic age and from kingdom's age to the colonial age. if you ever read history book that usually used in our school, you will see 180 degrees different point of view from this book. Pram shows you political intrigue among kingdoms, and the "bad" side of leaders. but he also show what is the meaning of bravery through the figure of "wiranggaleng" and adipati unus.

and in the last part of this magnificent novel, pram leave a reflection for us "long time ago the south went and occupied the north economically and territorially. but now why is it the north come to the south, occupy us like we had ever did before?"

Boti: aku bisa beli buku ini karena aku menang judi togel. aku senang, sampai2 sampulnya ku bikin hard cover. tapi kesenangan itu tidak berjalan lama. ternyata ada dua halaman yang tidak tercetak. aku kecewa. sedih. buku ini juga mengingatkanku pada teman2 waktu kuliah. pada waktu itu teman2 pada gandrung pada buku ini. pernah terlontar percakapan seandainya buku ini di buat film. banyak teman2 yang ingin jadi wiranggaleng. terus untuk ida ayu nya dani melissa suwando. seorang teman dari bali yang jadi bunga kampus pada waktu itu. cantik dan montok. tapi ada satu teman yang nyleneh. dia pingin jadi si ula sawa. tampangnya cukup meyakinkan. orang jawa tapi hidungnya betet seperti arab. di kampus dia biasa dipanggil betet atau armis (arab miskin). alasan dia ingin jadi ula sawa karena tokoh ini yang berhasil meniduri ida ayu dan menghasilkan anak.

Nadia: Buatku, Arus Balik merupakan salah satu karya terhebat Pramoedya Ananta Toer, selain Tetralogi Buru dan Arok Dedes. Karena keenam-enamnya menggunakan latar belakang sejarah Bangsa Indonesia yang diriset secara teliti oleh Pram dan dimasukkan secara penuh, seakan-akan buku sejarah yang dinovelkan.

Berbeda dengan buku-buku Pram yang menokohkan seseorang yang terkesan membosankan, misalnya kumpulan tulisan Minke asli sang tokoh utama dalam Tetralogi Buru, maupun kumpulan tulisan dan pemikiran Kartini.Buku-buku Pram lah yang membuatku sadar bahwa terlalu banyak kemenangan, kekalahan, perjuangan, maupun penghianatan yang telah dilakukan di Bumi Nusantara, namun manusia-manusia sekarang tidak mengambil pelajaran apapun dari masa lalu. Sayang sekali.

Dibanding Tetralogi Buru maupun Arok Dedes, buku Arus Balik inilah yang paling dekat dengan apa yang aku rasakan sekarang; raja-raja yang memanfaatkan rakyatnya, rakyat yang selalu menjadi korban di tengah-tengah peperangan dan ambisi raja-raja, raja-raja yang saling menyerang untuk melupakan siapa sebenarnya musuh utama yang harus dilawan bersama, dan pahlawan yang mencoba sekuat tenaga namun tidak mampu menahan kemerosotan yang terjadi pada zaman itu. Terdengar tidak asing ya dengan kondisi Nusantara saat ini?

Kata-kata penutup novel Pram yang aku suka;
"Demikianlah cerita tentang seorang anak desa lain yang mengemban cita-cita menahan arus balik. Berbeda dari anak desa lain, yang seorang ini tidak berhasil, patah di tengah jalan, namun ia telah mencoba.

Dan kata-kata penutup dariku:Untuk yang mau belajar dari buku ini, bisa menghubungiku dimana bisa mendapatkannya, karena saat ini setahuku Arus Balik tidak dicetak ulang

Sita: Arus Balik..adalah novel pertama Pram yang saya baca, dan tanpa susah payah mencuri hati saya. Novel epic ini mencatat kejayaan Nusantara berabad-abad silam. Arus Balik, sesuai namanya berkisah tentang betapa arus baik kekuasaan hingga perdagangan terjadi dari Timur ke Barat. Kuat betul nenek moyang kita dulu.. Tapi kejayaan itu tidak berlangsung lama.. karena kelemahan kita juga maka arus berbalik dari Barat menuju Timur. Seperti juga yang mungkin terjadi di abad-abad berikutnya.

Bekas kolonial itu rupanya nggak mudah hilang.. budaya korup, feodalisme, hipokrit, ngaret, adu domba, penjilat, bahkan sesimpel kebiasaan tidur siang sisa penjajahan kongsi dagang Belanda itu yang lebih sulit dimaafkan.

Buku ini menyadarkan saya akan banyak hal. Terutama, dengan kenyataan bahwa saya sangat mencintai tanah air saya, yang diatasnya berlangsung berbagai macam kejahatan yang destruktif!

Review Arok Dedes

Minggu, 04 Maret 2012


Arok Dedes

by Pramoedya Ananta Toer

Kisah Arok Dedes adalah kisah kudeta pertama dalam sejarah kita. Kudeta unik ala Jawa, penuh rekayasa kelicikan, lempar batu sembunyi tangan, yang punya rencana menjadi orang terhormat yang tak terlibat malah menjadi korban yang ditumpas habis.

Hasta Mitra

Ariefmai: keren... Ken Arok adalah seorang pembebas yang moderat di cerita ini sementara Ken Dedes adalah seorang fanatik yang pencemburu. dan Keris Empo Gandring bukan keris secara nyata. Nice

Rinai: This exactly book that I love to read, "fiction based of history", it's help you to memorize the whole stories of history, you can enjoy as well how smart the author each word by word to description the ancient history. I remember when I was in high school I hated History subject because I had memorized the date, the names, and the events. I haven't interested with subject related to memorize, but if history made by fiction, the old and ancient story became more interesting and not make you boring.

If you are interested with Java history, may this book can help to understand better rather you just read from the textbook,"DO NOT 100% believe", you still have compare which is the truth by cross check in other resourches such Wikipedia and History textbook, so you can more wise widely.

Devi: Keren...ceritanya out of box. Pram merubah paradigma sejarah tentang ken arok dan ken dedes. Sejak SD cerita Ken Arok dan Ken Dedes ya berhubungan dengan kutukan Mpu Gandring. Ternyata dalam roman ini cerita bisa lebih masuk akal dan seru karena melibatkan penumpasan klan Tunggul Ametung di Tumampel dengan politik tingkat tinggi.

Upik: huuu...membaca arok dedes...menyadari bahwa ternyata perempuan punya kekuatan tersendiri. maka tak heran jika kemudian dalam faktanya ibu tien lebih berkuasa dari pak harto. siapa yang punya ide tentang taman mini??? banyak orang yang tahu bahwa itu adalah ide ibu tien soeharto. dari sini, saya belajar bagaimana perempuan bermain politik, perempuan yang berjuang untuk membalas dendam akan sakit hatinya yang kemudian dibalut dengan permainan politik yang cantik. anda harus membacanya

Marselina: Salah satu karya hebat (lagi) dari Pramoedya Ananta Toer. Gaya penceritaan yang berbeda membuat halaman demi halaman tidak terasa panjang. Banyak kosa kata khas Indonesia yang diperkenalkan kembali oleh Pram. Ceritanya berkutat dengan intrik antar-manusia dengan segala kerumitannya. Mungkin cerita Arok Dedes sudah sering dibaca dalam buku Sejarah Indonesia, beserta dengan si kutukan Mpu Gandring. Tapi, novel ini memberi warna baru dengan melepaskan unsus magis dari kisah tersebut.

Ani: Membaca Buku ini mirip sekali dengan menyaksikan kudeta pemerintahan yang pernah terjadi di negeri ini, dan saya salut dengan kecerdasan ken arok yang begitu rapi menumpas kejahatan dan perbudakan, walau dia berkudeta dibawah instruksi Lohgawe gurunya karena ada misi lain ingin menyelamatkan Ken Dedes, seorang Brahmani anak Mpu Parwa yang diculik oleh Tunggul Ametung penguasa Tumapel yang jahat dan serakah. Namun ada keganjilan yang menyeringai, karena semuanya penuh muslihat dan muka dua ada dimana mana, baik yang berniat baik maupun jahat, tak ada kejujuran disana, apa memang dunia politik di era kerajaan tempo dulu dan pemerintahan modern sekarang ini harus ada unsur sikut menyikut? ah politik itu memang teka teki.

Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Rabu, 04 Januari 2012

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

by Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku tentang kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer hingga Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.

Lentera Dipantara 2006

Ipung: "Dan ternyata Daendels tidak seluruhnya membangun jalan raya pos itu. Dia hanya mengeraskan dan melebarkannya."

Irwan: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak di antara bangsa-bangsa lain” (Pramoedya Ananta Toer).

Kata itu adalah pembuka saat awal buku Pram yang satu ini. Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels merupakan jalan yang membentang sepanjang 1.000 kliometer dari Anyer sampai Panarukan. Jalan itu dibangun atau lebih tepatnya dilebarkan di bawah perintah Maarschalk en Gouverner Generaal, Mr. Herman Willem Deandels. Yang selesai pada tahun 1809. Lewat buku ini Pram menyeritakan sisi kejam dari pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan air mata dari penduduk republik ini.

Deandels ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda taun 1808. Dia mendarat di Anyer pada 5 Januari 1808. Untuk jamannya , “membangun” jalan Raya sepanjang itu dalam setahun saja (1808) sungguh prestasi besar, karena itu juga namanya mendunia. Deandels merupakan sosok yang kontroversial. Ia di gambarkan sebagai soerang yang berhati baja sekaligus berkepala angin, tak punya kekuatan untuk menghadapi, baik atau buruk, benar atau salah, dan langsung mengancam dengan bentakan akan menembak mati lawan berargumentasi. Penulis Belanda “Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” sendiri menyatakan, Deandels seorang despot yang kejam tidak taktis, dan tak ada bakat diplomat, karenanya tidak cocok bergaul dengan raja-raja pribumi.

Daendels hanya memerintahkan untuk melebarkan jalan menjadi 7 meter. Semua batu peninggian dan pengerasan, rakyat kecil dan para petani yang harus setor serta tanpa imbalan. Atau dengan imbalan, hanya saja orang-orang atasan tertentu yang menerimanya. Bukan rahasia lagi, jaman kompeni adalah jaman maraknya korupsi. Walaupun jaman orde lama, baru maupun reformasi masih dilestarikan korupsi sebagai warisan bangsa.

Ada tindakan Deandels yang menjadi sejarah –semua tindakanya sepertinya adalah sejarah – yaitu ketika dalam perjalanan inspeksi pembangunan Jalan Raya Pos ia mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Usahakan ketika aku datang lagi kesini telah di bangun sebuah kota). Lalu ia menusukan tongkat ke tanah. Tempat menusukan tongkat itulah yang kemudian menjadi titik nol kilometer kota Bandung.
Kebengisan Deandels dalam memerintah karena dia adalah satu-satunya dari 71 Gubernur Jendral yang diterjunkan langsung dari Belanda. Gubernur Jendral biasanya diangkat diantara orang Belanda yang ada di Hindia Belanda. Disamping memenimbulkan kebencian pada rakyat Indonesia, tingkah Deandels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis napoleon –raja Belanda, adik dari Napoleon Bonaparte yang waktu itu menduduki Belanda.
Sehingga pada 1811 ia di panggil pulang dan diganti J.W. Jenssens. Berakhirlah karirnya sebagi gubernur jendral Hindia Belanda.

Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels atau kerap dikenal dengan nama jalan Anyer-Panarukan. Sesuai dengan namanya awal dari pembangunan jalan ini mulai dari Anyer. Anyer merupakan tempat pertama kali Deandels menginjakan kaki di bumi Jawa. Tetapi Anyer yang didarati Deandels bukan Anyer yang sekarang. Pantai dan beberapa desanya telah habis disapu oleh letusan gunung Krakatau tahun 1883.

Setelah itu jalan Raya Pos bergerak 19 kilometer ke arah barat yaitu kota Cilegon, kemudian menyusuri kota Banten, selanjutnya membelok ke selatan menuju Serang. Di kota Serang ini pengarang Belanda Multatuli mendapat inspirasi untuk memebuat karyanya yaitu Max Havelaar, yang memberikan kesaksian betapa rakyat teraniaya oleh penjajah Belanda.
Kemudian di teruskan melalui kota Tanggerang dan dua puluh kilo meter menuju tanah betawi –Batavia. Di Batavia juga di ceritakan betapa terkejutnya Inggris bahwa rakyat hanya menikmati seperempat belas dari hasil pekerjaan mereka. Tiga belas perempatbelas adalah untuk membiayai tata susun feodal pribumi sendiri, kekuasaan kolonial dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Lantas bagaimana petani Jawa bisa bertahan, orang Inggris menJawab sendiri : “Karena Kesuburan Tanahnya.”

Beranjak dari Batavia lanjut menuju kota Depok melintasi Lenteng Agung dan Pondok Cina. Dari namanya daerah ini merupakan tempat kediaman etnis Tionghoa. Di masa VOC, dari surat wasiat tanggal 13 maret 1714 tanah di berikan kepada budak belian yang beragama Kristen dan keturunanya. Salah satu syaratnya dalah bahwa oarng Tionghoa tidak boleh tinggal disitu. Namun sekarang Depok menjadi kota Universitas. Saya termasuk “warga” didalamnya, walaupun menurut saya Depok masih banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Karena mahasiswa di kota Depok banyak juga yang beretnis Tionghoa dan dengan Indeks Prestasi (IP) yang luar biasa –cumlaude— atau sering di sebut IP “dewa”. Pribumi mau tak mau harus mengakui dan banyak belajar dari ketekunan etnis tersebut.

Kemudian dilanjutkan menuju Buitenzorg –Bogor—, tejemahan dalam bahasa Prancis, Sans Souchi, yang berarti tanpa beban pikiran, santai saja. Meninggalkan Bogor menuju Priangan si Jelita. Priangan atau Parahyangan tempat para hyang (=leluhur atau dewa) bersemayam. Kemudian menjurus ke tenggara sampai ke Ciawi di kaki gunung Pangrango. Hanya menuruni beberapa kilometer menuruni lereng gunung Gede dan sampailah di Cianjur,Cimahi, Bandung Parijs Van Java ibu kota Priangan, kemudian menuju kota tahu, Sumedang, dan dilanjutkan ke kota Karang Sembung.

Dari Karang Sembung jalan Raya Pos menuju kota pelabuhan Cirebon. Kemudian secara berturut-turut melintasi kota Losari, Brebes, dan Tegal. Konon orang Tionghoa sudah bermukim di kota Tegal sejak sebelum abad 10. Bisa dipercaya karena Posisi Tegal sebagai gudang beras, dan sampai bangkrutnya VOC menjadi Hindia Belanda.
Enam puluh kilometer ke timur menuju kota Pekalongan kemudian menuju kota Batang, Weleri, Kendal, dan selanjutnya menuju kota Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Meninggalkan Semarang, sekitar dua puluh delapan kilometer sedikit serong ke timur laut menuju kota Demak –kota yang tekenal dengan mesjid Agung Demak. Jalan Raya Pos kemudian menyusuri kota Kudus yang merupakan mata rantai dari penyebaran agama Islam yang juga merupakan industri rokok kretek.

Dari Kudus kemudian menuju kota Pati yang didalam wilayah kabupaten juga terdapat makam yang melambangkan kekacauan berabad dalam alam pikiran. Makam di Tlogowungu itu dianggap bukan saja keramat juga sebagai makam Pandu Dewanta, tokoh pertama Pandawa Lima dari sastra Hindu Mahabaratha. Selanjutnya menuju kota Juwana dan kota perbatasan Jawa Tengan dan Jawa Timur yaitu Rembang.

Memasuki provinsi Jawa Timur masuk ke kota Tuban, kemudian masuk ke kota Gresik. Di sini juga cukup banyak peninggalan lama seperti jangkar tua bermata 4 dengan panjang 3,5 meter. Dan tentu saja makam-makam lama seperti makam Maulana Malik Ibrahim yang dianggap sebagi wali pertama semasa tahap pertama penyebaran Islam di Jawa. Kemudian jalan Raya Pos menuju ke kota Surabaya. Di kota ini Pram untuk pertama kali melihat dan mengenal kata “tawuran”.
Berlanjut beberapa kilometer saja ke selatan sampailah ke kota Wonokromo dan delapan belas kilometer kemudian sampai ke kota Sidoarjo. Selajutnya sepuluh kilometer kemudian sampai ke pusat lumpur di kota Porong. Kemudian jalan Raya Pos melintasi kota Bangil, lanjut kota asal Inul Daratista –Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan dua puluh kilometer menyusur pantai timur laut sampailah ke terminal jalan Raya Pos yaitu Panarukan, yang semasa VOC juga merupakan benteng kompeni sebagai terjemahan keadaan siap perang.

Diakhir bukunya Pram mengatakan “saya tidak pernah berjalan di atas bumu Panarukan….”Jejeran kota-kota dari Anyer sampai Panarukan merupakan sebuah jejeran yang sungguh sangat membosankan jika hanya di tilik dari sejarah dan khas kota tersebut. Namun, Pram bisa menyiasati agar sejarah yang membosankan dan penuh kejumudan menjadi mengasikan dan terkadang membuat tertawa. Karena di buku ini penulis melibatkan diri baik dalam pengalaman maupun dalam argumentasi.

Misalnya ketika masuk ke penjelasan kota Cirebon Pram menceritakn sebuah kenangan yang menurutnya tidak akan mungkin terulang kembali. Di pertengahan 1946, pangkat Pram sudah melompat menjadi letnan dua. Singkat cerita Pram dari Cirebon ingin ke Tegal menuju tempat kopral yang katanya punya saudari perempuan. Celakanya mereka tak menemukan rumah kopral tersebut. Ajaib..!! Dan alangkah kagetnya Pram ketika selesai makan di sebuah hotel besar uang di sakunya lenyap. Kaburlah mereka berdua pada pukul 3 pagi. Karena masih jaman revolusi, suasana malam sangat sepi, namun kemudian mereka sampai ke tempat yang bernama Laskar Rakyat. Tanpa curiga piket setempat menerima mereka, malah menyuguhkan singkong rebus. Pengalaman uniknya sebagai berikut.

“Belum lagi membaringkan badan perutku melintir. Piket menunjukan dimana kamar kecil. Tempat itu gelap tak tembus pandang. Kaki menggeRayangi tahta kakus. Begitu mendapat ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh berbunyi minor. Membersihkan diripun tangan menggeRayangi sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam itu jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masyaallah, ternyata yang kuberaki bukan tahta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam priuk rendah yang masih ada singkong rebus. Celaka, ini bisa jadi tuduhan aku sebagai agen provokator, dan tembak-menembak bisa terjadi dan merembet jadi tembak menembak antara tentara lawan laskar. Kopralku kutarik dari tikar pendopo markas. Sekali lagi kami melarikan diri.” (hal. 79)

Masih banyak lagi pengalaman Pram yang di masukan dalam buku ini. Terdapat pula argumentasi yang menusuk tentang pembuatan jalan 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa. Menurut Inggris korban dari pembuatan jalan tersebut mencapai 12.000 orang. Yang juga merupakan kuburan terpanjang dalam arti sebenarnya maupun kiasan sebagai bangsa yang besar, luas, kaya, tetapi selalu kalah dalam segala hal.

Siwulani: Bahwa negara kita bisa maju dengan cara yang amat memprihatinkan. Belanda menjajah sekaligus membangun negara kita. Buku ini mengandung nilai historis sekaligus geografis.

Edy: Buku ini kayak buku sejarah tetang kota-kota yang dilalui jalan Daendels. Buku ini relatif ringan dibaca dengan alur cerita sederhana meski ditulis dengan bahasa yang bernas ala Pram. Yang menarik adalah untuk nulis buku ini, kemampuan Pram untuk melakukan studi literatur kayaknya sangat dituntut. Menurutku buku ini tidak terlalu istimewa dibanding karya2 Pram seperti Tetralogi Pulau Buru, Perburuan dll.

Astrid: Membaca buku ini menyadarkan saya betapa minimnya pengetahuan saya tentang pulau Jawa , pulau yang harusnya menjadi pulau yang paling saya cintai , tapi apa buktinya ? Ternyata banyak hal yang masih baru yang saya serap dari buku ini.

Menelusuri Jalan Raya Pos dengan membahas satu persatu kota yang dilewatinya tak menjadi membosankan , seperti yang selayaknya dirasakan kalau kita membacanya dari buku teks sejarah di sekolah.

Windy: i've just finished to read this book. it was about the history behind the reconstruction and the making of long road crossing from Anyer to Panarukan, prior Indonesia independence. the writer also add the historical value for each city and town where this road spread over. it more like the notes from his trip, although he never went to the last city where this road ended. he also told a lot about the crime of colonizer. Governor Hermann William Daendels was the implementer of this project. his superior Louis Napoleon - young brother of Napoleon Bonaparte- give a command the compressed the budget. i dont know maybe that is the reason why he implemented rodi or romusha on the worker. rodi or romusha is another face of slavery, this worker was force to work with not sufficient rest and food without get paid. the number of victim is growing larger and larger, the rebellion from local community keep growing. but all the rebels face was VOC, one of biggest commercial organization in europe -could be in the world- at that time. the bamboo was never win against the bayonet. the interesting points was when the writer told us about his unforgettable experience. and about his story when he was being captured and incarcerated. or when the government try to stop him.

this writer has been defeated by Indonesia Government but it was never erode his nationalism. people as smart as the writer, who has high intelegence would understand and know that this land - Indonesia- has been so kind to us. it is the certain number of people who fight for their own interest who lead indonesia in to the demolition. at the end as indonesian people we should be proud of our nation, the land where the hero and the victim of romusha' blood spilled on. if not us ... then who else ...if not Indonesian itself ... then who else ??

Review Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer




Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer

by Pramoedya Ananta Toer

Indonesian comfort women during the Japanese occupation, 1942-1945.

Wirangggeni: berisi tentang kekejaman belanda terhadap para gadis Indonesia yang dijadikan budak.

Herru: Baca dan kalian semua akan dibuat untuk mengerti sejauh apa kepahitan, kesakitan, kesedihan, keputusasaan yang dialami oleh perempuan-perempuan yang disebabkan oleh JEPANG.


Ryan: Catatan Pram yang masih tersisa dari pembakaran buku2 beliau pada masa orde baru. PRDCM, banyak mengungkap data historis tentang pelecehan seksual ribuan perawan jawa pada masa penjajahan Jepang.

Mahe: Lagi...cerita ttg orang-orang yg terlupakan atau bahkan mungkin sengaja dilupakan, jugun ianfu. Kali ini biang keroknya Jepang! Human trafficking! Saat ini masih terjadi...menyedihkan. Pelakunya saudara kita sendiri, menjual anak perempuan sendiri. Menjual anak didiknya sendiri...

Iva: sejarah yang bagus untuk tidak dilupakan begitu saja..
gak bisa membayangkan gimana rasanya jadi gadis2 itu yang dijanjikan sekolah ke tokyo tp ternyata untuk dijadikan pelacur.. setelah Jepang pergi pun hidup mereka harus menanggung malu dan terperosok menjalani kehidupan pribumi jauh di pedalaman...

Azia: gw ga sanggup ngebayangin...gadis2 yang dikirim oleh Jepang untuk belajar agar lebih berpendidikan setelah kemerdekaan Indonesia....masih sangat muda...14thn-20thn...ternyata untuk memenuhi kebutuhan seks tentara Jepang...merekalah jugun ianfu korban-korban tersebut selain cantik2 juga berasal dari keluarga yang cukup berada. anak lurah.anak kades.

sedih banget bacanya...selain karena perlakuan kejam tentara Jepang. setelah Indonesia merdeka, mereka ditelantarkan dan tidak dipulangkan ke indonesia..ada yang di thailand...ada yang di Singapura...mereka pun enggan pulang, karena malu dengan keluarga mereka...sampai saat ini perjuangan mereka masih menuntut pemerintah Jepang atas tindakan tentaranya di perang dunia 2 masih terdengar dari Indonesia, Korea selatan..

Sally: Saya membaca buku ini sekitar bulan April, tahun 2006. Ini adalah non-fiksi pertama Pram yang saya baca. Riset yang sangat baik dari seorang cendikia seperti Pram.
Baru-baru ini saya membacanya lagi. Saya sangat suka bab terakhir dalam buku ini. Bab tersebut berjudul Menjejak Ibu Mulyati Dari Klaten. Dalam kondisi pembuangannya di Pulau Buru, Pram bersama kawan-kawannya mencari jejak seorang wanita Jawa yang menjadi korban "penipuan" tentara Jepang. Mereka yang menjadi korban adalah gadis-gadis pribumi berparas cantik yang terlahir dari keluarga pengreh praja/priyayi. Tentara-tentara Jepang tersebut menjanjikan pendidikan yang lebih baik di Tokyo pada gadis-gadis ini. Namun, seperti yang kita ketahui sekarang, mereka akhirnya menjadi jugun ianfu (gadis penghibur).

Salah satu daya tarik dalam bab ini adalah perjalanan seorang kawan Pram bernama Sarony dalam pencariannya menemui seorang wanita Klaten bernama Mulyati. Ia harus melewati bukit-bukit terjal, menemui suku-suku terdalam dan hidup seperti mereka. Semua itu dilakukannya hanya untuk menemui Ibu Mulyati seorang. Selain itu, gambaran Sarony tentang pulau yang dijadikan tempat pembuangan tawanan politik ini sungguh mengasyikan untuk dibaca.

"Beberapa batang pohon di tebing itu sebagian akarnya berada di permukaan tanah. Akar-akar itu berkaitan satu dengan yang lain, saling melilit, saling mempertahankan, seperti ular besar berkelahi di tepi jurang. Masing-masing berusaha menang dengan ekor tetap berpengangan mencegah jatuh ke dasar jurang.

Dedaunan dan dahan pohon meneduhi jalanan yang kami lalui. Sebagian condong ke atas air. Jutaan serangga merayap naik-turun pada batang lapuk, bekerja membangun istana baru. Sebuah mahligai yang telah mereka tinggalkan tergantung sunyi pada dahan, sebesar guci." (hal. 111)

Pada paragraf tertentu saya menjadi sedikit emosional karena pendeskripsiannya yang sangat baik dan romantis, ini salah satunya:

"Jalan setapak memasuki hutan gempol itu sedikit berair. Anggrek bulan dengan bunga birunya yang sedang mekar menggelantung dibuai angin pagi. Juga jenis anggrek bulan lain dan anggrek merpati ramai bergelantungan pada pohon gempol. Malah serumpun anggrek harimau tenang-tenang mendekam di ketinggian cabang. Bunganya yang kuning berbelang coklat serasa hendak meloncat untuk menerkam. Sayang sekali keindahan alam itu masih belum dapat dinikmati orang buangan ini. Juga tidak oleh penghuni kampung-kampung di gunung. Mereka baru bisa bicara tentang lapar." (hal. 112)

Buku ini semacam surat yang ditulis Pram kepada para perawan remaja masa depan (sekarang?) bahwa dahulu pernah ada sebuah tragedi yang memilukan, mengguncangkan, menakutkan, dan menyuramkan.

Hendra : buku ini mengisahkan penelusuran akan wanita buangan di pulau Buru. Wanita-wanita buangan itu ialah wanita-wanita yang pada tahun 1943-1944 diiming-imingi oleh pemerintahan balatentara Jepang untuk belajar ke Tokyo dan Singapore, dengan tujuan kelak ketika kembali dari menuntut ilmu, dapat berguna bagi nusa dan bangsa Indonesia yang kelak merdeka. Namun ternyata janji itu dusta, mereka, yang masih sangat belia, hanya dijadikan budak nafsu para tentara Jepang.

Buku ini, didasari atas investigasi dari para pelaku langsung maupun tidak langsung, memberi beberapa kesimpulan atas latar belakang peristiwa kemanusiaan tersebut.