Review Sejarah Kecil Indonesia

Minggu, 11 Maret 2012


Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia

by Rosihan Anwar

Kisah-kisah kecil yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia ternyata menarik juga untuk kita ketahui. Kisah-kisah kecil yang penuh dengan human interest tersebut terkadang lepas dari sejarah besar bangsa Indonesia, namun terkadang mempunyai kaitan erat dengan sejarah besar bangsa ini. Beberapa peristiwa yang terjadi saat ini merupakan pengulangan dari kisah-kisah kecil tersebut.

Penerbit Buku Kompas 2004

Septmars: [Resensi ini merupakan tugas bahasa Indonesiaku] Rosihan Anwar merupakan jurnalis dan sejarawan amatir. Sebagai wartawan senior dan pencinta sejarah, dia ingin agar generasi muda tertarik untuk membaca sejarah. Dia juga ingin memberitahu kepada kita tentang kisah-kisah kecil yang menarik, terselip di antara lembaran-lembaran tebal sejarah. Peristiwa-peristiwa yang kadang terlupakan, tetapi erat kaitannya dengan sejarah besar negeri kita tercinta. Agar kisah-kisah ini tidak dilupakan, Rosihan Anwar menulisnya kembali dengan gaya jurnalisme-nya yang khas.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bab yang diberi nama menurut tempat kejadiannya; selanjutnya bab-bab ini dibagi menjadi beberapa sub-bab, yang masing-masing membahas topik-topik sejarah.

Pada bab pertama, kita diajak ke Timor Timur (sekarang Timor Leste) untuk melihat cendana. Dalam bab ini, dijabarkan tentang proses lepasnya Timtim dari pangkuan ibu Pertiwi. Di sini juga ada penjelasan singkat tentang perbedaan kaum mestizo dan penduduk asli Timor. Bab kedua dan ketiga juga membahas separatisme, kali ini di Maluku dan Aceh. Bab keempat menceritakan tentang kudeta Nazi Jerman di pulau Nias. Masing-masing bab menceritakan kisah-kisah yang terlihat tidak penting, tetapi sebenarnya terkait dengan sejarah Indonesia.

Selain kisah-kisah di atas, ada juga cerita tentang wartawan Belanda yang bersembunyi selama 37 bulan dari Jepang. Kisah seorang ulama Banten yang menjadi sahabat Professor Snouck Hurgronje, dan ada juga kisah kecil tentang pertemuan antara Presiden Soekarno dan Menlu Belanda.

Buku ini ditulis dengan gaya lugas dan tajam seorang reporter. Penulisannya singkat, kelas, tidak bertele-tele dan mengikuti kaidah 5W + 1H layaknya penulisan berita. Karena topik dan cara penulisannya cenderung ringan, maka buku ini tidak terkesan berat dan cocok untuk dibaca generasi muda yang kurang suka dengan hal-hal rumit. Tetapi, ada banyak kesalahan tulisan yang luput dari koreksi editor. Dan juga, beberapa istilah-istilah Belanda yang tidak diterjemahkan mungkin membuat bingung pembaca awam.

Buku ini cocok untuk dibaca sejarawan-sejarawan pemula atau generasi muda yang tertarik kepada sejarah. Sebenarnya, kalau dipiki-pikir, semua orang dari semua kalangan bisa membacanya, asalakan mereka mempunyai kecintaan terhadap sejarah.

Regalia: Sejarah selalu menarik untuk diketahui apalagi dipelajari. Bung Karno bilang "Jas Merah" Jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah. Banyak yang bisa di petik, di pelajari dari sejarah, sejarah pribadi, sejarah keluarga, sejarah masyarakat dan sejarah bangsa.

Membaca buku karangan sang wartawan senior Rosihan Anwar menjadi amat menarik, karena menceritakan sejarah dari sisi yang belum dikenal masyarakat banyak secara luas. Seperti judul buku ini "Sejarah Kecil" Hanya menceritakan penggalan-penggalan peristiwa dari berbagai daerah di Indonesia. Buku yang amat menarik terutama untuk pemerhati sejarah seperti saya

Andi: buku ini saya beli secara tidak sengaja ketika jalan2 di gramed. kayaknya judulnya menarik. setelah saya baca, ternyata sangat menarik!!!!
bagi yg belum baca, silakan dibaca ini buku.

Ari: Rosihan Anwar mampu bercerita melalui buku ini detail sejarah Indonesia . Dengan kata-kata yang bagus, dan tidak menjemukan.

Ame: Terlalu menarik, jadi disingkirkan dulu, takutnya ntar selesai baca semuanya, isi bab pertama malah kelupaan.

Bunga: Saya sampai googling dan wikiwalking, untuk tahu apa sih rumusan baku tentang "petite histoire". Dan tidak ketemu, belum. Di pengantar buku ini sih sudah dijelaskan, dan dengan pemahaman yang saya dapat, rasanya buku ini tidak cocok menyandang judul "petite histoire", karena semua sejarahnya tidak ada yang keciiil...

Pertama dibaca sebelum pergi ke Padang, pertengahan Januari lalu. Sampai hari ini, 13 Februari 2009, belum saya lanjut lagi. Terlebih karena saya tak tahu buku ini terselip di mana... :p

Indah: Lama banget kubiarkan nangkring di meja kerja, tapi ga selesai-selesai juga... akhirnya kubawa pulang lagi dan dibaca sampai selesai di kostan aja. Menambah pengetahuan buatku yang nggak begitu tahu sejarah aneksasi Timtim, adanya tentara Jerman di wilayah Indonesia, dll.

Fibi: Sebuah essai tentang sejarah Indonesia yang didasari oleh pengalaman seorang wartawan senior. Asyik bacanya, membuat kita mengetahui sejarah yang tidak tercatat dalam pelajaran sekolah

Review The Lone Samurai






The Lone Samurai: Kehidupan Miyamoto Musashi

by William Scott Wilson

The Lone Samurai adalah biografi monumental Miyamoto Musashi, tokoh Jepang legendaris yang termasyhur di seluruh dunia sebagai master pedang, pencari kesempurnaan spiritual, dan penulis Kitab Lima Lingkaran. Gambaran memukau seorang pemberani bertekad baja muncul di halaman-halaman buku ini. Dengan pengamatan yang penuh bela rasa namun kritis, William Scott Wilson menyelami alam pikiran Musashi ketika sang samurai radikal bergulat dengan gagasan-gagasan filosofis dan spiritual yang tetap relevan sampai sekarang. The Lone Samurai bukan sekadar gambaran hidup sebuah periode menakjubkan dalam era feodal Jepang. Buku ini merupakan kisah pencarian satu orang akan jalan yang benar dalam hidup, dan ganjaran yang akhirnya ia peroleh.

Gramedia Pustaka Utama 2006

Chris: The book the Lone Samurai is about the life of Miyamoto Musashi. The author William Scott Wilson wrote this because he wanted to get a better understanding of the man behind the legend. Which in my opinion the author gives get information of Musashi’s that most do not know.

Musashi is a legend in Japanese history because he is considered the greatest samurai of his time period from about the late sixteenth century to the early seventeenth century. Unlike most samurai of legend Mushashi is a “ronin,” or a masterless samurai. How you became a ronin was your clan was either destroyed by a rival, while you survived, or you were banished from the clan because of disrespect, or because of crimes. Ronin tend to be trouble makers for other samurai clans due to their tendencies to duel great samurai. This is done so that they may be noticed, and possibly assimilated into a clan as an instructor. However didn’t seem to be interested in joining a single clan, although he did favor some clans when going to war.

Musashi was unlike most samurai in the period. Most samurai wore very flashy or nice formal garment with clean hair and skin showing their dominance through wealth. Musashi was described as unkempt, and tended to take baths when he felt like it, and yet he always won. More importantly than his looks; it was his mind set that set him apart from other samurai. Durring many of his duels he would show up late, but not five or ten minutes late; he would show up two to four hour late. Why did he do this? He did this to mess with his opponent’s mind which would lead him to victory. Another thing he would do was use an weapon that was on hand, and in some cases he would use a wooden sword against his opponents.

During his many duels; he never truly lost to any opponent no matter how skilled the opponent he used a mixture of strategy and wit to fight his foes. By doing this he became a legend among Japanese history. If you wish to learn more of the man behind the legend read the Lone Samurai, and you will see the life of Musashi unfold; from his first duel to his last duel; to the writing of his famous book “the book of five rings,” as well as the battles he went through. You will know the life of the arguably greatest warrior of all time.

Halfino: Jadi, ternyata ada dua Musashi: yang historis dan yang fiksi. Musashi fiksi yang banyak dikenal adalah versi Eiji Yoshikawa, yang membangun kembali figur Musashi dengan pemahaman akan aneka latar kehidupan dan filosofi jawara pedang ini, sekaligus mengaitkannya dengan nilai-nilai budaya Jepang. Luar biasa.

Dalam buku ini juga ditampilkan beberapa lukisan tinta dan kaligrafi Musashi yang sangat impresif, juga patung kayu ukirannya. Ini makin menegaskan filosofi Musashi: jalan pedang adalah jalan kehidupan.

Mariana: A very interesting character, a skilled, undefeated warrior and a gifted artist at the same time. The book takes you to a different time - 17th century Japan - and follows the life of Miyamoto Musashi from the time he left home until his death. The author also talks about Musashi's book - "The Book of Five Rings".

Josh: The lone Samurai is based on the life of Miyamoto Musashi. It is a pieced together of scrolls and written accounts of his life as a swordsman, artist, zen master, budist priest, and hermit. Great book! I plan on passing it off to a few friends to read and recommend it for everyone.

Grayson: This is the biography of Miamoto Musashi; the greatest Samurai that ever lived. He was an artist, warrior, and poet. Even if this is not in your related interests, everyone will be astonished by the life this man lead.

Reuben: If you like Japanese history, philosophy in action, and reading a true life story of a legend, then this is a good book. This man was amazing and whose impact is still felt today in Japan and the modern world.

Rahmat: Musashi is one of the great martial artist, philosopher, performed-artist, painter etc. His Zen's influences on his arts is amazing and very meaningful for application in life. Nice book for collections.

Ray: Miyamoto Mushashi, Japanese kensai (sword-saint), definitely one of the greatest swordsmen of all time. During his first 30 or so years, he fought in over 60 duels, loosing none. He also took part in 4 major battles. In his later years he took up painting, sculpting, even writing (his classic The Book Of Five Rings is still in wide use today). He eventually died in his 60s of old age.

But perhaps the most impressive fact is that he did this all as a masterless, wandering swordsman (shugyosha). In medieval Japan, with it's rigid social structure, Musashi managed to live his entire life as a free man, occasionally accepting guest status under a lord but nothing more.

The author (who is the one responsible for translating Hagakure into English) not only tells the tale of Miyamoto Musashi, but takes time to tell the other side when there are alternate accounts of the same event. He also goes into great detail on the artists and monks that Musashi met during his lifetime, and speculates on meetings that probably happened but were not documented.

As an added bonus, the book also includes an extensive chapter on dramatic work about the life of Musashi, not just films but Kabuki theater and the like.

Cahyo: Salah satu biografi terakhir yg gue baca - dan akan sangat gue sarankan; the Lone Samurai - Miyamoto Musashi, karya Wilson. Bahasanya sgt bagus (terjemahannya jg), strukturnya menarik, ulasannya detil, tp nggak kehilangan kejelasan nya maupun juga tdk terjebak mjd bertele2. Buku tsb juga tidak terjebak ke salah satu sisi; tdk memuji2, tetapi juga tidak mencaci-maki. Akan sgt disarankan bila elo terlebih dahulu sudah baca novel nya Eiji Yoshikawa yg segede bantal itu (tapi udah gue baca ulang 20x, hanya dalam waktu 3 tahun, hehe.. My most fave book ever; pertama baca dlm bentuk serial di majalah Hai th 80-an.. Bener nggak sih?).

Tak dapat disangkal betapa besar nya pengaruh Miyamoto Musashi dlm membentuk jiwa bangsa Jepang modern spt saat ini, dan bahkan pengaruhnya pun juga terasa di dunia Barat. Musashi lah, tokoh sejarah satu2nya di seluruh dunia yg seolah tak pernah habis diceritakan dan diceritakan ulang; tentunya semua dg versi masing2 dan mnrt kepentingan sendiri2. Tak jarang masing2 cerita tsb bertabrakan dg seru nya, atau bahkan menggambarkan Musashi scr ngawur - baik dari segi sifat, penggambaran suatu kejadian, maupun lokasi & waktu kejadian. Tetapi dari kesemua versi tsb, tiba2 Yoshikawa Eiji menyodok dg novel Musashi, yg pertama kali diterbikan sbg cerita serial pada sebuah surat kabar Jepang terkemuka.

Semangat Musashi digambarkan dg baik saat nama nya dipilih sbg nama salah satu dari 2 (dua) kapal tempur (battleship) terbesar di Jepang, dan bahkan terbesar di dunia, yg dibangun & diluncurkan menjelang berakhirnya Perang Pasifik. Nama kapal lain nya adalah 'Yamato', yg merp nama kuno Jepang (mungkin spt nama 'Nusantara' utk menunjuk Indonesia). Dari situ dapat terlihat cerminan semangat, harapan, dan pertaruhan bangsa Jepang menjelang saat2 yg sangat menentukan tsb.

FYI, saking menariknya novel tsb, sebagian besar dari kita secara tidak sadar lantas menerima nya sbg suatu kebenaran; sbg sosok Musashi yg sebenarnya! Hal tsb dapat dimengerti karena adanya kebutuhan mendasar kita yg scr psikologis merindukan sosok yg spt kita. Sosok pejuang sejati pencari kebenaran; yg tdk dapat diikat dg kenikmatan, kemewahan, dan kepalsuan duniawi. Sosok yg tegar, jujur, independen, dan gaung nya yg sayup terasa romantis.

Sosok yg karena kemampuannya bersosialisasi dan berdiplomasi dapat berada di mana2, tetapi sekaligus juga tidak berada di mana2. Sosok yg dapat bergaul & diterima oleh semua kalangan; di zaman yg masih mengandalkan pada perbedaan kelas.

Utk pertanyaan, "...Apa sebagus buku musashinya eiji yoshikawa?..". Jawabannya; keduanya JELAS tidak bisa diperbandingkan. Karena hukum dasar perbandingan adalah harus "apple-to-apple"; alias hrs membandingkan hal yg sama persis. Sementara buku Wilson merp BIOGRAFI sedangkan buku Yoshikawa Eiji jelas2 merp NOVEL, walaupun berlandaskan sejarah, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bila kita tela'ah lebih mendalam, akan segera terlihat bhw banyak kasus, atau bahkan sosok, di dalam novel tsb yg ternyata FIKTIF; guna lebih 'menghidupkan' jalan cerita.

Akan tetapi, nah ini dia yg menarik; Yoshikawa Eiji menciptakan tokoh2 fiktif tsb dg pertimbangan teliti, dengan cara membuat personifikasi atas unsur2 dasar dlm kehidupan manusia, maupun berdasarkan prinsip2 Jalan Pedang Musashi. Hal ini dimaksudkan guna mengisi 'bolong-bolong' yg terdapat pada diri Musashi sbg catatan sejarah. Contoh gamblang dapat segera terlihat; Matahachi (karib Musashi) merp perwakilan sifat malas & gampang menyerah, ibu Matahachi merp perwakilan sifat dengki, iri hati, dan kebencian yg membabi-buta, Oetsu merp perwakilan cinta kasih, kepercayaan, kesetiaan, dan ketulusan.. dsb.

Kesemua hal tsb, yg digambarkan scr implisit di dlm novel Yoshikawa Eiji, sebaliknya disebutkan secara sangat eksplisit dalam biografi Wilson, yg didukung dg penelitian sangat intensif dg menggunakan berbagai sumber otentik ttg diri Sang Maestro. Dengan pengamatan yg penuh perhatian tapi tetap kritis, Wilson mencoba menelaah pikiran Musashi sbg seorang samura legendaris dg berbagai ide filosofis dan spiritual, yg masih sgt relevan hingga hari ini, sbgmn relevan pada zaman nya dahulu. Musashi menemukan kedamaian dan kebahagiaan sprititual dalam upaya pencarian cara utk menyempurnakan Jalan Pedang yg dipilihnya, dan akhirnya menyadari bahwa apapun Jalan yg kita pilij utk kita tempuh, pastilah akan menuju pada kesempurnaan.

The Lone Samurai bukan hanya sekedar cerita ttg zaman feodalisme Jepang; biografi tsb jg menceritakan ttg kisah seorang manusia dlm perjalanannya utk mencari jawaban, kesempurnaan, dan 'Jalan' itu sendiri..

Fakta lain yg diungkapkan dlm biografi tsb adalah bhw Musashi tdk pernah mandi selama hidup nya, kecuali hanya membasuhkan handuk dingin ke sekujur tubuh & wajahnya. Dengan demikian, salah satu adegan yg terjadi dalam novel Musashi, di mana beliau masuk & bertahan di bawah curahan ber-ton2 arus deras air terjun (setelah seorang diri membantai puluhan samurai Klan Yoshioka yg terkenal), sedangkan Oetsu terpuruk di tepian karena cinta, tampaknya tidak pernah terjadi --> pdhl ini salah satu adegan terkuat & paling emosional dlm novel yg sangat gue sukai itu..sayang sekali..hiks..:p

Ada bbrp fakta menarik lainnya dlm biografi tsb; terutama yg paling menarik adalah kehidupan Sang Maestro stlh 'duel Pulau Ganryu' melawan Sasaki Kojiro. Duel itu sendiri merp duel satu lawan satu yg paling terkenal dlm kehidupan Musashi, yg lantas merubah jalan hidup nya, dan kelak akan sangat mempengaruhi sejarah bangsa Jepang selama bbrp ratus tahun berikutnya.

Kemudian fakta2 menarik lain ttg kehidupan 'keluarga' Musashi (beliau mengangkat bbrp murid mjd anak nya; salah satu nya, Miyamoto Iori), ttg kebebasannya dan keluasan pergaulannya (termasuk dg kalangan bangsawan & penyair/seniman terkemuka saat itu), dan ttg betapa sbnr nya Musashi juga terkenal dlm banyak bidang lain di luar perkelahian dg pedang - yaitu sbg pemahat, pelukis, seniman minum teh, seniman kaligrafi, pelempar pisau ulung, arsitek pertamanan, ahli strategi, ahli tata kota (planologi), dsb.

Btw, dari buku itu, gue tertarik utk eksplorasi lbh jauh dg cara beli buku sampingannya - yg saling melengkapi & banyak sekali disebut2 dalam pembahasan buku biografi tsb (kmrn, beli di amazon jg);

The Unfettered Mind - Takuan Soho
(pendeta Zen pengembara yg mjd guru spiritual nya Musashi, dan pencipta 'Acar Takuan' yg hingga skrg msh mjd makanan pendamping wajib di Jepang). Buku tsb disebut2 sbg saling melengkapi dg The Books of Five Rings. Dan tentunya..

The Books of Five Rings - Miyamoto Musashi
kitab ke-3 & terakhir karya Musashi, yg diselesaikan hanya bbrp saat sblm beliau wafat. Berisi konsep Jalan Pedang yg diyakini & diamalkannya, strategi tempur, dan pedoman2 lain. Sejak terbit hingga skrg luas dibaca di barat & seantero dunia sbg Buku Strategi Manajemen yg mumpuni; bersaing dg Kitab Perang Sun Tzu. Hanya saja perlu diingat, bhw kitab Musashi yg fenomenal tsb tnyt tidak berisi ttg metode2 "How To", tetapi utama nya berisikan konsep2 pengendalian diri yg adiluhung, di mana keahlian kita telah berkembang sedemikian rupa hingga telah mjd bagian dari diri kita & kesadaran kita sendiri, yang bersatu mjd 'kehampaan'. Atau disebut juga 'Konsep Bergeming' (terjemahan Gramedia dlm 'the Lone Samurai' yg mnrt gue agak kurang pas) - bergerak tapi tidak bergerak, berpikir tapi tidak berpikir. Singkatnya (penafsiran pribadi gue) mungkin dapat disebut sbg 'Just Do It', jangan kebanyakan pikir2 nanti gimana.

Hints: mungkinkan pengarang buku laris "Blink" terpengaruh oleh konsep Musashi tsb? Setahu gue, the Unfettered Mind blm diterjemahkan (adakah rekan yg tahu barangkali ada penerbit yg merencanakan penerjemahan buku tsb?). Sedangkan the Books of Five Rings pernah gue beli terjemahannya 3 th lalu (Kitab Lima Cincin) di toko buku Newsstand, Pasar Festival, Kuningan. Sayangnya, buku tsb skrg sulit dicari; mungkin karena diedarkan oleh penerbit kecil dg modal kecil pula (3,000 exp only?). Sayangnya lagi, buku tsb terlihat jelas HANYA merp ringkasan kasar dari pikiran2 Musashi, dan ternyata merp terjemahan dari Thomas Clearly, dan bukannya Wilson. Kelebihannya, buku tsb juga memuat buku "Sejarah Keluarga" karangan Yagyu Munenori. Kitab tsb sendiri merp pusaka keluarga Daimyo besar & terkenal Klan Munenori; yg merp pendekar pedang dg gaya pedang tersendiri. Selain berisikan metode pedang, kitab tsb juga berisikan berbagai hal lain yg tak kalah menariknya.

Lebih jauh, sbnrnya sih, Clearly juga merp seorang penerjemah karya2 Jepang (dan Timur) yg cukup terkenal. Tapi spt nya cara penulisan (dan pemahaman) Wilson jauh lbh menarik; just a though. Faktanya; Wilson merp penerjemah edisi bhs Inggris novel-nya Yoshikawa Eiji.

FYI, adapun the Books of Five Rings diterbitkan dlm bhs Inggris baik oleh Clearly maupun Wilson. Tetapi pilihan gue tentu tetap pada Wilson (karena alasan2 di atas). Dan walaupun gue udah punya edisi Clearly versi bahasa Indonesia yg ringkas itu, kmrn gue tetap beli edisi Wilson versi bhs Inggris. Mudah2an akan jauh lebih berguna..:p


Review Arus Balik

Jumat, 09 Maret 2012



Arus Balik: Sebuah Epos Pasca Kejayaan Nusantara di Awal Abad 16

by Pramoedya Ananta Toer

Semasa jayanya Majapahit, Nusantara merupskan kesatuan maritim dan kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi. Arus bergerak dari selatan ke utara, segalanya: kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya dan cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan ke 'Atas Angin' di utara. Tapi zaman berubah...

Arus berbalik -- bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara... Perpecahan dan kekalahan seakan menjadi bagian dari Jawa yang beruntun tiada hentinya.

Wiranggaleng -- pemuda desa sederhana, menjadi tokoh protagonis dalam epos kepahlawanan yang maha dahsyat ini. Dia bertarung sampai ke pusat kekuasaan Portugis di Malaka, memberi segala-galanya -- walau hanya secauk pasir sekalipun -- untuk membendung arus utara.
Masih dapatkah arus balik membalik lagi?

Karya Pramoedya Ananta Toer Sebuah epos besar dari seorang penulis besar

Hasta Mitra 1995


Gianti: gue baca buku ini wkt menjelang UAS SMA, trus ceritanya mlm menjelang UAS Sejarah, gue mls bgt bljr krn ga tahan pgn ngelanjutin baca buku ini.. Akhirnya gue tinggalin belajar n baca buku ini aja.. and guess what happened..
besoknya, di ujian Sejarah gue muncul pertanyaan esai ttg kerajaan Demak, dan gue jwb persis seperti apa yg gue baca di novel Arus Balik mlmnya!!

kalo gue ga baca ni novel gue ga akan bs jwb tu, soalnya gue sm skali ga baca buku pljrn bag kerajaan Demak..

Prie: Kabarnya ini salah satu karya mas Pram yg awalnya cuma dikonsep di otak, tanpa ditulis, karena saat itu mas Pram sedang dipenjara dan tidak diperbolehkan menulis. Setelah keluar dari penjara baru dituliskan. Kebenaran cerita ini, ga jelas...

Ceritanya tentang pergeseran perdagangan yg tadinya nusantara sebagai tempat paling ramai perdagangan lautnya, bergeser ke arah eropa sejak kedatangan bangsa eropa. Penggalian sejarahnya betul-betul memikat, sehingga kepahlawanan Adipati Unus betul-betul tergambarkan kehebatannya.

Satu yg muncul setelah baca buku ini, "Indonesia ini bangsa yg besar...."

Nini: Satu buku Pram yang saya cari-cari dan akhirnya ketemu. Seperti biasa, detil, runtut, memikat. Rasanya, salah satu yang terbaik dari Pram selain Tetralogi Buru. Arus Balik mengisahkan Nusantara pasca Majapahit, saat di mana kolonialisme (Portugis/Peranggi) mulai masuk, begitu pula Islam (juga Kristen). Tentang peradaban baru, tentang arus yang berbalik. Seperti de javu, seperti kini kita menghadapi teknologi dan hal-hal yang baru. Ada gagap dan canggung di situ.

Arus Balik. Tentang kejayaan yang pernah singgah. Saudara saya berpesan, boleh baca buku ini, tapi jangan larut pada romantisme masa lalu. Buku ini buku yang getir. Tampaknya saya memang harus mengamini pesan saudara saya itu.
Rangga: if there are any books that deserve to be called as "magnum opus", this might be one of them.

Arus Balik pictures the transition of Nusantara from hindu-budha age to Islamic age and from kingdom's age to the colonial age. if you ever read history book that usually used in our school, you will see 180 degrees different point of view from this book. Pram shows you political intrigue among kingdoms, and the "bad" side of leaders. but he also show what is the meaning of bravery through the figure of "wiranggaleng" and adipati unus.

and in the last part of this magnificent novel, pram leave a reflection for us "long time ago the south went and occupied the north economically and territorially. but now why is it the north come to the south, occupy us like we had ever did before?"

Boti: aku bisa beli buku ini karena aku menang judi togel. aku senang, sampai2 sampulnya ku bikin hard cover. tapi kesenangan itu tidak berjalan lama. ternyata ada dua halaman yang tidak tercetak. aku kecewa. sedih. buku ini juga mengingatkanku pada teman2 waktu kuliah. pada waktu itu teman2 pada gandrung pada buku ini. pernah terlontar percakapan seandainya buku ini di buat film. banyak teman2 yang ingin jadi wiranggaleng. terus untuk ida ayu nya dani melissa suwando. seorang teman dari bali yang jadi bunga kampus pada waktu itu. cantik dan montok. tapi ada satu teman yang nyleneh. dia pingin jadi si ula sawa. tampangnya cukup meyakinkan. orang jawa tapi hidungnya betet seperti arab. di kampus dia biasa dipanggil betet atau armis (arab miskin). alasan dia ingin jadi ula sawa karena tokoh ini yang berhasil meniduri ida ayu dan menghasilkan anak.

Nadia: Buatku, Arus Balik merupakan salah satu karya terhebat Pramoedya Ananta Toer, selain Tetralogi Buru dan Arok Dedes. Karena keenam-enamnya menggunakan latar belakang sejarah Bangsa Indonesia yang diriset secara teliti oleh Pram dan dimasukkan secara penuh, seakan-akan buku sejarah yang dinovelkan.

Berbeda dengan buku-buku Pram yang menokohkan seseorang yang terkesan membosankan, misalnya kumpulan tulisan Minke asli sang tokoh utama dalam Tetralogi Buru, maupun kumpulan tulisan dan pemikiran Kartini.Buku-buku Pram lah yang membuatku sadar bahwa terlalu banyak kemenangan, kekalahan, perjuangan, maupun penghianatan yang telah dilakukan di Bumi Nusantara, namun manusia-manusia sekarang tidak mengambil pelajaran apapun dari masa lalu. Sayang sekali.

Dibanding Tetralogi Buru maupun Arok Dedes, buku Arus Balik inilah yang paling dekat dengan apa yang aku rasakan sekarang; raja-raja yang memanfaatkan rakyatnya, rakyat yang selalu menjadi korban di tengah-tengah peperangan dan ambisi raja-raja, raja-raja yang saling menyerang untuk melupakan siapa sebenarnya musuh utama yang harus dilawan bersama, dan pahlawan yang mencoba sekuat tenaga namun tidak mampu menahan kemerosotan yang terjadi pada zaman itu. Terdengar tidak asing ya dengan kondisi Nusantara saat ini?

Kata-kata penutup novel Pram yang aku suka;
"Demikianlah cerita tentang seorang anak desa lain yang mengemban cita-cita menahan arus balik. Berbeda dari anak desa lain, yang seorang ini tidak berhasil, patah di tengah jalan, namun ia telah mencoba.

Dan kata-kata penutup dariku:Untuk yang mau belajar dari buku ini, bisa menghubungiku dimana bisa mendapatkannya, karena saat ini setahuku Arus Balik tidak dicetak ulang

Sita: Arus Balik..adalah novel pertama Pram yang saya baca, dan tanpa susah payah mencuri hati saya. Novel epic ini mencatat kejayaan Nusantara berabad-abad silam. Arus Balik, sesuai namanya berkisah tentang betapa arus baik kekuasaan hingga perdagangan terjadi dari Timur ke Barat. Kuat betul nenek moyang kita dulu.. Tapi kejayaan itu tidak berlangsung lama.. karena kelemahan kita juga maka arus berbalik dari Barat menuju Timur. Seperti juga yang mungkin terjadi di abad-abad berikutnya.

Bekas kolonial itu rupanya nggak mudah hilang.. budaya korup, feodalisme, hipokrit, ngaret, adu domba, penjilat, bahkan sesimpel kebiasaan tidur siang sisa penjajahan kongsi dagang Belanda itu yang lebih sulit dimaafkan.

Buku ini menyadarkan saya akan banyak hal. Terutama, dengan kenyataan bahwa saya sangat mencintai tanah air saya, yang diatasnya berlangsung berbagai macam kejahatan yang destruktif!