Preview Novel Manjali dan Cakrabirawa Part 2

Sabtu, 27 Agustus 2011

Farah Hidayati: Membaca buku Manjali dan Cakrabirawa karya Ayu Utami dengan tokoh utama Marja gadis 19 tahun, membuat saya teringat dengan diri pada usia yang sama.
Gadis daerah, berkiblat pada sesuatu yang moderen: kota besar, Jakarta, luar negeri. (Itulah rasanya yang juga menjadi alasan saya memilih jurusan arsitektur, terpesona dengan bangunan tinggi yang tak ada di kota tempat tinggal saya.)

Seperti remaja kebanyakan saat itu. Saya buta dan tidak peduli dengan sejarah (Apalagi candi-candi karena saya lahir dan besar di Kalimantan yang candi-candinya tidak sebanyak di Jawa) Walaupun pada waktu SMA nilai sejarah saya 9, ini bukan karena saya peduli sejarah, tapi karena saya suka ‘cerita’. Toh sejarah bagi kita yang tak mengalaminya, pada hakikatnya adalah ‘cerita’ yang konon pernah nyata.

Saya pikir di sinilah misi penting buku ini: untuk membuat ‘orang muda yang tak peduli sejarah’ menjadi melek sejarah. Paling tidak setumpuk batu-batu memiliki kisah yang lebih menarik. Ayu Utami menafsirkan ulang situs-situs yang diliputi cerita setengah dongeng. Dirangkai dengan plot bergaya detektif, bermodalkan misteri, pemecahan teka-teki, dan bahasa yang indah khas ayu utami.

Saya pernah membaca/mendengar komentar pembaca Bilangan Fu yang menganggap buku itu penuh khotbah. Pada buku kali inilah Ayu Utami saya pikir menegaskan, bahwa ia (mungkin) memang berniat demikian. Bagaikan seorang ‘professor yang telah menelaah banyak hal’ ia menjelmakan dirinya ke dalam tokoh Jacques si peneliti tua asal prancis, dan Parang Jati, yang keduanya banyak berdialog dengan ‘gadis bodoh yang selalu ceria; Marja’.

Kalau memang demikian, kenapa tidak?
Dan walaupun sudah angkatan jadul, saya senang kok membaca buku ini…
I wish I read this book when I was 19… Better late than never right?

Ita Hm: Analisa sejarah yang kuat. Penuh dengan gejolak dan mistis. Sangat terkesan bila penulis adalah seorang perempuan yang 'liar' dalam memandang sebuah hubungan;asmara, persahabatan dan sosial.
Tokoh utama perempuan -Manjali- seperti dibuat sebagai pelantara penyampaian idealisme penulis sebagai seorang 'perempuan' yang cerdas, moderen namun 'sensitif'. Sementara tokoh utama lelaki -Cakrabirawa- disosokkan sebagai seorang indonesia yang (seperti reinkarnasi)dari masa lalu; bersih, bermoral baik, bernasionalisme dan bertokoh jagoan wayang (indonesia banget deh).
Dua sisi tokoh yang berbeda inilah yang membuat cerita asmara dalam buku ini menjadi penuh gejolak. Sementara, uraian sejarah dengan paparan latar tempat dan kejadian tampak begitu 'hidup' ditambah dengan bumbu2 mistisnya yang kuat.
Namun banyaknya pengulangan (meski ditulis secara isyarat) dari sudut pandang Manjali terhadap sosok kelelakian Cakrabirawa, membuat alur cerita menjadi agak membosankan. Untungnya penulis menyisipkan dialog kocak -antara Manjali dan Kapster waria- membuat novel ini tetap menggairahkan untuk dibaca berkali-kali. :)

Astrid Reza: it's funny how the story went a bit flat at the end. too flat somehow. everything become too obvious in the middle and it's not a riddle thing anymore.

i enjoy saman, the first few chapters of larung and bilangan fu. but somehow i'm a bit lost with this book. somehow ayu lost the intensity of her writing. it's way lighter reading compare to her past works, but yeah, i do feel a bit lost. it's too regular stories to my taste. or is it just me because all the issues she's trying to carry in this novel are all too familiar for me.

i even can point out that, she's trying to bring in gerwani issue to the reader, but saying it as "satu payung dengan PKI" is a big mistake. because gerwani never been in "satu payung" but "satu haluan" with PKI. they remain to be separated organization till the end of the 1965 incident. the effort to remains blur with this tiny little mistake (but huge to our history).

though, i'm still looking forward for the series

Gieb: Sekitar tahun 2000, saya dengan berbekal kamera Pentax MX pernah mendaki Gunung Penanggungan. Ditemani oleh beberapa rekan, rencananya kami akan mendokumentasikan artefak candi yang memang berceceran di gunung itu. Kami menginap di lokasi candi pertama yang kami temui. Sayangnya, saya sudah lupa nama candi itu. Cuma saya ingat, di lokasi candi itu terdapat makamnya. Pengalaman saya ini muncul kembali begitu saya membuka lembar-lembar pertama Novel Manjali dan Cakrabirawa ini. Apakah candi yang saya jadikan tempat menginap dulu itu adalah Candi Calwanarang seperti yang ditulis dalam buku ini?

Selanjutnya, buku ini memang benar-benar membawa saya ke ingatan tentang pengalaman menjelajah Penanggungan dan Trowulan. Setting tempatnya begitu akrab dan dengan lamat-lamat saya bisa menjadi Parang Jati. Tapi saya kesulitan memposisikan Marja. Siapakah Marja dalam kehidupan personal saya sebagai Parang Jati? Ah tapi itu perkara lain. Yang jelas, buku ini memang membuka ingatan saya tentang begitu terobsesinya saya dengan candi-candi dan makam-makam kuno. Jadi kangen kembali menelusuri tempat-tempat seperti itu. Bertemu dengan banyak orang dan banyak makhluk. Termasuk makhluk halus.

Elfi Elfi: Berhasil menyelesaikannya dlm hitungan hari, setidaknya lebih baik mengingat Bilangan Fu sampai sekarang belum juga kelar :(
Padahal gw sempet bacanya dlm perjalanan doang, apa karena di buku ini ada sedikit bumbu2 percintaannya sehingga lebih mudah diterima oleh otak gw yak :P

Masih dengan tokoh yang sama dengan Bilangan Fu, tapi kali ini Marja mendapatkan porsi yang lebih besar untuk diceritakan. Membaca cover belakang dan ceritanya yang menggantung sepertinya akan ada lagi seri2 selanjutnya dengan tokoh yang sama.

Ceritnya masih berhubungan dengan sejarah Indonesia, senang karena jadi dapat pengetahuan baru ttg sejarah dan budaya, yang sama seperti Marja (walopun gw ga tinggal di metropolitan) kok gw ga ngerti apa2 ttg sejarah bangsa, pengetahuan gw hanya sebatas pelajaran sejarah di sekolah yang kok ya selalu dapat guru membosankan sejak SMP. Wondering, apa rata2 guru sejarah begitu semua yaaa...

Wisnu Sumarwan: Saya bukan penulis profesional. Saya juga bukan pembaca yang terlalu rajin. Jadi, pengetahuan saya masih sangat dangkal dibanding penulis-penulis yang mungkin telah menerbitkan buku-buku bestseller.

Namun, sebagai orang yang takterlalu paham, saya merasa ada yang janggal saat selesai membaca Manjali dan Cakrabirawa karya Ayu Utami. Saya merasa ada yang kurang matang dan terdapat kesan terburu-buru. Saya tidak tahu bagaimana proses penulisannya. Akan tetapi, selesai membaca buku tersebut saya merasa seperti baru saja makan masakan yang terlalu cepat diangkat. Bumbunya kurang meresap dan masih ada potongan yang mentah. Data-data sejarah seperti aksesoris tempelan untuk menyampaikan pendapat subjektif sang penulis. Sehingga peran "orang ketiga segala tahu" sangat besar dalam buku ini. Terutama untuk mengaitkan bentuk-bentuk kebetulan yang coba dirangkai. Seperti kutipan dalam buku ini "Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?" Dan sang penulis memang sukses untuk membuat saya mengakui bahwa tidak ada kebetulan dalam buku tersebut. Orang ketiga segala tahu itu ternyata terlalu tahu dan mengambil alih jalan cerita dari tangan karakter-karakter dalam buku ini.

Orang ketiga segala tahu itu seperti sedang mencoba mendikte pemikiran saya, terlebih mengenai apa yang seharusnya saya pandang tentang peristiwa G30S/PKI. Dalam buku ini, saya merasa segala sesuatu dikutubkan. Kalau tidak benar ya berarti salah. Kalau tidak sedih ya berarti gembira. Kalau tidak nafsu ya berarti sedang mengendalikan nafsu. Kalau bukan orang baik berarti orang jahat. Areal abu-abu dan netral seperti hilang. Padahal, bukankah di dunia nyata sebenarnya areal kelabu-lah yang paling luas?

Saya jadi ingat kutipan dari buku Terbunuhnya Profesor Posmo karya Arthur Asa Berger : "Tiap orang adalah predator. Kalau bukan predator, merekalah korbannya. Dan semuanya berjalan mulus, sampai pada akhirnya kita dapati yang terburuk dari kedua dunia: korban yang predatoris dan predator yang dikorbankan".

Sehingga, saya merasa banyak sekali hal yang terlalu hitam-putih dalam buku ini, termasuk karakter-karakter di dalamnya. Jika Marja tidak bercinta dengan liar maka ia manut-manut saja. Jika Parang Jati tidak sedang terkendali maka ada sorot hewan di matanya. Jika Yudha tidak merasa benar maka ia merasa bersalah. Jika Jacques sedang tidak lembut, maka ia sedang marah-marah. Akhirnya, saya jadi merasa kalau karakter-karakter dalam buku tersebut tidak normal dengan emosi yang selalu jatuh di titik ekstrem.

Plus banyak sekali penghakiman. Marja menghakimi Yudha. Jacques menghakimi Marja. Parang Jati menghakimi Jacques. Jacques menghakimi 'arkeolog jawa'. Dan entah mengapa, saya kok merasa bahwa orang ketiga segala tahu tidak berhubungan secara netral dengan cerita. Orang ketiga segala tahu sibuk membenarkan penghakiman-penghakiman tersebut.

Satu lagi yang saya perhatikan: adegan-adegan seks di dalamnya. Saya jadi merasa kalau buku ini sangat 'posmo'. Saya merasa hubungan antara cinta dan seks agak kabur, bahkan seperti ada penyamarataan. Karena Marja tiba-tiba jatuh cinta pada Parang Jati maka tiba-tiba setiap saat Marja ingin 'nyelip' di pangkuannya. Karena Yudha tidak cinta pada 'Pelacur trio Macan' maka ia hanya mengajaknya ngobrol-ngobrol saja dalam kamar. Bukannya saya ingin Yudha dibuat bercinta dengan pelacur trio macan itu, tapi saya merasa bahwa cinta diidentifikasi dengan seks. Karena Marja sedang jatuh cinta, maka setiap saat ia ingin berhubungan seks dengan Parang Jati. Jujur, keterbatasan pengetahuan membuat saya agak bingung dan rancu untuk melihat bagaimana seks dan cinta dihubungkan dalam buku ini.

Ini sedikit apa yang saya rasakan setelah membaca buku ini. Perasaan anda bisa saja berbeda. Jika ada yang mau menjelaskan, saya dengan senang hati akan mendengarkan. :)(

Ririn Miu: dibuat tanpa membaca bilangan fu terlebih dahulu jadi saya tidak mengerti jika adanya hal2 yang terlewat.

manjali dan cakrabirawa berusaha menceritakan tentang perpaduan kisah mitos calwanarang vs airlangga, pki vs orde baru, dan dibenang merahkan oleh kisah cinta segitiga antara tiga remaja: parang jati, marja manjali, dan sandi yuda.

1. marja manjali: gadis remaja 19 tahun yang besar di ibukota sehingga tidak familiar dengan mitos dan sejarah negeri (which is normal in this era) dan mungkin sedikit ababil alias abege labil.
2. parang jati: pemuda bermata bidadari yang bersahabat dengan sandi yuda dan marja (via yuda), ia memahami mitos dan legenda dan membenci militer. ujung2nya dia tergoda juga dengan keluguan dan kemolekan marja, kekasih sahabatnya sendiri.
3. sandi yuda: pemuda liar tipe bad-boy, kekasih marja dan sahabat parang jati, ia memiliki ketertarikan pada militer. yang patut dikagumi dari yuda adalah meskipun ada kesempatan untuk 'main' dengan wanita lain, dia tidak melakukannya. sampai di sini tokoh favorit saya adalah dia ;)

selain itu ada tokoh2 lain, misalnya jacques, arkeolog prancis yang jatuh cinta pada candi2 (?!) dan juga berperan di awal2 buku sebagai mak comblang jati-marja; musa wanara, anggota militer kenalan yuda yang tergila2 'ngelmu' dan berusaha mendapatkan mantra bhairawa cakra; tokoh lainnya adalah ibu satinem a.k.a. murni, mantan gerwani zaman pki yang hidup menyepi di hutan.

bravo buat ayu utami yang memang harus diakui luar biasa dalam peracikan dan penguntaian kata dan kalimat yang indah dan enak dibaca. beliau mendendangkan kisah mengenai legenda2 kuno dan juga kisah konspirasi zaman pki (tentu saja sesuai idealisme beliau - tapi bukankah itu memang tugas utama seorang penulis? untuk meyakinkan pembaca akan paham yang ia percaya dan menanamkan kebenarannya - alih-alih subjektif - kepada pembaca?).

mendekati akhir buku kita dikejutkan oleh sebuah surat (deus ex machina? - because every book needs one) yang menjelaskan (or not) tentang kebenaran mantra bhairawa cakra dan juga letaknya. yang lebih mengejutkan adalah penemunya adalah marja, si gadis kota yang biasa2 saja di awal buku kini telah menjadi gadis yang berpikiran dewasa dan pandai (terutama memecah kode2 dengan bantuan gambar dan lewat mimpi O_o). ternyata di sepanjang buku dia tidak hanya sibuk ngiler memandangi parang jati yang ganteng tp juga menyimak kisah2 yang jati ceritakan - oh, terutama dongeng penunda birahi yang diceritakan jati malam2 saat mereka berduaan di tenda O__O selain itu diketahui juga rahasia masa lalu tentang identitas sebenarnya musa wanara.

Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka?

bedanya kebetulan2 dalam sinetron (si X ternyata anak si Y yang dibuang waktu kecil dan diberikan pada si Z) dengan kebetulan2 di buku ini (si X ternyata anak si Y yang diberikan pada pasangan Z karena suatu sebab) adalah cara penuturannya dengan kalimat2 yang indah dan mitos serta nuansa mistis yang melingkupinya. Ah, kok malah ngomongin sinetron ;)

penuturan = 5 bintang
riset = 3 bintang
karakter = 1 bintang