Preview Novel PUTRI CINA

Sabtu, 27 Agustus 2011

Putri Cina

by Sindhunata

Kita datang ke dunia ini sebagai saudara,

tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah,

yang ternyata hanya memisahkan kita?


Itulah tragika anak manusia yang digeluti oleh novel Putri Cina ini. Novel ini melukiskan, bagaimana anak manusia itu ingin mencintai bumi tempat ia berpijak. Tapi ternyata bumi tersebut tak mau menjadi tanah airnya yang aman, damai dan tentram. Ia yakin, dengan dilahirkan di dunia, semua manusia adalah saudara. Tapi mengapa manusia-manusia di bumi tempat ia berpijak itu tak mau menerima dirinya sepenuh-penuhnya?

Sindhunata berhasil menerjuni tragika itu dalam pelbagai lika-likunya. Ia menggeluti tragika itu lewat pengetahuannya yang luas dan kaya tentang filsafat dan mitos, baik Jawa maupun Cina. Tragika itu juga ditelusurinya lewat babad dan sejarah. Lalu dijalinnya semua itu dalam sebuah sastra tentang Putri Cina.

Putri Cina adalah sebuah sastra tragedi yang indah dan kaya akan permenungan hidup. Dengan cara bertuturnya yang khas, novel ini akan membawa pembacanya ke dalam sebuah alam, di mana mitos dan kenyataan historis sedemikian bersinggungan tanpa pernah terpisahkan. Di sini sejarah seakan hanyalah panggung, tempat tragika mitos mementaskan dirinya.

Dengan amat menyentuh, novel ini berhasil melukiskan, bagaimana di panggung sejarah

yang tragis itu cinta sepasang kekasih yang tak ingin terpisahkan oleh daging dan darah pun akhirnya hanya menjadi tragedi yang mengharukan hati.

Preview

Saya: MEMBACA PUTRI CINA INI, KITA MULAI BERPIKIR BAHWA TERNYATA NENEK DARI RAJA-RAJA JAWA ITU ADA YANG BERASAL DARI NEGERI CINA/ORANG CINA...JADI TOLONG, INDONESIA BUKAN MILIK ORANG PRIBUMI DONG (seperti kata penjajah BELANDA itu)

I'm on page 120 of 304 of Putri Cina: Putri Cina menyaksikan bagaimana sukubangsa mereka ditumbalkan oleh pribumi yang saling bertikai.. pribumi2 yang menyedihkan, yg hanya bisa isi dan dengki tanpa berusaha...itulah pribumi INDONESIA

Gonk Bukan Pahlawan Berwajah Tampan: 2 tahun ini tiap tujuhbelasan kok ya mesti kepengen membacai buku ini....

An: Sejarah or fiksi? Dongeng lebih tepat na.

Dlm bagian setengah awal buku ini dpt mpkaya dongeng or legenda yg tjd d tnh jawa.

Awal na tampak spt pcarian identitas si putri cina, menarik utk diikuti. Sayang tlalu ribet pencarian tsb sampe penulis kebingungan sdr seakan menyebut semua cewe’ cina dsb purti cina. Identitas tokoh tampak buram, jadi siapa putrid cina? Dia makluk abadi yg hidup sepanjang jaman or memang benar semua cewe’ cina? Trus mana putri yg asli, yg bukan putra kli ya….. hehehehe…

Sampai akhir na bkisah ttg giok tien. Nah di sini baru mapan. Mungkin smua awal na spt debu yg g m’akar. Mulai dr sni crita bs tampak jelas juntrung na.

Smua dongeng mengisahkan sejarah or mitos ptikaian yg tjd antar manusia. Apakah ini seakan membenarkan smua ptikaian slm ini tjd? Ntah, rhe juga g tau. Tserah dongeng itu mw diinterpretasikan spt apa.

Mitos yg menetaskan diri dari sejarah shg hny tampak spt lakon wayang saja. Jk mmg sejarah pudar sebagai mitos, pantas saja kaum muda g mengenal sejarah bangsa na cz mereka sdh tlalu dicekokin dongeng. Jadi antara fakta sejarah tersamarkan ma imajinasi mitos. Sedih… melihat sejarah hilangan akar ‘n digantiin mitos ma dongeng semata.

Lepas dr dongeng yg mengaburkan sejarah, keberadaan na dianggap sumber permenungan bagi pendengar na. Spt tema yg diangkat putrid cina ttg pbedaan etnis dan ketidak adilan yg ditimpakan pd mereka sbg kambing hitam kekuasaan. Memberitahu kita spy jangan semena” thadap etnis cina cz selama ini mereka hny boneka yg dpelakukan g adil. Namun disamping itu, ntah knp dkisahkan seakan org cina adl org lemah thd ktidakadilan tsb cz mrk g mlakukan plawanan ‘n pasrah dg ketidakadilan yg mereka terima. Nah, dr sisi ini rhe juga g setuju cz menampakan bahwa orang jawa tampak sangat arogan, tukang semena”. Benarkah?

Toh fakta na, g semua orang cina baik ‘n g smua org jawa jahat dalam kasus pselisihan antar etnis ini. Sama” manusia yg dlahirkan k dunia, mengapa kita bukan saudara???

Franditya: Sindhunata, seorang penulis novel yang menjadi karya sastra klasik: “Anak Bajang Menggiring Angin” (1983), terinspirasi dalam sebuah pameran lukisan dan berkenan hati untuk menuangkan imajinasinya ke dalam tulisan apik berjudul “Putri Cina” (2007). Kepiawaiannya dalam menafsirkan mitologi Jawa dalam berbagai serat dan babad, terutama Babad Tanah Jawa, nampaknya menjadi sumber utama dalam menarasikan kisah Giok Tien, tokoh utama dalam cerita itu. Babad Putri Cina yang sedianya menjadi katalog pendamping pameran lukisan itu, dengan tangan dingin, dibuatnya menjadi karya sastra kritis tentang ‘genealogi’ kekerasan minoritas etnis Cina di Indonesia. Bukan sekadar catatan sejarah yang ia telusuri, namun cerita-cerita pewayangan ia refleksikan sebagai basis nilai. Menurutnya, sumber kekerasan yang menimpa etnis Cina di Indonesia erat kaitannya dengan moral ekonomi dan tradisi sebagian masyarakat Tionghoa sebagai perantau, yang dijiwai semangat taoisme: sebuah pencapaian harmoni antara kebutuhan material dan spiritual. Namun pada praktiknya, mengapa orang-orang Cina di perantauan kerap menjadi korban kekerasan dan pembantaian? Sindhunata mencoba menjawabnya dengan melacak akar kekerasan dengan menafsirkan sebuah mitologi jawa tentang kisah awal mula penciptaan dunia Jawa.

Harblue: bagi pembaca novel yang terbiasa dengan alur yang lurus, seperti saya, mungkin akan sedikit kesulitan jika kurang fokus membaca novel ini. tapi, jika sabar menguntit ceritanya dan coba memahami, maka akan terasa kenikmatannya.

tak jelas siapa Putri Cina, tokoh utama dalam novel ini, bahkan, untuk sekedar menggambarkan kecantikannya. Abstrak. tapi, kurasa Sindhunata, sang penulis, bukannya tak mampu, melainkan sengaja membuatnya demikian, karena kekuatan novel ini justru pada ceritannya.

Putri Cina dalam novel ini, tafsirku, mewakili etnis Cina di negeri ini (termasuk Sindhunata yang juga merupakan keturunan cina), Indonesia. Sindhunata, dalam novel ini, seperti hendak mengatakan bahwa etnis Cina juga merupakan bagian dari negeri ini, bukan orang asing yang selama ini sering terpatri dalam otak dari kebanyakan orang indonesia. Etnis Cina telah sejak lama menjadi bagian dalam pembentukan negara Indonesia.

namun, Sindhunata tidak memperlihatkan keberpihakan berlebih pada etnis Cina. Ia juga mengkritik etnis Cina yang kini terjerumus dalam kenikmatan duniawi. padahal, sifat orang cina sesungguhnya seimbang antara rohani dan duniawi. kepincangan inilah yang membuat orang cina menjadi lupa dengan keadaan orang disekitarnya. mereka begitu asik menikmati kehidupan masing-masing

tokoh Putri Cina dalam novel ini melampaui ruang dan waktu. sesekali ia berada dalam jaman kerajaan (majapahit, misalnya), lalu melompat ke tahun 1740, 1916, 1946, dan 1947, masa ketika orang-orang Cina mengalami kekerasan. Putri Cina juga sempat berada di negeri dongeng. Di masa ini Sindhunata mengobrak-abrik mitos Semar yang selama ini disanjung oleh kebanyakan orang Jawa sebagai tokoh baik, ternyata adalah tokoh utama, sang pencipta, semua kekerasan yang terjadi di tanah Jawa.

meskipun novel ini sarat dengan kritik terhadap kehidupan orang Indonesia, tak terasa sama sekali bahasa orasinya. Sindhunata menuliskan cerita ini seperti dongeng, sehingga membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca. TOTAL!

manusia ini tak punya akar
dia diterbangkan ke mana-mana
seperti debuyang berhamburan di jalanan.
ke segala arah, bertumbukan dengan angin
ia jatuh terguling-guling.
memang hidup kita ini sangatlah pendek.
kita datang ke dunia ini sebagai saudara;
tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah?

(sajak T'ao Ch'ien dala Putri Cina, hal:9)

Irma Dana: menceritakan kenapa banyak orang cina di Indonesia, Sejak ada Putri Cempa.... bener gak ya:)

Ra’to+r: ternyata perulangan stereotipe itu ada dan berbahaya....

Amarilldo: cerita dalam buklu ini sangat bagus dan sangat bersinggungan dengan mitos, kenyataan dan juga fantasi dari penulis, membuatnya enak untuk dibaca dan penuh dengan dinamika kehidupan manusia, tetap cinta yang menjadi fokus utama, memang rasanya tidak ada artinya hidup ini tanpa cinta.

Gunawan Rudy: Tragedi, cinta, berbalut dalam sebuah novel dengan gaya bahasa yang sangat-sangat indah. Tentang identitas manusia yang dimampatkan dan dipertanyakan.

Sian: Seperti biasanya, Sindhunata mumpuni dalam mengemukakan suatu fakta tragis dengan balutan nuansa filosofis-budaya yang kental.

Anni: Terus terang saya kurang suka buku ini karena bahasanya membosankan dan bolak balik.