Preview Novel Manjali dan Cakrabirawa Part 1

Sabtu, 27 Agustus 2011

Nielam: Buat saya, buku ini adalah sesuatu yang spektakuler, karena apa yang tertulis di dalamnya jauh di luar batas kemampuan dan pengetahuan saya. Rasanya membaca kisah Marja, Parang Jati, dan Sandy Yuda ini benar2 membuka cakrawala saya tentang sebuah cerita dari masa lampau, yang bahkan selintingannya pun saya tak pernah dengar, well, kecuali tentang Raja Airlangga tentunya, tapi selain itu, seperti kisah Cakrabirawa, Manjali, dan Ratu Calwanarang, saya sama sekali buta.

Bagusnya lagi, tak terlalu banyak kata-kata indonesia, tapi terasa asing dibuku ini. tak seperti buku pendahulunya, Bilangan Fu, yang dipenuhi kata2 yang saya sama sekali tak mengerti, padahal saya orang Indonesia asli. Mungkin karena buku kedua ini diceritakan dari sudut pandang Marja, si gadis kota yang tak sengaja terbawa dalam sebuah dongeng masa lalu.

Sayangnya kisah cinta segitiga antara Marja, Parang Jati, dan kekasih resminya, Sandy Yuda tak terlalu menarik minat saya. Mungkin karena saya mengharapkan Parang jati sebagai seorang makhluk aseksual yang tak memiliki ketertarikan pada lawan jenis, sesuai dengan matanya yang mememiliki binar malaikat. Dan seperti itulah saya selalu mengharapkan Parang Jati, bersih, tulus, dan tanpa birahi.

Tak bisa berkomentar panjang, yang pasti sepanjang halaman demi halaman yang saya balik, rasa kekaguman saya pada Ayu Utami semakin memuncak. Walau saya tak yakin bisa membaca buku selanjutnya dari seri ini, karena misteri, walaupun itu roman sekalipun, adalah sesuatu yang saya takuti :)

Ditta Sekar: Pertama kali liat covernya "hm,,bagus juga..." lukisan sepertinya sedang 'in' dijadikan cover yah??eh ternyata Ayu Utami sendiri yang melukis,,,
mulai dicermati dengan seksama "kok ada tulisan seri bilangan Fu di pojok kanan atas?" pertanyaan itu terjawab di back cover:


Seri Bilangan Fu adalah seri novel dengan tokoh utama Marja, si gadis kota yang ringan hati, dan dua pemuda, Yuda dan Parang Jati. Ketiganya adalah karakter utama novel besar Bilangan Fu. Jika Bilangan Fu lebih filosofis, seri roman ini lebih merupakan petualangan memecahkan teka teki. Teka teki itu berhubungan dengan sejarah dan biudaya Nusantara, sehingga novel ringan ini membawa pembacanya mengenal kembali khazanah tersebut. Seri Bilangan Fu selanjutnya akan terdiri dari roman misteri dan roman spiritualisme kritis


hm,,,jadi maksudnya Ayu Utami akan membuat kisah Marja, Yuda, dan Parang Jati lagi??asyiiikk hehehe


lanjut...masuk ke isi

Jujur aja nih ya,,gw lebih suka buku ini dibanding Bilangan Fu, mungkin Bilangan Fu terlal berat buat otak gw yg ngga prima (;p) atau mungkin karena ceritanya lebih masuk akal (walopun tetep ada sisi mistisnya yah hehe) buktinya gw cukup menyelesaikan buku ini dalam waktu sehari aja (walopun kepotong2 tidur dll)


ceritanya memang lebih fokus ke Marja, kali ini dia diceritakan sedang menghabiskan waktu bersama Parang Jati di Sewugunung sedangkan Yuda 'sang kekasih resmi-begitu yg dikatakan oleh Jacques Cherer' sedang ada kegiatan memanjat bersama sekelompok prajurit militer yang tidak disukai oleh Parang Jati.


hm,,,mulai kebaca...mulai tumbuh benih2 cinta di hati Marja yang ditinggal berdua sama Parang Jati (haiyah bahasanya) dan begitu pula sebaliknya. namun atas nama persahabatan *lebih tepatnya ga enak sama Yuda kali ya* mereka mencoba untuk menahan perasaan masing2,,(walopun ujung2nya yah gitu lah,,,)


loh kok tentang cinta2an??katanya ada teka teki dan misteri segala??iya..bener tapi yah gitu lah baca sendiri aja yah..hahaha

pokoknya dengan baca ini kita diajak mengenal lebih dekat budaya kita terutama tentang situs2 peninggalan kerajaan di Indonesia terdahulu (baca:candi) dan gw kepikiran,,,ternyata pekerjaan arkeolog itu menyenangkan juga yah??jadi pengen,,hehehe


Lita: Oleh-oleh yang baru pulang dari PBJ dan mampir ke rumah. Makasi....:)

Sian: Sangat terkesan dengan cara menggambarkan situasi dan perasaan yang bergolak dalam batin seseorang, seperti:
"Bahwa ia melihat sesuatu di dalam sana, itu lebih menggentarkan ketimbang bahwa sesuatu pada dirinya dilihat si lelaki" (hl. 3) .... "Gadis sembilan belas tahun biasanya bergairahkarena menjadi obyek, bukan karena menjadi subyek. Marja mengalihkan tatapannya, dengan kegentaran yang tak ia mengerti. Parang Jati juga memalingkan kepala, barangkali dengan kegentaran yang sedikit lebih ia mengerti.....(hl. 4)"


Novel ini juga memberi sudut pandang yang berbeda tentang peristiwa yang selama ini barangkali diyakini banyak orang sebagai "sejarah", G.30.S. Juga penggambaran tentang candi-candi dan dongeng, mitos yang menawan.


Bintang 4 buat itu.


Hal yang mengganjal saya, barangkali karena saya tidak cukup "modern" untuk itu, ialah kebebasan ekspresi seksual tokoh cerita. Meskpun cerita realita, tapi saya berpikir, nilai seperti apakah yang ingin kita ungkapkan? Mungkin kita bisa berkilah dengan "realitas", "rasional", "tergantung kepada pembaca yang menafsirkan" tapi bagaimanapun novel yang terpublikasi luas apalagi yang menarik, akan punya kesan yang mendalam dan barangkali juga pengaruh yang kuat. Ya, kembali lagi ini sekadar suatu sudut pandang yang berbeda. Maaf ya, jadi bintangnya saya kurangi 1.

Andita Caesari: Beli dan lalu baca buku ini karena penasaran. Konon satu seri dengan "Bilangan Fu", yang maaf, kurang bisa saya pahami. Baru setelah setengah bagian, buku ini mulai menarik. Pada saat yang bersamaan, sempat baca tentang laporan kekerasan terhadap perempuan saat tragedi 1965 terbitan Komnas Perempuan. Lalu malamnya nonton film "Mass Grave", dokumenter lokal tentang pembongkaran kuburan massal tertuduh PKI di Wonosobo, Jawa Tengah. Malamnya, baca bab 20-an novel ini. Langsung dong, mimpi buruk..

Ayu Utami memang pandai merangkai cerita. Kalau dulu 'menggugat' kelemahan perempuan dan hubungannya dengan laki-laki, sekarang lebih ke 'menggugat' kepercayaan dan sejarah. Masih populer, meski merapat pada batas tertentu. Mungkin supaya pembacanya, walau pasti banyak orang muda penuh ide lain dari yang lain, tidak kaget. Mungkin supaya orangtua yang memergoki anak-anaknya baca novel ini juga tidak kaget.

Sudah jelas, kekuatan tulisan Utami ada pada kemampuannya mengolah kata-kata menjadi narasi. Lugas, tapi cadas.

Indah Ip: Hmm, ini kelanjutan seri Bilangan Fu.

Tokoh utamanya masih Marja, gadis kota yang santai, manja, ceria dan dua pemuda, Sandi Yuda dan Parang Jati.

Ceritanya ringan dan asik-asik aja, banyak unsur budaya dan sejarah juga politik khususnya soal kisah candi-candi di wilayah Jawa Tengah-Jawa Timur dan peritiwa 30 Sept 1965.

Yang menarik tentu saja roman cinta dan persahabatan ketiganya: Marja, Yuda, Jati.

Penasaran, kalau dijadiin film, kira-kira siapa ya yang paling pas jadi Parang Jati?
Pemuda yang selalu melakukan gugatan (seperti juga Yuda) tapi dengan rasa hormat, bukan karena ingin melawan. Seorang yang kritis, bukan sinis. Tidak pernah mencemooh hal-hal yang tak pernah dilakukannya. Yang mencintai Marja, yang adalah pacar sahabatnya Yuda, dengan caranya.
Yang tatapan matanya kadang bidadari turun ke bumi, kadang bintang timur, kadang planet mars yang merah dan memperlihatkan sisi terdalamnya yang rahasia. Parang jati pemuda yang penuh kendali diri, tapi juga jujur akan gejolak hatinya. Jati tidak seliar Yuda, tapi sama tangguhnya. Bikin penasaran ...

Aduh kebanyakan ngomongin Jati deh hihihi...
Udah ah, baca aja sendiri yaaa...

Greq Sanjaya: Pertama membaca baris-baris awal dalam paragraf pertama buku ini, sempat terpikir bahwa buku ini akan bercerita tentang kisah cinta. Tak akan berbeda dengan cerita-cerita fiksi remaja lainnya-apalagi tokoh utamanya perempuan muda; 19 tahun. Tapi setelah membaca semakin jauh, semua pikiran lamaku hilang. Dugaanku salah. Buku ini memang berisi kisah cinta anak muda, tapi mereka bukan anak muda "biasa"-yang hanya tahu 'hang out' di mall dan ngabisin duit dengan dengan senang-senang. Mereka menaruh minat kepada budaya;candi-candi, kisah sejarah, dan bahkan politik negeri ini. Jalinan kisah cinta yang ada dalam buku ini juga menarik, bukan cinta yang hanya sekedar picisan, tapi cinta tumbuh karena alasan-alasan logis. Hal yang menarik dalam buku ini, meskipun berupa kisah cinta anak muda, tapi Ayu Utami dengan cerdik mampu meramu kisah cinta anak muda yang berbalut sejarah dan tradisi yang jarang ada dalam cerita-cerita cinta remaja kebanyakan. Isu-isu seperti PKI, Cakrabirawa, serta kisah Calon Arang menjadi bumbu yang menjadikan buku makin lezat buat dibaca.

Anggra Anggra: Sebenarnya sehabis selesai baca "Bilangan Fu", ingin baca buku non-sastra, tapi... iseng-iseng mencoba ngintip halaman pertama "Manjali dan Cakrabirawa" ini dan...*jrengjreng* ini tulisannya... ~.~

Tuhan.

Itu adalah hari ketika Marja melihat mata malaikat pada paras sahabatnya.



Setelah itu tak bisa menaruh buku ini lagi sampai sepuluh jam kemudian. =="

Mungkin juga ini soal selera. Saya memang selalu suka roman yang diselingi kisah misteri/teka-teki (atau cerita misteri/teka-teki yang diselingi kisah roman. Karena keduanya sama-sama terasa kuat.)

Berbeda dengan kisah sebelumnya (a.k.a Bilangan Fu), buku ini tidak melulu dipenuhi kalimat-kalimat filosofis dan istilah-istilah ribet. Alur ceritanya pun lebih runut dan tertata seperti roman biasa. Yang lebih kusuka, Marja di novel ini lebih terasa perannya. Berbeda dengan buku sebelumnya, yang keberadaannya seperti dalam bayang-bayang. Rasanya menyenangkan menyelami kompleksitas perasaan Marja terhadap Parangjati dan Yuda.

Dengan memfokuskan diri pada perbedaan misteri dan teka-teki -seperti yang diungkapkan buku sebelumnya, buku ini mewakili skeptisnya anak-anak kota mengenai dongeng-dongeng kuno negeri sendiri. Saya sendiri merasa seperti sedang membaca Da Vinci Code versi lokal. Selama ini selalu merasa kebudayaan dan peninggalan nenek moyang di Ibu Pertiwi ini tidak menarik. Tetapi setelah membaca buku ini, sampai merasa ingin lagi mengunjungi Borobudur atau Prambanan dan melihat bangunan-bangunan sejarah itu dengan kacamata yang berbeda. Seperti halnya Marja, saya pun ikut-ikutan terbuai oleh dongengnya Parangjati :D