Preview Novel Sebelas Patriot Part 1

Sabtu, 27 Agustus 2011


Sebelas Patriot

by Andrea Hirata

Sebelas Patriot adalah kisah yang menggetarkan dan sangat inspiratif tentang cinta seorang anak, pengorbanan seorang Ayah, makna menjadi orang Indonesia, dan kegigihan menggapai mimpi-mimpi.

Novel Sebelas Patriot adalah karya yang unik karena untuk mendapatkan seluruh impresi secara utuh dari karya ini mesti pula mendengarkan tiga buah lagu yang lirik dan aransemen musiknya diciptakan Andrea Hirata. Lagu-lagu tersebut berjudul “PSSI Aku Datang”, “Sebelas Patriot”, dan “Sorak Indonesia”.


Novel dan lagu-lagu tersebut adalah satu kesatuan karya. Novel ini dilengkapi dengan CD berisi tiga lagu tersebut. Andrea Hirata menyebut lagu-lagu itu sebagai puisi yang dinyanyikan dan semangat yang didendangkan. Pengalaman Andrea Hirata menciptakan lagu dimulai dengan menciptakan lagu “Cinta Gila” untuk soundtrack film berdasarkan novel keduanya, Sang Pemimpi. Lagu tersebut dipopulerkan oleh Band Ungu dan terpilih sebagai The Best Soundtrack pada Indonesia Movie Award 2009.

Preview

Saya: jangan lewatkan buku terbaru Andrea Hirata ini...selamat membaca..."ASA TERUS PENA-MU!" Andrea membuat saya menangis sembunyi-sembunyi di kereta ekonomi Bogor-Jakarta. Saya Kangen bapak saya!

Annisa Anggiana: Penerbit : Bentang Pustaka

Tebal : 101 Halaman

“Cinta sepak bola adalah cinta buta yang paling menyenangkan” (Hal 88)

Ungkapan ini sungguh membawa saya ke masa-masa dimana saya menjadi penggila bola, saat kelas 1 SMA, setelah piala dunia 1998. Saya dan temen-temen satu geng bahkan masuk ke ekskul bola di sebagai manager recok. Kami mati-matian menjadi suporter tim kelas kami, walaupun kalah, tapi rasanya tim kelas kami tetap yang terhebat. Cinta sepakbola memang cinta buta.

Back to the book, membaca novel terbaru Andrea Hirata ini membuat saya pada beberapa bagian tertawa geli dan pada beberapa bagian lain sangat terharu. Masih bercerita tentang salah satu chapter dalam kehidupan ikal, kali ini Andrea bercerita tentang bagaimana asal muasalnya ikal pada suatu waktu bercita-cita menjadi seorang pemain sepak bola.

Berawal dari selembar foto kuno yang ditemukan ikal di salah satu album di rumahnya. Ikal kemudian mengetahui bahwa pada suatu masa Ayahnya pernah menjadi penjuang sepak bola yang melegenda di kampungnya. Ketika berumur 13 tahun Ayah ikal dan kedua kakaknya dipaksa untuk bekerja rodi menjadi penambang timah oleh penjajah Belanda.

Para penjajah tersebut selalu mengadakan turnamen olah raga dalam rangka memperingati hari kelahiran Ratu Belanda. Namun dalam setiap cabang olah raga, tim Belanda selalu harus menang. Kecuali pada suatu kesempatan ketika Ayah ikal dan kedua kakaknya melakukan perlawanan lewat sepak bola, walaupun sebagai ganjarannya tempurung lutut kiri Ayah ikal hancur.

Kisah itu menginspirasi ikal untuk menjadi pemain PSSI. Ikal pun bergabung dengan tim sepak bola kampung yang dipimpin oleh Pelatih Toharun. Pelatih legendaris kampung yang hanya menganut dua filosofi sederhana, yaitu filosofi buah-buahan dan kedua, dia percaya bahwa kualitas seorang pemain sepak bola dapat dilihat dari bentuk pantatnya ^_^

Dari novel-novel Andre Hirata sebelum ini, bagian favorit yang selalu membuat saya terharu adalah hubungan Ayah – anak antara ikal dan ayahnya. Masih terbayang-bayang di ingatan saya ketika ikal menceritakan bahwa mereka harus berkeliling kampung memakai baju safari di Sang Pemimpi, atau ketika ayahnya menyetrika baju baik-baik dalam rangka menyambut hari pembagian rapot. Sungguh kisah-kisah yang meninggalkan kesan mendalam.

Ikal selalu menggambarkan Ayahnya sebagai sosok pendiam yang bersahaja. Saya sangat senang di buku ini saya bisa mengetahui lebih banyak tentang Ayah ikal, sosok misterius itu. Novel Andrea Hirata berikutnya konon berjudul “Ayah”, mudah-mudahan bercerita lebih banyak tentang sosok Ayah ikal.

Setelah bercerita tentang mengapa ikal pada suatu masa ingin menjadi seorang pemain PSSI (sebelum berlanjut ke bulutangkis), Andrea juga bercerita tentang hipotesisnya mengapa pada saat ini banyak wanita penggila bola di dunia, termasuk salah satunya Adriana yang ia temui dalam perjalanan backpacking ke eropa.

“Kurenungkan sebentar, bahwa cinta bagi perempuan adalah dedikasi dalam waktu yang lama, tuntutan yang tak ada habis-habisnya sepanjang hayat, dan semua pengorbanan itu tak jarang berakhir dengan suatu kekecewaan yang besar. Demikian kesimpulanku atas jawaban Adriana. Bagi perempuan ini, mencintai sepakbola adalah seluruh antitesis dari mencintai manusia. Sungguh mengesankan.”

Hanya satu kekurangan dalam buku ini, ceritanya kurang banyak, hehe. Saat menutup buku membuat saya berfikir, c’mon tell me more!! ^_^

Walaupun memang sebagian besar membicarakan tentang sepak bola, isi buku ini bukan semata-mata tentang sepak bola. Kesan yang saya tangkap dari buku ini adalah cinta dan hubungan ayah dan anak yang indah, membuat terenyuh sekaligus iri. Hehe.

“Prestasi tertinggi seseorang, medali emasnya, adalah jiwa besarnya.”

Nasihat Ayah ikal kepada ikal saat kalah dalam pertandingan sepak bola.

Ditta Sekar: saya akan berbicara di sini sebagai pembaca buku bukan editor *tah eta,,abdi ge rada2 heran kunaon nami abdi jadi dituliskeun editor di dieu teh,,padahal mah abdi teu ngedit kukumaha hahaha*

sayang buku ini keluar setelah dwilogi padang bulan
andaikan setelah dwilogi padang bulan Andrea mengeluarkan "Ayah" terlebih dulu, baru kemudian buku ini, mungkin beberapa anggapan miring tentang Andrea bisa sedikit hilang...of course this is just my opinion
tapi tetap aja sih saya masih suka dengan gaya bercerita Andrea. Gaya2 jenaka apalagi deskripsi pelatih Toharun yang memiliki filosofi buah-buahan dalam melatih timnya, bisa membuat saya terbahak. Ditambah deskripsinya tentang (maaf) pantat yang ada korelasinya dengan permainan sepak bola, cuku membuat saya tersenyum juga...
sayang,,,ini buku hanya seratusan halaman saja. Jadinya cepet abis...
yah gitu deh...
hehe piisss ah

Avelline Agrippina: Kata Vince Lombardi, football is like life - it requires perseverance, self-denial, hard work, sacrifice, dedication and respect for authority. Setidaknya Ikal mengamini apa kata-katanya dalam cerita Sebelas Patriot ini.

Saya percaya, Andrea Hirata adalah penulis yang sangat narsis!

Sejak Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, Maryamah Karpov, Padang Bulan, Cinta dalam Gelas, dan Sebelas Patriot (serta Ayah -yang akan terbit), semuanya (hampir) bercerita tentang dirinya. Adakah kawan-kawan yang tahu penulis yang lebih narsis dari dirinya?

Nada-nada bercerita ketujuh novelnya serupa: puitis, dirangkai dengan majas yang berirama, dan diksi yang seolah-olah bernapas dalam setiap untaian ceritanya.

Saya bukanlah pemuja dirinya, setidaknya saya menyukai tulisannya. Itu saja.

Diawali cerita tentang ayahnya yang seorang penambang timah yang jago bermain bola yang harus pupus karena tempurung lututnya hancur diremukkan oleh Belanda. Ikal percaya kalau lututnya tidak hancur, ayahnya itu sudah menjadi pemain bola yang handal. Pemain berseragam PSSI.

Ikal mewarisi bakat itu. Ia bermain bola dan berharap dapat menjadi pemain PSSI. Pupus sudah harapannya karena ia gagal dalam seleksi tingkat nasional. (Kok tak pernah ada ya cerita ini dalam tetralogi Laskar Pelangi atau setidaknya disindirlah sedikit).

Kurasa cerita ini ditulis oleh Andrea Hirata karena kemelut yang dialami oleh PSSI saat ini dan lewat novelnya, ia berusaha mengembalikan kepercayaan masyarakat kalau Indonesia bisa berjaya dalam sepakbola.

Tapi, perasaan saya berubah ketika Ikal lebih banyak bercerita tentang perjuangannya untuk mendapatkan kaos Real Madrid yang bertanda tangan Luis Figo yang didapatkannya dengan susah payah.

Nah, Ikal narsis kan?!

Lalu di mana hubungan antara 11 pemain bola yang patriot itu dengan kaos Luis Figo? Mungkin Ikal itu yang dimaksudnya patriot karena telah menyenangkan hati ayahnya yang di Belitong, yang pemuja Real Madrid dan Luis Figo? Saya pun tak tahu.

Untuk lagunya, saya pun ditumbuhi rasa kecewa. Ternyata lebih banyak pengulangan dan ritmenya pun hampir serupa. Hanya syair-syairnya saja yang diganti. Malah kesan saya terhadap Andrea Hirata yang malas menulis lagu muncul ketika lagu 'Sorak Indonesia' cuma berisi enam kata! Semprul!

Oh ya, katanya sebelas patriot, kok tangan di covernya hanya sembilan? Katanya sebelas patriot, kok kepala pemainnya hanya enam? Tapi terserah sang penulislah.

Tabik!

Ririn Miu: Kenapa sih semakin banyak penulis yang menjual bukunya dengan menyertakan cd berisi lagu ciptaannya. Not that I ever gonna listen to them, ugh. Okay, I did listen to Dee's cd but maybe just once. Apalagi Andrei Aksana.. kata seorang teman sih aneh XD dan dia mewanti2 supaya saya ga dengerin karena saya akan menyesal seumur hidup XD sapa juga yg mau dengerin... #curcol Paling2 cd yg saya khusyuk dengerin datengnya dari buku motivasi XD don't judge me -_-;; Buku ini terlalu tipiiiss, dibaca 2 jam juga kelar, cuma karena font-nya gede2 banget jd dibuat novel padahal mungkin cuma short story aja *keluh* tapi ya karena ada cd-nya ituuu. I want half my money back :|

Anyway, Sebelas Patriot lagi2 adalah tulisan Andrea Hirata yang masih merupakan bagian dari Laskar Pelangi verse. Ini membuat saya bertanya2 apakah memang Andrea sudah terlanjur nyaman bercerita dari lingkup itu saja atau memang that's all he can do? *shrugs* coz I don't wanna read 20 stories about Ikal's childhood, ugh, NO.

Sebelas Patriot bercerita tentang masa kecil Ikal yang ingin menjadi pemain sepak bola. Ia hampiiiir saja jadi pemain nasional junior, tapi....... baca sendiri yaaa :D
Yang belum berubah adalah style Andrea yang membumi dan kocak, meskipun terasa snobbish di beberapa bagian :D just my $0.02 lho yaa... Yang saya suka tentu saja tentang ayahnya Ikal, yang sukses membuat saya nangis bombay di film Sang Pemimpi (ini jangan2 karena faktor Mathias Muchus *lol*) di buku ini juga membuat saya lumayan terharu. Ayaaaahhh... T__T

Suzan Oktaria: Saya adalah salah satu dari sekian pecinta bola. Awalnya saya tidak menyukai permainan bola di Indonesia, namun berawal dari berkenalan dengan Sriwijaya FC di tahun 2006 dan hingga kini saya mencintai sepakbola Indonesia.

Apalagi kini sepakbola Indonesia sudah menjadi magnet yang sangat kuat bagi para penggila bola. Mulai dari AFF hingga kini Pra Piala Dunia. Semoaga Indonesia bisa berlaga di Piala Dunia 2014. Dan aku ingin ke Brazil.

Kembali ke buku ini, saya menikmati setiap bentuk kejenakaan, seperti saat Andrea mengemas narasi soal melatih kaki kiri dan hal itu tetap mengundang senyum.

Ceritanya masih berkutat tentang Belitong, fragmen "Laskar Pelangi", cita-cita Ikal kecil menjadi pemain sepak bola dan bermain untuk tim nasional, terutama sejak Ikal tahu jika sang ayah ternyata pernah menjadi pemain sepak bola zaman Belanda, dan pernah menang melawan tim ambtenaar. Sayang cita-cita Ikal kandas pada tahap seleksi tingkat nasional.

Cerita pun berlanjut ke fragmen "Edensor", Ikal yang menuntut ilmu di Eropa melihat buat perempuan yang suka bola. Disini Andrea mengajak dan menggugah nasionalisme kita.

"Menggemari tim sepak bola negeri sendiri adalah 10% mencintai sepak bola dan 90% mencintai tanah air".

"Cinta bagi kebanyakan perempuan adalah dedikasi dalam waktu yang lama, tuntutan yang tak ada habisnya sepanjang hayat, dna semua pengorbanan itu tak jarang membuahkan kekecewaan yang besar".