Cerpen Selli

Jumat, 14 Oktober 2011

**Cerpen itu dibuat untuk keperluan Projects11days dari @nulisbuku.com. Pada hari #3 kemarin, saya telat, sehingga tidak mendapatkan e-mail balasan. Tapi hari ini saya tidak telat. Kalau tidak ada e-mail balasan berarti ada yang salah.

Judul: Salli

Nama: Antonini Ramon

Sejak kecil aku diajarkan berdoa sebelum tidur—itu aku lakukan setelah menggosok gigiku, berkumur, membasuh wajah dengan wewangian, mencucu kaki agar aku bersih, tidak cacingan—meski sekarang aku tinggal denganmu—seorang lelaki yang tak jelas apakah sudah melupakan mantan istrinya atau malah masih menyanjungnya.

Malam ini malam Jumat, aku tak ingin berdoa. Biarlah Tuhan marah padaku. Hanya sekali saja aku tidak mengucapkan syukur, bukankah banyak orang di luar sana, beribu-ribu malam tidak mengucapkan syukur?

Kalau ular yang menggoda Hawa itu benar-benar ada, biarlah malam ini dia menggodaku—perempuan 25 tahun, dengan fisik bak model, dengan karier mulai cemerlang di bidang perbankan. Jika di taman Eden ular itu menggoda Hawa dengan menyruhnya makan buah Kuldi, biarlah dia menggodaku menyalakan rokok mild-mu dan mengisi gelas persegi-mu dengan anggur-mu.

Di luar dingin, tapi aku selalu menyukai harum kamboja di dekat teras. Di luar tak ada bintang tapi aku selalu menyukai kegelapan, sebab padanya selalu ada ketenangan.

Kupaksakan menghabiskan sebatang mild-mu dan membawa gelas persegi-mu ke dalam. Pintu kukunci dan tirai kubuka sebab aku ingin duduk di depan komputer yang berdengung lembut dan menuli apa saja yang kupikirkan tentangmu.

L, itu huruf pertama yang kulihat pada papan tuts komputer. Di sebelahnya ada angka 3, jika angka itu disandingkan dengan angka 4, maka menjadi jumlah umurmu 34. Umur yang selalu kamu banggakan karena menurutmu kamu kelihatan perkasa, begitu jantan di umurmu yang sekarang. Apakah aku juga akan merasakan hal yang sama di umurku yang ke-34 meski aku seorang perempuan?

Dengkur lembutmu menerobos lewat celah bawah pintu jati. Kubuka MS Word dan kuketik sesuatu di halaman blank itu. Aku mulai dengan kalimat:

Aku sedih sebab kamu tak pandai berbohong.

***

Pernah aku menjadi wanita yang paling berbahagia ketika umurku menginjak angka 24. Telah setahun kita bersama, meski kita hanya menikah di Catatan Sipil. Pernah aku menjadi wanita yang paling berbahagia ketika kamu menarikku ke ranjang yang lembut. Kamu lepas semua pertahananku dan kamu mencintaiku seperti aku wanita paling sempurna di belahan bumi bagian timur ini.

Kamu tidak mendengarkan ibumu,” aku bicara.

Kamu tahu, apa yang kulakukan hari ini dan besok, semuanya karena aku ingin kamu di sini, tepat di sampingku, tidak kemana-mana. Tahukah kamu bahwa hanya namamu dalam benakku? Mendengung seperti lebah. Suaranya indah. Bunginya memabukkan.”

Lalu kamu peluk aku dan kamu cium aku pada mulutku yang harum. Rasanya tak ingin aku pergi dari sisimu. Akan kukirim surat sakit ke bank karena besok kamu cuti dan aku ingin bergelung di ketiakmu seharian.

***

Aku berhenti. Langit masih gelap tetapi lampu teras merambat ke dalam. Kutatap jemariku yang tergantung di depan tuts komputer. Kulihat akata terakhirku:

Igau.

Aku suka bergelung di ketiakmu. Aku suka merasakan wangi tubuhmu. Di saat kamu lelah setelah kita bercinta dengan begitu manis. Kamu terlelap dan lenganmu memelukku erat. Lalu kamu sebut nama itu:

Salli. Salli. Kemarilah. Aku sangat mencintaimu.

Lalu kamu eratkan pelukmu pada tubuhku. Seperti tak mau melepaskan pergi.

***

Salli.

Namaku Eva. Tapi kamu suka memanggilku Salli. Salli kemarilah. Aku sangat mencintaimu. Kamu peluk aku. Kamu tatap mataku dalam temaram lampu tidur. Jam di meja berkelip-kelip biru, menunjukkan pukul 23.11.

Salli.

Namaku Eva. Usiaku 25 tahun lebih 2 bulan. Karierku mulai cemerlang di bidang perbankan. Aku pindah 1 tahun yang lalu ke rumah yang kamu belikan untuk kita. Kita telah menjadi suami-istri sejak setahun yang lalu. Meski aku lebih merasa seperti kekasihmu.

Salli.

Namaku Eva. Gelas persegi-mu nyaris kosong. Kunyalakan sebatang mild-mu lagi. Rasanya ringan. Melayang. Kuhapus airmata yang mengalir pelan, sepelan perih hatiku, yang tak kamu rasakan. Karena kamu mengigau memanggil Salli. Salli. Meski namaku Eva. Apakah kamu mencintai wanita itu? Apakah kamu masih mencintainya?

***

Salli meneleponmu pagi ini, menyatakan bahwa anak kalian masuk Play Group hari ini dan kamu harus mengantarkannya sebab Salli sakit diare, dan mungkin guru Play Group ingin kamu mengisi beberapa formulir tetek-bengek dan mengenal orangtua dari anak kalian.

Dia yang menghasut ibuku.” Kamu menjelaskan, ketika aku hanya diam, menyiapkan sarapanmu.

Aku benci wanita itu. Hari ini dia pura-pura sakit. Aku tahu dia pura-pura. Dia pasti sibuk mengurusi butiknya dan lebih suka bergosip ria dengan kawan-kawannya itu.” Kamu menambahkan, meski aku tidak butuh penjelasan.

***

Jemariku sudah letih mengetik. Tapi aku ingin menambahkan beberapa baris kalimat penutup untuk menyempurnakan ketikanku ini.

Salli.

Pernahkah kamu katakan pada Salli, bahwa kamu mencintainya dan terpaksa harus tidur denganku?

Fine.