Review Novel Blues Merbabu

Minggu, 09 Oktober 2011

BLUES MERBABU

by Gitanyali

Sebagai anak PKI, lebaran tidak lagi sama bagi Gitanyali diakhir 1965. Ia masih SD di kota kecil di kaki Gunung Merbabu ketika menyaksikan sang ayah diambil aparat, dan tak pernah ketahuan lagi rimbanya. Sang ibu menyusul ditahan tanpa tahu kapan akan dibebaskan karena dianggap terlibat Peristiwa G30S. Kehidupannya berubah, keluarganya tercerai berai.

Diasuh oleh sang paman di Jakarta, dunia Gitanyali terbuka lebar. Ia menempa diri untuk tidak kalah pada sang nasib. Ia menikmati kehidupan sebagai anak kebanyakan yang penuh godaan, termasuk dalam kehidupan seksual, tanpa terbawa arus. Ia memilih bertahan tanpa harus “melawan”.

Gramedia 2011

Saya: Ini novel “PKI” yang diceritakan dari sisi yang sangat baru. Novel dengan bahasa sederhana dan kisah sederhana. Saking “merakyatnya” membuat saya berpikir kisah ini benar-benar dialami oleh beberapa anak “PKI” di daerah Jawa. Novel yang patut dibaca agar tidak “menuduh” PKI berlebihan.

Esti: Membaca novel ini, menggiring ingatan pada buku karya Haruki Murakami, Dengarlah Nyanyian Angin. Absurd. Postmo. Surealis. Dengan latar belakang persoalan sejarah kelam bangsa ini, Gitanyali sebagai penulis memberikan pola pikir dan sudut pandang penceritaan yang berbeda dengan, tak ada sendu sedan. Angkuh, dingin, tertutup, asik dengan dunianya sendiri, disinilah kekuatannya, tak hanya seks belaka yang dieksplorasi, kekuatan karakter tokoh utamanya menggiring pembaca untuk ikut larut di dalamnya.

Jinojiwan: Gitanyali, entah nama asli atau samaran ternyata tidak menggunakan aji mumpung atau menjual sensasi atas kondisinya sebagai anak PKI untuk membuat kontroversi dalam sejarah kelam tahun 1965--seperti yang kuduga semula saat membeli buku ini.

Aku juga menduga bahwa buku ini akan bercerita luka, kesedihan, tangisan karena orang-orang terdekat dari si karakter utama satu persatu menjauh darinya diangkut tentara. Tapi semua dugaanku salah. Buku ini mengalir lancar menunjukkan ketangguhan karakter utamanya, menggali memori dan sejarah penulisnya akan hal-hal yang selalu menyenangkan dari masa lalunya, kesombongan akan prestasinya, dan petualangan cintanya yang pasti bikin pembaca terheran-heran dan pasti membuat pembaca lelaki ikut tegang sekaligus iri karenanya atau malah senyam-senyum soalnya mungkin pembaca bakal menemui banyak deja vu di dalamnya.

Nenangs: 2.4 bintang saja.
bacaan yang putus nyambung, kayak pacarannya ababil...hehehe...

sebetulnya cara bercerita gitanyali ini mengalir, enak diikuti, seperti layaknya orang yang berpengalaman di dunia tulis menulis dan reportase cetak.

yang membuat ratingnya nggak sampai 3 bintang adalah isi cerita yang membuat aku agak kecewa. back cover blurb sangat menipu, menjanjikan cerita yang menarik tentang anak tokoh PKI, padahal isi ceritanya lebih banyak tentang cerita petualangan kelamin si tokoh utama , sejak kelas 4 SD sampai dewasa. cerita kehidupan orang-orang yang terkait PKI hanya terasa sebagai bumbu tak berarti. tak diceritakan pun tidak akan mengubah inti narasi.

------------------------
Pinjeman dari Xyn. makasih ye...