Preview Novel Entrok

Minggu, 02 Oktober 2011

ENTROK

by Okky Madasari

gramedia 2010

Marni, perempuan Jawa buta huruf yang masih memuja leluhur. Melalui sesajen dia menemukan dewa-dewanya, memanjatkan harapannya. Tak pernah dia mengenal Tuhan yang datang dari negeri nun jauh di sana. Dengan caranya sendiri dia mempertahankan hidup. Menukar keringat dengan sepeser demi sepeser uang. Adakah yang salah selama dia tidak mencuri, menipu, atau membunuh?
Rahayu, anak Marni. Generasi baru yang dibentuk oleh sekolah dan berbagai kemudahan hidup. Pemeluk agama Tuhan yang taat. Penjunjung akal sehat. Berdiri tegak melawan leluhur, sekalipun ibu kandungnya sendiri.
Adakah yang salah jika mereka berbeda?
Marni dan Rahayu, dua orang yang terikat darah namun menjadi orang asing bagi satu sama lain selama bertahun-tahun. Bagi Marni, Rahayu adalah manusia tak punya jiwa. Bagi Rahayu, Marni adalah pendosa. Keduanya hidup dalam pemikiran masing-masing tanpa pernah ada titik temu.
Lalu bunyi sepatu-sepatu tinggi itu, yang senantiasa mengganggu dan merusak jiwa. Mereka menjadi penguasa masa, yang memainkan kuasa sesuai keinginan. Mengubah warna langit dan sawah menjadi merah, mengubah darah menjadi kuning. Senapan teracung di mana-mana.
Marni dan Rahayu, dua generasi yang tak pernah bisa mengerti, akhirnya menyadari ada satu titik singgung dalam hidup mereka. Keduanya sama-sama menjadi korban orang-orang yang punya kuasa, sama-sama melawan senjata.

Kisah yang menyentuh mengenai perjuangan wanita pada zaman-zaman menentukan dalam perjalanan sejarah Indonesia. Buku ini sangat penting dibaca untuk memahami orientasi nilai dalam masyarakat di tengah-tengah perubahan.

---Leon Agusta, sastrawan.



Novel ini dengan jujur menggambarkan bagaimana sebagian masyarakat kita masih belum bisa menerima adanya perbedaan.

---Hendardi, aktivis demokrasi dan hak asasi manusia.



Penulis dengan cemerlang berhasil mengungkapkan lika-liku dan sepak terjang kehidupan masyarakat yang kompleks di tengah kesewenang-wenangan, melalui tuturan silih berganti antara ibu dan anak perempuannya.

---Endy M. Bayuni, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post.

Saya: Saya dan kekasih membeli buku ini karena ketika kami mengelus2 sampulnya, terasa lain dari buku kebanyakan...dari sampulnya saja sudah menarik, kemudian judulnya Entrok (bahasa Jawa),saya tidak tahu artinya, kemudian baru tahu itu artinya bra... secara sampul saja, beberapa buku Okky, misalnya 86, dengan mudah menarik orang untuk mendekat dan melihat2 bukunya... itu adalah sebuah kebahagiaan seorang penulis, bahkan bila orang2 tidak jadi membelinya...

**Okky membuat orang tergugah**

An: duduk di pojokan, matikan akses internet dan... siap merenung bersama entrok

mungkin itulah gambaran yang tepat untuk memulai kisah perjalanan ini. bukan novel yang berkisah dalam hitungan bulan, minggu apa lagi hari, namun tahun. bertahun-tahun antara 2 generasi, yang mengenal huruf dan yang belum, yang mengenal tuhan dan yang belum, yang hidup adalah kerja keras dan yang hidup adalah ilmu. perbedaan generasi dalam satu periode waktu ternyata membawa permasalahan pelik namun tetap mempertahankan ikatan yang ada karena hubungan darah. ya.. hubungan antara ibu dan anak.

si ibu yang masa muda na dilalui dengan kerja keras, berawal dari keinginan na memiliki entrok sampai perlahan membawa na kepada suatu posisi terpandang di masyarakat (yang saat itu masih menilai segala sesuatu berdasarkan harta). dari mulai mendapat upah gamplek, sampai mendapat upah duit hingga menjual duit itu sendiri. segala yang dimiliki na tak lain karena usaha dan kerja keras. mimpi... untuk memperoleh hidup yang lebih baik, keinginan supaya generasi setelah dia (anak na) dapat hidup makmur, bukan hidup susah seperti na. usaha yang dilakukan na, hasil yang diperoleh na, tak lain dan tak bukan adalah untuk sang anak.

namun apa yang terjadi dengan sang anak? rahayu yang terkena imbas modern, ajaran sekolah tentang konsep tuhan. gusti yang disembah menurut cara na, gusti yang baik, yang mengenal dosa dan yang tidak mengenal ajaran nenek moyang. gusti seperti itulah yang diperkenalan kepada rahayu melalui ajaran sekolah na. membuat na menentang ibu sendiri, mengatakan na musrik dan sebagai na. demi gusti, anak melawan ibu na, mempercayai omongan masyarakat tentang hal-hal gaib yang dilakukan ibu na untuk memperoleh semua itu. padahal dialah yang paling tau, sekeras apakah ibu na berusaha sampai bisa memperoleh itu semua.....

hasil yang diperoleh dengan tidak gampang itu harus diserahkan begitu saja kepada orang berseragam, mereka menyebut na tentara. apa itu tentara? konsep baru yang diperkenalkan setelah ada na negara. manusia-manusia berbekal sepatu laras, pentungan dan pistol. berkedok menjaga keamanan padahal sebenar na justru menebar keresahan.

mengapa buku ini hanya berbintang 3?

dengan riset yang pasti telah dilakukan sebelum na untuk menuliskan kisah ini, dengan gaya penulisan yang bisa dikatakan berbeda, meletakan ending di posisi yang tidak biasa na, dengan pendalaman karakter yang seakan-akan membawa pembaca begitu dekat terhadap tokoh-tokoh tersebut, dan dengan segala punjian yang lain na....

hanya berbintang tiga karena... tentara. kisah perbedaan 2 generasi ini sama-sama dihubungkan dengan tentara, petugas berseragam, apalagi kalau bukan ketidakadilan mereka. sungguh disajikan kisah ketidakadilan (yang hampir) melulu sehingga jengah membaca na, capek dan lelah. seperti itukah jaman 65 dan beberapa tahun sesudah na? diancam tentara, dirampok tentara, ditakut-takuti tentara. harus hormat kepada tentara, harus menuruti kemauan tentara (yang kata na atas nama negara), harus ‘setor’ ke tentara, kata na demi keamanan mereka.

Prek... mungkin itulah yang akan dikatakan marni maupun rahayu saat ini. namun kala itu, mampukah? melawan tentara sama dengan melawan negara sama dengan anggota PKI. banyak orang tak tahu apa itu PKI menjadi korban tuduhan tak beralasan. tahu saja tidak, bagaimana mungkin menjadi anggota na. ya... tentara hanya mencari-cari alasan untuk menjebloskan mereka yang tak mau menurut dengan tuduhan anggota PKI. berapa banyak mulut dibekap? berapa banyak orang menjadi korban? nyawa, harta, harga diri dan kebebasan. semua amblas di hadapan tentara, orang yang kata na aparatur negara, sosok yang kata na melindingi bangsa.

lelah dengan kekejaman tentara, lelah dengan ketidakadilan yang selalu terjadi pada masa itu, lelah membaca semua na itu yang dipaparkan pada lembar yang tak lebih dari 282 halaman. lelah untuk mengulas semua na dan mengenang masa lalu, lelah dengan budaya suap menyuap yang mengakar pada jaman itu dan tak juga hilang hingga ntah berapa generasi lagi berlalu kini. lelah....

dan kembalilah kita kini, di halaman awal, untuk mengakhiri kisah ini dan beristirahat dari semua kelelahan itu.



nb: t'iring trima kasih untuk ibu yang dengan perjuangan na membawa rhe untuk menjadi seperti sekarang ini. love u mom... sungguh kerja keras yang ga bisa rhe balas dengan apapun juga. hanya dengan inilah.... aku. thx

Harun Harahap: Payudaranya telah tumbuh, sehingga Marni kecil tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Marni menjadi sulit ketika berlari karena ada dua gumpalan yang terguncang-guncang dan naik turun. Tetapi tidak dengan Tinah, payudaranya menyembul dengan indah. Itu dikarenakan “Entrok” yang menyangga payudaranya. Entrok sendiri adalah BH atau bra. Saat Marni berkata kepada Simbok, “ Mbok, aku mau punya entrok,”kisah ini pun dimulai.

Novel ini menyajikan cerita dua perempuan berbeda generasi. Marni, sang Ibu, adalah perempuan tak kenal baca dan tulis yang menjadikan para leluhur untuk memanjatkan doa dan permintaan. Sedangkan Rahayu adalah seorang anak yang telah mendapatkan pengajaran sekolah dan mengenal bahwa hanya Tuhanlah yang pantas dimintai pertolongan. Perbedaan generasi ini membuat pergesekan hubungan antar keduanya.

Konflik terjadi ketika Rahayu tak nyaman dengan pandangan masyarakat sekitar terhadap orangtuanya. Marni kecil setelah berkeluarga memang berusaha mati-matian untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Tetapi salah satunya dengan cara memberikan pinjaman kepada masyarakat sekitar dengan bunga yang harus dibayar oleh peminjam. Cap rintenir atau lintah darat yang masyarakat berikan kepada orang tua Rahayu lah yang membuatnya tak nyaman bahkan membenci orangtuanya.

Cibiran anaknya atau masyarakat yang katanya telah mengenal agama itu tak menyurutkan usaha Marni. Dia malah bingung dengan keadaan di sekitarnya. Mereka yang mengolok-olok juga masih saja meminjam kepada Marni atau bahkan menikmati tayangan TV di rumah Marni yang memang masih satu-satunya di desa tersebut. Rahayu pun tak berbeda jauh, dia yang mengatakan ibunya telah terjerumus pada lubang dosa malah merebut suami orang lain. Jadi sebenarnya apa itu Dosa? Dan siapa yang berbuat Dosa?

Selain itu, ada pesan lain yang dituliskan kepada pembaca. Penulis menceritakan bagaimana pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintah orde baru sama sekali tidak menjalankan prinsip Bebas dan Rahasia. Pemerintah melalui perangkat masyarakatnya dari Camat hingga turun ke tingkat ketua RT menekan masyarakat untuk memilih partai Kuning berlambang beringin pada tiap pemilu. Bahkan mereka memaksa masyarakat untuk iuran uang demi suksesnya penyelenggaraan kampanye partai tersebut.

Dan diceritakan juga bagaimana Pemerintah khususnya tentara-tentara itu menindas rakyat sipil. Caranya mudah dengan melabeli seseorang dengan PKI, maka dipastikan hidupnya akan sengsara. Cap PKI itu merupakan senjata ampuh untuk merendahkan seseorang. Tentara itu tak segan-segan menjerumuskan mereka ke penjara atau bahkan langsung menghabisi nyawa mereka. Pembunuhan misterius yang marak terjadi pada tahun 1980an menjadi salah satu bukti kekejaman mereka. Keamanan yang semu menjadi alasannya. Bahkan di tahun 1990an, ketika saya masih kecil, ayah saya melarang untuk menyebut kata PKI kapanpun dan dimanapun. Karena pemerintah dengan akal rendahnya akan langsung mencap seseorang PKI tanpa menelusuri latar belakang seseorang terlebih dahulu.

Ada dua hal yang saya kritik. Pertama di halaman 112, ada tulisan ” Koh cahyadi memang Cina, tapi Cina yang baik.?”. Saya tidak mengerti maksud kalimat ini. Karena tidak ada penjelasan sebelumnya, apakah (orang) Cina itu mayoritas tidak baik. Lalu penulis melewatkan periode tahun 1960-1970. Menurut saya akan jauh lebih menarik ketika penulis mencoba menggali dan memasukkan periode tersebut ke dalam novel ini.

Novel yang menarik dan penuh pengetahuan untuk dibaca.

Berikut salah satu kutipan yang saya suka:

“Aku kesakitan, dia kegirangan. Aku mengerang, dia senang. Aku menangis, dia tertawa penuh kemenangan. Aku menerawang, dia telah pulas.” (hal.49)

Mark: I still consider that reading a work of fiction with footnotes is weird. But without them, I'd probably won't understand what were the underlying premises behind (most parts) of the stories. Like this debut novel by Okky Madasari, "Entrok" (means bra in Javanese language).

I can say that I got some useful insights about rural Javanese people, the poor and uneducated class, from this book. It showed me that it is important to understand backgrounds (may they be social-cultural, economic, education, etc.) of people in order to understand their obsessions. This is quite similar with "market insight", something that I still have trouble to grasp upon.

At least, now I can imagine why the desire to posses beautiful 'entrok' (i.e. bra) can made such big impact to one's life, family and surroundings.

If you still find it hard to believe, go read this story of Marni, an illiterate young woman who was born and lived in a small village in Central Java during the 50s until the 90s, who dreamed of gold-lined and diamond-crusted bras.

Move away, Madonna!

Sian: Ketika membaca judul buku ini, ingatan saya langsung terlempar pada kata yang sering diucapkan nenek-nenek saya, tapi dalam hati "masa iya sih..." ternyata memang itu yang dimaksudkan. Buku ini telah merebut perhatian saya sejak saya membaca judulnya, dan saya tidak menyesal membeli buku ini.

Entrok, yang merupakan pakaian dalam wanita, berbeda dengan bra/BH seperti yang tergambar di cover depan. Paling tidak di zaman Murni remaja, pada umumnya entrok masih dibuat oleh penjahit rumahan, bahkan tidak jarang ibu-ibu membuatnya sendiri. Awalnya dibuat hanya seperti penutup dada, dengan kancing (kancing kemeja) depan dan kadang diberi saku kecil untuk menyimpan uang atau barang berharga. Kemudian entrok berkembang menyerupai bra yang sekarang tapi masih dari kain, belum memanfaatkan bahan-bahan elastik (karena masa itu belum ada di Indonesia), dengan perbedaan dibuat dari kain yang lebih keras, tebal dan dilapis lalu di bagian buah dada dijahit-jahit dengan pola-pola lingkaran (yang kata anak saya seperti obat nyamuk) atau belah ketupat kecil-kecil.
**lhaaa...koq jadi membahas entrok ya :-) **

Tentang ceritanya sendiri, merupakan cerita "biasa" yang enak dibaca, mengalir, diceritakan melalui sudut pandang ibu dan anak. Cerita ini luar biasa dalam menggambarkan sisi-sisi tokoh cerita maupun pelengkap cerita, tidak hitam putih. Terlebih lagi cerita ini menjadi sangat istimewa buat saya karena menguak kembali ingatan masa-masa kecil menyangkut zaman yang dialami Murni. Sesuatu yang dulu begitu ditutupi tetapi sangat mengganjal di hati banyak orang. Sangat layak dibaca....

Winda Rianti: Duh, Gusti Allah, kalau memang Kau maha mengetahui, Kau pasti tahu tak ada niatku untuk tidak menyembahMu, untuk menjadi berbeda dengan anakku dan orang-orang lain itu. Tapi bagaimana aku bisa menyembahMu kalau kita memang tidak pernah kenal?

Marni, merasa sangat sedih dan sakit hatinya ketika di cap oleh anaknya yang bernama Rahayu sebagai pendosa. Padahal dia menyekolahkan tinggi-tinggi anaknya bukan untuk memusuhinya ataupun membuat jurang perbedaan diantara mereka semakin lebar. Dia hanya ingin anaknya bisa hidup lebih baik darinya. Sejak kecil Marni hidup susah, karena Ibunya bekerja sebagai buruh di pasar yang dibayar dengan bahan makanan sedang Bapaknya tak diketahui kemana rimbanya. Karena impian Marni yang sederhana untuk bisa memiliki entrok (bra) lah yang membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik. Untuk menggapai mimpinya itu, Marni mengikuti Ibunya kerja di pasar sebagai buruh kemudian menjadi kuli panggul agar mendapatkan upah dalam bentuk uang. Saat itu, hanya dirinya lah satu-satunya perempuan yang bekerja sebagai kuli panggul. Kemudian uang dari upah kuli panggul itu, dikumpulkannya membeli entrok. Akhirnya Marni merasakan kebahagiaan karena bisa memiliki entrok yang selama ini diidam-idamkannya. Namun, ternyata kebahagiaannya tak bertahan lama, Marni ingin mempunyai entrok sutta yang bertahtakan intan dan permata. Karena mimpinya inilah Marni bertekad untuk mendapatkan lebih banyak uang. Sisa upah sebagai kuli yang selama ini disimpannya dijadikan modal untuk berdagang bakulan dari rumah ke rumah. Seiring dengan berjalannya waktu barang yang ditawarkannya semakin beragam juga tak hanya dari rumah ke rumah tetapi dari kampung ke kampung, juga pembayarannya tidak secara tunai melainkan kredit. Akan tetapi, Marni tak hanya bakulan barang saja tetapi juga uang. Itu yang membuat perselisihan dengan anaknya Rahayu. Karena Rahayu mendapatkan pengajaran dari guru agamanya bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah dosa. Ditambah lagi Rahayu merasa malu dan membenci Ibunya karena mendengar desas-desus orang di desanya yang menuduh Ibunya sebagai orang yang memelihara tuyul, cari pesugihan dan syirik. Memang dari sejak kecil, Ibunya diajari untuk meminta apa yang diinginkannya kepada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa. Ibunya percaya bahwa apa yang didapatkannya selama ini selain karena kerja kerasnya selama ini, juga karena doanya pada Mbah Ibu Bumi Bapak Kuasa setiap malam.

Perjalanan hidup Ibu dan anak ini, digambarkan dari tahun 1950-1998 sehingga berbagai sejarah bangsa ini pada periode itu turut juga sedikit dibahas dalam buku ini. Berbagai peristiwa politik yang mempengaruhi kehidupan Marni dan Rahayu.

Buku ini mengungkapkan kisah hidup, baik dari sisi Marni maupun dari sisi Rahayu. Sehingga kita bisa mengetahui perbedaan sudut pandang keduanya.

Dalam sampul belakang disebutkan bahwa karya Entrok ini lahir karena kegelisahan sang pengarang atas menipisnya toleransi dan maraknya kesewenang-wenangan. Namun, dalam cerita ini, saya menyayangkan pada akhirnya toleransi antar Ibu dan Anak itu terjalin dengan baik setelah Rahayu melakukan dosa yang sama yang dilakukan Ibunya. Akan lebih indah jika Rahayu tetap memegang teguh keyakinannya namun tetap berbuat baik terhadap Ibunya meskipun memiliki keyakinan yang berbeda dengan dirinya.

Dinyah: Jangan tertipu dengan warna sampul buku ini yang cenderung lembut dan manis. Warna merah muda yang dominan, krem serta hijau, yang mungkin biasanya mudah kita lihat sebagai ciri-ciri karya chick-lit, bisa jadi dipilih oleh penerbit dan penulis demi menyamarkan apa yang sebetulnya dikandung buku ini. Apalagi kalau Anda cuma membeli buku ini karena tergiur gambar seorang perempuan yang sedang berusaha mengaitkan beha hijau kembang-kembangnya lantas membayangkan kisah-kisah seksual serbatanggung baik dalam segi deskripsi maupun narasi.


Jika ENTROK terbit sebelum 1998, ia pasti akan dituduh sebagai karya subversif. Namun, karena terbit pada April 2010 maka ENTROK cukuplah kiranya jika dimasukkan ke dalam kategori semi-subversif. Bukan oleh saya, tentu saja. Saya cuma mengelompokkan buku berdasarkan minat atau sistem klasifikasi Dewey (ketika masih jadi pustakawan jejadian). Ciri-ciri provokasi subversif (atau semi-subversif) yang dipenuhi oleh ENTROK antara lain adalah mengangkat relasi pemerintah dan rakyatnya ke salah satu ranah paling mulia sepanjang sejarah manusia: sastra.


Jaman apa yang dipakai sebagai latar dalam ENTROK? Kalau mau dilihat dari perspektif matematis, ENTROK membeberkan kisah yang terjadi selama kurang lebih lima puluh tahun, mulai 1950 sampai 1999. Sementara kalau mau dilihat dari perspektif sejarah politik Indonesia, ENTROK adalah novel tentang jaman partai beringin dan kejayaan warna kuning; jaman ketika tentara meminta sumbangan, kematian-kematian tak terjelaskan; jaman ketika kata ‘keamanan’ justru menjadi anekdot yang mencekam rakyat.


Dua tokoh utama dalam ENTROK adalah Marni dan Rahayu. Marni lahir dalam kemiskinan. Nasibnya adalah nasib jutaan anak perempuan di muka bumi ini: ayah brengsek, sehingga ibu banting tulang sendirian. Bersama Simbok, ibunya, Marni, mengerahkan segala daya untuk bertahan hidup, menjadi buruh pengupas singkong yang dibayar dengan singkong pula. Dibayar pakai singkong mungkin tidak akan pernah menjadi masalah bagi Simbok dan Marni kalau saja Marni tidak pernah melihat si Tinah, anak Pakliknya memakai entrok alias beha alias kutang. Marni yang memang merasa risih dengan dadanya yang mulai tumbuh merekah sebagaimana normalnya seorang gadis remaja, ingin juga punya entrok, segitiga yang bisa menutup gumpalan dada.


Sebuah entrok mustahil bisa didapatkan Marni dengan menyerahkan singkong yang ia terima sebagai upah. Marni pun memutar otak agar bisa diupah orang dengan uang, seperti laki-laki lain di Pasar Singget, tempatnya dan Simbok biasa mangkal mengupas singkong. Marni pun alih profesi menjadi kuli angkut. Walaupun sempat mendapat perlawanan dari Simbok karena angkat barang adalah pekerjaan yang ora ilok untuk seorang perempuan, Marni maju terus. Kerja keras dan kemauan Marni membuahkan hasil. Dari uang yang berhasil dia kumpulkan, selain bisa membeli entrok, dia pun dapat mengumpulkan modal untuk mulai menjual barang secara eceran, berkeliling dari satu rumah ke rumah lain di desanya.


Rupanya Marni memiliki intuisi dagang yang tajam. Sukses dengan jualan sayur dari pintu ke pintu, ia pun menambah jenis barang dagangannya seperti panci dan ember. Pembeli pun bisa membayar secara kredit, bisa per hari atau per minggu. Sukses dengan panci, bisnis uang dirambahnya. Marni seolah menjadi Bank Singget, pedagang, guru bahkan priyayi mendatanginya memohon dipinjami uang dengan perjanjian pengembalian ditambah bunga.


Singkat cerita, Marni menjadi orang kaya. Dalam perjalanannya menjadi kaya itu ia menikah dengan Teja dan akhirnya punya seorang putri, Rahayu. Sebagai anak orang kaya, Rahayu mengecap pendidikan formal yang disediakan negara. Dari sinilah perpecahan antara Rahayu dan Marni dimulai. Di sekolah itulah Rahayu mendengar dan mendapat pengajaran bahwa ibunya adalah pendosa. Ibunya tidak memuja Tuhan seperti yang diajarkan oleh guru agama Rahayu, melainkan membuat tumpeng, selamatan, menziarahi kuburan dan berdoa di bawah pohon asem. Semakin lama Rahayu semakin membenci ibunya, ia percaya bahwa ibunya rentenir, menarik uang dari kesusahan warga desa dan pada akhir masa nanti ibunya akan digodok di api neraka.


ENTROK menyajikan konflik Marni dan Rahayu dari sudut pandang kedua tokoh tersebut. Mereka secara bergantian menjadi narator. Namun, ENTROK bukanlah sebuah novel keluarga tentang perang dingin antara ibu dan putrinya. Dijalin dengan sangat erat namun halus di dalamnya adalah perkembangan politik dan sosial Indonesia pada masa itu. Sejak kekayaannya membengkak, Marni mulai menjadi bulan-bulanan penguasa, tak ada satu pun hari dalam kehidupannya yang lepas dari premanisme aparat pemerintah. Tagihan-tagihan konyol senantiasa berdatangan, mengincar ketenangan Marni, si pekerja keras yang buta huruf. Sialnya, Teja, suaminya yang seorang kuli dan memang bermental kuli, selalu memperburuk keadaan dengan kepatuhannya pada aparat, mengiakan, berapa atau apa pun yang diminta. Sementara Rahayu yang akhirnya kuliah ke Yogyakarta berhadapan dengan aparat dalam konteks yang lebih politis. Awalnya, sebagai aktivis Islam di kampus, namun kemudian turun langsung ke tempat yang dipaksa jadi waduk raksasa.


Dalam kisah Marni pembaca dapat melihat bagaimana pada masa itu uang menjadi satu-satunya bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak: penguasa dan yang dikuasai. Dan jika uang adalah bahasa, maka ancaman, penggertakan, sabotase dan kematian adalah tata bahasa yang harus dipatuhi dan dapat dimodifikasi secara bebas oleh sang penguasa kepada yang dikuasai.


Sedikit berbeda dengan Marni yang tertindas karena uang yang ia dapat dari kerja kerasnya sendiri, Rahayu dianggap berbahaya dan karenanya juga perlu dibungkam justru karena idealismenya sebagai seorang muslim yang makan bangku sekolahan (bahkan bangku universitas). Sama dan sebangun dengan mereka yang menindas Marni, negara, melalui tangan-tangan keji aparatnya, bukan saja mencegah Rahayu menyuarakan kebenaran, tapi bahkan membunuh suaminya, memenjarakannya dan melabelinya PKI, tindakan penistaan pamungkas ala orde baru yang berujung pada kehancuran ibu dan anak itu.


ENTROK adalah karya pertama Okky Madasari, seorang Sarjana Ilmu Politik lulusan UGM yang memilih berkarier sebagai wartawan dan penulis. Dilihat dari latar belakan Okky yang asli Jawa, tidak heran bahasa dalam ENTROK pun sangat Jawa. Kata-kata Jawa, baik yang masih memerlukan catatan kaki maupun yang sebetulnya sudah terserap ke dalam Bahasa Indonesia, tersebar di seluruh buku. Saya tidak melihat ini sebagai sesuatu yang mengganggu, justru sebaliknya menambah kekhasan ENTROK sebagai sebuah novel karya penulis Indonesia. Gaya bahasa yang dipakai Okky kebanyakan adalah gaya bahasa lisan yang bisa dengan gampang kita dengar di jalan, pasar atau mungkin di televisi. Dengan sendirinya ENTROK menjadi cerita yang mengalir dan tidak rumit.


Kisah MARNI dan Rahayu dalam ENTROK berakhir di tahun 1999, ketika Rahayu diceritakan akan mendapat KTP ‘normal’ sebagai pengganti KTP berinisial ET yang dimilikinya sejak dibui membela warga korban pembangunan waduk. Kalau dihitung-hitung, sudah sepuluh tahun lebih tahun itu berlalu. Tetapi ironisnya, hal-hal yang membuat geram sepanjang saya membaca ENTROK masih dengan mudah saya lihat hari ini. Relasi negara dan rakyatnya timpang, keadilan jadi basa-basi, rakyat takut pada orang-orang berseragam, kemiskinan baik dalam perspektif ekonomi maupun sosial budaya ada di mana-mana dan apa yang diangkat koran cuma dijadikan oleh penguasa sebagai rujukan untuk membungkam mereka yang sebetulnya bisa bicara tentang kebenaran. Jadi, sebetulnya yang mana yang bentrok, orang-orang seperti Rahayu dan Marni atau negara dan rakyatnya sendiri?

Natasia Angel: This is the book that teach me more about the regime of Soeharto, the famous dictator of Indonesia (1966 -1998).. Not actually the politic things, but enough to know it from the point of view of a woman and her daughter..

For some people, brassier a.k.a. bra is only known as the thing to cover your breasts.. But not for Marni, a young woman in a small village in Java called Singget.. It was her hope, her dream, for she was so poor that she could not buy anything.. Her mother told her that to have something to eat everyday was good enough for them.. At that time, women who worked in marketplace was given food in exchange of their occupation and no woman worked as a labour at that time.. But Marni decided to work as a labour to receive money, so she can buy a bra..
At first, it was only for the bra that Marni worked.. After she could buy a bra, she felt that there was more in this world.. And her life changed for ever..
Years later, she got married and had a daughter named Rahayu.. At that time, things had changed.. Rahayu grew up to hate her mother, for the things Marni had done.. Marni was a creditor and people called her names because of that.. And things went worse along the way..
The more money Marni got, the more she was uncomfortable and not happy.. The army kept coming to her house, taking away the money she got.. Her husband wasn't helping either.. And her own daughter hated her..
Years went by, Rahayu grown into a smart woman.. However, she felt the country needed change.. She learned to fight for justice and she saw injustice everywhere.. She decided to stood up.. But she ended up in jail..
No matter what Rahayu felt for her mother, Marni took her away from jail.. And things started to get better, and then for the worst of all..

Well, the things I got from this book are:
1. At that time, money's everything..
2. The army and other people at that time kept on frighten people by calling them communists.. But they asked people for money in the name of this country.. Well, in my opinion, who the hell is a communist now??

Zeventina OB: Judul : ENTROK
Penulis : Okky Madasari

Ilustrator : Restu Ratnaningtyas

Tebal : 282 halaman

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-5589-8



”Entrok” berisi kritik sosial dan kegelisahan terhadap kesewenang-wenangan “aparat berbaju loreng” di desa Singget era 1950-1994. Kompleksitas kehidupan masyarakat desa lapisan bawah yang sudah kehilangan toleransi, kerasnya kehidupan dan kecurangan pemilu partai kuning mewarnai isi novel ini bersama lika likunya.


Entrok sendiri berarti segitiga penutup dada yang dipakai agar dada yang mringkili tidak nglawer-nglawer. Sumarni, tokoh sentral dalam cerita ini, awalnya begitu terkagum-kagum melihat entrok milik Tinah, anak pakliknya. Sayang di desanya, entrok termasuk jenis barang mewah yang sulit didapat. Entrok ini pula yang menjadi titik awal perjuangan Sumarni mencari uang. Dari mulai bekerja di pasar sebagai pengupas singkong yang dibayar singkong, meningkat menjadi kuli angkut wanita di pasar yang dibayar dengan uang, menjadi tukang sayur keliling desa, meminjamkan uang pada para penghuni pasar dengan bunga 10% sampai akhirnya sukses menjadi salah satu orang terkaya di desanya yang mempunyai TV dan mobil.

Penceritaan novel ini dibalik, bab paling akhir disimpan di halaman awal, dan bab awal dimulai dari bab 2. Teknik penceritaannya diambil dari dua sudut pandang, dari sisi Sumarni dan sisi Rahayu. Mereka berselang seling saling bercerita bab per bab.

Inti ceritanya adalah tentang perjalanan hidup tiga generasi, si mbok, Sumarni dan Rahayu yang terlahir pada era susah. Hidup di desa begitu kompleks, jangankan keburukan, kebaikan saja bisa menjadi prasangka. Prasangka sudah menjadi budaya, semua tingkah polah dikomentari miring.

Sumarni, walau terlahir sebagai wanita desa yang tak pernah mengenal bangku sekolah dan buta huruf, namun mempunyai jiwa bisnis dan semangat yang sangat tinggi. Dengan menganut kejawen, dia mengagungkan Tuhan dengan caranya sendiri. Tuhannya adalah Ibu Mbah Bumi Bapa Kuasa. Para leluhur yang dia percaya dapat mengabulkan semua keinginannya.

Sumarni yang sepanjang hidupnya bekerja keras demi mendapatkan sesuatu selalu mendapat masalah dengan masyarakat sekitar hanya gara-gara prasangka. Ditambah masalahnya dengan “penguasa berbaju loreng” yang sedikit-sedikit datang meminta uang keamanan dengan ancaman terselubung: “Jika tidak mau membayar keamanan, apa yu Marni tidak takut masuk penjara dicap PKI?”

Teja, suaminya selalu meredam keinginannya membantah para “baju loreng” itu. Teja tak mau nasib mereka akan berujung seperti Tikno, di penjara dan dicap PKI. Walau hati mangkel, Marni selalu menuruti keinginan para tentara itu dan ngedumel belakang Teja. Dia kesal pada Teja, pada penguasa yang lebih mirip pemeras, dan pada sistem yang menurutnya tak adil.

Dari Teja, Sumarni melahirkan Rahayu. Sumarni bertekad, Rahayu harus sekolah dan menjadi pegawai. Jangan seperti dirinya yang membacapun tak bisa. Dia berharap anaknya nanti akan bekerja di pabrik gula.

Rahayu hidup di generasi berbeda. Saat Sumarni harus mengucurkan keringat demi keringat untuk mencapai semua kesuksesannya, Rahayu tinggal terima enaknya saja. Tingkah polah Rahayu dengan pemikiran modern-nya sering sekali menyakitkan hati sang ibu. Seperti saat pak Waji, Guru Rahayu di sekolah mengatakan bahwa Ibunya berdosa. Depan kelas, depan semua murid, pak Guru berkata bahwa Ibunya tak beragama. Ibu Sirik, masih menyembah leluhur, memberi makan setan setiap hari dengan sesajen. Rahayu diejek teman-temannya, dengan marah saat sampai dirumah, Rahayu membuang tumpeng sesajen ibunya. Mereka bertengkar hebat yang diakhiri dengan tangisan.

Rahayu benci ibunya. Ibunya seorang renternir. Kata Gurunya, renternir itu jelek. Namun dia juga heran, jika Gurunya bilang jelek, lalu mengapa dia ikut-ikut meminjam uang pada Ibunya tanpa pernah mau membayar?

Saat lulus SMA, pemikiran Rahayu makin kritis. Perbedaan begitu besar. Tiada hari tanpa pertengkaran. Akhirnya Rahayu memutuskan untuk kuliah di Jogya. Hendak mengambil pertanian, namun jalan hidup menggariskan lain.

Di Jogya, dia merasakan nikmatnya berpisah dengan sang ibu. Dia tak pernah pulang. Saat kuliah, Rahayu menjadi aktivis mesjid di kampusnya. Disana dia berjumpa Amri, ketua yang sangat dikaguminya. Sayang sekali Amri sudah punya istri. Karena di Islam diperbolehkan menikahi lebih dari satu wanita, maka Rahayu pulang membawa Amri dan meminta ijin pada ibunya untuk menikah. Ibunya yang tahu bahwa Amri sudah punya istri tak setuju, namun kekerasan hati Rahayu seperti batu karang, tak tergoyahkan.

Akhirnya, Rahayu dan Amri menikah. Guru Amri dan Rahayu adalah pak Kyai. Rahayu mengagumi pak Kyai, gurunya. Pak Kyai beristri tiga, dia memperlakukan ketiga istrinya dengan baik. Dia selalu membela orang miskin yang tertindas. Pola pikirnya membuat Rahayu kagum. Maka saat ada misi ke desa yang akan digusur, dia bersedia ikut. Bersama Amri, suaminya dan pak Kyai, mereka pergi ke desa itu. Mereka komitmen akan membela masyarakat yang tanahnya akan digusur. Mereka akan tinggal disana walau nyawa taruhannya.

Disana, Rahayu kehilangan Amri. Amri tertembak sehabis baku hantam dengan petugas loreng. Di tengah duka, pak Kyai mencumbunya dan menawarkan menikahinya saat mereka kembali ke Jogya untuk menjadi istri ke empat. Rahayu goyah. Saat kekaguman memuncak pada pak Kyai, kekaguman itu pun luntur. Pak Kyai tak menjaga komitmen untuk membantu masyarakat desa yang akan digusur, malah memutuskan pulang setelah diancam kegiatannya di Jogya akan dibubarkan oleh seorang petinggi pemerintahan.

Rahayu kecewa, demi komitmen, dia menolak ajakan pak Kyai pulang. Dia memilih menjadi tameng membela pihak miskin yang tertindas. Cita-citanya adalah, andaikan dia mati, semoga dunia akan mengabarkan berita pembunuhan masal ini. Telah disediakannya spanduk2 berisi arogansi penguasa. Namun sayang, nasibnya harus berakhir di penjara, disiksa dan diperkosa sampai hidupnya kehilangan “nyawa”. Sama dengan ibunya yang kehilangan “ingatan”. Namun indahnya adalah saat dalam kondisi demikianlah hati ibu dan anak ini saling terpaut kembali.



Kritik pada novel ini adalah:

1. Saat Amri, suami Rahayu yang dia cintai setengah mati, mati tertembak peluru aparat, saat duka belum lagi mengering, Rahayu malah selingkuh dengan pak Kyai. Dia menikmati saat pak Kyai mencumbunya.

2. Begitu banyak kebetulan. Nasib ibunya dan nasib Rahayu hampir sama. Kehilangan suami dalam saat yang bersamaan. Kehilangan kepercayaan kepada orang saat bersamaan. Lalu penggambaran lelaki desa, digambarkan selalu mempunyai wanita simpanan. Entah apakah itu lazim dijamannya atau tidak. Nyatanya tak ditemukan pernikahan seperti figur yang seharusnya. Saya khawatir Entrok membuat para wanita lajang yang belum menikah menjadi takut untuk menikah dan mendapatkan cinta yang manis dan penuh kesetiaan.

Supratman, 10 Mei 2010

Nisa Diani: Pengalaman pembacaan saya Ketika saya membaca Entrok, saya merasa Entrok seperti sebuah kaset kusut yang diputar berkali-kali di telinga saya, karena saya terlanjur terlalu sering mendengar cerita ibu saya, . Saya jadi membenci buku ini, karena buku ini benar. Saya membenci buku ini karena polemik itupun yang saya dengar dari ibu saya berulang-ulang. Saya jadi merasa menjadi Rahayu. Ibu saya yang juga mengalami masa gadis antara rentang waktu yang sama dengan Marni. Ia pun mengalami pergolakan yang sama dengan Marni. Diam-diam menyisihkan uang dari berdagang demi membeli entrok. Meski saat itu eyang saya juga sangat berbaik hati menjahitkan ibu saya kutang, pakaian dalam perempuan tanpa kawat penyangga. Eyang saya juga masih peduli dengan memberi sedikit kalimat penghibur bahwa kutang memiliki fungsi ganda sebagai tempat penyimpan uang, karena biasanya ada kantung kecil yang dijahitkan pada kutang tersebut. Kalau belum cukup, eyang selalu menambahkan renda-renda pipihan. Tapi tetap saja kutang memang tidak senyaman Entrok dalam menahan beban payudara.

, membuat saya berulah menjadi pembaca tidak sabar, alur Entrok yang saya baca saya rasa menjadi terlalu lambat, karena pengalaman saya mendengarkan curahan hati ibu saya. Saya jadi berulah menjatuhkan dakwaan bahwa Marni dan Rahayu adalah dua perempuan penggerutu. Dua orang perempuan dari kultur Jawa yang mencoba melakukan protes terselubung dalam catatan memoarnya. Entrok sangat kontras membenturkan nilai-nilai masyarakat Jawa yang kental balutan filosofis “Nerimo ing pandum” dan ikhlas, dengan sikap protes menuntut keadilan atas ganjaran usaha dan kerja keras yang dilakukan. Filosofis kultur masyarakat Jawa yang patriarki juga coba digelitik penulis. Tapi lagi-lagi saya sadar saya jadi membenci buku ini, karena buku ini benar. Entrok menjadi katup pembuka pasivitas perempuan dalam menyikapi masalah hidupnya dengan dialog tokoh-tokohnya secara humanis dan real.

Begitu juga soal ambisi Marni, kegamangan Rahayu pun saya rasakan. Ambisi Marni yang menginginkan Rahayu bisa hidup “mapan” dalam versi dambaan “Cinderella”. Dari orang biasa dan tidak punya apa-apa menjadi seseorang yang disegani dan mempunyai kedudukan yang dihargai oleh masyarakat juga saya alami. Ini seperti sentilan yang tajam menukik pada stigma dan proyeksi masa depan idaman masa itu. Maka ini pula lah yang membuat saya merasa menjadi membenci buku ini. Bukan karena buku ini bersalah karena bercerita tentang sesuatu, tapi karena buku ini benar karena bercerita kebenaran.

Nike Rasyid: Ah, saya beneran baru tau banyak bahasa Jawa setelah membaca buku ini. Salah satunya 'entrok' yang menjadi judul novel ini, yang artinya bra atau bh (pakaian dalam perempuan). Saya pikir novel ini bercerita tentang anak beranjak gede di lingkungan Jawa jaman-jaman dulu, waktu bra masih langka. Ternyata saya sedikit keliru, karena ga cuma bercerita tentang Marni yang pengen banget punya entrok dan masa remajanya yang berambisi untuk menjadi lebih baik dalam hal ekonomi tapi novel ini ternyata lebih berat ngomongin masalah lingkungan rakyat kecil Jawa jaman orde baru yang buat saya mengangguk-angguk setuju.

Saya lahir di tahun 80-an akhir, ga pula tinggal di daerah Jawa sana, sehingga saya ga banyak tau sebelumnya bagaimana susahnya jaman tahun 70-an hingga 80-an dimasa-masa tentara dan aparat partai kuning selalu diagung-agungkan dan amat dihormati. Saking hormatnya bisa dibilang patuh sama aparat negara, klo ga patuh eh langsung disebut PKI.

Ada rasa kesal membaca buku ini dan ada pula rasa kasihan.

Okky Madasari, si penulis menulis dari 2 karakter, yaitu sisi Marni si ibu dan juga si anak, Rahayu. Marni yang taunya Gusti Ibu Bumi dan leluhur2nya sedangkan Rahayu sudah percaya agama. Pertentangan antara ibu dan anak juga ambisi sang ibu yang luar biasa sebagai pekerja keras, membuat saya merasa bahwa kita perlu banyak Marni-Marni yang lain dalam hal bekerja keras.