Review Musashi

Sabtu, 10 Desember 2011

Musashi (Indonesian edition)

by Eiji Yoshikawa, Tim Kompas (Translator)

Miyamoto Musashi adalah anak desa yang bercita-cita menjadi samurai sejati. Di tahun 1600 yang penuh pergolakan itu. ia menceburkan diri ke dalam Pertempuran Sekigahara. tanpa menyadari betul apa yang diperbuatnya. Setelah pertempuran berakhir. ia mendapati dirinya terbaring kalah dan terluka di tengah ribuan mayat yang bergelimpangan. Dalam perjalanan pulang. Ia melakukan tindakan gegabah yang membuatnya menjadi buronan-hingga seorang pendeta Zen berhasil menaklukkannya. Otsu, gadis cantik yang mengaguminya membebaskan Musashi dari hukumannya, tapi Musashi kembali tertangkap. Selama tiga tahun ia mesti menjalani kehidupan mengasingkan diri. dan masa-masa itu dipergunakannya
untuk menyelami karya-karya klasik Jepang dan Cina. Setelah bebas kembali, ia menolak diberijabatan sebagai samurai. Selama beberapa tahun berikutnya, ia mengejar cita-citanya dengan tekad penuh-mengikuti Jalan Pedang, dan menjadi samurai sejati.

Lambat laun ia mengerti bahwa mengikuti Jalan Pedang bukan sekadar mencari sasaran untuk mencoba kekuatannya. la terus mengasah kemampuan, belajar dari alam dan mendisiplinkan diri untuk menjadi manusia sejati. Ia menjadi pahlawan yang tidak mau menonjolkan diri bagi orang-orang yang hidupnya telah ia sentuh atau telah menyentuh dirinya.
Ujian puncak baginya adalah ketika ia harus bertarung melawan Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Mereka akan mengadu kemampuan dan Musashi ingin membuktikan bahwa kekuatan dan keterampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan.

Gramedia Pustaka Utama 2001

Saya: "Takezo telah pulang ke kampung Miyamoto--secara sembunyi-sembunyi sebab samurai Tokugawa masih mencari. Nyaris beberapa kali dijebak dan ditangkap. Akhirnya dikalahkan oleh Takuan Soho, melarikan diri dibantu oleh Otsu, dan setelah dipenjara selama 3 tahun di puri Ike, Takezo bebas dan diberi nama Miyamoto Musashi. Sayangnya dia harus meninggalkan Otsu. Sedih. Tapi itulah Jalan Pedang."

"Pendeta-pendeta Hozoin menunggu Musashi di Dataran Hannya. Hendak balas dendam atas kematian Agon?"

"Sasaki Kojiro, samurai muda, tampan, tinggi, dengan bakat yang luar biasa disertai kecongkakan yang tiada tandingannya itu telah "membantai" 9 militer dari Perguruan Obata. Sekarang, Kojiro nyaris menyamai atau menjiplak sepak terjang Musashi, dengan menantang samurai dari perguruan-perguruan besar, demi memperoleh nama dan kemasyuran. Perbedaannya, Musashi tidak mau tunduk pada birokrasi, sementara Kojiro mau."

"Musashi dan Kojiro mulai sangat terkenal di Edo. Dan para Daimyo membutuhkan tenaga mereka. Situasi berbanding terbalik: Kojiro terus membunuhi orang dan Musashi terus membantu orang. hari ini Musashi diundang ke rumah ayah Shinzo."

Dedeh: Yang penting adalah bagaimana berdiri di tempat yang benar, agar ia dapat menunggangi ombak jaman. Tujuannya mutlak, bukan sekedar hidup, tetapi harus berarti. – Musashi-
Perjalanan ‘manusiawi’ sebuah pencarian jati diri seorang anak manusia. Sebuah penggalian ke dalam diri, pencarian jati diri, yang digambarkan dengan sangat manusiawi. Perjalanan dari titik paling bawah, hingga pencapaian lebih tinggi. Yang sejatinya terjadi pada diri setiap manusia beradab. Mungkin itu sebabnya buku ini banyak disukai. Karena banyak orang yang ketika membacanya, merasa menemukan nukilan dirinya di dalamnya, termasuk saya.

Dan ketika tiba di titik akhir.. perjalanan itu akan menemui wujudnya yang sempurna. I really like this book. My amazing. One of my most fascinating book.

Dahlia: Menyentuh... Susah sekali menjelaskannya. Ini tentang perjalananan hidup seorang anak manusia. Rasanya seperti bola salju...terus membesar secara alami...

Gonk: mirip2 cerita ken arok,gadjah mada dkk, pelajaran buat kita jangan pernah 100 % percaya sejarah antara gosip murahan, fakta, opini dsb sulit dibedakan.... sebagai penikmat novel cukup terhiburlah dgn novel2 kayak beginian...apalagi bisa buat bantal....hehehe

Hasanuddin: Penuh filosofi dan bagaimana sebuah proses pendewasaan berjalan. Dan bagaimana gigihnya menekuni jalan pedang sosok samurai.

An: buku yg sangat tebat, kaya kamus.
bahkan terlalu tebal sampai-sampai tasku sobek waktu bawa ni buku. (buku na yg terlalu tebal, atau tasku yg sudah usang ya?)

Alger: A breathtaking fictionalization of the life of one of the world's greatest warriors and renaissance men. Yoshikawa takes us on a mezmorizing voyage to a crossroads in Japanese history that changed all the rules and gave birth to a legend. The book opens in the year 1600 at the end of the infamous battle of Sekigahara, where the armies of east and western Japan met to decide who would govern: Toyotomi or Tokugawa. In the end to Tokugawa emerged victorious and the 150 year period of civil war came to an end.
The young son of a country samurai, Shinmen Takezo, goes to fight for the Toyotomi at Sekigahara and opens the book prostrate on the ground with two bullets in his thigh. He escapes the carnage of the battle to his home province and emerges from this ordeal not as the noble warrior he intended, but rather as a savage bandit. However, through the intervention of an old friend he is brought to justice and given a second chance and a new name. He is locked in a room of the Lord's castle for three years straight with only treatises on war, religion, and the classics of both Japan and China. From this incarceration he emerged a new man.
Musashi is offered a position as reatiner to the Tokugawa governor, but instead decides to journey across Japan to hone his swordsmanship. To do this Musashi does more than practice drawing and swinging a sword. To achieve this he studies calligraphy, painting, sculprture, agriculture, and music, all in the the pursuit of perfection as a swordsman.
The book takes us through the highlights of Musashi's career from Sekigahara , to his legendary feud with the Yoshioka sword school of Kyoto to it's culmination at the Duel of the Spreading Pine, finalizing with his infamous duel with the sword saint, Sasaki Kojiro, on Funajima Island.
Musashi evolves constantly as a character, as does his rival, Kojiro. Both men are near facsimilies of each other, the difference of which makes the book and the unfolding of both the aforementioned's destinies so tantalizing.

David: An incredible, sprawling masterpiece... Yoshikawa tells the story of Japan's greatest swordsman, Miyamoto Musashi, in an awing bildungsroman that sees a young violent punk transformed into a masterful buddhist hero. Inspired the Hiroshi Inagaki Samurai films. Highly recommended.

Seraz: "Мусаси" Ёсикавы, изданный у нас под названием "Десять Меченосцев", повествует об отрезке жизненного пути выдающегося японского фехтовальщика Миямото Мусаси. Хронологически, действие романа начинается практически там же, где заканчивается горячо любимый мною "Сёгун" Джеймса Клавелла (надо перечитать!), однако, в отличие от западного взгляда на знаменательные исторические события в Японии, поступки главных действующих лиц романа куда менее масштабны в контексте геополитики, но намного более подробно рассказывают читателю о Японии того времени.

Главный герой - молодой ронин Такёдзо из деревни Миямото, на пару со своим товарищем Матахати оставшийся в живых после проигранного сражения с войсками Токугавы. После сражения Такёдзо поставлен вне закона и вынужден скрытно возвращаться в родную деревню к старшей сестре. В процессе возвращения,занимающего малую часть довольно внушительного по объему романа, читатель знакомится с основными действующими лицами, которые непременно будут досаждать главному герою на протяжении всей книги и многих лет, что выглядит несколько неправдоподобно ну или заставляет считать Японию одной большой деревней. Очищая свой разум через познание и лишения, Такёдзо оттачивает своё мастерство владения мечом, берёт себе имя Миямото Мусаси и начинает странствовать по Японии, бросая вызов известным школам фехтования, чтобы в конечном итоге, сойтись в бою со своим главным оппонентом Сасаки "Ганрю" Кодзиро.

На мой взгляд, книга очень познавательна с точки зрения трактовки предназначения Бусидо (Путь Воина Упячки), вложенного в мысли и поступки персонажей, кроме того, художественное изложение последствий реформы Токугавы определенно будет интересно тем, кто читал "Сёгуна". Ну и, кроме того, не забывайте, что это роман о великом фехтовальщике, поэтому готовьтесь узнать многое о стилях, истории их возникновения, развития, применения и всей самурайской философии, которая окружает искусство фехтования и связывает его с прочими культурными явлениями вроде каллиграфии и живописи. Рекомендую.

P.S.: название "Десять Меченосцев" выбрано от балды и имеет опосредованное значение к содержанию романа.