Review Si Lajang Parasit

Minggu, 04 Desember 2011

Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita

by Ayu Utami

Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.

http://www.gramediaonline.com/product_de...

Gagas Media 2003

Ira: Sederhana dan menyentil gue...terutama julukan Lajang Parasit itu :)
www.iralennon.blogspot.com

Silviana: Nothing interesting at all. If not because of my bf, I wouldn't want to even take a glimpse on this book.

Mina: Lupa tentang apa, hehehe. Esai-esai pendek.

Dita: Menyenangkan menyelami otak Ayu Utami selain membaca karya spektakulernya, Larung dan Saman. Menyenangkan mengetahui bahwa ada juga orang yg seperti ini. Menyenangkan melihat goresan tangannya.

Gieb: sekali lagi, ayu utami terjebak dengan kekuatan sekaligus kelemahannya: ketrampilannya berbahasa -atau kengototannya?- hal ini membuat ayu kebablasan, lupa mengolah pikiran-pikiran besar yang ada di buku ini. hanya terasa sensasional-nya. anomali-nya. cuma greget di tidak gentarnya ayu menulis sesuatu yang beda.

pernikahan itu pikiran besar. dunia yang puitis. penuh ambigusitas. penyatuan tubuh dalam dunia rekaan peristiwa. tubuh yang bahagia dan tubuh yang tak bahagia. melebihi dari sekedar teks dan keputusan-keputusan.

memilih menikah adalah mengabdikan diri ke lubang masalah. memilih tidak menikah adalah pengecut karena tidak mau berhadapan dengan masalah.

jadi, sama-sama keputusan yang tidak menyenangkan. saran saya: hanya ada satu kata: nekat! tuhan bersama orang-orang yang nekat. duh, apa sih yang saya omongkan. semoga kau baik-baik saja di sana. gieb.

Endah: Kawan, pernahkah kamu tiba-tiba tertarik secara seksual dengan orang yang telah lama menjadi teman? Lalu, berpikir untuk ciuman bahkan tidur dengannya suatu hari untuk bertemu lagi esoknya seolah tak pernah terjadi apa-apa? (hal.102)

Membaca kumpulan esai Ayu Utami ini, saya serasa ngobrol dengan seorang kenalan baru yang mendukung pendapat dan sikap saya tentang perkawinan, seks, agama, gender, kehidupan sosial, sastra...Dan saya ingin segera menjadikan kenalan baru itu sebagai sahabat sehati.

Saat saya pertama kali memproklamirkan tentang pilihan saya untuk tidak menikah di depan tiga orang sahabat saya yang jomblo-jomblo, reaksi mereka berbeda-beda. Yang satu tampak tenang-tenang saja. Yang satu lagi berseru kaget, "Gila lu! Emang elu udah gak doyan cowok?" (Padahal, saya sama sekali tidak mengatakan bahwa saya sudah emoh sama cowok . Saya cuma bilang bahwa saya tidak ingin menikah. Kedua hal tersebut sangat berbeda bukan?) Dan sahabat yang terakhir berkata, "Weeeh...kamu mau ikutan Ayu (Utami) ya?"

Rupanya, bagi sahabat saya itu, Ayu Utami bukan saja terkenal sebagai penulis novel Saman dan Larung, tetapi juga sebagai seorang (perempuan) yang tidak menikah. Sebuah pilihan sikap yang mungkin masih dianggap aneh di negeri ini sehingga lalu jadi mengundang perhatian. Apalagi buat Ayu yang terkenal itu. Sampai-sampai dalam sebuah wawancara televisi perihal novel terbarunya, ia lebih banyak ditanya soal tidak menikahnya itu daripada tentang novelnya.

Pengalaman Ayu yang seringkali mendapatkan pertanyaan-pertanyaan soal mengapa tidak menikah itu juga menimpa saya. Setiap kali saya bilang bahwa saya tidak menikah, pastilah orang tersebut (bisa teman lama atau kenalan baru) akan merespons dengan senyum dan ucapan, "Ah..jangan bilang tidak. Mungkin cuma belum waktunya saja"

Itu cuma salah satu kisah yang ditulis Ayu dalam buku yang diberi judul "Si Parasit Lajang" ini. Melalui penuturan kejadian-kejadian yang pernah dialaminya, Ayu melemparkan opini-opininya ke tengah publik pembacanya dengan gaya yang cuek dan ringan namun tetap kritis.

Sebagai anak muda yang juga turut merasakan era MTV, ia dengan santainya menulis mulai dari soal kondom, agama, politik, seks sampai Pramoedya (Ananta Toer, tentu saja). Bahasanya lugas dengan pilihan kalimat-kalimat cerdas yang enak dibaca (dan perlu. Emangnya TEMPO?). Seluruh tulisan dalam Si Parasit Lajang ini adalah esai-esainya yang pernah dimuat di majalah djakarta! (yang kemudian berganti nama menjadi JAKARTA-JAKARTA) tahun 1998-2003. Ayu juga membuat sendiri ilustrasi untuk bukunya ini. Cewek lajang ini memang memiliki multi talenta.

Dan teman-teman, walaupun saya juga memilih tidak menikah, sumpah, itu bukan karena ikut-ikutan Ayu lo!

Audrey: Learned some fun things and depth of mind also.
Fun reading, but don't expect a life-changing, mind-breaking story whatsoever. I like the storytelling style, though, and also the term "Parasit Lajang" and what she meant by it. :)

Mikael: This is the collection of Ayu Utami's short stories and (if I'm not mistaken) essays. The language is still as brave as her previous two novels. Yet, the ideas here are not too interesting and fresh. In this short stories collection, I think, she is trying to change the attitude of Indonesian people who always think that choosing not to get married is something weird. However, I think the way she defenses that idea is somehow too much. I got the sense that she is trying to defense her own idea or principle (or choice). Well, it is still worth reading anyway. It does entertain and stimulate us to think and analyse the way our people think and consider sex, gender, and marriage.