Review Weedflower

Kamis, 01 Desember 2011

Weedflower (Bunga Liar)

by Cynthia Kadohata

Sumiko yang berumur dua belas tahun merasa hidupnya terbagi atas dua bagian: sebelum dan sesudah Pearl Harbor. Bagian yang baik dan bagian yang buruk. Dibesarkan di perkebunan bunga di California, Sumiko sudah terbiasa menjadi satu-satunya gadis Jepang di kelasnya. Meskipun anak-anak lain mengejeknya, Sumiko memiliki rumah, keluarga, dan bunga-bunga liarnya.

Semua itu berubah setelah peristiwa Pearl Harbor. Orang-orang Amerika curiga bahwa seluruh warga keturunan Jepang---termasuk mereka yang lahir di Amerika Serikat seperti Sumiko---adalah mata-mata Kaisar. Ketika kecurigaan itu semakin membengkak, Sumiko dan keluarganya mendapati diri mereka diangkut ke kamp konsentrasi di salah satu padang gurun terpanas di Amerika. Warna-warni bunga yang melingkupi hidup Sumiko lenyap sudah, berganti dengan badai debu yang menghitamkan langit dan menerobos setiap pori-pori barak militer yang merupakan "rumah" barunya.

Sumiko dengan cepat menemukan bahwa kamp itu terletak di daerah reservasi orang India, dan orang Jepang tidak diterima di situ seperti juga di tempat sebelumnya. Tapi kemudian Sumiko bertemu dengan seorang pemuda Mohave. yang mungkin bisa menjadi sahabat pertamanya, kalau saja sang pemuda mau melupakan amarahnya kepada orang Jepang yang dianggap menyerobot tanahnya.

Dengan pemahaman yang tajam dan mendalam, dan dengan meminjam mata seorang gadis remaja yang mendambakan tempat, Cynthia Kadohata mengeksplorasi dampak pengeboman Pearl Harbor terhadap orang-orang Jepang di Amerika pada masa Perang Dunia II. Weedflower adalah kisah keindahan dan tantangan persahabatan antar-ras, dan mengangkat kisah nyata bagaimana pertemuan warga Amerika keturunan Jepang dan penduduk asli Amerika telah mengubah masa depan keduanya.

Gramedia Pustaka Utama 2008

Dini: Obralan 10 rb di Gramed Depok.

Ross: This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.

Imas: Sumiko, gadis kecil berusia 12 tahun warga Amerika Serikat keturunan Jepang dibesarkan oleh keluarga paman dan bibinya di perkebunan bunga di California setelah kecelakaan lalu lintas yang menewaskan kedua orang tuanya.

Sumiko sudah terbiasa menjadi satu-satunya orang Jepang dikelas dan menjadi bahan ejekan, namun dia bahagia karena masih memiliki keluarga adiknya Tak tak, kedua sepupunya Ichiro dan Bull, kakeknya Jiichan dan tentu saja Paman dan bibi serta kebun bunga yang dirawat dengan kesungguhan dan penuh kebanggaan.

Kehidupan Sumiko dan keluarga berubah setelah peristiwa Pearl Harbor. Seluruh Nikkei-warga Amerika keturunan Jepang- dicurigai sebagai mata-mata Kaisar. Mereka dipindahkan ke tempat-tempat pengasingan, kamp-kamp konsentrasi untuk melokalisir mereka. Menyedihkan, bagaimana Sumiko dan ribuan keluarga Nikkei harus tercerabut dari kehidupannya. Dipaksa pindah meninggalkan ladang yang telah dipelihara dengan kerja keras.

Menyedihkan bagaimana Sumiko harus membakar buku-buku kursus bahasa Jepang, tulisan-tulisan Jepang yang dibuatnya dengan bersusah payah, satu-satunya foto kedua orangtuanya karena pada foto itu terlihat bendera Jepang dan semua barang-barang yang diperkirakan akan membuat kecurigaan bahwa mereka berpihak kepada Jepang. Menyedihkan bagaimana Sumiko memandang kebun bunga kesayangannya pada hari mereka harus meninggalkan rumah menuju kamp konsentrasi.Saat itu Sumiko sempat membawa bibit bunga hasil penelitian pamannya yang dinamai seperti namanya "bibit Sumiko".

Sumiko menjalani babak baru kehidupannya dipadang gurun terpanas di Amerika, daerah reservasi orang Indian. Sumiko selama beberapa tahun terakhir berangan-angan untuk kuliah dan memperoleh gelar dibidang bisnis supaya bisa mengelola toko bunganya sendiri. Dia tahu dia cuma gadis petani,tapi jauh dilubuk hatinya ia percaya bahwa setiap bunga yang dipetiknya,setiap piring yang dicucinya, setiap hinaan teman sekolah yang harus ditanggungnya dan setiap dinihari yang membangunkannya akan membawa dia semakin dekat kepada impiannya, kepada penjelmaan dari gadis petani menjadi pemilik toko bunga.Dia tidak menginginkan toko bunga besar. Dia hanya ingin dikelilingi bunga tiap hari selama sisa hidupnya. Ia ingin menamai putrinya Hanako yang berarti "anak bunga".

Tapi sekarang,berbaring di dipan ditengah padang gurun, dikelilingi ngengat, kelelawar dan kalajengking, Sumiko merasa toko bunga itu takkan pernah mampu diraihnya. Impiannya telah sirna. Kebiasaan bekerja keras dan tidak tau berbuat apa, para Nikkei yang sebagian besar petani membangun ladang pertanian di padang gurun itu. Kebun bunga Sumiko yang dikerjakannya bersama Mr Moto berhasil meraih juara ketiga.


Weedflower adalah cerita tentang kasih sayang, keluarga, kerja keras, prasangka dan kebencian. Persahabatan dan kasih sayang bisa tumbuh dimana saja dengan menghilangkan prasangka.

Great book on a touchy subject

Helvry: Bagaimana rasanya kesepian? bagaimana rasanya bosan? bagaimana rasanya meninggalkan kamp? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang diajukan Sumiko dan ia sendiri yang menjawabnya.

Novel ini bercerita tentang kehidupan keluarga Jepang-Amerika pada masa perang dunia ke-2. Sumiko, seorang gadis berumur dua belas tahun tinggal bersama Pamannya yang bernama Hatsumi, Bibinya (namanya tidak disebutkan dalam novel), Kakeknya, Masanori Matsuda yang dipanggil Jichan, dua sepupunya yaitu Ichiro dan Bull, dan adiknya, Takao yang dipanggil Tak-Tak.kakeknya Matsuda, adiknya Takao, yg dipanggil Tak-Tak. Mereka tinggal di suatu perkebunan di California.

Sumiko dan Tak-Tak yatim piatu. Kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan mobil ketika Sumiko dan adiknya masih kecil. Sumiko tidak sempat mengenal orangtuanya, ia hanya melihat gambarnya lewat foto dan dari penuturan kakeknya. Setelah kejadian kecelakaan itu, ia dan adiknya kemudian diasuh oleh Paman dan bibinya. Ichiro dan Bull berjarak enam tahun dan sembilan tahun dari Sumiko, kedua sepupunya inilah yang menghibur Sumiko. Sumiko diberi tanggugjawab untuk memetik dan memotong bunga di kebun bunga millk pamannya. Keahliannya memotong bunga membuat sumiko bangga pada dirinya sendiri. Pamannya pun menghadiahkan sebuah pisau pemotong bunga yang berukir nama Sumiko di atasnya. Sumiko biasanya bertugas memetik bunga sebelum pergi sekolah, setelah itu bunga yang dikumpulkan akan dibawa oleh sepupunya untuk dijual.

Saat itu di Amerika sudah ada ketidaksukaan dari warga amerika asli terhadap penduduk Jepang. Hal itu dikarenakan Jepang adalah sekutu Jerman dan Italia yang menjadi musuh Amerika di Perang Dunia II. Sumiko merasa tertolak ketika ia menghadiri pesta ulangtahun temannya, Marsha Melrose. Saat itu tanggal 6 Desember 1941. Ternyata kehadirannya tidak disukai. Padahal ia sudah menyiapkan gaunnya yang paling bagus dan ia sudah meminta pada pamannya untuk membeli hadiah buat temannya. Ia merasa terhina dan marah, dan ia pulang. Inilah kesepian yang ia rasakan:

1.seakan-akan semua orang mentapmu.
2.seakan-akan tak seorangpun melihat kepadamu.
3.seakan-akan kau tak peduli pada apa pun.
4.seakan-akan kau nyaris hendak menangis. (hal 48)

7 Desember 1941, peristiwa pemboman Pearl Harbour oleh tentara Jepang. Beberapa orang jepang (orang Amerika menyebutnya Japs) yang diketahui sebagai pemimpin kelompok ditangkap. Diantaranya adalah Paman dan Kakek Sumiko. Mereka berdua dibawa ke suatu tempat oleh haji (istilah jepang bagi orang yang berkulit putih) ke suatu tempat. Keadaan pascapenyerangan itu membuat hidup mereka tidak nyaman. Beredar kabar bahwa para petugas akan merazia benda-benda yang berbau jepang. Karena itu, seluruh orang Jepang di lingkungan mereka membakar apa-apa saja milik mereka yang berbau Jepang. buku bacaan, lukisan, surat-surat dan sebagainya dibakar oleh mereka.

Pengumuman dari pemerintah menyerukan supaya orang-orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Warga Jepang di komunitas nelayan misalnya, diberitahu bahwa mereka harus meninggalkan wilayah mereka dalam waktu 48 jam dan hanya boleh membawa harta benda yang bisa dibawa. Banyak orang berbondng-bondong ke wilayah itu dan memborong semua perabotan yang indah dengan harga yang murah. Sama juga di rumah Sumiko. Selendang sutra yang tadinya akan ia berikan sebagai hadiah ulangtahun kepada Melrose, ia jual hanya satu dolar (Pamannya membeli 4 dolar).

Akhirnya tibalah juga bagi mereka meninggalkan rumah selamanya. Bersama dengan warga jepang yang lain, mereka dikumpulkan di gelanggang. Mereka dikirim ke kamp-kamp. Sumiko dan keluarganya ditempatkan di kamp di Poston, di tepi Sungai Colorado. Sumiko akhirnya bersahabat dengan teman-teman baru disana. Ada Mrs. Ono, ada Mr.Moto, ada Sachi. Yang terutama ia bertemu dengan Frank, seorang pemuda Indian. Ternyata kamp tempat ia tinggal adalah pusat konservasi bagi suku Indian. Mereka sering bertemu di kebun. Sumiko membawa es batu pada Frank, sembari mereka bercakap-cakap.

Suatu kali Frank meminta pada Sumiko supaya dipertemukan dengan sepupunya, Bull. Frank ingin memperkenalkan kakaknya, Joseph pada Bull karena Joseph ingin belajar membuat irigasi. Joseph mendaftar menjadi tentara Amerika dan segera ditugaskan. ia berharap kalau keluar dari dinas kemiliteran, ia akan bertani, untuk itu ia belajar pada Bull, karena orang Indian itu melihat irigasi yang dibuat oleh penduduk kamp itu sangat bagus.

Berita mengejutkan tiba. Ichiro dan Bull mendaftar menjad tentara, kedua sepupunya juga akan meninggalkan bibi dan sumiko dan tak-tak. Bibinya juga memutuskan untuk pergi keluar dari kamp. Akhirnya Sumiko pun meninggalkan kamp beserta seluruh sahabatnya, sementara sepupunya ikut berjuang bersama tentara Amerika lainnya.

Dari catatan penulis, diketahui bahwa Tim Kombat Resimen 442 yang terdiri atas warga amerika keturunan Jepang merupakan unit yang yang paling berjasa bagi Amerika. Mereka menjadi legenda karena keberanian mereka berperang. Para serdadau yang terluka bukannya beristirahat di rumah sakit, tetapi kabur dari sana untuk berperang. Selama perang dunia II ribuan orang Indian yang mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan perang.

Inilah karya dari novelis Cynthia Kadohata. Sebelum novel ini ia telah menulis novel: 1) The Floating World, 1989 2) In the Heart of the Valley of Love, 1992 3) The Glass Mountains, 1995 4) Kira-Kira, 2004. Novel Weedflowers bercerita tentang kamp internir Poston dimana ayahnya dipenjarakan selama Perang Dunia II.

Selama Perang Dunia II (1943-1945), Presiden Amerika Franklin Delano Roosevelt (1882–1945) menandatangani signed Executive Order 9066 pada 19 February 1942. Isinya memerintahkan untuk merelokasi etnis tertentu atau kepercayaan tertentu ke suatu kamp, termasuk didalamnya etnis Jepang dan Indian. tujuannya untuk melidungi Amerika dari serangan teroris dan mata-mata musuh. Peratiran itu dipandang sebagai pelanggaran besar terhadap hak sipil dan masa yang suram dalam sejarah Amerika.

Menyusul perintah Presiden Roosevelt, keturunan Jepang Amerika diarahkan untuk melapor ke stasiun kontrol untuk mendaftar. Dari sana mereka diminta untuk memindahkan seluruh keluarga mereka ke salah satu dari sepuluh interniran kamp yang terletak di California, Arizona, Wyoming, Colorado, Utah, dan Arkansas. Ayah Cynthia Kadohata diinternir di kamp Poston di Sungai Colorado Indian Reservation di Gurun Sonora . Karena mereka hanya boleh membawa apa yang bisa mereka bawa, sebagian besar orang Jepang Amerika harus menjual sebagian besar barang-barang mereka. Banyak orang mengambil keuntungan dari situasi dan membeli barang-barang, seperti mobil, pada harga yang sangat dibawah harga pasar. Harta benda mereka juga dicuri dan rumah mereka dirusak, yang akhirnya menghasilkan jutaan dolar kerugian harta.

Antara 1942 dan 1945, sekitar 120.000 orang (banyak di antaranya warga negara Amerika atau Nisei), tinggal di kamp-kamp interniran, yang kadang-kadang disebut sebagai kamp-kamp konsentrasi. Semua tahanan diminta untuk menandatangani sumpah kesetiaan kepada Amerika Serikat meskipun mereka tidak dibebaskan setelah penandatanganan. Mayoritas langsung setuju untuk menandatangani karena mereka ingin menunjukkan kesetiaan mereka. Namun Beberapa menolak, dan sebagai hasilnya sekitar delapan ribu orang Jepang dideportasi, kembali ke negara mereka. Mereka yang tetap terus menunjukkan kesetiaan mereka ke Amerika dengan mengibarkan bendera Amerika dan menghormat bendera setiap pagi dan sore. Pada tahun 1943, sebagai upaya perang memuncak, pria Amerika Jepang bahkan direkrut menjadi US Army. Unit Jepang Amerika diciptakan, termasuk resimen 442 Combat Team, yang dianggap sebagai salah satu unit militer yang paling dihormati dalam sejarah AS.

Pada tahun 1988, Kongres AS menciptakan sebuah rancangan undang-undang yang secara resmi meminta maaf kepada seluruh Jepang interniran Amerika dan keluarga mereka. Setiap individu yang telah magang di salah satu dari sepuluh kamp ditawari satu kali kompensasi sebesar $ 20.000.

Novel ini dibuat dengan beberapa riset dan direviu oleh orang-orang akademisi. Hal itu dapat dilihat dari kata pengantar Cyntia. Tak pelak lagi, ini adalah novel yang mengingatkan kesalahan pemerintah Amerika pada keturunan Jepang-Amerika.

Novel ini agak membosankan karena kejadian yang amat kelam tersebut dipandang dari sudut pandang anak 12 tahun. Selain itu, banyak Jepang yang digunakan tidak dibuat glossary nya sehingga menyulitkan pembaca manakala ingin mengetahui artinya dengan segera.

Namun, novel ini membawa khasanah wawasan kita kan suasana perang dunia II di kamp Amerika, dan bisa menyadari pentingnya menghargai dan mengakui keberadaan manusia sebagai sesama di muka bumi.

KristI: I am so satisfied that Cynthia Kadohata's Weedflower was chosen as the One Book Arizona for Kids for 2007 because I likely might not have gotten to it just yet, if at all. Having just finished it-minutes ago, my thoughts are fresh and still congealing, which is not how I would normally write a review. However, it has been a long while since I've reached the end of a book-especially one written so quietly and unaffectedly-and had the urge to just cry.

I had to reflect upon the reason for this sudden welling up of emotion a bit (which, I have to say, happened not on the last word, but in the emptiness of the end pages that I found myself frantically flipping through). Was it the loss of relationships suffered by the protagonist? Was it the fear of a new beginning for her? Or was it my embarrassment for not ever realizing the extent of sadness that history has left on the very places and people I am surrounded by every day?

Truly, having the events detailed by a character that is a child gave me a more appropriate reaction to local and national history that I had only mentally glossed over because of an array of teaching and literature that did the same. Hooray for children's literature in that sense.

What IF everyone in Arizona read the same book? I'm returning mine to the library tomorrow. Go get it.