Review Laskar Pelangi

Minggu, 04 Desember 2011

Laskar Pelangi (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 1)

by Andrea Hirata

Begitu banyak hal menakjubkan yang terjadi dalam masa kecil para anggota Laskar Pelangi. Sebelas orang anak Melayu Belitong yang luar biasa ini tak menyerah walau keadaan tak bersimpati pada mereka. Tengoklah Lintang, seorang kuli kopra cilik yang genius dan dengan senang hati bersepeda 80 kilometer pulang pergi untuk memuaskan dahaganya akan ilmu—bahkan terkadang hanya untuk menyanyikan Padamu Negeri di akhir jam sekolah. Atau Mahar, seorang pesuruh tukang parut kelapa sekaligus seniman dadakan yang imajinatif, tak logis, kreatif, dan sering diremehkan sahabat-sahabatnya, namun berhasil mengangkat derajat sekolah kampung mereka dalam karnaval 17 Agustus. Dan juga sembilan orang Laskar Pelangi lain yang begitu bersemangat dalam menjalani hidup dan berjuang meraih cita-cita. Selami ironisnya kehidupan mereka, kejujuran pemikiran mereka, indahnya petualangan mereka, dan temukan diri Anda tertawa, menangis, dan tersentuh saat membaca setiap lembarnya.

Buku ini dipersembahkan buat mereka yang meyakini the magic of childhood memories, dan khususnya juga buat siapa saja yang masih meyakini adanya pintu keajaiban lain untuk mengubah dunia: pendidikan

Bentang Pustaka 2008

Dini: Udah lama bgt baca buku ini. Dari tahun 2008. Bukunya bagus. Nonton kalo gasalah mah di Dvd bajakan deh. Hehe. Hal yg baru saya sadari sekarang adalah bahwa isi buku ini relate sekali dgn dunia nyata. Pertemanan, pengkhianatan,mimpi2,dan cinta.Pengalaman pribadi menunjukkan yang tadinya teman bisa lawan, yang tadinya memusuhi jadi teman. Mungkin beda latar belakang, tapi memang pendidikan itu kunci utama menembus dunia. Ayah saya sendiri menekankan akan pntingnya pendidikan sampai saya dilarang kerja dulu sebelum lulus.

Nia: Teringat pesan Tuk Bayan Tula kepada Mahar dan Flo...Kalau mau lulus ujian
Buka buku dan belajar....
Hahaha...lucu...bahkan dukun sakti saja berkata seperti itu... :-)

Hasanuddin: Sudah lama buku ini masuk daftar tunggu untuk dibaca, akhirnya kelar juga.... Banyak yang merekomendasikan membaca buku ini, tapi apa daya ada banyak buku lain yang lebih tertarik aku baca. Penilaian ku, cerita pribadi yang dientas menjadi novel mungkin sama halnya dengan N. H. Dini yang banyak mengupas kehidupan pribadinya dalam rentetan novelnya. Aku tidak paham mana batasan sastranya, apakah cerita pribadi bisa sebagai karya sastra. Namun sebagai penikmat bacaan, aku cukup terhibur dengan narasi yang dipaparkan oleh Andrea Hirata yang khas meliuk gaya melayu. Jika ada pertanyaan, mengapa anak kecil nun di pelosok sana memiliki kejeniusan. Aku menarik kesimpulan sendiri kalau diri kita terlebih anak-anak memiliki raw material yang perlu dipoles. Apakah polesan itu membuatnya semakin mengkilap atau merusak, tergantung dari induksi pengajaran. Dan inilah kesuksesan dari guru SD Muhamdiyah Belitong membuat metode pengajaran bercerita. Dengan bercerita daya imajinasi tentu saja imbasnya pada kreatifitas berpikir akan semakin terolah.

An: Akhir na selesai juga…. Stlh pergolakan panjang dan sering ditinggal. Bkn krn mbosankan tp sudut pandang yg diambil sangat, sangat, sangat tidak sesuai. Masa anak” umur segitu (SD) pny pketahuan seluas ‘n setinggi itu. Rhe langsung tpesona…. Bnrkah????? Benarkah anak” paling miskin d Belitong pny pngetahuan seluas itu??? Wah, klo gitu mrk g usah plu sekolah aja…..

Andrea hirata… mgkn dia mnulis sesuatu yg baru… tp sdkt yg kurang pas d sni adl dia memasukkan pikiran dia saat ini k dlm tokoh” yg dia buat yg dlm hal ini adl anak” SD. Jg tkesan…. Pandai sekali meraka!!!!!

Membosankan!!!

Penjelasan yg diberikan terlalu detail shg g mberi ruang pribadi bagi pembaca untuk berimajinasi. Membaca banget dech jadi na, bukan menikmati bacaan.

Capek.

Nb : dr tulisan d laskar pelangi tampak klo pujian bwt andrea yg mrp penulis baru tp mampu menggebrak bkn sesuatu yg luar biasa cz mmg sdh lama dia bcita” jd penulis. Pasti na laskar pelangi dah melalui ptimbangan n pmikiran lama sblm dkeluarkan k publik.

Indri: Waktu selesai membaca buku ini, saya menyesal.
Menyesal karena baru sekarang membacanya, dan terpengaruh oleh review di Kompas tentang teknik penulisannya yang banyak pencampuran waktu dulu dan sekarang, tentang isi yang tak seperti biografi, namun bercampur fiksi.
Dan banyak sekali orang yang membacanya, jadi saya agak kurang tertarik.

Tapi sesudah membaca bab pertamanya, aku langsung jatuh hati pada gaya yang mirip dengan Totto Chan.. Kesederhanaan cerita yang dibungkus dengan ilmu pengetahuan alam yang luar biasa. Seperti membaca sains sejarah novel. Membuatku tdk ingin berhenti untuk tahu petualangan selanjutnya.
Sensasi seperti cerita Astrid Lindgren di masa kecilku, mengingatkan masa kecilku ketika aku tergila2 pada matematika dan IPA. Semoga buku ini direferensikan sebagai karya sastra yang wajib dibaca di sekolah, seperti halnya karya Marah Rusli dulu..

Della: awesome...keren abis n i think ne buku kudunya diwajibkan oleh para guru tuk membacanya buat anak2 SD biar mrk sadar the values of life n education..but tetep ne buku bnr2 entertain' bgt tp sarat ma lessons

Ari: Narasinya agak aneh, tapi aku suka kok.
Aku habiskan baca buku ini dalam semalam...

Weni: Sudah lama orang heboh membicarakan Laskar Pelangi, saya belum tergerak untuk membacanya. Kata orang ceritanya bagus, lucu, sedih, beberapa orang bahkan menangis ketika membacanya. Saya belum juga tergerak. Lama2 penasaran juga hehe. Akhirnya saya beli dan saya baca. Meskipun kalimat2 yang dipilih rasanya terlalu canggih diliat dari sudut pandang anak2, tapi saya suka buku ini :)

Laskar Pelangi membuat saya tertawa dan bersedih. Tertawa ketika mereka diminta menyanyi di depan kelas dan mereka selalu menyanyi lagu yang itu2 saja, tertawa ketika membaca cita2 mereka: "Adapun Trapani yang baik dan tampan ingin menjadi guru. Ketika kami tanyakan kepada Harun apa cita-citanya, ia menjawab kalau besar nanti ia ingin menjadi Trapani", dan masih banyak lagi. Lalu saya bersedih ketika ayah Lintang meninggal sehingga Lintang, si jenius yang bercita-cita jadi matematikawan, tidak bisa bersekolah lagi. Dan saya berlinang air mata ketika mendapati Lintang menjadi supir :(

"Lintang dan keseluruhan bangunan ini menimbulkan rasa iba, iba karena kecerdasan yang sia-sia terbuang."
"Jangan sedih Ikal, paling tidak aku telah memenuhi harapan ayahku agar tidak jadi nelayan"

Yosi: Fantastic! Inspiring! Motivating! Entertaining!
What else can I say? So far this is the best Indonesian book I ever read. Bahasanya mudah dicerna dan kocak tapi tetap berkesan cerdas. Banyak hal yang bisa diserap dari kisahnya. Mendeskripsikan sisi fun di balik kegetiran hidup. Membuat saya termotivasi untuk selalu bermimpi dan berusaha.