Review Kemayoran

Rabu, 18 Januari 2012

Kemayoran

by Nh. Dini

Setelah lulus dari SMA di tahun 1956, Dini berangkat ke Jakarta. Melalui beberapa tes kesehatan, bahasa dan pengetahuan umum, akhirnya dia diterima oleh Bagian Pendidikan Garuda Indonesia Airways untuk mengikuti masa training sebagai ground hostes reserved flight (pramugari darat-cadangan terbang). Selesai menjalani kursus dan latihan-latihan, Dini bekerja di Bandar Udara Kemayoran.

Sambil bekerja, dia mengikuti kursus bahasa Prancis dan B-1 Sejarah guna menambah pengetahuan. Dia juga melanjutkan kegiatan menulis yang sudah dimulainya sejak masih duduk di bangku SMP.

Pengalamannya di tempat bekerja dan dalam pergaulan mempertajam asahan moral serta perilaku yang diajarkan orangtuanya di bidang pengenalan terhadap manusia dengan berbagai masalahnya. Pengetahuannya yang luas ditunjang ditunjang kemampuannya berbahasa Inggris dan Prancis membuatnya luwes bergaul dengan orang-orang dari berbagai bangsa yang datang atau singgah di Kemayoran. Di antara tamu-tamu / penumpang tokoh nasional yang pernah dilayani Dini terdapat nama Bung Karno, ketika Presiden RI pertama itu melaksanakan perjalanan bersama Worosilov, pemimpin Uni Soviet di kala itu.

Dan pertemuan penting lain yang akhirnya mengambil tempat dalam sejarah hidup pribadi Dini ialah Yves Coffin, seorang diplomat berkebangsaan Prancis

Gramedia Pustaka Utama 2000

Saya: Anehnya gw cuma ingat tentang lapangan terbang itu dan suami bernama Yves/Yvez Covin. Dan kalau tidak salah ada cerita malam pertama dan termos air panas?...Dini memang suka blak2an membicarakan dirinya...anak yg punya ibu sprti itu pasti bangga sekali.

Agung: Ternyata buku ini termasuk serial cerita kenangan dari kehidupan nyata Nh. Dini. Auto-Biografi bersambung! Ada yang tau judul lanjutannya apa? Karena diakhir, cerita begitu menggantung.

Buku ini mengisahkan tentang seorang perempuan muda yang bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) sebagai Ground Hostess di pertengahan tahun 50-an. Perempuan ini begitu hebat menurutku, karena setelah lulus SMA dia tak ingin menyusahkan orangtua maupun keluarganya. Dia memilih untuk bekerja sambil kuliah dengan biayanya sendiri. Selain itu dia juga memiliki hobi membaca dan menulis. Tulisannya itu bahkan sudah sering menghiasi media masa nasional kala itu. Buku ini sayang untuk dilewatkan, selain cerita yang bagus ada nilai sejarah juga dalam buku ini, karena memang ditulis berdasarkan kehidupan nyata dari sang penulis.

Imas: Menceritakan kehidupan sehari-hari dengan ringan- seperti biasa-namun tetap menarik. Utk pergaulan pada masa itu, menurut cerita ibu guwe nih...,pergaulan ma din cukup "berani" pd zamannya...Keputusan utk memilih Yves ternyata tdk berdasarkan pertimbangan yg matang,ironi dr penuturan penulis sendiri yg menyatakan selalu memutuskan sesuatu berdsrkan perencanaan....pandangan org2 sekitar memang tak dpt dipungkiri sedikit byk mempengaruhi pengambilan keputusan...Aku baca buku Nh Dini tdk berurutan, malah baca yg terakhir duluan "Argenteuil" yg berisi perceraian mrk.Jd penasaran bgm pertemuan mrk..

Sri: Di buku ini Bu Dini mengisahkan masa-masa dia mulai "berkawan" dengan pria-pria asing, aheeem. Tapi akhirnya Bu Dini memilih Pak Yves yang kelak di kemudian hari sering disebutnya sebagai "laki2 pilihanku sendiri itu" sebuah ungkapan yang menurutku mengandung nada penyesalan dari Bu Dini. Seperti ini: "memang laki2 pilihanku sendiri, tapi kok kelakuannya seperti itu".

Indigo: Mungkin ini satu-satunya buku NH Dini yg pernah gue beli dan baca. Setelah melihat tulisannya dalam buku ini, kyknyague ga gitu cocok yah. Terlalu 'perempuan' dan mengulas detil-detil yg menurut gue ga penting.

Ashree: Seperti gaya Nh. Dini yang unik menceritakan kehidupan pribadinya dalam bentuk fiksi. Gaya tulisan ini yang jarang ditemukan pada masa sekarang. Unik, banyak pembelajaran, tanpa ada beban pembaca merasa digurui. Satu bagian plot tentang hubungan seksual sebelum menikah tak malu ditulisnya.