Review Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Rabu, 04 Januari 2012

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

by Pramoedya Ananta Toer

Sebuah buku tentang kesaksian. Dan buku ini adalah kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan di balik pembangunan Jalan Raya Pos atau yang lebih dikenal dengan Jalan Daendels; jalan yang membentang 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa, dari Anyer hingga Panarukan. Inilah satu dari beberapa kisah tragedi kerjapaksa terbesar sepanjang sejarah di Tanah Hindia.

Lentera Dipantara 2006

Ipung: "Dan ternyata Daendels tidak seluruhnya membangun jalan raya pos itu. Dia hanya mengeraskan dan melebarkannya."

Irwan: “Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak di antara bangsa-bangsa lain” (Pramoedya Ananta Toer).

Kata itu adalah pembuka saat awal buku Pram yang satu ini. Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels merupakan jalan yang membentang sepanjang 1.000 kliometer dari Anyer sampai Panarukan. Jalan itu dibangun atau lebih tepatnya dilebarkan di bawah perintah Maarschalk en Gouverner Generaal, Mr. Herman Willem Deandels. Yang selesai pada tahun 1809. Lewat buku ini Pram menyeritakan sisi kejam dari pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan air mata dari penduduk republik ini.

Deandels ditunjuk menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda taun 1808. Dia mendarat di Anyer pada 5 Januari 1808. Untuk jamannya , “membangun” jalan Raya sepanjang itu dalam setahun saja (1808) sungguh prestasi besar, karena itu juga namanya mendunia. Deandels merupakan sosok yang kontroversial. Ia di gambarkan sebagai soerang yang berhati baja sekaligus berkepala angin, tak punya kekuatan untuk menghadapi, baik atau buruk, benar atau salah, dan langsung mengancam dengan bentakan akan menembak mati lawan berargumentasi. Penulis Belanda “Geillustreerde Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie” sendiri menyatakan, Deandels seorang despot yang kejam tidak taktis, dan tak ada bakat diplomat, karenanya tidak cocok bergaul dengan raja-raja pribumi.

Daendels hanya memerintahkan untuk melebarkan jalan menjadi 7 meter. Semua batu peninggian dan pengerasan, rakyat kecil dan para petani yang harus setor serta tanpa imbalan. Atau dengan imbalan, hanya saja orang-orang atasan tertentu yang menerimanya. Bukan rahasia lagi, jaman kompeni adalah jaman maraknya korupsi. Walaupun jaman orde lama, baru maupun reformasi masih dilestarikan korupsi sebagai warisan bangsa.

Ada tindakan Deandels yang menjadi sejarah –semua tindakanya sepertinya adalah sejarah – yaitu ketika dalam perjalanan inspeksi pembangunan Jalan Raya Pos ia mengucapkan kata-kata sebagai berikut : “Zorg, dat als ik terug kom hier een stad is gebouwd” (Usahakan ketika aku datang lagi kesini telah di bangun sebuah kota). Lalu ia menusukan tongkat ke tanah. Tempat menusukan tongkat itulah yang kemudian menjadi titik nol kilometer kota Bandung.
Kebengisan Deandels dalam memerintah karena dia adalah satu-satunya dari 71 Gubernur Jendral yang diterjunkan langsung dari Belanda. Gubernur Jendral biasanya diangkat diantara orang Belanda yang ada di Hindia Belanda. Disamping memenimbulkan kebencian pada rakyat Indonesia, tingkah Deandels telah menyebabkan banyak pengaduan kepada Louis napoleon –raja Belanda, adik dari Napoleon Bonaparte yang waktu itu menduduki Belanda.
Sehingga pada 1811 ia di panggil pulang dan diganti J.W. Jenssens. Berakhirlah karirnya sebagi gubernur jendral Hindia Belanda.

Jalan Raya Pos, Jalan Raya Deandels atau kerap dikenal dengan nama jalan Anyer-Panarukan. Sesuai dengan namanya awal dari pembangunan jalan ini mulai dari Anyer. Anyer merupakan tempat pertama kali Deandels menginjakan kaki di bumi Jawa. Tetapi Anyer yang didarati Deandels bukan Anyer yang sekarang. Pantai dan beberapa desanya telah habis disapu oleh letusan gunung Krakatau tahun 1883.

Setelah itu jalan Raya Pos bergerak 19 kilometer ke arah barat yaitu kota Cilegon, kemudian menyusuri kota Banten, selanjutnya membelok ke selatan menuju Serang. Di kota Serang ini pengarang Belanda Multatuli mendapat inspirasi untuk memebuat karyanya yaitu Max Havelaar, yang memberikan kesaksian betapa rakyat teraniaya oleh penjajah Belanda.
Kemudian di teruskan melalui kota Tanggerang dan dua puluh kilo meter menuju tanah betawi –Batavia. Di Batavia juga di ceritakan betapa terkejutnya Inggris bahwa rakyat hanya menikmati seperempat belas dari hasil pekerjaan mereka. Tiga belas perempatbelas adalah untuk membiayai tata susun feodal pribumi sendiri, kekuasaan kolonial dan kemakmuran serta kesejahteraan Belanda, Eropa. Lantas bagaimana petani Jawa bisa bertahan, orang Inggris menJawab sendiri : “Karena Kesuburan Tanahnya.”

Beranjak dari Batavia lanjut menuju kota Depok melintasi Lenteng Agung dan Pondok Cina. Dari namanya daerah ini merupakan tempat kediaman etnis Tionghoa. Di masa VOC, dari surat wasiat tanggal 13 maret 1714 tanah di berikan kepada budak belian yang beragama Kristen dan keturunanya. Salah satu syaratnya dalah bahwa oarng Tionghoa tidak boleh tinggal disitu. Namun sekarang Depok menjadi kota Universitas. Saya termasuk “warga” didalamnya, walaupun menurut saya Depok masih banyak dihuni oleh etnis Tionghoa. Karena mahasiswa di kota Depok banyak juga yang beretnis Tionghoa dan dengan Indeks Prestasi (IP) yang luar biasa –cumlaude— atau sering di sebut IP “dewa”. Pribumi mau tak mau harus mengakui dan banyak belajar dari ketekunan etnis tersebut.

Kemudian dilanjutkan menuju Buitenzorg –Bogor—, tejemahan dalam bahasa Prancis, Sans Souchi, yang berarti tanpa beban pikiran, santai saja. Meninggalkan Bogor menuju Priangan si Jelita. Priangan atau Parahyangan tempat para hyang (=leluhur atau dewa) bersemayam. Kemudian menjurus ke tenggara sampai ke Ciawi di kaki gunung Pangrango. Hanya menuruni beberapa kilometer menuruni lereng gunung Gede dan sampailah di Cianjur,Cimahi, Bandung Parijs Van Java ibu kota Priangan, kemudian menuju kota tahu, Sumedang, dan dilanjutkan ke kota Karang Sembung.

Dari Karang Sembung jalan Raya Pos menuju kota pelabuhan Cirebon. Kemudian secara berturut-turut melintasi kota Losari, Brebes, dan Tegal. Konon orang Tionghoa sudah bermukim di kota Tegal sejak sebelum abad 10. Bisa dipercaya karena Posisi Tegal sebagai gudang beras, dan sampai bangkrutnya VOC menjadi Hindia Belanda.
Enam puluh kilometer ke timur menuju kota Pekalongan kemudian menuju kota Batang, Weleri, Kendal, dan selanjutnya menuju kota Semarang, ibu kota Jawa Tengah.

Meninggalkan Semarang, sekitar dua puluh delapan kilometer sedikit serong ke timur laut menuju kota Demak –kota yang tekenal dengan mesjid Agung Demak. Jalan Raya Pos kemudian menyusuri kota Kudus yang merupakan mata rantai dari penyebaran agama Islam yang juga merupakan industri rokok kretek.

Dari Kudus kemudian menuju kota Pati yang didalam wilayah kabupaten juga terdapat makam yang melambangkan kekacauan berabad dalam alam pikiran. Makam di Tlogowungu itu dianggap bukan saja keramat juga sebagai makam Pandu Dewanta, tokoh pertama Pandawa Lima dari sastra Hindu Mahabaratha. Selanjutnya menuju kota Juwana dan kota perbatasan Jawa Tengan dan Jawa Timur yaitu Rembang.

Memasuki provinsi Jawa Timur masuk ke kota Tuban, kemudian masuk ke kota Gresik. Di sini juga cukup banyak peninggalan lama seperti jangkar tua bermata 4 dengan panjang 3,5 meter. Dan tentu saja makam-makam lama seperti makam Maulana Malik Ibrahim yang dianggap sebagi wali pertama semasa tahap pertama penyebaran Islam di Jawa. Kemudian jalan Raya Pos menuju ke kota Surabaya. Di kota ini Pram untuk pertama kali melihat dan mengenal kata “tawuran”.
Berlanjut beberapa kilometer saja ke selatan sampailah ke kota Wonokromo dan delapan belas kilometer kemudian sampai ke kota Sidoarjo. Selajutnya sepuluh kilometer kemudian sampai ke pusat lumpur di kota Porong. Kemudian jalan Raya Pos melintasi kota Bangil, lanjut kota asal Inul Daratista –Pasuruan, Probolinggo, Kraksaan, Besuki, dan dua puluh kilometer menyusur pantai timur laut sampailah ke terminal jalan Raya Pos yaitu Panarukan, yang semasa VOC juga merupakan benteng kompeni sebagai terjemahan keadaan siap perang.

Diakhir bukunya Pram mengatakan “saya tidak pernah berjalan di atas bumu Panarukan….”Jejeran kota-kota dari Anyer sampai Panarukan merupakan sebuah jejeran yang sungguh sangat membosankan jika hanya di tilik dari sejarah dan khas kota tersebut. Namun, Pram bisa menyiasati agar sejarah yang membosankan dan penuh kejumudan menjadi mengasikan dan terkadang membuat tertawa. Karena di buku ini penulis melibatkan diri baik dalam pengalaman maupun dalam argumentasi.

Misalnya ketika masuk ke penjelasan kota Cirebon Pram menceritakn sebuah kenangan yang menurutnya tidak akan mungkin terulang kembali. Di pertengahan 1946, pangkat Pram sudah melompat menjadi letnan dua. Singkat cerita Pram dari Cirebon ingin ke Tegal menuju tempat kopral yang katanya punya saudari perempuan. Celakanya mereka tak menemukan rumah kopral tersebut. Ajaib..!! Dan alangkah kagetnya Pram ketika selesai makan di sebuah hotel besar uang di sakunya lenyap. Kaburlah mereka berdua pada pukul 3 pagi. Karena masih jaman revolusi, suasana malam sangat sepi, namun kemudian mereka sampai ke tempat yang bernama Laskar Rakyat. Tanpa curiga piket setempat menerima mereka, malah menyuguhkan singkong rebus. Pengalaman uniknya sebagai berikut.

“Belum lagi membaringkan badan perutku melintir. Piket menunjukan dimana kamar kecil. Tempat itu gelap tak tembus pandang. Kaki menggeRayangi tahta kakus. Begitu mendapat ketinggian langsung nongkrong. Aneh, barang buangan itu jatuh berbunyi minor. Membersihkan diripun tangan menggeRayangi sumur. Dan waktu membasuh itu korek logam itu jatuh dari kantong celana. Curiga pada suara minor aku kembali ke kakus. Sinar api korek itu? Masyaallah, ternyata yang kuberaki bukan tahta kakus tapi tungku dapur. Dan kotoranku jatuh ke dalam priuk rendah yang masih ada singkong rebus. Celaka, ini bisa jadi tuduhan aku sebagai agen provokator, dan tembak-menembak bisa terjadi dan merembet jadi tembak menembak antara tentara lawan laskar. Kopralku kutarik dari tikar pendopo markas. Sekali lagi kami melarikan diri.” (hal. 79)

Masih banyak lagi pengalaman Pram yang di masukan dalam buku ini. Terdapat pula argumentasi yang menusuk tentang pembuatan jalan 1000 kilometer sepanjang utara pulau Jawa. Menurut Inggris korban dari pembuatan jalan tersebut mencapai 12.000 orang. Yang juga merupakan kuburan terpanjang dalam arti sebenarnya maupun kiasan sebagai bangsa yang besar, luas, kaya, tetapi selalu kalah dalam segala hal.

Siwulani: Bahwa negara kita bisa maju dengan cara yang amat memprihatinkan. Belanda menjajah sekaligus membangun negara kita. Buku ini mengandung nilai historis sekaligus geografis.

Edy: Buku ini kayak buku sejarah tetang kota-kota yang dilalui jalan Daendels. Buku ini relatif ringan dibaca dengan alur cerita sederhana meski ditulis dengan bahasa yang bernas ala Pram. Yang menarik adalah untuk nulis buku ini, kemampuan Pram untuk melakukan studi literatur kayaknya sangat dituntut. Menurutku buku ini tidak terlalu istimewa dibanding karya2 Pram seperti Tetralogi Pulau Buru, Perburuan dll.

Astrid: Membaca buku ini menyadarkan saya betapa minimnya pengetahuan saya tentang pulau Jawa , pulau yang harusnya menjadi pulau yang paling saya cintai , tapi apa buktinya ? Ternyata banyak hal yang masih baru yang saya serap dari buku ini.

Menelusuri Jalan Raya Pos dengan membahas satu persatu kota yang dilewatinya tak menjadi membosankan , seperti yang selayaknya dirasakan kalau kita membacanya dari buku teks sejarah di sekolah.

Windy: i've just finished to read this book. it was about the history behind the reconstruction and the making of long road crossing from Anyer to Panarukan, prior Indonesia independence. the writer also add the historical value for each city and town where this road spread over. it more like the notes from his trip, although he never went to the last city where this road ended. he also told a lot about the crime of colonizer. Governor Hermann William Daendels was the implementer of this project. his superior Louis Napoleon - young brother of Napoleon Bonaparte- give a command the compressed the budget. i dont know maybe that is the reason why he implemented rodi or romusha on the worker. rodi or romusha is another face of slavery, this worker was force to work with not sufficient rest and food without get paid. the number of victim is growing larger and larger, the rebellion from local community keep growing. but all the rebels face was VOC, one of biggest commercial organization in europe -could be in the world- at that time. the bamboo was never win against the bayonet. the interesting points was when the writer told us about his unforgettable experience. and about his story when he was being captured and incarcerated. or when the government try to stop him.

this writer has been defeated by Indonesia Government but it was never erode his nationalism. people as smart as the writer, who has high intelegence would understand and know that this land - Indonesia- has been so kind to us. it is the certain number of people who fight for their own interest who lead indonesia in to the demolition. at the end as indonesian people we should be proud of our nation, the land where the hero and the victim of romusha' blood spilled on. if not us ... then who else ...if not Indonesian itself ... then who else ??