Review Sekali Peristiwa di Banten Selatan

Rabu, 04 Januari 2012


Sekali Peristiwa di Banten Selatan

by Pramoedya Ananta Toer

Novel ini merupakan hasil reportase singkat Pramoedya di wilayah Banten selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan.

Lentera Dipantara 2006

Harun: Buku yang mengajarkan kita untuk bergotong royong. Dengan gotong royong, pekerjaan yang kita lakukan jadi lebih ringan dan lebih cepat mendapatkan hasilnya. Bukunya ringan sekali, tidak perlu nonton film dulu apalagi nonton teater Broadway nun jauh di sana.


*masih terbawa review sebelah*

Bitra: Sekali Peristiwa di Banten Selatan ditulis sebagai sebuah naskah drama. Setiap adegan dalam novel ini terasa seperti melihat sebuah pentas teatrikal. Pram menulis buku ini dengan bahasa yang sederhana. Kemungkinan besar karena Pram ingin pesan dari drama ini bisa lebih diterima oleh rakyat kecil kebanyakan. Meskipun alur ceritanya menarik, tapi bagi saya novel ini terlalu sederhana. Pesan "bila ingin mencapai kesejahteraan bersama kita harus bergotong royong" disampaikan terlalu langsung. Ya, sekali lagi, terlalu sederhana.

Sally: Pram menjadikan Banten sebagai representasi perbudakan di Indonesia di masa Belanda.

Fitri: “Reportase” singkat Pramoedya di wilayah Banten Selatan yang subur tapi rentan dengan penjarahan dan pembunuhan. Tanah yang subur tapi masyarakatnya miskin, kerdil, tidak berdaya lumpuh daya kerjanya. Mereka diisap sedemikian rupa. Mereka dipaksa hidup dalam tindihan rasa takut yang memiskinkan.

Ernest: A light read of a surprisingly average story with a cynical, almost typical happy ending. The plot is idiotproof, it doesn't feed me much of satisfying noetic literary nourishment. However the story is very much genuinely Indonesian, and probably a perfect case study for anybody who wants to learn more about Indonesian culture.

Fahmi: AWESOME!!!...putih tak selamanya putih dan hitam tak selamanya hitam.kesalahan adalah proses dalam hidup untuk menjadi...novel ini bercerita mengenai pemberontakan DI/TII diwilayah banten selatan.yang mana rakyatnya dibikin kerdil oleh pemberontakan tersebut...seperti soekarno bilang CONFLICT it not come from religion or else..but it comes from many of desire!!!...

Ancilla: Hal yang paling utama dalam buku ini adalah gotong royong yang tentunya terkait dengan kekeluargaan. Sangat ditekankan bahwa dengan aspek kerjasama yang walaupun sudah lama ada, namun tetap aplikatif untuk masa apa pun juga, termasuk saat ini. Gotong royong tidak hanya berisikan bekerja bersama-sama untuk menyelesaikan suatu tugas, namun juga aspek musyawarah-mufakat, toleransi dan kesediaan untuk "meletakan" ego masing-masing untuk kepentingan masyarakat banyak.

Topik bahwa pimpinan bukan berarti tidak boleh menerima pendapat dari bawahan. Bahwa pendapat dari bawahan, yang seringkali dianggap lebih bodoh dan segala hal minor lainnya, tidak berarti omong kosong.Walaupun, ada kalanya pimpinan-pimpinan memang tidak memungkinkan untuk duduk bersama para bawahan, Presiden misalnya. Akan tetapi, aspek mendengarkan ini sebenarnya dapat dilakukan dengan banyak cara. Sebagai individu pada umumnya dan pimpinan khususnya, seharusnya memang memiliki berbagai sumber.Selain itu, ada aspek keadilan. Juragan Musa yang ternyata "maling" dan pengkhianat tetap harus menerima ganjarannya, akan tetapi sang istri yang memang tidak tahu menahu, tidak diasingkan. Sang Nyonya tetap dilindungi dan didengar pendapatnya. Keadilan ini juga terkait dengan aspek memaafkan. Berbagai tindakan Juragan Musa yang keterlaluan kepada masyarakat kecil termasuk Ranta, sangat mungkin untuk diadili secara sepihak terutama ketika Ranta menjadi Lurah. Sangat mungkin untuk terjadinya pembalasan dendam. Tetapi yang terjadi tidaklah demikian. Juragan Musa tetap diadili berdasarkan hukum yang berlaku.

Lantas, aspek peranan perempuan dalam masyarakat. Pendapat perempuan seringkali dianggap tidak ada. Bahkan ada suatu anggapan bahwa perempuan tidak boleh lebih pintar daripada laki-laki, terutama di jaman tokoh-tokoh dalam buku ini. Padahal perempuan secara kodrat lebih memiliki empati terhadap kelangsungan kehidupan generasi selanjutnya. Memang, hanya boleh ada satu nakhoda dalam suatu kapal. Tapi tidak berarti peranan tukang dayung dapat diabaikan. Semuanya merupakan sinergi yang berkesinambungan.