Review Lihatlah Tubuhku: Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II

Senin, 02 Januari 2012


Lihatlah Tubuhku : Membebaskan Seks Bersama Yohanes Paulus II

by Deshi Ramadhani, SJ (Goodreads Author)

Seberapa besar kehidupan seksual anda memberi kepuasan dan menunjuk pada Allah ?

Penampilan tubuh adalah salah satu industri terbesar di dunia. Mesin pencari Google menghasilkan 770.000.000 situs berkaitan dengan kata "seks." Revolusi seks memang semakin menggila, tetapi seruan Gereja melalui Yohanes Paulus II justru semakin relevan!

Buku ini akan menggoncang pemahaman Anda tentang ungkapan cinta insani lelaki dan perempuan, sebagai gambar dan rupa Allah sendiri. George Weigel, penulis biografi Yohanes Paulus II, menggambarkan "Teologi tubuh" ini sebagai bom waktu teologis yang akan menimbulkan efek dramatis di abad 21.

Yohanes Paulus II menyerukan pembebasan seks bagi Anda, untuk menemukan arti hidup dan kebahagian yang sesungguhnya.

Kanisius 2009

Saya : Kalau g siap jgn baca. Seks harus dibebaskan sehingga kita tidak merendahkan seks sekaligus tidak mendewakan seks, apalagi berorientasi melulu pada orgasme. Ritus2 seks cenderung dibuat oleh laki-laki atau suami dan mensub-ordinasi perempuan atau istri.

Monica: Waktu aku menemukan buku ini di kardus buku bekas kakak ipar, aku berasa senang. Karena aku beberapa kali mendapat kesempatan bertemu dengan Romo Deshi Ramadhani SJ, sehinggga rasanya kurang sreg kalau belum membaca satu dari antara 3 bukunya. Penasaran juga pengen baca buku ini karena isinya menjelaskan tentang sex, yang notebene aktifitasnya tak pernah Rm. Deshi lalukan. Dan alasan akhir: Lumayan nemu, jadi gratisan… Hehehe…Setelah 2 bulan mencoba menyelesaikan, aku menganggap buku ini BERAT. Hiks… asli cuma 60% yang aku ngerti apa yang Rm.Deshi coba jelaskan. Kelihatannya otakku kurang dipersiapkan dengan kosakata bidang teologi nih, jadinya berasa ngos-ngosan dengan isi buku ini.
Maka inilah daftar point penting yang berhasil kurangkum di otakku:

1. Teologi Tubuh, seperti yang Paus Yohanes II pernah angkat dalam Ensikliknya, adalah berisi tentang hubungan Tubuh sebagai subjek (bukan objek) dengan kesucian penyerahan diri kita kepada Tuhan YME.


2. Dengan mengerti prinsip dasar Teologi Tubuh, maka kita akan mengerti pula arti Tubuh sebagai Penerima dan Tuhan sebagai Sang Pemberi.


3. Aktifitas sex yang tidak siap menerima segala resikonya sehingga pelaku dengan segaja menggunakan alat kontrasepsi, adalah sama dengan tindakan melanggar derajat Manusia sebagai Penerima dan Tuhan sebagai Sang Pemberi.


4. Dan dari poin nomer 2 di atas, hubungan Tuhan Sang Pemberi dengan Gereja sebagai Penerima menjadi jelas, dan dapat diterima akal sehat.


5. Dari situ kita dapat pahami mengapa Romo hanya boleh pria, bukan wanita seperti yang dikehendaki sebagian umat dengan alasan kesetaraan gender.


6. Pengendalian nafsu sex adalah tindakan yang suci dan murni, terlebih lagi dalam konteks pembicaraan bahwa Romo memiliki kaul Selibat.


7. Pernikahan yang dilangsungkan hanya agar kegiatan sex adalah legal dan nafsu sex terlampiaskan merupakan tindakan yang rendah.

Errr… segitu saja ternyata. Hehehe… Padahal Rm.Deshi sudah berusaha menjelaskan arti Teologi Tubuh dengan bahasa sehari-hari, dan perumpaan atau contoh yang jelas, tapi kok ya tetap berasa berat bagiku ya? So… karena topiknya menarik, aku kasih nilai 4 bintang. Tapi karena aku kurang meresap pada isinya, 3 bintang aja deh. Siapa tahu kalau niat, aku baca ulang lagi di masa yang akan datang, dan bintangnya bisa bertambah. :)

Rowena: Di sini kupahami beberapa hal:


1. Kenapa seorang imam Katolik seharusnya memang laki2, dan tidak mungkin perempuan


2. Bahwa tubuh dan darah Kristus yang kita santap setiap Misa Kudus tidak hanya berguna bagi jiwa namun bagi tubuh juga


3. Bahwa tubuh tidak terpisahkan dari roh, dan bukanlah penjara dari roh, dan roh tidak lebih baik/lebih kudus dari tubuh, melainkan satu, dan kebangkitan hidup baru pun akan melibatkan kebangkitan badan seperti yang dikatakan di syahadat


4. Bahwa seksualitas adalah suatu sakramen yang mengingatkan kepada Yesus yang menyerahkan dirinya kepada Gereja dan Gereja yang menerima apa yang diberikan kepadanya.

Dan masih banyak lagi. Namun semua ini harus dipahami dengan melihat seluruh konteks yang diceritakan oleh Deshi Ramadani dan alm. Paus Yohanes Paulus II.