Review Soe Hok Gie

Senin, 02 Januari 2012






Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran

by Soe Hok Gie

Pustaka LP3ES Indonesia 2005

Saya: Gw ampe terobsesi pergi jln2 di rel kreta api jati negara sm Julius dan menyanyikan lagu...Tak pernah berhenti berjuang pecahkan teka teki malam.... gila, bisa mewujudkan teks dlm dunia gw, yg tentu beda dgn dunia Gie. Gw baca ampe 2 kali.

Dhani: Salah satu buku yang 'mendewasakan' saya. Dikemas dalam bentuk catatan harian,..buku ini adalah media perkenalan dengan seorang mahasiswa angkatan '66 yang kritis dan vokal dalam menentang rezim orde lama dan anomali anomali dalam dunia politik Indonesia saat itu (yah wajarlah nih orang musisi favoritnya aja Joan Baez..hehehe).
Sayang versi filmnya kurang digarap dengan total

Maddy: Ini adalah buku catatan harian dari aktifis '66 Soe Hok Gie. Seorang anak negeri yang peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Buku ini merupakan sebagian dari catatan hariannya mulai dari SMP hingga hari2 terakhirnya. Kesemua catatan itu cukup menggambarkan siapa Soe Hok Gie sebenarnya dan bagaimana pandangan dia terhadap kejadian di sekitarnya, seperti G30S, jatuhnya Soekarno dan naiknya Soeharto. Kita bisa melihat bahwa kepedulian Soe Hok Gie dimulai sejak dia masih duduk di SMP.

Buku ini bener2 inspiratif. Kayaknya di jaman sekarang orang seperti Soe Hok Gie bener2 jarang. Apa yang ditulisnya juga masih relevan seperti sekarang. Contoh mutakhir,betapa para aktifis mahasiswa yang dulu berdemo menentang sistem ternyata pas lulus malah menjadi bagian dari sistem yang dulu mereka tentang. Ibaratnya, berdemo di kampus adalah CV untuk masuk ke jajaran birokrasi pemerintahan, bukan lagi berlandaskan idealisme. Inilah yang ditentang Soe Hok Gie, idealisme mahasiswa dijual. Ironis sekali, sejarah berulang dengan sendirinya...

Kekurangan, kenapa juga harus pasang muka Nicholas Saputra??? Pemasangan ini menurut gw bener2 mengaburkan fakta sejarah... Selebihnya, no comment apa2 lagi tentang isinya...

Vetri: '...keberuntungan yang pertama adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah mati muda....''...semua perjuangan yang kita lakukan ini sia-sia, tapi kita harus tetap berjuang...'(maaf kalau salah kutip, bukunya sudah tak di tangan lagi) Gie memang tokoh yang mampu menginspirasi dengan idealisme-idealismenya. Tapi kesan yang saya tangkap di buku ini, diumurnya yang masih muda Gie menjadi seorang yang 'sinis' dan 'gelisah' terhadap dunia (atau skeptis ya? maaf saya belum bisa menemukan kata2 yang tepat). Mungkin dikarenakan perlakuan yang ia terima waktu muda, atau mungkin karena faktor buku2 yang ia baca. Entahlah. Tapi yang saya tangkap 'kesinisan'nya itu tidak menghalangi ia untuk tetap berjuang.

Kesan kedua yang saya tangkap dari Gie adalah Gie dengan idealisme dan intelektualitasnya sulit sekali untuk memberi ruang kesalahan, yang pada akhirnya sulit sekali untuk memberi ruang pada orang lain. Gie selalu merasa benar.

Kesan yang ketiga. Dari foto yang terdapat di buku ini, Gie sangat berbeda dari Nicholas (Nikolas?) S. Gie di buku ini tersenyum dan terlihat ramah, bukan cowok supercool.

Anne: Untuk sebuah diary non fiksi, ini salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Well, yang pasti aku kagum dengan kecerdasannyannya, pemikiran2nya, ide2 yang terbersit di benaknya, kecintaannya pada orang2 di sekelilingnya, keperduliannya pada lingkungan di sekitarnya. Bisa dibilang, aku jatuh cinta kepada pria yang satu ini meskipun dia sudah berpulang ke alam baka ;D

Aku tergila-gila dengan puisinya yang ditujukan pada salah satu wanita yang sering disebut2 dalam diarynya itu: "...aku ingin mati dalam pelukanmu sayang..." sedih sekali membaca puisi itu. Hatiku terenyuh, Gie...hiks...hiks..

Rizky: Setelah memasuki jenjang pendidikan Universitas, saya setengah "dipaksa" untuk sesegera mungkin membaca buku ini. Berada dekat dengan lingkungan aktivis kampus membuat saya cukup mudah mendapat akses gratis ( pinjam ) atas buku ini.

And hell, buku ini mebuat saya terperangah. Soe Hok Gie mulai menulis bahkan sebelum dia genap berumur 10 tahun. Walaupun saat itu yang ditulis masihlah mengenai kehidupan dia di sekolah, namun kita sudah bisa melihat "warna" dasar Gie : idealis, berpegang teguh pada pendiriannya.

Di usia yang kira-kira sama dengan saya ketika membaca buku ini, Gie sudah mulai mengupas permasalahan bangsa dan mencernanya dengan cara dia sendiri. Kenyataan bahwa Gie merupakan WNI keturunan Tionghoa justru membuat buku ini semakin legit, karena kita bisa melihat sebagaimana parahnya represi terhadap golongan minoritas di masa lampau.

Usaha editor untuk mempertahankan keaslian catatan ini patut diacungi jempol, sayangnya justru ini yang membuat buku ini agak sulit dibaca dan dipahami karena ejaan dan tata bahasa yang digunakan merupakaan ejaan lama.

Ali: Samarinda, tanggal Julai-Ogos, 2007 - Saya, Saiful dan Sahrunizam A Talib terpilih menyertai acara menggilap puisi kami di Mastera. Kami sama-sama menyertai peraduan sayembara puisi itu, lalu saya dapat tempat kedua, Sahrunizam tempat ketiga sementara Saiful meraih hadiah saguhati.

Dalam hala menuju pulang ke ibu kota Kuala Lumpur, kami singgah sehari dua di Jakarta. Di sana, ada sebuah jalan yang meletakkan gerai-gerai buku lama. Saya tidak begitu pasti adakah ia sah atau haram. Apakah penjaja buku itu berlesen ataupun tidak. Sahrunizam menyambar sebuah buku- (yang kemudiannya baru saya tahu, ia memberi kesan dan pengaruh besar kepada saya hari ini).

Maka, dalam jalanan pulang ke hotel (mungkin), Sahrunizam mengeluarkan bukunya yang baharu dibelinya tadi. "Ini Soe Hok Gie, seorang aktivis mahasiswa bersama timbunan catatan diari hidupnya," kata beliau kepada saya.

Tapi, saya tidak mengambil endah peduli. Pemandangan di luar yang luar daripada kebiasaan dengan cewek-cewek Jakarta yang hangat mempesona di jalanan itulah yang ternyata lebih menangkap perhatian. Masa berlalu. Sejak kembali dari Samarinda, saya terfikir betapa indah jika punya catatan diari sendiri. Lalu blog Karya Fansuri yang asalnya hanya memuatkan rencana, tiba-tiba diubah kepada catatan hidup. Di situ bolehlah pecah segala rahsia hidup, kenangan masa lalu, cinta dan apa-apa sahaja yang boleh dicerap oleh manusia dari seluruh dunia.

Masa berlalu. Suatu petang, ketika di rumahnya di Ampang, saya berbual dengan Ahmad Lutfi Othman, ketua pengarang Harakah dan beliau turutlah bercakap hal yang sama mengenai sosok Gie. Betapalah dia ini istimewa!"Enta tahu tak Catatan Seorang Demonstran?" dia bertanya. Saat itu dia masih belum tenat, walaupun sakit demam berputar berulang-ulang. Saat itu, beliau belum lagi dibedah melalui kaedah pintasan jantung."Gie!?" saya menduga, kenangan terhadap buku Sahrunizam di Jakarta dan Samarinda itu melantun-lantun semula dalam ruang kenangan.

Bualan itu hanya menyentuh perihal buku catatan itu secara sekilas dan tiada yang serius sangat dibualkan panjang-panjang. Masa berlalu. Revolusi hadir seperti petir. Saya melihat kesakitan dan kematian demi kematian di sekelilingku. kematian Amirul Fakir malahan penderitaan Alo sendiri dan khabarnya Azizi Abdullah sudah menerima rawatan mencuci buah pinggang!

Kalau tidak dihimpunkan riwayat hidup ini dalam bentuk catatan diari ini termasuk bahan fikiran saat menukang revolusi menggulingkan Najib ini, maka mati kita adalah sia-sia. Orang yang tidak sempat dilahirkan itu ternyata lebih berbahagia dibanding sebuah kematian yang sia-sia. Ekoran itu, sebuah catatan yang mirip Soe Hok Gie dengan judul Catatan Seorang Demonstran itu memang pantas diusahakan sekarang. Gie, saudara tidak keseorang dan tidak pernah kesepian. Saya penerus usaha-usaha anda walau kita berbeza agama, negara, bangsa, bahasa dan budaya. Dalam perjuangan, ternyata perbezaaan ini boleh disatukan! Maka, di balik coretan kata-kata ini, aku merenung fikiran Gie...

1. “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

2. “Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

3. “Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

4. “Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa Indonesia berkembang menjadi ‘manusia-manusia yang biasa’. Menjadi pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi yang bertingkah laku sebagai seorang manusia yang normal, sebagai seorang manusia yang tidak mengingkari eksistensi hidupnya sebagai seorang mahasiswa, sebagai seorang pemuda dan sebagai seorang manusia.”

Gie, seorang manusia adalah seorang pemburu ilmu dan menggalinya lewat pembacaan yang berterusan dan seterusnya menyebarkan tentang isi makna hidup lewat penulisan. Inilah yang saya faham sebagai seorang Muslim apabila fikiranku terpandu, dibancuh melalui kalam Tuhan rabbani dalam Surah Al-'Alaq - Tuhan menyeru kita membaca, mengajar kita lewat PENA!

Dan, jari-jemari bersama pena ini kan terus-menerus mengalir dakwatnya sehingga degup jantung dan nadinya berhenti berdetak! 8:01 pagi, pejabat Harakah, 28 Jun, 2011

Muhammad: Mungkin banyak orang menyesal kenapa catatan hidup Soe Hok-gie harus difilmkan. Tapi jika film itu tidak pernah ada, entah kapan saya bisa mengetahui sosok mahasiswa Indonesia yang satu ini. Ya, berkat promosi film GIE di media, rakyat Indonesia menemukan kembali Soe Hok-gie, setidaknya dalam karakter yang diperankan Nicholas Saputra. Saya pribadi jadi penasaran dan bersemangat mencari buku ini sampai ke Bandung (waktu itu saya masih tinggal di Bengkulu).

Beruntung Hok-gie waktu itu memulai catatan hariannya di masa SMP, di usia yang kira-kira sama dengan usia saya saat mulai membacanya. Sedikit banyak, saya merasa ikut terlibat dengan kegundahan yang ia rasakan sebagai remaja di tengah remaja lainnya dan hegemoni guru-guru sekolah. Saya merasa hal yang paling berpengaruh dari buku ini pada diri saya adalah minat terhadap kebudayaan, apakah itu sastra, musik, film, puisi. Ia ikut andil meluaskan perbendaharaan sastra saya, bahkan saya jadi ikut-ikutan bereksperimen membaca buku filsafat di usia semuda itu (lebih karena sok-sokan, saya kira). Saya kira Hok-gie masih tetap menjadi ideal, karena kemelekbudayaan di usia semuda itu kini sudah jarang saya temui, bahkan ketika akses untuk itu sudah jadi lebih mudah.

Saya masih sering membaca ulang buku ini sampai sekarang, terutama kehidupan mahasiswanya. Banyak hal yang baru bisa terkupas setelah semakin banyak keterkaitannya dengan kemahasiswaan saya sendiri. Alangkah mengherankannya, apa-apa yang diperjuangkan sejak dulu masih saja belum terwujud sekarang. Ah, waktu berjalan, tapi manusia memang begitu adanya, saya kira.

Ratih: buku pinjeman seorang teman, yang sebenernya punya bapaknya. tapi entah gimana mendarat di rak buku saya dan belum terkembalikan sampai sekarang.
(sori ya edo, salahkan andre! :D)terbitan 85 jauh sebelum diperankan ama niko, jadi ya sudah agak rapuh, tapi tetep, isinya yang penting.kadang jadi miris sendiri, jaman itu mahasiswa betulan jadi motor penggerak perubahan. sedangkan apa yang saya lakukan, selalu berlindung di balik jargon 'kami bergerak langsung ke bawah dengan baksos kesehatan gigi', walaupun sebenernya dalam hati, saya cuma takut kena pentung.

Effendi: Gie, pejuang muda yang kurang dikenal di jaman orde baru karena kekritisan dia mengritik baik orde lama maupun orde baru. Ditambah lagi karena dia adalah keturunan Cina, yang tentunya kurang disukai pemerintah orde baru untuk menjadi teladan bagi anak2 muda Indonesia lainnya. Seorang nasionalis tulen, penampilan boleh Cina...tapi hatinya 100% buat Indonesia...sedari muda sudah sangat suka membaca buku-buku yang berat-berat dan ini akhirnya membentuk pribadinya yang tangguh dan tak kenal menyerah melawan penguasa2 yang lalim lewat penanya yang tajam...

Ndari : Saya sudah jadi fans Soe Hok Gie sejak saya masih kelas 1 SMP. Saya masih ingat dulu saya mulai jatuh cinta pada sosoknya ketika Papa memutar film Gie di ruang keluarga. Meski di tengah film Papa akhirnya jatuh tertidur, saya tetap lanjut menonton tanpa bergeming. :)

Masih lekat pula di ingatan saya ketika dulu saya disuruh untuk membuat biografi tokoh yang dikagumi, dan saya menulis biografi Soe Hok Gie. Ketika itu hanya saya dan dua teman saya yang lain yang mengumpulkan tugas, jadi makalah saya yang sudah saya kerjakan dengan susah payah itu akhirnya tidak terbaca. Sepulang sekolah saya mengurung diri di kamar, menangis. Sejak saat itu saya sungguh membenci guru Bahasa Indonesia saya XD

Jadi ketika suatu kali saya menemukan buku ini, saya tidak berpikir dua kali untuk membelinya. Walau akhirnya bukan saya orang pertama yang baca, tapi malah kakek saya, setelah adu mulut yang lumayan menghibur :p

Buku ini berisi jurnal kehidupan Soe Hok Gie yang terangkum dalam kurun waktu beberapa tahun. Dimulai dengan kata pengantar dari beberapa tokoh (yang kadang membosankan, tapi tetaplah membaca karena kata-kata mereka banyak yang patut digaris-bawahi), lalu dilanjutkan dengan jurnal Gie ketika masih remaja. Tutur katanya masih begitu polos saat itu. Lalu kita seperti diajak naik mobil bersama dengan Gie, yang menunjukan kepada kita kerikil-kerikil dalam hidupnya, sambil berkomentar tentang apa yang terjadi di negeri ini. Lalu puisi-puisinya yang indah dan pemikirannya yang misterius, sinis namun haus didengar. Di buku ini banyak sekali kata-katanya yang patut dikutip, digaris-bawahi lalu disimpan.

Sampai kapanpun saya tidak akan bosan membaca buku ini. Selalu ingin menangis ketika saya sampai di penghujung buku, jurnal yang bagian akhirnya seolah tercuri. Saya selalu akan merasa sedih karena saya tahu satu-satunya hal yang tidak dia ketahui, tidak dia tuliskan dalam jurnalnya: kematiannya. Selamanya akan merasa haru karena sampai kini namanya ada di hati beberapa orang, salah satunya saya, dan bahwa eksistensinya bermakna, dan langkahnya menjadi panutan. Terima kasih, Gie.

Azia: Soe Hok Gie...mahasiswa legendaris..pertama kenal waktu jadi maba...karena pengen tahu mengenai seluk beluk dunia politik kampus..apalagi filmnya baru keluar .jadinya lah gw pinjam buku ini dari ketua senat waktu itu...thanks to kak gaffari.

Lembaran-lembaran dunia mahasiswa nya penuh dengan sensitivitas terhadap kehidupan sosial saat itu...masa-masa akhir 50an dan awal 60-an, Sang Proklamator mulai menancapkan kuku diktatornya...dengan proyek2 mercusuar dengan pernyataan ganyang Malaysia dan berbagai tindakan fenomenal yang bikin heboh satu dunia membuat kondisi Indonesia tidak stabil...hyperinflasi yg gokil abis..pemberontakan disana sini..betul-betul membuat Indonesia semakin carut marut..

Belum lagi ia juga membidik teman-temannya sendiri..yang setelah Soekarno berganti Soeharto sudah keluar jalur..setelah aksi mahasiswa besar2an 1966, Gie berpendapat peran mahasiswa sudah sampai disitu...saatnya kembali ke bangku kuliah..namun tak sedikit aktivis yang akhirnya berada di kursi senayan dan menikmati fasilitas wakil rakyat...makanya keluar quotes nya ; "lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" karena saat itu dia merasa sendirian dan tak satu pun yang mengerti akan pandangannya..pemikirannya..dan perasaannya..

Jika saja Gie masih hidup...mungkin ia akan menangisi almamaternya...penerus-penerusnya....junior-juniornya...atau ia akan tertawa akan naifnya mahasiswa jaman sekarang yang mengincar karir politik masa depan atau ia hanya menggeleng-geleng kepalanya melihat hedonisme ria mahasiswa sekarang
atau ia bahkan mencemooh jakun-jakun yang nongol di TV yg hanya jadi figuran acara. termasuk gw pun tak luput dari kelompok2 diatas