Review Dimsum Terakhir

Senin, 02 Januari 2012


Dimsum Terakhir

by Clara Ng

Empat perempuan kembar yang mempunyai empat kehidupan berbeda. Empat masa depan yang membingungkan. Empat rahasia masa lalu yang menghantui. Dan satu usia biologis yang terus-menerus berdetik.

Siska Yuanita, Indah Pratidina, Rosi Liliani, dan Novera Kresnawati terpaksa harus pulang untuk mendampingi ayah yang diprediksi tidak punya harapan hidup lagi. Mereka tidak pernah menyangka bahwa kesempatan berkumpul kembali ternyata mengubah segalanya. Pertanyaan-pertanyaan penting tentang kehidupan bermunculan, termasuk ketakutan, kecemasan, dan keangkuhan mengakui bahwa kehidupan dan kematian hanyalah sekadar garis tipis.

Dimsum Terakhir adalah drama penuh harum memikat, cerdas, dan dituturkan dengan amat indah oleh novelis bestseller Indonesia, Clara Ng. Kisah ditulis modis dengan gaya lembut tapi kuat ini menyuarakan keberanian serta kekuatan yang (selalu) ada di setiap hati kita semua.

Gramedia Pustaka Utama 2006

Saya: Gw merasa Clara menulis sesuatu yg remeh temeh tapi tidak berhasil membuatnya ngejreng! Saking biasax, gw ampe lupa seperti apa cerita detiilnya. Apa coz gw dah tua n pikun?

Femmy: Aku mungkin ngga terlalu banyak berkomentar tentang ceritanya sendiri. Secara singkat, menurutku penokohan keempat saudari kembar ini bagus, plot ceritanya menarik, penceritaannya juga lancar. Pokoknya aku menikmati membaca novel ini.

Komentarku yang lain berkaitan dengan aspek noncerita. Pertama, aku jadi geli sendiri dalam hati membaca nama-nama tokohnya, soalnya semuanya diambil dari personil Gramedia, terutama redaksi, hihihi... Karena hal ini, aku jadi merasa agak akrab dengan tokoh-tokohnya.

Kedua, bagi saya, aneh bahwa si anak pertama (Siska ya?) merasa sebagai kakak dan bertanggung jawab atas adik-adiknya, seperti yang digambarkan saat dia berada di samping tempat tidur ayahnya dan berbicara kepada ayahnya. Aneh, soalnya, saya dan kembaran saya tak pernah merasa ada yang lebih tua dan bertanggung jawab di antara kami. Kami merasa setara, tak ada kakak atau adik. Tapi, nggak tahu juga ya, anak kembar lain seperti apa. Barangkali ada juga yang hubungannya seperti kakak-adik pada umumnya.

Ketiga, aku mengenali lagu Mandarin yang dikutip, soalnya sobatku sering menyanyikannya kalau kami berkaraoke bersama. Akhirnya aku bernyanyi-nyanyi sendiri saat membaca novel ini :-p

Andri: Di antara buku-buku karya Clara Ng, yg terbaik menurut gw adalah DT ini. Berkisah tentang kehidupan 4 anak kembar, cewek, yang kemudian masing-masing telah dewasa, kemudian waktu mempertemukan mereka kembali untuk satu urusan.

Kelebihan lain -ini yg gw catat-, ada hal-hal yang kontroversi tapi berhasil diangkat oleh Clara secara natural. Membuat kita bertanya-tanya pada diri sendiri... apakah kita akan menerima, atau tidak. Tidak ada unsur menggurui, karena memang sesungguhnya hidup adalah pilihan.

Isyu lesbian, aborsi, sex pra nikah, bunuh diri... semua mengalir secara alami.Recommended.

Rahel: Ternyata Indonesia yang katanya demokrasi, sampe sekarang masih aja ada yang namanya perbedaan ras. Ras emang masalah yang sensitif banget dimana pun itu. Tapi, emang sih sekarang masalah itu dah lebih baik. Di buku ini, kita bisa belajar sedikit tentang budaya Tiong Hoa yang cukup rumit dan kadang ga masuk akal bahkan terkesan konyol. Buku ini punya bahasa yang enak untuk dibaca. Puitis tapi ga susah. Dimsum Terakhir cukup gamblang nyeritain kehidupan anak muda jaman sekarang yang lebih terbuka sama yang namanya sex bebas, one night stand, dan transgender. Tapi juga ada nilai-nilai yang bisa diambil khususnya tentang keluarga.

Unai: Dimsum adalah istilah dari bahasa Kanton dan artinya adalah "makanan kecil". Biasanya dimsum dimakan sebagai sarapan dan dihidangkan dalam keranjang /besek bulat yang terbuat dari bambu yang disusun secara bertingkat-tingkat. Isinya sendiri beragam, biasanya terdiri atas daging ayam, ceker, bakpao, siomay, sayuran, dll yang kesemuanya dimasak dengan cara dikukus.

Ide cerita dalam novel ini mungkin sederhana dan tak istimewa, namun Clara Ng membuat tema yang biasa menjadi menarik untuk disimak. Karakter masing-masing tokoh dikupas dengan jelas, berkumpulnya empat karakter yang masing-masing memiliki kehidupan yang berbeda, menyimpan rahasia yang berbeda dan memiliki ego yang tinggi membuat konflik-konflik antara keempat saudara kembar ini tersaji dengan menarik. Mau tak mau mereka harus mengorbankan kepentingan dan egonya agar bisa bersama-sama menemani dan merawat ayah mereka. Uniknya konflik-konflik yang terjadi selama mereka bersatu kembali tak membuat mereka terpecah, lambat laun masing-masing membuka diri dan kembali mendekatkan diri mereka satu sama lain menjadi satu keluarga yang utuh sesuai dengan tradisi Tionghoa yang memegang teguh keutuhan keluarga.

Irena: Cerita soal etnis Tionghoa di Indonesia. Saya sangat memahami karakter2 yang digambarkan dengan sempurna oleh Clara Ng. Mungkin karena saya juga adalah keturunan Tionghoa yang hidup di Indonesia juga.

Hilda: Empat wanita. Empat kehidupan yang berbeda. Dan empat rahasia gelap. Siska Yuanita, yang memandang hidup dengan sinis dan serba praktis. Terobsesi pada kebebasan. Sakit hatinya karena dikhianti tunangannya membuatnya tak percaya cinta. Apalagi pernikahan!

Indah Pratidina, yang serius dalam segalanya. Jiwanya yang pemimpi dan optimis membuatnya percaya dan mengharapkan pada banyak hal yang hampir mustahil. Dan pribadinya itulah yang sekarang menjerumuskannya ke dalam masalah.

Rosi Liliani, sang pemilik nama feminin tapi dengan pribadi berbeda 180 derajat. Sikapnya yang selalu ceria dan tak pernah serius membuat semua orang cemburu dan kagum padanya. Tapi benarkah, bahwa orang yang selalu ceria memang tak punya beban?

Novera Kresnawati, si anak manis yang cenderung pemalu dan lemah lembut. Biasa tak mencolok dan menjauhi konflik, Novera tiba-tiba mengkhianati keluarga dan agamanya dengan memilih Katolik. Karena ia memerlukan ketenangan. Dan agama membuatnya percaya pada pengharapan.

Mereka berempat adalah kembar. Yang menjalani kehidupan yang berbeda-beda. Di Jakarta, Hongkong, Puncak, dan Yogyakarta. Tapi mereka dipaksa berkumpul kembali untuk mendampingi sang ayah, Nung, yang diprediksi hanya memiliki sisa hidup. Tapi mereka tak menyangka, bahwa reuni keluarga itu akan menyingkap semua rahasia. Yang selama bertahun-tahun, telah mereka sembunyikan rapat-rapat. Ketika rahasia-rahasia itu tersingkap, dan saat kebenaran mengemuka, keempat wanita itu pun harus menghadapi hantu-hantu yang selama ini membayangi hidup mereka. Dan membuktikan, bahwa keluarga sejati akan menerimamu apa adanya.

Wah, seandainya buku ini terbit lebih dulu sebelum saya menentukan corpus skripsi, saya bakal pilih buku ini. Empat perempuan dengan karakter dan konflik yang berbeda-beda dalam satu buku, bisa banget dijabarkan dalam skripsi saya. Jadinya, kan, saya nggak perlu membaca 3 buku (Seri Indiana Chronicles) sebelumnya berulang-ulang, cukup 1. Kekekeee... Empat saudara kembar dengan karakter nggak sama, bahkan keempatnya saling bertolak belakang. Mereka memiliki masalah dan rahasia dalam hidup masing-masing, yang tadinya tidak ingin dibagi satu sama lain. Gara-gara ayah mereka yang sedang kritis, keempatnya kembali berkumpul dan saling menguatkan. Akhirnya, keempat saudara itu menemukan solusi dan jalan keluarnya dengan bersama-sama. Perasaan yang tadinya jauh kembali dekat. Nice to read!