Review Sang Pemimpi

Senin, 16 Januari 2012




Sang Pemimpi (Tetralogi Laskar Pelangi, Buku 2)

by Andrea Hirata

Sang Pemimpi adalah sebuah lantunan kisah kehidupan yang memesona dan akan membuat Anda percaya akan tenaga cinta, percaya pada kekuatan mimpi dan pengorbanan, lebih dari itu, akan membuat Anda percaya kepada Tuhan. Andrea akan membawa Anda berkelana menerobos sudut-sudut pemikiran di mana Anda akan menemukan pandangan yang berbeda tentang nasib, tantangan intelektualitas, dan kegembiraan yang meluap-luap, sekaligus kesedihan yang mengharu biru.

Tampak komikal pada awalnya, selayaknya kenakalan remaja biasa, tapi kemudian tanpa Anda sadari, kisah dan karakter-karakter dalam buku ini lambat laun menguasai Anda. Karena potret-potret kecil yang menawan akan menghentakkan Anda pada rasa humor yang halus namun memiliki efek filosofis yang meresonansi. Karena arti perjuangan hidup dalam kemiskinan yang membelit dan cita-cita yang gagah berani dalam kisah dua orang tokoh utama buku ini: Arai dan Ikal akan menuntun Anda dengan semacam keanggunan dan daya tarik agar Anda dapat melihat ke dalam diri sendiri dengan penuh pengharapan, agar Anda menolak semua keputusasaan dan ketakberdayaan Anda sendiri.

“Kita tak kan pernah mendahului nasib!” teriak Arai.
“Kita akan sekolah ke Prancis, menjelajahi Eropa sampai ke Afrika! Apa pun yang terjadi!”

Bentang Pustaka 2006

Saya: Saya membelinya setelah sekian lama orang membicarakannya, dengan heboh!Saya mendapatkan Sang Pemimpi dalam cover baru yang sungguh menarik hati, lukisan yang pasti mahal harganya.

Bukunya tipis, tidak setebal Laskar Pelangi...tapi kisahnya sungguh membawa saya kembali pada masa kecil di kampung dan mengingat kembali semua kebijaksanaan hidup dan kebaikan yang diberikan oleh orang tua dan sanak kerabat... sehebat apapun kota besar, mereka itulah yang membuatmu bertahan...
dua kali saya menangis membaca buku ini.

Ayie’em: SANG PEMIMPI is the second book of Laskar Pelangi tetralogy. This novel tells Ikal with his high school years since his little friend Arai and Jimbron. Arai is a distant brother Ikal is an orphan and is the last family member who is still alive and eventually became the foster brother Ikal. Jimbron is an orphan who was obsessed with horses and stutter when I'm enthusiastic about something or when nervous. All three were friends since childhood until they go to school in SMA Manggar, the first high school that stood on the eastern Belitong. Because far from home three of them that lived in a shack fish market. Attend school in the morning and work as porters fish at the port in the early morning. They have a very fierce headmaster named Mr. Mustar. Arai is a friend of Ikal who always invites her friends to do crazy things, including watching the hot movies in theaters, which eventually caught by Mr. Mustar who previously had fugitive Mr. Mustar. But Arai is also that invites them both to dare to dream. Includes dream to go to Sourbone France. Various efforts have been made Arai and Ikal to get a scholarship to Sourbone. And finally Ikal and Arai are going to study in Jakarta, which ultimately makes them both separately but can still meet in France. Independent living separately from their parents with the background economic conditions are very limited but has a big goal, a goal which, when viewed from the background of their lives, just a dream. Now that dream come true, only with a capital of dreams and the spirit of Arai and Ikal could reach his master's degree in French.
For those of you who already read the novel Laskar Pelangi, you can not miss novel on this one because this is a continuation of Laskar Pelangi novel. In this novel will tell how the struggle Ikal and Arai to go to France.

Mar: Judul : Sang Pemimpi

Penulis : Andrea Hirata

Penerbit : Bentang

Cetakan : Kesebelas, November 2007

Tebal : 288 halaman

Inspirasi untuk ‘Bermimpi’Menggugah semangat! Membaca novel kedua Andrea ini, ada semburat penyesalan tercetus dalam diriku ketika selesai membacanya. Penyesalan itu adalah mengapa aku baru membacanya diusiaku sekrang? Mengapa aku baru membacanya ketika aku sudah lulus kuliah bertahun-tahun lalu? Sedangkan setelah membaca buku ini semangatku ingin mewujudkan mimpi-mimpiku terasa sudah terlambat. Aku juga ingin mewujudkan mimpiku yang mustahil, tapi ternyata terwujud seperti apa yang dialami Ikal dan Arai dalam novel ini.

Bahasanya mengalir lentur, dilengkapi dengan gaya metafora yang indah berpadu dengan sains yang cerdas, buku ini sangat renyah untuk dinikmati. Membuatku tak putus membacanya hanya dalam waktu kurang dari satu hari. Perjalanan kisah 3 sahabat (Ikal, Jimbron dan Arai) dari 11 orang laskar pelangi yang penuh warna. Ada kisah haru yang menggugah moral, ada juga kisah lucu ketiganya yang membuatku terkekeh sendiri saat membacanya.

Benang merah yang dapat ditarik dari novel ini adalah semangat baja tak kenal rintangan dari jiwa Ikal dan Arai, dan konsisten mewujudkan cita-citanya meskipun dirasa tak mungkin, dan yang kedua adalah persahabatan yang indah dan tulus, meskipun salah seorang dari mereka cacat mental seperti Jimbron.

Yang membuatku tak habis pikir adalah, novel yang memang nyata tentang perjalanan hidup penulisnya ini ditulis bukan oleh seorang penulis. Namun, bahasa yang tertuang di dalamnya melebihi dari kalimat sastra seorang penulis! Itulah mimpi! Jika mimpi itu diwujudkan maka memang sulit dpercaya. Karena itu, novel ini memang menginspirasiku untuk mewujudkan mimpiku. Terima kasih sang pemimpi

Faiz: Ikal, salah satu dari anggota Laskar Pelangi, Arai, saudara sepupu Arai yang sudah yatim piatu sejak SD dan tinggal di ruamh Ikal, sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Ayah danIbu Ikal. Dan Jimbron, anak angkat seorang pendeta karena yatim piatu juga sejak kecil. Namun pendeta yang sangat baik dan tidak memaksakan keyakinan Jimbron, malah mengantarkan Jimbron menjadi muslim yang taat.
Arai dan Ikal begitu pintar dalam sekolahnya, sedangkan Jimbron, si penggemar kuda ini biasa-biasa saja. Malah menduduki rangking 78 dari 160 siswa. Sedangkan Ikal dan Arrai selalu menjadi 5 dan 3 besar. Mimpi mereka sangat tinggi, karena bagi Arrai, orang susah seperti mereka tidak akan berguna tanpa mimpi-mimpi. Mereka berdua mempunyai mimpi yang tinggi yaitu melanjutkan study ke Sarbonne Perancis. Mereka terpukau dengan cerita Pak Beia, guru seninya, yang selalu meyebut-nyebut indahnya kota itu. Kerja keras, menjadi kuli ngambat mulai pukul 2 pagi sampai jam 7 dan dilanjutkan dengan sekolah, itulah perjuangan ketiga pemuda itu. Mati-matian menabung demi mewujudkan impiannya. Ya, meskipun kalau dilogika, tabungan mereka tidak akan cukup untuk sampi ke sana. Tapi jiwa optimisme Arai tak terbantahkan.

Setelah selesai SMA, Ari dan Ikal merantau ke Jawa, Bogor tepatnya. Sedangkan Jimbron lebih memilih untuk menjadi pekerja ternak kuda di Belitong. Jimbron menghadiahkan kedua celengan kudanya yang berisi tabungannya selama ini kepada Ikal dan Arai. Dia yakin kalau Arai dan Ikal sampai di Perancis, maka jiwa Jimbron pun akan selalu bersama mereka. Berbula-bulan terkatung-katung di Bogor, mencari pekerjaan untuk bertahan hidup susahnya minta ampun. Akhirnya setelah banyak pekerjaan tidak bersahabat ditempuh, Ikal diterima menjadi tukang sortir (tukang Pos), dan Arai memutuskan untuk merantau ke kAlimantan. Tahun berikutnya, Ikal memutuskan untuk kuliah di Ekonomi UI. Dan setelah lulus, ada lowongan untuk mendapatkan biasiswa S2 ke Eropa. Beribu-ribu pesaing berhasil ia singkirkan dan akhrinya sampailah pada pertandingan untuk memperebutkan 15 besar.

Saat wawancara tiba, tidak disangka, profesor pengujinya begitu terpukau dengan proposal riset yang diajukan Ikal, meskipun hanya berlatar belakang sarjana Ekonomi yang masih bekerja sebagai Tukang Sortir, tulisannya begitu hebat. Akhirnya setelah wawancara selesai, siapa yang menyangka. Kejutan yang luar biasa. Arai pun ikut dalam wawancara itu. Bertahun-tahun tanpa kabar berita, akhirnya mereka berdua dipertemukan dalam suatu forum yang begitu indah dan terhormat. Begitulah Arai, selalu penuh dengan kejutan. Semua ini sudah direncanaknnya bertahun-thaun. Ternyata dia kuliah di Universitas Mulawarman dan mengambil jurusan Bilogi. Tidak kalah dengan Ikal, proposal risetnya juga begitu luar biasa dan berbakat untuk menghasilkan teori baru.

Akhirnya sampai juga mereka pulang kampung ke Belitong. Dan ketika ada surat datang, mereka berdebar-debar membuka isinya. Pengumuman penerima Beasiswa ke Eropa. Arai begitu sedih karena dia sangat merindukan kedua orang tuanya. Sangat ingin membuka kabar tu bersama orang yang sanag dia rindukan. Kegelisahan dimulai. Tidak kuasa mengetahui isi dari surat itu. Akhirnya Ikal ketrima di Perguruan tinggi, Sarbone Pernacis. Setelah perlahan mencocokkan dengan surat Arai, Subhannallah, inilah jawaban dari mimpi2 mereka. Kedua sang pemimpi ini diterima di Universitas yang sama. Tapi ini bukan akhir dari segalanya. Disinilah perjuanagan dari mimpi itu dimulai, dan siap melahirkan anak-anak mimpi berikutnya.

Scha: I like this book very much, I can tell you why? Appear komikal in the beginning, righteously ordinary juvenile delinquency, but then without You realise, story and characters in this book by degrees gain control You. Since little photograph that helds captive that will jerk You on ground sense of humour but have philosophical effect that resonate. Since struggle mean lives in poverty that twists and heroic aspiration deep story two book main figures this: Arai and Ikal will lead You with kind of grace and that affinity You can see into thyself with heaving full expectancy, that You refuse all Your hopelessness and helplessness own.

There is one Arai's sentence citation to Ikal that really I remember. ”.. maybe afters ends our Senior High School will only pan tin or as coolie, but in here Kal, at this school, we will never precede our fate!”

This citation quite gigantic, can proportionate all lack, weakness, and doubt that naluriah's ala light upon son of man that evoke aspiration.

Really inspiratif especially for the rising generation circle, student and intermediate college student at cross ways reach expectation and future. With all its lack, Ikal and Arai can look after firmness and everlastingly prohibition gives up on his way. trip wends dreamed knowledge well at de's university Sorbonne's paris.

Story braid that built by ala immaculately by writers as sensed as puts to sleep to know Belitong's earth, malay child life island which misery meaning in life with working firmness and knits dream. Don't forget writers also give love condiment that adequately comforts and sometimes funny and bounded up by firmness aura in poor jimbron figure,plain, unique but a friend at court.

Sentral's figure in this story, the Ikal, presenting character that humanism, one that tries for survive and arouses in the middle down, one that studying of all something at its peripheral, and that don't loathing give clarification to its best friend. Severely there are many positive study that we can take from this book. If I am still get teens age and be at schooled stool, undoubtedly binds books it will give extra force that arouse potency most deep utilised reaches for fruitfulness

Excess of this book is can tell problem that actually complexes to become simpler but not remove primal element namely assesses that contained in it. Told by nicely utilize perspicuous language and not only tells of one angle but also of corner of other even sometimes at variance with angle one the. Square with for all age.

Are so difficult find lack of this book is good of story and also performance facet it. Most even more this book has a lot of recognized previous because previous draw namely Laskar Pelangi already universalizes. To me, this book is book in point if you source inspiration that will make you more price your life and other people.

Herly: Karya kedua Andrea Hirata dari Tetralogi Laskar Pelangi ini menceritakan masa-masa sma Ikal bersama Arai - saudara sepupu jauh Ikal. Perjuangan mereka dalam terus bertahan untuk tetap sekolah namun tetap disertai kenakalan-kenakalan masa remaja.

Disini Andrea Hirata bahwa kekuatan mimpi dapat menjadi suatu motivasi yang luar biasa di dalam kehidupan. Suatu hal yang kita pikir mustahil, yang hanya mungkin menjadi bintang di langit, tapi akhirnya bisa digenggam. Dengan kemauan dan tekad yang kuat serta usaha yang maksimal, Andrea membuat tak ada hal yang mustahil.

Mengutip kata Andrea, mozaik-mozaik kehidupan terpisah-pisah dan berserakan dimana-mana. Tinggal kita bagaimana mengumpulkan mozaik-mozaik itu menjadi sesuatu yang kita inginkan.

Desy: Hanya satu kata: GREAT! Hanya satu nama: Arai. :D
Well, ga cuma Arai, sebenernya. Ada Ikal n Jimbron juga. Dan tokoh-tokoh lain yang berperan banyak pada kehidupan mereka. Tapi buat gua, Arai-lah pusatnya. Sesuai dengan judul buku ini: Sang Pemimpi. Arai, sang pemimpi sejati. Arai, seniman kehidupan. Arai, yang memandang kehidupan demikian indahnya, ga peduli kesulitan sebesar apapun yang dihadapinya. Arai, yang berhati tulus dan berjiwa besar. Arai, yang selain pintar juga nakal, jahil dan kerap jadi biang kerok (kata Ikal), hehehe... Arai, Arai, Arai...

Buku ini bener-bener bisa menggugah semangat siapa pun yang membacanya. Sesuai dengan tagline di sampulnya, di bawah judul Sang Pemimpi: novel penggugah semangat. Tapi ga tau ya, kalo ada yang ga tergugah semangatnya setelah baca buku ini. Itu sih, urusan masing-masing :D.

Ketika akhirnya Arai dan Ikal berhasil mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di Sorbonne, Perancis, gua nangis, dong :D. Betapa gitu ya, butuh perjuangan panjang (kerja keras banting tulang untuk bisa bayar sekolah, belajar giat, jauh dari orang tua) buat Arai dan Ikal (dan Jimbron juga) untuk bisa mengikuti pendidikan formal (yang seharusnya GRATIS, kata gua sih). Sementara gua, istilahnya mah udah tinggal sekolah aja, masih suka males-malesan. APA KATA DUNIA??? hehehe...

Setelah baca buku ini, gua pengen SEMUA anak Indonesia memiliki buku ini. Yah, setidaknya pernah baca lah. Dan mimpi gua, makin banyak anak-anak, remaja-remaja, manusia-manusia Indonesia yang semakin baik. Amiiin..