Review Ayat Ayat Cinta

Senin, 16 Januari 2012

Ayat-ayat Cinta

by Habiburrahman El Shirazy

Novel ini berisikan cerita tentang seorang pemuda Indonesia bernama Fahri bin Abdullah Shiddiq yang telah tujuh tahun menempuh pendidikan di Universitas Al Ahzar di Kairo, Mesir. Dalam kehidupannya sebagai seorang mahasiswa dia menemui banyak tantangan dalam hidup dari masalah keuangan, kesehatan, sampai urusan cinta.

Pada suatu saat Fahri bertemu dengan seorang gadis Amerika yang tertarik dengan agama Islam bernama Alicia dan seorang gadis Jerman Palestina Turki bernama Aisha yang menaruh hati pada Fahri. Dalam novel ini, tokoh Fahri dikisahkan sebagai seseorang yang sempurna, hampir tanpa cacat sedikitpun. Pintar, rajin dan beruntung mendapatkan istri yang kaya serta banyak disukai oleh orang-orang, termasuk kaum hawa.

Republika Basmala 2007

Dedeh: terpesona dg cara penceritaannya, bahasanya yg indah. tapi... jika bertutur tentang cinta, cinta yg mana..? cinta siapa kepada apa, atau siapa kepada siapa? ga dapet esensi 'cinta'-nya. sebagaimana tertulis dg sakral dan luhur di judul. walhasil bintang dua aja.

Royyani: Judul : Ayat-ayat Cinta

Penerbit : Republika

Penulis : Habiburrahman El Shirazy

Novel "Ayat-ayat Cinta" merupakan novel karangan Habiburrahman El Shirazy yang diterbitkan pertama kali tahun 2004 melalui penerbit Republika. Novel ini berhasil menjadi salah satu novel terlaris di Indonesia.

Novel ini mengisahkan tentang perjalanan cinta Fahri, seorang mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, yang penuh dengan liku-liku bersama dengan Aisha asal Jerman. Kisah cinta ini berawal ketika mereka tak sengaja bertemu dalam sebuah perdebatan di sebuah metro.

Pertemuan berlanjut hingga mereka menikah. Namun cobaan yang bertubi-tubi justru datang saat mereka menjalani hari-hari bahagia tersebut.

Kebahagian Fahri dan Aisha tidak bertahan lama karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura teramat terluka saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha.

Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungnya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa karena ia belum memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan kliennya dari segala tuduhan. Fahri pun harus mendekam di bui selama beberapa minggu.

Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Marialah yang bersama Noura malam itu (malam yang Noura sebut dalam persidangan sebagai malam dimana Fahri memperkosanya).

Tapi Maria sedang terkulai lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan
membuatnya jatuh sakit. Tidak ada jalan lain. Atas desakan Aisha, Fahri pun menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya. Dan harapan Aisha menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk memberikan kesaksian di persidangan. Alhasil, Fahri pun terbebas dari tuduhan Noura. Dengan kata lain, Fahri dapat meninggalkan penjara yang mengerikan itu.

Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan Noura. Dan, terungkaplah bahawa ayah dari bayi dalam kandungan Noura dalah Bahadur.
Fahri, Aisha, dan Maria mampu menjalani rumah tangga mereka dengan baik. Aisha menganggap Maria sebagai adiknya, demikian pula Maria yang menghormati Aisha selayaknya seorang kakak. Tidak ada yang menduga jika maut akhirnya merenggut Maria. Namun Maria beruntung karena sebelum ajal menjemputnya, ia telah menjadi seorang mu’alaf.

Dari buku kita tahu bahwa Fahri selalu “menjaga diri” di tengah wanita-wanita yang dekat dengannya. Hal itu Fahri lakukan karena rasa cintanya pada Yang Maha Kuasa. Fahri berusaha konsisten dengan prinsip, dan ajaran agama yang ia pegang teguh. Cinta Fahri pada agama dan Sang Khalik menuntunnya pada cinta Aisha. Atas izin Allah Fahri dan Aisha bersatu di bawah payung cinta yang tulus mengharapkan ridhaNya.

Kelebihan novel ini terletak pada ceritanya yang begitu menyentuh dan mengalir seakan pembaca mengalami berbagai problema yang melilit sang tokoh.Selain itu penulis mengajak pembaca mendalami Islam dengan bahasanya yang menyejukkan

Hampir tak ada kekurangan novel ini karena novel ini juga merupakan media penyaluran dakwah kepada siapa saja yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Islam.

Nun: aq tau buku ini sejak awal dia datang sebagai pendatang baru di rak buku gramedia. tapi entah kenapa aq ga ada niat untuk membelinya. diambil baca belakangnya, ditaruh lagi. aq baca pun karena pinjaman dari kawan, kalo suruh beli..hehehehe... baca juga ngga sampe tamat, bosen. sekedar ingin tau ceritanya, aq nontong karya hanung bramantyo. 2 jam selese tamat deh, hehe..

kenapa sampai buku ini difilmkan pun aq ga tertarik? mungkin karena judulnya yang menurutku melankolis banget sampai-sampai aq seperti bisa melihat isinya -padahal diplastiki- pasti isinya ga jauh2 dari manusia melankolis sempurna yang buuuaaaeeekkk buuuaaangeeeet nget nget.. yang cuma ada di sinetron islami.

udah gitu bahasanya jadul banget, yah pokoknya bukan gua banget deh. herannya banyak banget yang suka sama nih buku -termasuk pengarangnya- bisa menginspirasi segala katanya, bhah... tapi yah orang kan beda-beda, sebuah buku bisa dikatakan bagus oleh seseorang kalo bisa menyentuh suatu bagian dari orang tersebut.

tuh buku kan baru booming beberapa tahun kemudian, kenapa?

Biyun: Pertama lihat judul dan covernya, saya pikir ini novel menye2 ala teenlit dan cinta2an ga jelas. Tapi ternyata saya salah. Meski banyak yang bilang kalo kisahnya terlalu sinetron, bagi saya sinetron pun ga seindah dan seluhur ini. Perihal penokohan dan cerita yang mustahil dan hanya mungkin terjadi di jaman Nabi... namanya juga fiksi (hehehehe). Lepas dari segala kritik pedas orang terhadap novel ini, saya bisa belajar banyak hal. Terlebih tentang keikhlasan, Bagaimana menghadapi masalah dengan tenang dan berserah padaNya dengan keindahan bertutur tanpa ada kesan menggurui.

Hani: Dillema setiap membaca kisah yang sarat dengan back ground reliji adalah ketidakberdayaan untuk berkata bahwa kita terlalu terbelenggu lidah untuk mengkritisinya.

Membukakan cakrawala baru novel Islami dan menginspirasi banyak novelis indah berikutnya. Terutama pada pemaparan kehidupan santri di Al Azhar dan kehidupan di Mesir yang penuh eksotisme.

Ayat-ayat yang seharusnya indah, terlalu menjadi beban mata dan hati saya untuk dapat menikmati percintaan. Mungkin karena saya terbiasa bertemu dengan buku sarat nuansa keagamaan yang dogmatis.

Meskipun dapat membuat saya berkaca-kaca saat Maria bangun dari coma, namun moment saat Maria memeluk Islam terasa sangat dipaksakan.

Ending 'happiness for everyone' dengan meninggalnya Maria membuat saya bertanya-tanya, begitu mudahkah ini kan terjadi di dunia realita?

Begitupun novel ini boleh dipoejiken untuk membawa warna baru bagi dunia tulis menulis di Indonesia.

Intan: ah..., I've watched the movie two days ago and couldn't help crying...hahaha...something that I've never done in several years after watched Kuch Kuch Hota Hai while I was still in high school. well, a minute after, I bought the book just like that. I wonder which one is better, the book or the movie. but after read, i think both are same good..., i said good but not extraordinary. this is my second time of dissapointment after Murakami's Norwegian Wood.

okay, i must admit that this book is just perfect as dakwah. it opened my eyes that marriage in Islam way could be so beautiful. unfortunately, is it possible to be occured nowadays, in this hypocrete world? i truly don't think so. Fahri is just so lucky. He found a perfect girl; smart, kind, humble, wise, lovable.., and...rich! My godness, why the writer tend to rewrite Mohammad SAW's story while marrying Khadijah? while the fact is Fahri is 'only' a student with no occupation. my god, once again, yes, we need love to get married with someone...but we must be realistic that love only cannot feed your wife nor your children.

overall, I like this book. I was crying too when reading it.., because i'm too sensitive when it comes to bizzare love triangle, haha... the positive thing from this book is about 'mahram' in Islam..., yes, modern dating is not good for those irresponsible young people, but if they can manage their sexual desire very carefully before the marriage then why not? Dating in a serious relationship will help a lot to know partner's traits and personality, so that we can accept our partner just the way he/she is, in every condition in a marriage.

And I'm just afraid that Ta'aruf wouldn't enough for men if their wife-to-be is not good as they're expected, if the woman is not as pretty as Aisha so that they think that they have the right to do Poligamy way in the name of Islam, that, unfortunately, happened so often currently.

Calvin: "Ayat-Ayat Cinta" loosely translated as "Verses of Love". This is one of the finest non-English books that would be missed by publishers.

The story tells about Fahri, a man from Indonesia who is studying in al-Azhar, Egypt. His charisma, deep knowledge of Islam teachings led him loved by four women, a Coptic Christian named Maria, a Turkish tycoon named Aisha, an Egyptian named Naora, and a javanese named Nurul.

The plotline is actually quite simple, these four women are fascinated by Fahri's honest way of life, and how he respect women very highly in islamic context. Aisha fell for him and they are eventually married.

It's getting complicated in middleway when Naora was raped, and she accussed Fahri as the rapist. This led the Egyptian polices threw him in jail, and treating him very inhumanly as possible.

This is probably one of the most culture shock I experienced when reading the book. Egyptians polices are pretty cruel and inhumane, they tortured the verdicts so badly that I start having negative sentiments toward the country.

The strongest point in this book probably is the setting. Not much people has experienced living in Egypt before, it's a good book to know the glimpse of how Egyptian live. The narration is pretty much flowing and enjoyable.

Palsay: Sebenarnya agak kecewa begitu baca buku ini tidak seperti yang digembar-gemborkan oleh beberapa orang yang telah membaca buku ini, saya sudah membayangkan tulisan indah a la Hamka, sastra indah a la Sutardji Calzoum Bachri, namun yang saya baca, Ayat-ayat cinta seperti novel-novel biasa yang penuh kemustahilan meski sarat nilai keislamannya.

Ada beberapa adegan yang sangat sinetron sekali, menurut saya, yaitu saat sang tokoh utama, Fahri menegur orang2 mesir di trem saat mereka mengejek orang Amerika, dan mereka semua akhirnya menurut semua (sekalian aja ada tepuk tangannya).
Rasanya kok agak2 mustahil yah?

Lalu saat di pengadilan ketika si korban mengungkapkan kesalahannya membuat skenario jahat(mengakui semuanya) setelah Fahri dijatuhi kurungan di penjara Mesir (apa iya ada penjahat ngaku di depan umum? di court room??)

Tapi untungnya sebelum membaca novel ini saya membaca kata pengantarnya dulu. Jadi memang novel ini sepertinya ditujukan untuk dakwah, sehingga menjawab pertanyaan saya mengapa tokoh fahri diceritakan begitu sempurnanya dan akibatnya dikejar2 banyak wanita (konon, cantik2 & solehah semua) (halah, ini mungkin impian semua cowok yah ..hehe), mengapa dia bisa memiliki hati yang bersih, mengapa ia tidak mengerti kenapa wanita bisa begitu mencintainya karena sebenarnya ia tak pernah mengerti cinta sebelum melihat wajah calon istrinya (duh..) dan mengapa-mengapa lainnya yang membuat saya malah jadi ga bisa melepaskan buku ini sebelum menuntaskan membacanya.

Tapi kenapa harus beristri orang yang sangat kaya raya sekali ya??? kenapa dibuat segalanya sempurna buat fahri (eh, btw dia sempat beristri dua loh, meskipun hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang pemujanya. jadi ceritanya dia malah dipaksa sama istrinya untuk mengawini wanita itu)
saya terus terang tidak mengerti...

Jadi jangan harap menemukan kejujuran-kejujuran ala paulo coelho di buku ini, karena buku ini memang ditujukan untuk menekankan pentingnya hidup sebagai muslim sejati sebagaimana disunnahkan Nabi, dan meskipun kadang menjalaninya berat, pada akhirnya semua akan terasa manis. Happy Ending.(btw, ada penggambaran pintu surga segala...hebat). Untuk yang satu ini Pengarang sukses, karena saya yakin banyak yang terketuk pintu hatinya untuk, paling tidak berusaha menjadi muslim seperti Fahri atau Aisha. Salah satunya saya, jadi tergerak untuk lebih mencintai Allah dan rasulNya setelah membaca buku ini.

Tapi mungkin saya akan lebih tergerak untuk menuliskan review yang labih baik lagi jika Pengarang mau menulis tentang drama Islam yang lebih berbobot tanpa embel2 kesempurnaan, supaya lebih membumi gitulohh...

Anyway...selamat buat pengarang...semoga sukses terus dengan dakwahnya...

memang cerita seperti ayat-ayat cinta ini pastinya sangat menarik bagi produsen sinetron kita..(buktinya sudah difilmkan oleh MD ya? )

PS: saya baru sadar yg bagus di buku ini adalah kutipan2 sajak2 dari buku2 rujukannya...